
Keesokan harinya Sean merasa lebih baik. Ia bangun pagi kemudian menyiapkan sarapan.
Setelah selesai, ia membangunkan Evan yang sedang tidur di sofa kamar.
"Sayang, bangun!" Ucap Sean.
"Iya, Sayang. Kamu udah enakan?" Tanya Evan.
"Udah. Buruan mandi nanti kesiangan, loh." Jawab Sean.
Kemudian Evan meminta jatah morning kiss nya pada Sean. Namun lagi-lagi Sean muntah-muntah tanpa sebab. Mereka berdua terdiam dengan gejala-gejala yang Sean rasakan. Seperti tidak masuk akal, jika awalnya Sean baik-baik saja, sekejap muntah ketika dekat dengan Evan.
"Sayang. Sepertinya ada yang tidak beres deh. Aku takut!" Ucap Sean khawatir.
"Menurut kamu kenapa bisa begini?" Tanya Evan.
"Aku nggak mau masuk kerja, ah! Aku takut." Ucap Sean.
"Loh apa hubungannya?" Evan heran.
"Apa mungkin, jika ada temanku yang tidak suka dengan hubungan kita?" Tanya Sean kemudian terdiam
"Apa maksudnya?" Evan penasaran.
"Mungkin nggak kalau orang itu mengguna-guna aku, biar gak bisa dekat sama kamu lagi?" Cemas Sean.
"Hah! Apa-apaan, mana mungkinlah." Tepis Evan.
"Tapi kamu kan banyak yang suka. Jelas aja banyak yang mau nyingkirin aku!" Ucap Sean sebal.
"Ah nggak mungkin, ini kan era digital. Orang seumuran kita udah nggak percaya sama yang begituan. Mungkin kamu butuh istirahat aja. Ambil cuti kamu lagi, kalau perlu kita periksa dan minta surat dokter." Evan beranjak dari sofa menuju kamar mandi dan meninggalkan Sean.
Sambil mandi, Evan masih berfikir tentang perkataan Sean.
"Apa memang ada benarnya ya kata Sean?" Tanya Evan dalam hati.
Kemudian ia menyelesaikan mandinya dan bergegas menemui Sean yang sudah pasti menunggunya di meja makan.
Benar saja, Sean sedang melamun di ruang makan. Ia duduk sambil menopang wajah dengan kedua tangannya. Ia sangat khawatir jika guna-guna itu akan sangat berdampak pada hubungannya dengan Evan.
"Hai, Sayang!" Sapa Evan.
"Ya, Sayang!" Ucap Sean.
"Udah jangan murung! Semua itu tidak benar. Sini aku peluk kamu, semuanya akan aman!" Ucap Evan sambil menyelidik.
Ketika Sean bangkit dari kursinya dan menyambut pelukan Evan,
HOEEEKKK!!!
Sean memuntahkan angin yang ada dalam perutnya.
"Wow! Sejijik itukah kamu denganku, Sayang?" Tanya Evan terkejut.
"Sana! Aku nggak jijik. Cuma tiba-tiba saja ingin muntah. Apa jangan-jangan firasatku benar?" Sean mengibas-kibaskan tangannya.
"Kita perlu bicara sama ayah dan ibu. Bahaya kalau sampai benar apa katamu!" Ucap Evan tidak sabar.
"Heem. Aku bisa menunggu sepulang kamu dari bekerja." Sean mengangguk lemas karena khawatir.
Kemudian mereka menyantap sarapan dengan duduk bersebrangan. Tanpa banyak bicara, mereka fokus dengan hidangan dan pikiran masing-masing.
Setelah sarapan, Evan bergegas berangkat kerja.
Dan Sean memutuskan untuk izin tidak masuk kerja lagi dengan seribu alasan yang meyakinkan, tanpa menyebut kondisinya saat ini.
****
Delapan jam pun telah berlalu. Evan datang dengan tergopoh-gopoh. Memasuki rumah dan segera membawa Sean menemui Pak Barata dan Bu Nita.
Ia tak ingin memberi tahu kedua mertuanya karena tak ingin mereka khawatir.
__ADS_1
Sedangkan Sean, menurut saja pada suaminya. Ia juga tidak tahu jalan keluar macam apa jika memang dirinya benar-benar terkena guna-guna.
Di jalan, Evan sangat serius. Matanya tajam dan pikirannya terus saja bergejolak. Tidak satu pun kata terucap dari mulut keduanya.
Sesampainya dirumah Ayah dan Ibunya, Evan menggandeng Sean langsung masuk tanpa permisi. Seperti orang yang sedang di kejar-kejar polisi.
"Bu! Bu! Ibu dimana?" Teriak Evan.
"Hei, Nak! Buru-buru sekali. Ibumu di dapur. Kamu rindu dengan kami?" Sambut Pak Barata.
"Aku perlu bicara, Yah! Ayo kita ke dapur!" Ucap Evan Serius.
Mereka bertiga pun berjalan menuju dapur, dimana Bu Nita sedang menyiapkan makan malam.
"Hai Sean, Evan! Ada apa ini, kenapa nggak ngabarin Ibu dulu kalau mau datang?" Sambut Bu Nita.
"Ayo duduk dulu, Bu! Ada yang ingin Evan bicarakan" Ucap Evan.
Kedua orang tuanya pun keheranan melihat kedua anaknya tersebut.
Mereka semua duduk dan Evan mulai bicara. Menceritakan semua gejala yang Sean alami dua hari terakhir.
Pak Barata dan Bu Nita diam sejenak. Mencerna setiap ucapan Evan.
Kemudian,
Krek!
Bu Nita mendorong kursinya mundur dan beranjak.
"Kalian Semua tunggu disini! Sean, kamu masuk ke kamar kalian, tunggu Ibu disana!" Perintah Bu Nita.
Sean pun beranjak dari kursi dan berjalan menuju kamar mereka sebelumnya, yang berada di lantai dua.
Kemudian Bu Nita keluar rumah entah kemana, berjalan kaki sekitar lima belas menit lamanya.
Ketika Bu Nita kembali, ia langsung menuju kamar dimana Sean sedang menunggunya.
"Iya, Bu." Jawab Sean.
"Kamu tahu ini apa?" Bu Nita menunjukkan tiga buah kemasan berbeda merk.
"Bukankah itu alat tes kehamilan, Bu?" Tanya Sean heran.
"Ibu memang generasi jadul. Tapi ibu nggak percaya ah, kalau kamu kena guna-guna. Ini coba dulu!" Kata Bu Nita sambil menyodorkan alat tes yang disebut tespek itu.
Kemudian Sean menerimanya dan membaca aturan pakai yang tertera pada setiap kemasan.
"Sudah mengerti? Ibu menunggumu disini." Ucap Bu Nita sambil tersenyum.
"Baik, Bu." Jawab Sean, kemudian pergi ke kamar mandi dalam kamar itu.
Beberapa waktu kemudian, Sean keluar kamar dengan wajah polos, tak tahu harus berekspresi seperti apa.
"Gimana? Sini Ibu Lihat!" Ucap Bu Nita tidak sabar.
"Eh, jangan, Bu! Kotor." Jawab Sean.
"Ah, ngakpapa. Sini!" Paksa ibu mertuanya.
Kemudian Bu Nita mengambil tespek itu dan melihat garis yang dihasilkan disana.
Bu Nita diam seribu bahasa memandang tiga buah tespek ditangannya. Tubuhnya kaku bak patung, sedangkan bibirnya seperti menahan ada sesuatu yang telah menyambar jantungnya.
Kemudian Bu Nita menitikan air mata. Menaruh alat tes itu dan memeluk Sean.
"Ibu kata juga apa! Kamu tidak diguna-guna. Ini karena bawaan bayi." Ucap Bu Nita lembut.
"Apa benar, Bu?" Tanya Sean masih ragu.
"Iya. Kamu hamil Nak! Ibu senang sekali!" Ucap Bu Nita dengan sambil melepas pelukan dan mengelus perut Sean.
__ADS_1
Sean terpaku, matanya berbinar dan sangat takjub.
Selama empat bulan ini belum terpikir akan hal ini. Namun, kali ini ia sangat bahagia tak terkira karena telah mengandung anak dari Evan.
Sejenak mereka mengadu tangis bahagia, sampai akhirnya mereka memutuskan untuk turun menemui Evan dan Ayah mertua Sean.
"Evan, sebaiknya kamu besok anterin Sean periksa." Ucap Bu Nita.
"Iya, Bu. Tapi apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya Evan.
"Sudahlah jangan khawatir. Nanti kamu juga tau. Oh, iya! Mulai sekarang turuti semua permintaan istrimu!" Ucap Bu Nita sambil memberi kode pada suaminya.
Evan masih bertanya-tanya, namun Sean tak memberi jawaban apapun.
Sedangkan Pak Barata sudah mengerti apa yang sebenarnya terjadi lewat kode yang diberikan oleh istrinya tersebut.
Setelah itu mereka menghabiskan malam dengan makan malam dirumah Pak Barata dan Bu Nita.
Ketika waktu menunjukkan pukul 21.00, Sean dan Evan meminta izin untuk pulang.
****
Dirumah, Evan bertanya-tanya pada Sean. Namun Sean menahan diri sampai berita kehamilannya benar-benar diucapkan oleh dokter yang ahli dibidangnya.
Keesokan harinya mereka bangun pagi-pagi dan bergegas pergi ke rumah sakit terdekat.
Sean memberikan informasi keluhan dan oleh resepsionis di arahkan se sebuah ruangan bertuliskan Dr. Ranny, Sp.OG. Evan semakin bertanya dalam hatinya. Namun ia menahan diri dan mengikuti langkah kaki istrinya.
"Selamat pagi, Dokter." Sapa Sean.
"Silakan duduk!" Dokter Ranny tersenyum ramah.
Kemudian ia membuka sebuah map yang di berikan oleh perawat dan membacanya.
"Oke, Ibu Sean. Silakan berbaring di sebelah sini! Bapak boleh ikut." Dr. Ranny beranjak dan menghampiri sebuah kasur medis di samping alat bermonitor.
Kemudian Sean berbaring dan Dokter mulai menyibak pakaian Sean keatas perut. Mengoleskan gell dan mengusap-usap perut Sean dengan alat mirip ulekan kecil berwarna putih.
Sedangkan Evan benar-banar tidak tahu apa maksud dari pemeriksaan ini.
"Nah, Pak, Bu! Lihat ini. Ini adalah sebuah kantung dalam rahim. Dan titik kecil ini adalah janin." Ucap Dokter Ranny menunjuk pada minitor disamping kasur.
"Apa! Janin?" Batin Evan terkejut.
Sedangkan Sean sudah berlinang air mata sambil menggenggam tangan Evan yang sedang berdiri disamping kiri kasurnya.
Tak lama kemudian,
"Oke! Sudah selesai, silakan duduk kembali!" Ucap Dokter Ranny sambil membersihkan dan menutup kembali perut Sean.
"Selamat Ibu Sean dan Bapak Evan. Ibu sekarang sedang mengandung janin berusia empat minggu. Terus lakukan pemeriksaan rutin dan jangan lupa meminum vitamin yang telah kami resepkan untuk Ibu." Terang Dokter Ranny ramah.
"Jadi, Saya akan jadi Ayah ya, Dok?" Tanya Evan menegaskan.
"Iya, Pak! Bapak akan jadi seorang ayah!" Dokter Ranny tersenyum.
"Ya Tuhan! Kenapa kamu nggak ngomong dari awal, Sayang! Aku seneng banget!" Ucap Evan bersemangat sambil menciumi istrinya itu.
"Kemarin aku belum yakin." Jawab Sean.
"Ehem!" Suara Dokter Ranny membuyarkan keintiman mereka berdua.
"Eh, iya maaf, Dokter! Saya akan menjaga istri dan calon bayi saya. Terimakasih banyak." Ucap Evan masih girang dengan kabar kehamilan istrinya.
"Baik. Silakan mengambil resepnya di apotek!" Pungkas Dokter Ranny.
Merekapun akhirnya pamit undur diri dan bergegas mengambil resep vitamin dari dokter.
Kemudian mereka bergegas pulang dan memberi kabar bahagia tersebut pada semua anggota keluarga mereka.
Keluarga mereka sangat gembira mendengar kabar kehamilan Sean. Karena ini adalah cucu pertama dari kedua keluarga mereka.
__ADS_1