Air Mata Delena

Air Mata Delena
Secepatnya Menikah


__ADS_3

"Mah,ini hanya kesalah pahaman. Ayolah kenapa harus di perpanjang sih."


Mama Lili melotot tajam pada putranya.Apa katanya tadi kesalahpahaman?Jelas-jelas ia melihat jika putranya akan melakukan hal mesum pada calon menantunya.


"Dasar kau ini,kau pikir mata mamamu ini buram hah.Pokoknya besok kalian harus menikah!"Ucap tegas mama Lili membuat Rey maupun Lena terkejut menatap mama Lili. "Kenapa? Mama tidak mau ya jika calon adik Alex keluar sebelum kalian itu sah."lanjut mama Lili tak mau di bantah.


"Mah yang di bilang sama Rey itu benar,kami tidak melakukannya jadi..."


"Tidak bisa Lena.Mama susah sangat hafal dengan tabiat putra mama ini.Jadi kalian bersiap saja besok kalian akan menikah."


Rey mengusap kasar wajahnya.Menikah dalam waktu singkat,astaga mamanya ini seenaknya saja menentukan pernikahannya. "Tapi tidak besok juga mah,bahkan persiapan pun belum ada."keluh Rey berharap mamanya mengurungkan niatnya.


"Hih,uangmu kan banyak kau hanya tinggal perintah apa susahnya sih."sewot Mama Lili pada Rey yang saat ini hanya bisa pasrah lagian salahnya juga sih tidak mengunci pintu terlebih dahulu.


Mama Lili tersenyum tipis menatap Lena dan Rey yang tak bisa lagi membantah. "Dan kamu Lena ikut mama."


"Kemana mah?"Lena melihat mama Lili yang menarik tangannya.


"Kesalon,kamu harus terlihat fresh untuk acara besok."Mama Lili kembali menarik tangan Lena.


Rey melihat kepergian Mamanya merutuki kecerobohannya.Masa iya sih dia menikah gara-gara kepergok ,kan tidak lucu. Rey menekan nomor ponsel mencari nama asisten Roni.


"Ron kerumahku sekarang juga!"Rey mematikan sambungan telfonnya tanpa mendengar jawaban Roni di sebrang sana.Asisten Roni yang hari ini sudah kelabakan karena jadwal yang kacau akibat tuannya main memutuskan pertemuan dan kini astaga main seenaknya saja menyuruh pergi kerumahnya sedang pekerjaannya tengah memumpuk di kantor.


🍀🍀


Di tempat lain Aldi tengah beradu mulut dengan seorang pria berpakian layaknya preman yang tiba-tiba saja datang dan memintanya untuk pergi dari rumahnya sendiri.Ralat rumah Delena mantan istrinya.


"Saya tidak pernah menjual rumah ini jadi kalian pergilah dari rumahku."bentak Aldi marah.


"Rumah ini sudah berpindah tangan kepada saya setelah nona Delena menjualnya tuan."Seorang wanita dengan badan gempal berjalan mendekat.Wanita itu cukup kesal karena anak buahnya masih belum berhasil untuk mengusir orang-orang yang tinggal di rumahnya.


Aldi terkejut tak percaya dengan yang ia dengar barusan.Di jual?


"Saya tidak akan pergi dari rumah ini,sebaiknya kalian pergi sebelum saya laporkan kepada polisi."Aldi masih kekeh tak ingin pergi.

__ADS_1


Wanita dengan tampilan glamour itu tersenyum sinis lalu mengeluarkan sebuah map berisi sertifikat rumah dan hal itu Aldi tak dapat mengelak lagi,tapi yang menjadi pertanyaannya.Kapan Lena mengambil sertifikat itu?Bukankah sertifikat sudah di simpan oleh ibunya.


"Jadi,silahkan angkat kaki.Rumah ini sudah menjadi milik saya sekarang."ucap wanita itu.


Aldi memejamkan matanya,difikirannya saat ini.Dimana ia akan tinggal sedang uang tabungannya sangat pas-pasan untuk mencari rumah kontrakan.


Mau tak mau Aldi harus angkat kaki dari rumah yang selama ini menjadi pelindung dikala hujan maupun panas.


"Apa ini balasan atas perlakukan kami padamu Lena."batin Aldi dengan tatapan sendu.


"Berikan saya waktu untuk mengemasi barang-barang."ucap Aldi pada akhirnya.Mau melawan pun percuma karena disini dia yang akan kalah.


"Baiklah,sore nanti tempat ini sudah harus kosong atau anak buahku yang akan menyeret kalian semua."Wanita itu pergi dengan para anak buahnya.


Aldi menghembuskan nafas kasar lalu masuk kedalam rumah.Masalah ayahnya yang masih di rawat di rumah sakit saja belum selesai kini ia harus kembali berfikir keras untuk mencari tempat tinggal baru.


Untuk sejenak Aldi menatap setiap ruangan dimana semua itu mengingatkan akan kebersamaannya dengan Lena.Wanita yang menemaninya dari titik nol hingga mendapatkan pekerjaan yang lebih layak namun ia melepaskannya dengan membawa wanita lain kedalam rumah tangganya.


Aldi memasuki kamarnya dan mulai mengemas pakaian miliknya,kalau ada yang bertanya dimana ibunya ,entah kemana perginya ibunya itu.Bahkan tak jarang ibunya hanya pulang untuk minta uang dan setelah akan pergi lagi.


Aldi menoleh sekilas lalu kembali melanjutkan kegiatannya.Ia tak perlu bertanya kemana perginya istrinya ini karena sudah menjadi kebiasaan Tari yang suka keluar dan mencari kesenangannya sendiri.


"Mas."


"Aku tanya kenapa kamu berkemas kayak gini, kamu mau pergi hah."Tari mengambil pakaian yang akan di masukan kedalam koper merasa kesal karena di abaikan oleh suaminya.


Aldi memejamkan mayanya menatap Tari yang berdiri dengan perut buncitnya,ia harus banyak-banyak bersabar karena tak ingin menyakiti anak dalam kandungan Tari.


"Kita harus pergi dari rumah ini secepatnya."Tari melebarkan matanya.Pergi? Tapi kemana mereka akan pergi.


"Mas kamu bercanda kan?Maksud kamu kita pindah gitu?Tapi kenapa?"tanya Tari beruntut pada suaminya.


"Dengar kita sudah tidak bisa tinggal di rumah ini karena rumah ini sudah di jual."jelas Aldi.


"Di jual?kenapa kamu jual rumah ini?"Sunghuh Tari merasa kesal saat ini.Dimana ia akan tinggal jika rumah ini di jual?

__ADS_1


"Rumah ini milik Lena dan dia sudah menjualnya."Aldi berbicara sambil memasulan barang-barang penting kedalam koper menghiraukan gerutuan Tari yang merasa tak terima dan marah-marah.


"Ck,dasar wanita pembawa sial, masih saja bikin kekacauan."dengus Tari.


Aldi berdiri dan menatap tajam istrinya yang mengatai Lena seperti itu. "Jaga bicaramu Tari.Kau bahkan tak lebih baik dari pada Lena ,jadi jangan berkata seperti itu."ucap Aldi dengan nada tegas.


Tari meremat kuat gaunnya.Suaminya membela wanita lain yang notabenenya adalah mantannya sungguh Tari merasa tak terima.


"Heh,kamu membandingkan aku dengannya hah? Apa mas mulai menyesal karena lebih memilihku di banding wanita mandul itu."ucap Tari Keras yang semakin menyulut amarah dalam diri Aldi.


"Iya aku menyesal telah menikah dengan wanita sepertimu dan kerena wanita sepertimu pula aku harus kehilangan wanita yang aku cintai!"Deru nafas Aldi terdengar memburu dengan sorot mata tajam.


Tari tertawa mendengarnya. "Dan sayangnya kamu lebih memilihku kan,kamu gak bisa balik kemasa lalu."


"Aku udah muak sama kelakuan kamu Tari.Kamu pikir aku gak tau kalo kamu kan yang sudah gadaikan surat-surat berhargaku."Aldi ingin sekli rasanya mencekik leher Tari jika saja di depannya ini seorang pria.


"Secepatnya aku akan urus perceraian kita."Aldi menendang koper dengan wajah merah padam.Kesalahan terbesar dalam hidupnya adalah menjadi laki-laki plin plan dan tidak bisa bersikap tegas dalam mengambil keputusan hingga membuatnya harus merasakan semua kepahitan ini.


"Mas! Kamu gak bisa seperti ini."Tari mengejar Aldi yang masih saja melanjutkan langkahnya menunuju ruang tengah.


"Kalo kamu sampai cerain aku,aku juga gak akan segan untuk gugurin kandunganku!"


Benar saja,Aldi menghentikan langkahnya.Tangannya mengepal erat.Wanita seperti apa yang ia nikahi ini,bahkan ia rela untuk melenyapkan darah dagingnya sendiri?


"Aku serius mas,aku akan lakuin itu kalo sampai kamu cerain aku."ucapnya lagi dengan nada mengancam.


Mau tak mau Aldi berbalik arah menatp Tari yang tersenyum karena berhasil menahan Aldi.


"Kalau bukan karena anaku,aku tak kan mau lagi berurusan denganmu Tari."Aldi berlalu pergi setelah mengucapkannya.


Tari tersenyum seraya mengelus perut buncitnya.Entahlah bayi itu sehat atau tidak karena selama ini setiap Aldi memintanya untuk periksa Tari selalu banyak alasan hingga wanita itu menggunakan uangnya untuk belanja dari pada pergi cek up kandungannya,juga gaya hidup tak sehat yang Tari jalani sudah tentu akan mempengaruhi si janin yang berada di perutnya.


"Aku akan mengikatmu dengan bayi ini mas, lihat saja."batin Tari.


....

__ADS_1


Typo bertebaran harap bijak dalam membaca!


__ADS_2