Air Mata Delena

Air Mata Delena
Diam-Diam Memperhatikan


__ADS_3

Happy Reading


"Bibi masak banyak ya hari ini?"Tanya Mama Lili saat baru saja turun dan melihat meja makan sudah penuh dengan hidangan .


"Bukan nyonya, ini semua nona Lena yang masaknya."jawab Bibi menatap pada Lena yang berjalan mendekat sembari membawa segelas susu hangat untuk Alex.


"Wah , ini semua kau yang memasaknya?"Mama Lili menatap setiap hidangan di meja makan lalu beralih menatap Lena yang masih menggunakan apron.


Lena tersenyum saja, sedari pagi Lena memang sudah berkutat di dapur menyiapkan makanan untuk semuanya.


"Hmm , calon mantu mama nih."Mama Lili mendekat tersenyum melihat makanan vaforitnya juga ada di meja makan.


"Wah kamu juga masakin semur jengkol,udah lama banget mama gak makan ini."ucap mama Lili menyendokan jengkol dan memakannya penuh nikmat.


"Emm maaf kalo gak sesuai rasanya ...."


"Mama , panggil mama Len."ucap Mama Lili menatap Delena yang tersenyum kaku.


"Iya mah."


"Oh ya ngapain kamu masih berdiri di situ terus? sini duduk deket mama."ajak mama Lili dengan lirikan mata pada kursi di sebelahnya.


Delena mendekat walau takmengerti dengan perubahan sikap nyonya besar itu yang kini terlihat welcome padanya.


"Em mah, Lena pnggil Alex dan Tua...Rey dulu ya."ucap Lena memejamkan matanya saat hampir saja ia keceplosan memanggil Rey dengan sebutan tuan.


Mama Lili mengangguk saja dengan senyum membiarkan Lena pergi berlalu untuk memanggil cucu dan putranya.


"Mama mau lihat sampai sejauh mana kalian akan membodohiku."batin mama Lili dengan senyum tipis di bibirnya.


Tak lama setelah Lena pergi, nampak bocah tampan tengah menuruni anak tangga dengan senyum cerah.Alex menghampiri omanya dengan begitu riangan seolah baru saja mendapatkan hadiah besar.


"Oma."sapa Alex pada mama Lili yang juga tersenyum melihat cucu tampannya itu.


"Hai sayang, wah cucu oma tampan sekali sih hari ini."puji mama Lili.


"Alex memang tampan sejak bayi oma."jawab Alex tersenyum tipis , pria kecil itu duduk di kursi miliknya.

__ADS_1


Mama Lili terkekeh kecil akan kenarsisan tuan muda tampan itu. "Ya ya ya cucu oma ini memang sudah tampan sedari bayi."balas Mama Lili.


"Oh ya bagaimana momymu?"tanya Mama Lili pada Alex.


"Beres oma, lagian Deddy terlalu lama, nanti kalo mommy di ambil orang lain bagaimana."gerutu bocah laki-laki itu.


"Intinya kau harus terus membuat mereka terus bersama jika kau ingin mommy tinggal bersamamu selamanya sayang."


"Sip oma."Alex mengacungkan kedua jempolnya pada mama Lili.


Oma dan cucu sedang asik menikmati sarapan di meja makan tapi tidak dengan Lena yang saat ini berdiri dengan tubuh terasa tegang.Bagaimana tidak, saat baru saja ia memasuki kamar ayah satu anak itu tiba-tiba saja Lena melihat pemandangan menyejukan mata.Rey yang baru saja memasuki kamar setelah baru saja menerima telfon di balkon dengan hanya mengenakan celana bahan kainnya tanpa atasan hingga perut kotak-kotak juga lenggan kekar itu membuat Lena panas dingin.


Tatapan Rey dan Lena bertemu untuk beberapa saat hingga Lena memutuskan pandangan itu dan hendak keluar membuka pintu sebelum mengutarakan maksud kedatangannya kedalam kamar pria tampan itu.


"Ya ampun."batin Lena memejamkan matanya saat tak bisa membuka pintu dan wanita cantik itu menyadari jika seseorang telah menguncinya dari luar.


Dengan perlahan Lena kembali membalikan tubuhnya menatap Rey yang masih berdiri di tempatnya.


"Ehmm tuan, nyonya dan tuan muda kecil sudah menunggu di bawah untuk sarapan."


"Apa ada yang salah dengan ucapanku atau.."batin Lena saat melihat Rey berjalan mendekat ,Lena menatap liar kesegala penjuru memasang strategi apabila hal yang tak di inginkan terjadi.


"Mungkin itu hanya alasanmu saja , kau ingin menemuiku."ucap Rey lagi.


Lena berdecak melihat senyum menyebalkan itu.


"Pede sekali orang ini."batin Lena.


"Maaf saya..."


Rey semakin mendekat ,Lena dengan pelan mundur hingga punggungnya terbentur tembok.


"Bukankah sudah ku bilang agar kau tak lagi berbicara formal seperti itu hmm."kini kedua tangan kekar Rey mengukung tubuh ramping itu.


"Aku akan menghukum bibir nakal ini jika kau salah lagi!"ancam Rey.


Lena mendongak menatap Rey yang tingginya beraa di atasnya cukup jauh. "Aku lupa."singkat Lena dengan cepat berusaha menghindar namun kalah cepat karena saat ini Rey seakan mengurung dirinya.

__ADS_1


"Tolong lepaskan , mama dan Alex pasti sudah menunggu kit...."


Ehmmmpp


Mata Lena terbuka lebar saat dengan tidak sopannya Rey mendaratkan benda kenya itu pada bibir Lena.


"Akhirnya."Rey tersenyum tipis karena dapat kembali merasakan bibir manis Lena.


"Hempp levashh."Kedua tanagan Lena berusaha mendorong namun tetap saja kekatannya tak ada apa-apanya jika di bandingkan dengn Rey yang postur tubuhnya jauh darinya.


Rey tetap saja menempelkan bahkan mulai menyapu lembut permukaan kenyal itu, namun kesenangan Rey buyar saat Lena dengan kerasnya menggigit hingga spontan Rey melepaskan tautan itu.


Hah...Lena mengambil nafas sebanyak-banyaknya seolah pasokan udara telah habis. "Kau!"tunjuk Lena.


Jemari telunjuk itu di diraihnya oleh Rey dan tanpa Lena sangka Rey mengecup lembut bahkan memasukannya kedalam mulutnya.Tatapan Rey seolah mengunci hingga Lena menggerjap beberapa kali sebelum kesadarannya kembali dan menarik jemarinya.


"Ishh, tolong buka pintunya aku mau keluar."ketus Lena menatap sangar pada Rey.


Rey melirik pintu kokoh kamarnya ,bukannya membuka Rey berbalik arah berjalan menuju ranjang dan duduk santai di sana.


"Bukan aku yang menutupnya jadi jangan memintaku untuk membukanya."ucap Rey santai.


"Apa, tapi ini kan kamarmu pasti memiliki kunci cadangan kan?"


"Aku tak memegangnya."


"Yasudah kalau begitu tolong telfon kepala pelayan."


"Ponselku mati."


Lena menatap sengit pada pria yang tampak santai tanpa bebean berbaring di tepi ranjang bahkan Rey menjadikan kedua tangannya sebagai bantalan untuk menyanggah kepalanya.


Lena berkeliling berusaha mencari celah namun tak ada yang bisa ia lakukan, Lena merutuki dirinya yang tak membawa ponsel hingga tak tau sampai kapan akan terkurung di satu ruangan bersama Reymond Cakrawala itu.


"Ck sampai kau pingsan tak akan bisa keluar dari sini."batin Rey yang sedari tadi memperhatikan gerak-gerik Lena.Bukannya tak bisa untuk membukakan pintu namun melihat tingkah wanita itu ada kesenangan tersendiri yang Rey rasakan.


....

__ADS_1


Typo bertebaran harap bijak dalam membaca!


__ADS_2