Akankah Kembali

Akankah Kembali
Hari Yang Ditunggu


__ADS_3

Singkat cerita Ujian Kelulusan dan ujian praktek sudah selesai. Sean merasa sangat lega ketika hari terakhir sudah dilalui begitu mudahnya.


Sambil menunggu pengumuman kelulusan. Tak butuh waktu lama, Sean mendaftarkan diri di salah satu Universitas ternama di Kotanya. Mengingat prestasi akademik dan non akademik yang ia miliki, Sean mendapat beasiswa undangan untuk masuk di Universitas tersebut sesuai rekomendasi dari pihak sekolahnya.


Berbagai macam persyaratan telah ia kumpulkan, karena sementara belum ada surat kelulusan atau bahkan ijazah, maka Sean memfotokopi nilai rapor selama tiga semester sebelumnya.


Sean sangat antusias.


Evan mendukung sepenuhnya, seperti dukungan Sean pada Evan. Tak sabar rasanya menunggu Sean lulus dari sekolahnya. Sebentar lagi mereka akan bersama menjadi manusia dewasa yang berhak menentukan jalan hidup.


Rasanya seperti menunggu kemerdekaan tiba, hahaha.


****


Pengumuman kelulusanpun tiba. Seperti pada umumnya, wali murid akan berada pada satu aula untuk menerima sebuah amplop secara bergantian.


Pak Rianto dengan senang hati mengambil cuti kerja untuk pergi ke sekolah Sean. Namun tidak dengan istrinya, ia tak bisa cuti karena Bu Mira adalah satu-satunya pegawai di toko tersebut.


Sesampainya Pak Rianto dirumah, beliau menemui Sean dan meberikan berita bahagia mengenai kelulusan Sean dengan predikat sangat memuaskan.


Pak Rianto mengungkapakan rasa bangganya dengan mengelus kepala Sean kemudian menepuk bahunya. "Ayah bangga padamu, Nak. Lanjutkan prestasimu!" Kata Pak Rianto sembari tersenyum.


"Baik yah. Aku akan membuat ayah dan ibu bangga!" Sean bersemangat.


Kemudian ia lari menuju kamar, memfoto surat tersebut dan mengirimkannya pada Evan.


📨 "Sayang, aku lulus"


📩 "Syukurlah sayang. Selamat untuk kelulusanmu ❤


. Tapi maafkan aku, aku belum bisa merayakannya untukmu. Hari ini aku ada jadwal pergi ke Kota Y" Jawab Evan sedikit kecewa.


📨 "Gapapa sayang.. Aku akan menunggu sampai kamu ada waktu untuk bersamaku merayakannya. Selamat bekerja sayang ❤" balas Sean.


📩 "Oke sayang. Aku mencintaimu" Tutup Evan.


Sudah biasa jika mereka hanya mengirim pesan sesingkat itu. Karena Sean paham jika pekerjaan Evan tidak selalu menatap layar ponsel.


****


Beberapa hari kemudian, Evan sedang tidak sibuk. Ia mengajak Sean untuk merayakan kelulusannya dengan makan malam. Kali ini bukan di hotel yaa... haha.


Mereka sudah memilih tempat makan yang cocok untuk berkencan. Sebuah Restoran dengan view pegunungan dengan lereng penuh kelap-kelip lampu kota dimalam hari. Evan sudah memesan satu meja khusus di rooftop. Agar semakin romantis tentunya.


Ting..


Pesan masuk di ponsel Sean.

__ADS_1


📩 "Sayang sudah siap? aku akan menjemputmu"


📨 "Sudah Sayang. Aku akan berjalan ke tempat biasanya"


📩 "Tidak perlu. Aku akan menjemputmu tepat didepan rumah"


📨 "Jangan. Aku belum siap"


Tapi sayang sekali pesan itu tak di baca oleh Evan. Rupanya Evan sudah dalam perjalanan.


Tiga puluh menit kemudian, terdengar suara motor berhenti tepat di depan rumahnya. Sean Bergegas turun agar orangtuanya tak ada yang tahu.


Tapi sayang sekali..... Ternyata pintu sudah terbuka, sosok laki-laki paruh baya itu telah berdiri tegap di depan pintu, ya itu Pak Rianto. Rupanya Evan dan ayahnya sudah bertatap muka.


"Aduh mampuss deh! Apa yang akan dia katakan".


Gumam Sean.


Kali ini ia tidak berlari, malah berjalan berat, kakinya seperti diberi beban batu.


"Emm... Yah!" Panggil Sean pada ayahnya


"Oh Sudah turun rupanya. Jangan pulang malam-malam ya!" Tiba-tiba ayahnya mengizinkan.


"Bapak titip Sean, jangan sampai ada apa-apa denganya" Lanjut Pak Rianto mewanti-wanti Evan.


Setelah mendapat izin, Sean dan Evan pergi ketempat tujuan malam itu.


Sean diam seribu bahasa tak tahu akan berbicara apa, karena benar-benar syok atas kelakuan Evan yang berani mendatangi rumah dan bertemu dengan ayahnya.


Evan paham dengan situasi itu. Ia juga diam dan memacu motor gedenya dengan lebih cepat. Agar segera sampai di Restoran.


Sean mempererat pelukannya dan menenggelamkan kepalanya di bahu Evan.


Sesampainya di Restoran, mereka berdua berjalan menuju rooftop. Menduduki kursi dengan meja bertuliskan nama Evan.


Tak lama mereka duduk, berbagai menu yang telah dipesan sebelumnya datang dengan cepat. Aneka makanan, minuman dan pencuci mulut sudah tersaji di piring-piring cantik.


"Sayang, apa yang kau katakan pada ayahku?" Sean mengawali percakapan


"Tidak ada. Aku hanya meminta izin untuk membawamu makan malam. Kenapa kamu sangat khawatir sayang?" Jawab Evan


"Kamu sih gak ngomong dulu sama aku" Sean cemberut


"Loh, kan tadi aku sudah bilang lewat pesan" senyuman Evan mengembang


"Iya, tapi kan kamu nggak baca balasan dariku. Aku kan belum siap kalau kamu ketemu sama orang tuaku" Sean masih cemberut

__ADS_1


"Hehe iya maaf. Aku rasa ini sudah waktunya aku menampakkan diri sayang. Aku akan mulai menunjukkan kalau aku laki-laki muda yang bertanggungjawab" Balas Evan dengan pede nya.


plakk


"Hah... Okelah" Jawab Sean singkat, sambil menepuk keningnya


"Apa kamu nggak suka?" Selidik Evan


"Ah.. gapapa kok gapapa. Ayo kita makan. Aku sudah laper nih" sahut Sean


"Jangan cemberut gitu dong. Kalau bibirmu terus manyun begitu aku akan menciummu nanti" goda Evan sambil tersenyum.


"Iya, eh maksudku tidak.. Tidak! maksudku iya aku tidak akan manyun lagi" jawab Sean gelagapan


Membuat Evan tersenyum geli melihat tingkah laku kekasihnya itu.


"Sudah ayo nikmati dulu makanannya" Evan mengakhiri obrolan


Dengan iringan musik sama-samar terdengar. Hembusan angin perlahan menyapu rambut Sean, membuat beberapa helai rambutnya terkibas natural menutupi wajah dan lehernya.


"Seksi sekali" Batin Evan sambil menelan salivanya


"Sayang, bisakah kamu mengikat rambutmu dengan benar?" Tanya Evan pada Sean yang asik menikmati hidangan.


"Eh, iya bisa. Kenapa emangnya?" Tanya Sean balik


"Rambutmu itu akan mengenai makanan. Apakah kamu nggak terganggu?" Jelas Evan berpura-pura


"Iya juga ya" Sean memperbaiki ikatan rambutnya lebih kencang ke atas lalu melanjutkan makannya.


Tiba-Tiba Evan berbicara lagi


"Sayang, sebaiknya kamu urai saja rambutmu. Disini sangat dingin, aku takut kamu masuk angin!"


"Kamu kenapa sih, kok tiba-tiba jadi suka mengatur rambutku?" Sean keheranan dan melepas ikatan rambutnya


"Nah, itu sedikit lebih baik. Gapapa, aku kan perhatian. Sudah lanjutkan makanmu!" senyum tampan Evan mengembang.


"Sialan! Kenapa aku jadi begini? melihat leher jenjangnya pun aku tak kuasa. Hahaha mesum sekali pikiranku ini" Evan membatin dengan mengolok-olok pikiran kotornya.


Akhirnya mereka berdua pun bisa menikmati makan malam yang santai. Tanpa adegan suap-suapan seperti di sinetron pastinya...


Malam semakin dingin, Waktu mwnunjukkan pukul 19.30, makananpun sudah habis tak tersisa.


Mereka duduk sambil berpegangan tangan diatas meja. Saling bercerita, tertawa bersama.


Tiba-tiba Ponsel Evan berdering..

__ADS_1


__ADS_2