Akankah Kembali

Akankah Kembali
Keputusan


__ADS_3

Keesokan harinya, pukul 05.00 Sean bangun pagi seperti biasanya. Membantu ibunya menyiapkan sarapan dan menatanya di atas meja makan.


Suasana masih sama seperti tadi malam. Ibu masih enggan berbicara macam-macam. Hanya seperlunya ketika membutuhkan bantuan Sean.


Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 06.00 Ibu segera bergegas ke kamar mandi untuk menyiapkan diri berangkat bekerja.


Ayah dan Igo pun sudah rapi ketika keluar kamar.


Igo setiap hari berangkat bersama temannya.


Sedangkan Ayah, untuk pertama kalinya akan mengantar ibu saja. Melihat ayah sungguh kasihan, biasanya ia akan segera mengelap sepatunya, menyiapkan kendaraan, sarapan terburu-buru. Namun kali ini tidak, ia seperti bingung mau melakukan apa.


Ketika Ayah hendak mengambil Sapu, Sean sesegera mungkin meraih gagang sapu yang masih menggantung di tembok.


"Ayah, sudah duduk saja, mulailah sarapan dulu menemani Igo. Ini pekerjaan Sean" Ucap Sean sambil tersenyum


"Baiklah. Ayah akan menunggu ibumu dulu" ayah tersenyum kecut pada Sean.


Waktu sudah menunjukkan pukul 07.00, Igo sudah berangkat lebih dulu.


Setelah ayah, ibu dan juga Sean menyantap sarapan, kedua orangtuanya berpamitan dan berangkat.


Sean membuka ponselnya, ia mulai mengetik pesan pada kekasihnya


📨 "Selamat pagi sayang. Selamat beraktifitas"


Ting...


📩 "Selamat pagi sayang, Terimakasih. Nanti jangan lupa akan ku jemput jam empat sore" Balas Evan


📨 "Oke sayang" Jawab Sean singkat


Kemudian Sean melakukan aktifitasnya dirumah, seperti mengepel, mencuci dan lain sebagainya.


Pikirannya campur aduk. Disaat ia sedang bahagia karena akan masuk universitas, disisi lain secara bersamaan musibah sedang terjadi menimpa keluarganya.


Satu jam kemudian Ayah Sean datang, beliau langsung menuju Taman depan rumah, mengambil perkakas dan bersiap untuk merapikan tanaman-tanaman disana.


Sean paham kalau ayahnya sedang membutuhkan kesibukan.


Sekilas terbesit apakah lebih baik jika Sean bekerja saja membantu orangtuanya, daripada meneruskan pendidikan, walau itu sangat melanggar komitmen yang Sean buat sendiri. Tapi kini situasinya berbeda, keluarga ini sangat membutuhkan bantuannya. Melihat ayahnya sedang murung, membuat hatinya tercambuk. Bagaimana tidak, Ayah Sean sudah mengabdi di rumah Pak Dian selama kurang lebih delapan belas tahun. Ya, bertepatan dengan tahun lahir Sean kala itu.

__ADS_1


Seharusnya Pak Dian mempercayai ayahnya lebih dari karyawan lainnya bukan? Tapi memang tidak ada yang tahu takdir akan seperti apa kedepannya.


"Haaah... Mungkin Pak Dian sedang banyak pikiran sehingga tidak berfikir dengan jernih" Batin Sean dengan membuang nafas kasar.


Selesai aktifitas, Sean memasuki kamarnya. Membuka laptop dan melihat-lihat situs resmi dari Universitas tujuannya. Keinginan besar belajar disana masih hinggap dibenaknya, bahkan sangat kuat. Dadanya sesak jika kemungkinan buruknya ia harus membatalkan nasibnya belajar disana.


Kemudian Sean merebahkan tubuhnya dan mulai terlelap.


Sean ingat bahwa pukul empat akan dijemput Evan. Matanya terbuka, melihat jam dinding sudah menunjukkan pukul 15.00. Sean bergegas membersihkan diri. Setelah semua siap, ia menuruni tangga dan duduk di ruang tamu menunggu Evan menjemputnya.


Rupanya Pak Rianto juga sudah siap akan menjemput istrinya. Kemudian ia menghampiri Sean dan bertanya,


"Mau kemana Sean?"


"Sean mau keluar Yah. Boleh kan?"


"Sama laki-laki kemarin itu?" selidik ayahnya


"Mm.. iya Yah. Tapi nggak lama kok"


Brum.. Brum..


Pak Rianto belum sempat menjawab, tiba-tiba sebuah motor berhenti persis di depan gerbang rumahnya.


"Permisi Om" Evan menyapa Ayah Sean sambil menganggukkan kepala


"Ya, ayo masuk duduk dulu!" Suruh Pak Rianto.


Evan dan Sean terkejut. Kemudian Evan Memberi salam pada pak Rianto dan ikut duduk dalam ruang tamu tersebut.


"Mau di ajak kemana anak Om ini?" Pak Rianto mengawali obrolan


"Maaf Om, hanya sekedar jalan-jalan di taman" Evan membuat alasan yang umum saja, karena ia sebenarnya juga tidak tahu akan pergi kemana.


"Begini, Kalian boleh berteman. Om tidak melarang. Tapi tolong jagalah diri dan nama keluarga masing-masing. Kamu ini mengajak anak gadis om keluar, maka kamu juga harus bisa menjaganya" Pak Rianto memperjelas maksud hatinya.


"Baik Om. Dengan senang hati saya akan Menjaga Sean. Terimakasih atas kepercayaannya" Evan tersenyum


"Hei anak muda! Kamu jangan pede dulu. Siapa yang memberi kepercayaan padamu? itu kewajiban semua laki-laki untuk menjaga wanita" Pak Rianto menegaskan.


Evan mengangguk malu. Sedangkan Sean tersenyum melihat kekasihnya mati kutu dengan perkataan ayahnya.

__ADS_1


"Sudah sana cepat berangkat! Jangan pulang malam-malam" Pak Rianto berbicara dan meninggalkan keduanya.


Merekapun berangkat dengan tujuan masing-masing.


Setelah ayahnya berangkat, Sean menaiki Moge milik Evan.


"Kita mau kemana tuan puteri?" Tanya Evan


"Loh, katanya ke taman?" Sean balik bertanya


"Itukan karena sebelumya kamu nggak ngasi tau kita mau kemana, jadi aku jawab asal aja ke ayahmu" Jawab Evan


"Tapi ide kamu bagus juga. Ayo kita ke taman aja" Ajak Sean.


"Oke" Evan menstarter Moge nya dan berangkat ke Taman Kota.


Sesampainya di Taman, mereka duduk santai dibangku panjang.


"Sayang ada apa? Sepertinya ada yang tidak biasa?" Tanya Evan


"Aku mau curhat nih, sekalian minta solusi" Sean menunduk dan memutar-mutar kedua telunjuknya.


"Baiklah, aku siap mendengarkan. Ayo mulai" Pinta Evan


Sean pun bercerita tentang masalah yang sedang terjadi dikeluarganya. Ia bercerita mulai dari awal dengan detail. Tak terkecuali dengan niatnya mengundurkan diri dari universitas.


"Apa lebih baik aku bekerja saja?" Tanya Sean


"Mau kerja apa? Kamu ini lulusan SMA, sama sekali tak ada bekal untuk bekerja. Dan apakah kamu sudah mantap dengan pilihan ini?" Tanya Evan balik


"Apa saja. Menjaga toko seperti ibuku mungkin. Semua kan butuh proses, aku butuh banyak pengalaman untuk bisa bekerja di tempat yang lebih baik. Setelah ku pikir-pikir, aku sangat yakin dengan keputusan ini" Jawab Sean.


"Baiklah, aku mendukungmu. Kita akan berjuang bersama dan saling menguatkan. Berjanjilah kalau kita akan sukses bersama!" Evan memberi semangat


"Ya, nanti aku akan mengutarakannya pada ayah dan ibu. Semoga mereka juga merestuiku untuk bekerja. Terima kasih sayang" Sean mengembangkan senyumnya


Evan menggenggam tangan Sean, memberi semangat dan energi positif.


Sean pun merasa jika Evan adalah partner yang baik dalam urusan seperti ini.


Selama ini mereka biasa mengambil keputusan untuk permasalahan kerja Evan. Jadi tak butuh berbelit-belit dalam memecahkan sedikit masalah dalam keluarga Sean.

__ADS_1


Setelah lama bercengkrama, mereka berjalan-jalan santai mengelilingi taman. Tangan yang saling bergandengan, seperti mengisyaratkan dunia hanya milik mereka berdua saja.


Sean memutuskan pulang sebelum waktu makan malam tiba, sebab ia memang berniat mengutarakan niatnya bekerja pada saat keluarga berkumpul di meja makan malam nanti.


__ADS_2