Air Mata Delena

Air Mata Delena
23


__ADS_3

Happy Reading❀


Delena menatap tak percaya pada penjelasan tuannya yang memintanya untuk berpura-pura menjadi calon ibu untuk Alex.


"Tuan, maaf saya keberatan, saya memang menyayangi tuan muda kecil seperti anak saya sendiri tapi untuk membohongi nyonya besar saya tidak mau!"ucap Lena tegas.


"Tuan bilang jika memiliki seorang kekasih, anda bisa mengenalkan kekasih anda itu kepada kedua orang tua anda tanpa melibatkan saya dalam permasalahan ini."ucap Lena lagi.


Setelah mendengarkan penjelasan tak yang masuk akal menurutnya membuat Lena tanpa pikir panjang menolak permintaan majikannya ini.


Delena tak ingin ikut campur, untuk saat ini ia hanya ingin terbebas dari suaminya dan secepatnya Lena ingin pergi kepengadilan untuk mengurus surat perceraiannya.


Rey masih diam mendengar penolakan wanita di depannya.


"Saya tidak bisa melakukan itu dan saya juga tidak bisa menjelaskan apa sebabnya."ucap Rey dengan nada datar.


Pembicaraan terdengar alot,Lena yang memang tak ingin memilih keluar dengan memukul pintu kamar keras berharap ada yang mendengarnya.


Delena menatap kesal pada pintu kokoh di depannya dan melihat tangannya yang tempak memar memerah.


"Aiss sakit sekali, bagaimana aku bisa keluar dari sini."gumam Lena berdecak kesal.


Lena menatap pria yang tampak santai berbaring di ranjang Alex ,tak lama Rey berjalan menuju pintu dan mengeluarkan sesuatu dari sakunya.


Sebuah remot kontrol,Rey menekannya hingga pintu terbuka dan dengan santai Rey keluar dari kamar melewati Lena yang melongo tak percaya.


Sedari tadi ia menggedor pintu dan berteriak namun pria itu diam saja walau memiliki akses untuk bisa keluar masuk.


"Ck dasar majikan menyebalkan."gerutu Lena ikut melangkah keluar.


Rey masuk kedalam kamarnya, melepas jas dan kemejanya berjalan menuju balkon,tampilam duda satu anak itu begitu memukau dengan dada bidang dan roti sobek yang terlihat menggiurkan.


"Apa yang di lakukan anak itu disana."gumam Rey dengan mata menyipit menatap putranya yang terlihat sedang bahagia sambil memegang ponselnya.

__ADS_1


. . .


Acara makan malam berjalan baik seperti biasanya, Alex yang makan sambil disuapi mengabaikan papanya yang menatap jengah pada putranya ini.


"Boy apa kau menguncikan pintu tadi seore?"Rey menatap putranya meminta penjelasan.


Bocah yang seakan menyadari jika saat ini tengah di tatap acuh saja.


"Boy, kau mau papa hukum hmm?"


Alex menoleh menatap papanya. "Tangan Alex tadi sepertinya keseleo jadinya pintunya kekunci deh."ujarnya dengan mimik wajah bersalah, tapi Rey tau betul jika putranya ini tak sungguh merasa bersalah.


"Lain kali jangan lakukan,lihat akibat ulahmu itu tangan nanymu jadi memar.


Mendengr itu Alex langsung menoleh menatap wajah Lena dan tatapan pria kecil itu tertuju pada tangan Lena yang memang terlihat memar di atas meja.


"Ma,maafkan Alex."bocah laki-laki itu mengambil tangan Lena yang terlihat memar dan mengelusnya.


"Tak apa ,nanti juga sembuh sendiri."Lena mengelus pucuk kepala Alex menenangkan agar pria kecilnya tak lagi merasa bersalah.


πŸ’πŸ’


Selama perjalanan Alex terus saja berbicara dan sesekali merentangkan tangannya.


"Alex jangan seperti itu nanti kau jatuh!"Peringat Lena saat merasakan banyak pergerakan di belakangnya.


"Alex baru ini naik sepeda motor dan ini terasa sangat menyenangkan."ucap Alex kembali memeluk pinggang Lena erat.


"Nanti mama akan mengajakmu berkeliling menggunakan sepeda motor."balas Lena agar berteriak karena suara bising pengendara lain.


Setelah sampi dan mengantarkan tuan muda kecil Alexander Cakrawala dengan selamat Lena kembali melajukan kuda besinya membelah padatnya jalanan ibu kota.


Delena memasuki area parkir gedung Pengadilan Agama.

__ADS_1


Berdiri menatap tingginya gedung ,Lena menarik nafas dalam sembari memggenggam erat berkas-berkas yang sudah ia persiapkan sebelumnya.


"Ayo Lena kamu bisa."gumamnya memberi semangat pada dirinya sendiri.


πŸ’πŸ’


"Jadi wanita itu pergi ke Pengadilan Agama?"Pria yang berada di balik kursi kerjanya tampak mendengar imformasi dari asistennya.


"Benar tuan,nona Lena peri ke gedung Pengadilan Agama pagi ini setelah mengantarkan tuan muda kecil ke sekolah."jelas asisten Roni.


Rey mengangguk sebagai jawaban hingga kepala pria tampan itu memutar menatap asistennya dengan mata melotot.


"Tunggu dulu, tadi kau bilang jika wanita itu pergi menggunakan sepeda motor ,lalu putraku?"Rey bertanya dengan raut wajah terkejut.


"Tuan muda kecil ikut menaiki motor bersama none Lena tuan."


"What?" Rey mengusap kasar wajahnya.


"Bagaimana bisa dia mengantarkan putraku menggunakan sepeda motor, jika terjadi sesuatu pada putraku bagaimana."Dengus Rey menggerutu takut akan keselamatan putra tampannya.


Asisten Roni hanya berdiri menunggu perintah selanjutnya.


"Ron kau urus agar mempersulit persidangan wanita itu!" perintah Rey tersenyum licik.


Mengangguk mengiyakan, asisten Ron tak bisa menolak setiap perintah bosnya ini.Tapi yang membuatnya bertanya-tanya kenapa bosnya memintanya untuk mempersulit nany tuan muda kecilnya?


"Kau mendengarku atau tidak?!"Gertak Rey saat tak mendengar suara asistennya.


"Saya mendengar tuan dan akan saya kerjakan."jawab asisten Ron.


Melihat asistennya keluar Rey melipat kedua tangannya dan menyenderkan kepalanya pada kursi kerjanya.


"Kita lihat apa setelah ini kau masih meu menolak."batin Rey yang masih merasa kesal karena Delen menolak mentah-mentah untuk membantunya padahal ia sudah berusaha menjatuhkan sedikit harga dirinya dan meminta bantuan pada wanita yang di panggil mama oleh putranya itu.

__ADS_1


....


Typo bertebaran harap bijak dalam membaca!


__ADS_2