
Pagi hari setelah kejadian itu semua berkumpul seperti biasa di meja makan.Lena melayani putranya begitu juga dengan Rey ,pria tampan itu sedikit merasa terusik dengan sikap istrinya ya walaupun tetap melaksanakan kewajiban seperti biasanya.
" Mom, nanti pulang sekolah Alex mau main di rumah Ikal ya."Lena menoleh menatap bocah tampan itu dengan senyum tak menjawab permintaan Alex.
"Mom bolehkan?" pinta Alex dengan mata berkedip-kedip.
"Minta izin sama Daddy sayang."Mengelus lembut kepala Alex,Lena tak berani untuk memberikan izin pada pria kecilnya setelah ucapan Rey tadi malam yang membuatnya seolah merasa tak memiliki hak apapun atas Alex.
Alex beralih menatap Daddynya yang masih fokus pada sarapannya. "Dad,boleh kan?"pinta Alex lagi.
Rey melirik Lena yang terdiam. Tidak, selesai sekolah harus pulang."ucap Rey pada Alex.
Bocah tampan itu menghembuskan nafas dengan bibir mencebik mendengar ucapan Daddynya.
"Kita berangkat."Rey menarik tas kerjanya dan menerima bekal dari Lena tanpa mengucapkan kata apapun.
"Mom,Alex pergi dulu ya."ucap Alex mencium kedua pipi Lena.
"Belajar yang rajin dan jangan nakal sayang."ucap Lena.
Rey memperhatikan interaksi itu di tempatnya.Ia juga ingin melakukan hal yang sama namun entahlah egonya seolah menahannya untuk mendekat.
Lena tersenyum saat pandangannya bertemu dengan Rey. "Hati-hati di jalan."ucap Lena.
__ADS_1
Rey mengangguk lalu menyusul putranya yang sudah lebih dulu keluar.
Melihat kepergian keduanya Lena menghela nafas panjang,kini ia harus memikirkan nasibnya setelah pernikahan sandiwara ini usai.Tak ingin terus berdiam diri di sana ,Lena melangkah menaiki anak tangga hingga langkahnya semakin pelan saat berada di depan sebuah ruangan.
"Aku penasaran tapi bagaimana caranya aku bisa masuk."gumamnya.Sebelumnya Lena pernah mendengar jika tak ada yang boleh memasuki ruangan itu selain tuan dan kepala pelayan yang di tugaskan untuk membersihkannya.
Lena memegang gagang pintu yang terlihat sedikit berdebu dengan perasaan deg-degan. Takut jika ada yang mengetahui.
"Hais di kunci."gumamnya,pandangan Lena mengedar hingga ia melihat kepala pelayan yang berjalan mendekat.Lena menghentikan pelayan itu.
"Bibi."panggil Lena.
Pelayan wanita itu terkejut saat melihat keberadaan nona nya yang berada di tempat yang seharusnya tak ia kunjungi. "Nona sedang apa disini?"tanya wanita paruh baya itu.
"Maaf nona,tapi tuan akan marah jika tau anda berada disini."ucap kepala pelayan berharap nonanya berlalu pergi.Bukannya pergi Lena malah semakin di buat penasaran dengan apa yang ada di balik ruangan rahasia ini.
"Bibi tenang saja,saya sudah meminta izin jadi bibi jangan takut oke."bujuk Lena lagi.
Kepala pelayan tetap tak ingin memberikan kunci itu tapi melihat Lena yang terus mendesak membuat wanita paruh baya itu mau tak mau memberikan kuncinya.
Lena bersorak setelah berhasil mendapatkan kunci di tangannya.Dengan pelan di bukanya ruangan itu.
Gelap,jemari Lena meraba dinding berharap dapat menemukan saklar hingga lampu menyala dengan terangnya.
__ADS_1
Deg.
Pandangannya mengedar ,di setiap sudut Lena hanya mendapati sebuah bingkai berisi foto seorang wanita cantik yang tak ia ketahui siapa dia.
Langkah kakinya semakin dekat menyusuri foto-foto yang terpajang di dinding hingga langkahnya terhenti saat berada di depan sebuah pigura besar.Suaminya terlihat bahagia mengandeng wanita cantik yang juga tersenyum lebar menghadap kamera.
"Dia..."Lena menyentuh nya. "Dia pasti Olivia."gumannya lirih.Mengingat nama yang di ucapkan Rey saat tengah memakainya namun menyebutkan nama lain yang asing di telinganya.
Lena memperhatikan dengan senyum kecil. "Dia cantik,pasti tidak mudah untuk Rey melupakannya."gumamnya lagi.Mata wanita itu begitu jernih berwarna coklat sama seperti miliknya.
Ia sadar saat ini,saat Rey memuji keindahan matanya yang tak lain begitu mirip dengan milik mendiang istrinya.
"Ayolah Len,apa yang kau fikirkan.Jangan berangan terlalu tinggi."Meyadarkan dirinya jika sikap manis Rey selama ini hanyalah sikap agar putranya benar-benar merasa berada dalam keluarga yang penuh akan cinta.
Tatapan yang semula terfokus pada raut bahagia keduanya kini turun pada jemari lentik mendiang Olivia.Satu yang menjadi pusat perhatiannya saat ini,cincin permata itu begitu mirip dengan yang ia kenakan saat ini.
Mungkinkah..? Rasanya Lena tak ingin berfikir terlalu jauh,jika yang ada dalam fikirannya benar adanya maka semakin kuatlah tekadnya untuk pergi.
"Sampai kapanpun kau tak akan bisa melupakannya.Dan aku tak ingin menjadi bayang-bayang dirinya."lirihnya ,lelehan bening mengalir dengan sendirinya.Ia tak bohong jika perlakuan manis Rey mampu membuatnya merasakan perasaan berbeda hingga ia sadar jika ia mulai jatuh dalam pelukan pria yang kini berstatus sebagai suaminya.
....
Typo bertebaran harap bijak dalam membaca!
__ADS_1