Akankah Kembali

Akankah Kembali
Fakta Baru


__ADS_3

Visual Sean



Tak terasa sudah dua pekan mereka menjalani kemandirian dirumah baru.


Kemesraan mereka semakin nyata setelah hidup hanya berdua tanpa rasa sungkan terhadap siapapun.


Mereka kompak bersama-sama mengurus rumah. Tidak ada yang terlewat, semua terkondisikan dengan rapi. Urusan pekerjaan dan urusan rumah tidak mejadi suatu penghalang untuk mereka hidup dengan seimbang. Tak luput pula urusan bercinta, mereka bebas melakukannya semau mereka dimanapun berada dalam rumah.


Hanya satu hal yang menurut Evan sangat janggal dari Sean.


Karena di awal, Evan bertanya bagaimana rasanya bercinta, Sean hanya menjawab sakit. Ke dua, ke tiga, ke empat dan seterusnya, Sean hanya terlihat menikmati sentuhan darinya. Tak nampak suatu kepuasan dari Sean setelah melakukannya. Padahal Sean belum pernah melakukannya dengan orang selain dirinya. Durasi bermainnya bahkan hampir sampai satu jam. Hal ini membuat Evan merasa sangat penasaran. Dan berulang kali mencoba bermanuver dengan pikiran-pikiran liarnya. Namun hasilnya tetap nihil.


Seribu cara telah ia pikirkan, sampai akhirnya...


TING!


Sebuah bohlam menyala dalam otaknya, ditengah sibuknya ia bekerja sore itu.


"Ya! Aku tahu." Evan mendapat ide baru.


📨 "Sayang hari ini aku lembur, jadi pulang agak malam. Aku mencintaimu!" Evan buru-buru mengirim pesan pada Sean.


📩 "Loh kan bentar lagi waktunya pulang. Mendadak banget sih ngabarinnya?" Balas Sean kecewa.


📨 "Iya, Sayang maaf. Kamu pulang naik ojek online ya.. Sekali ini aja deh." Evan mengirim pesannya.


📩 "Yaaahhhh... Males deh! Yaudah kalo gitu. Jangan lama-lama lemburnya." Balas Sean sebal.


📨 "Iya, Sayang! Nanti jangan lupa pakai baju seksimu ya!" Evan melancarkan rencananya.


📩 "Lihat saja nanti! Oke selamat bekerja." Balas Sean jutek.


Akhirnya, Sean yang mulanya sedang menunggu Evan langsung memesan ojek online untuk pulang kerumah.


Dirumah Sean sangat tidak sabaran menunggu kedatangan Evan. Ia sangat merindukan suaminya itu walau hanya terpisah beberapa jam kerja saja.


Rasanya hampir seperti menahan rindu satu tahun lamanya. Hahaha.


Dirumah,

__ADS_1


Sean bergegas menyiapkan makan malam kemudian membersihkan diri.


Waktu menunjukkan pukul 19.00, tak ada tanda-tanda Evan akan pulang. Ia benar-benar sangat merindukan Evan. Kemudian ia pergi ke kamar dan menggunakan pakaian seksi seperti permintaan suaminya itu. Rindu dihatinya sudah mengalahkan rasa kesal. Hal ini membuatnya ingin sekali dibuai oleh sentuhan lembut Evan.


Tok.. Tok.. Tok..


"Sayang! Aku pulang!" Teriak Evan dibalik pintu.


Sean terperanjat dan langsung membuka pintu tanpa menyadari pakaiannya yang sangat minim akan terlihat dari luar rumah.


"Peluuuukkkkk!!!!!" Teriak Sean membentangkan tangannya pada Evan.


"Hai, Kamu wangi sekali malam ini?" Evan mencium kening Sean.


"Kan buat kamu..." Sean memanja lalu manarik suaminya masuk rumah.


"Iya harus dong. Oke aku mandi dulu ya. Tunggu aku di meja makan!" Ucap Evan.


Akhirnya suami yang ditunggu-tunggu datang juga. Sean pun menunggu dengan hati berbunga-bunga.


Setelah Evan mandi, ia langsung makan malam ditemani istrinya yang terlihat sangat ceria.


Setelah makan malam mereka bersantai didepan tivi dan berbagi cerita mengenai aktifitas hari itu.


Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 21.30.


Evan menggendong Sean menuju kamar. Ia sudah tak tahan mencium aroma Sean dan pandangan yang over vitamin 😁.


"Sayang aku lagi pengen nih!" Rayu Evan.


"Ya, aku tau. Seperti biasanya." Sean sangat hafal dengan suaminya yang setiap hari meminta jatah, tak peduli pagi, siang atau malam.


Tak butuh waktu lama, Evan mulai mencumbu istrinya itu. Meremas dada mengkal milik Sean dan memberi tanda di sekujur tubuhnya.


Jarinya mulai menari-nari di bagian paling tersembunyi dan mulai melancarkan aksinya. Menghujam Sean dengan hentakan berirama lebih dari lima belas menit, membuat Sean berkeringat dan meracau terbuai irama tersebut.


Tiba-tiba Evan menghentikan aksi itu dan mencabutnya. Ia tak ingin terpancing dengan panasnya suasana, karena hal itu akan membuat rencananya gagal.


Sean terdiam lemas, bertanya-tanya mengapa Evan mencabutnya. Namun tak satu kata terucap dari bibirnya.


Evan mengambil jeda hampir lima menit. Sean masih menunggu tak sabar. Kemudian Evan membalik posisi Sean hingga membelakangi dirinya. Hentakan demi hentakan dilancarkan oleh Evan, hal itu membuat Sean mendesah berulang kali sambil memegang erat perutnya.

__ADS_1


Kembali terulang, lebih dari lima belas menit berlalu. Evan mencabutnya lagi dan kali ini ia memberi jeda lebih lama. Kemudian ia malah berbaring disamping Sean.


Sean terheran dan merasa dipermainkan oleh Evan.


Bukannya marah, Sean malah duduk di atas Evan dengan tatapan tajam. Siapa sangka! Sean mengambil alih pekerjaan itu dan menghujamnya berkali-kali bahkan lebih cepat hingga akhirnya kini ia mengerang panjang. Mengeluarkan apa yang belum pernah ia keluarkan selama ini.


"Hangat.. Apa ini? Rasanya sangat.. Ah.." Batin Sean.


Kemudian ia tersungkur lemas di atas dada bidang Evan.


"Oke! Ternyata ini yang bisa membuatmu sampai pada batas tertinggi. Fakta yang sangat menarik!" Gumam Evan.


Ia tersenyum puas karena berhasil menemukan teka-teki Sean selama ini.


Kini ia bangkit, Giliran Evan yang menghujam, hingga akhirnya ia pun sama-sama mendapat kepuasan dalam aktifitas malam kali itu.


Sungguh fakta yang mencengangkan. Sean adalah gadis yang sangat sulit mencapai batas tertinggi. Hingga Evan harus bekerja ekstra keras untuk bisa memberi kepuasan pada istrinya itu.


****


Keesokan harinya ketika Sean membuka mata. Sean masih tertidur di atas Evan.


"Duh! Rasanya malu sekali. Harus aku sembunyikan dimana wajah ini? Kalau aku bergerak sedikit saja, Evan akan bangun dan melihatku berada disini." Batin Sean.


Tapi lama kelamaan Sean tidak tahan dengan posisi seperti itu. Mau tidak mau ia harus beranjak dari tubuh Evan. Kemudian ia memberanikan diri bangkit dari pelukan Evan, tanpa morning kiss yang biasa ia berikan pada suaminya itu.


Ia berlari menuju kamar mandi dan buru-buru menutup pintu.


Jederrr!!!


"Ya Tuhan. Apa yang aku lakukan semalam? Rasanya aku tidak punya muka hari ini!" Ucap Sean lirih menatap dirinya didepan cermin.


Kemudian ia menyalakan Shower dan mandi dibawah gemericik air hangat yang sangat nyaman.


Membuat dirinya merasa rileks dan sejenak malupakan kejadian tadi malam.


Setelah mandi ia bergegas mengganti baju, Sean melihat Evan masih terlelap, membuatnya merasa aman dari rasa malu.


Kemudian ia keluar kamar dan membuat sarapan untuk mereka berdua.


Entah bagaimana caranya membangunkan Evan, dan memintanya untuk segera membersihkan diri dan bersiap berangkat kerja. Ia sudah kehabisan akal, juga kehabisan keberanian untuk menatap Evan.

__ADS_1


__ADS_2