Akankah Kembali

Akankah Kembali
Makan Malam


__ADS_3

Sean mulai Bedebar tapi kali ini tak berani menarik tangannya, sebab dirinya sudah memakai helm gelap. Alasan malu bukanlah alasan yang tepat saat ini. Jika ia nekad melepaskan, maka Evan akan tersinggung, dia akan berpikir bahwa Sean tidak suka memeluknya.


"Huh... atur nafas.... buang.. Relax Sean, please relax. Fiuh...." Sean berkata dalam hati menenangkan dirinya.


Evan tersenyum merasakan tarikan dan hembusan nafas yang seakan sangat dipaksa.


Tanpa Sean sadari, dada dan perutnya yang mengembang dan mengempis bergantian membuat Evan merasa Geli.


"Apa kamu sudah siap Sean? Ritualmu sangat menggangguku." Evan berbicara tanpa basa-basi.


"Hah! Ritual apa maksudmu? Tidak... Tidak ada ritual. Cepat berangkat, aku sudah siap". Dengan gugup dan tergesa-gesa Sean menjawab pertanyaan Evan.


Di sepanjang perjalanan Sean tak berani berkata-kata. Ia sibuk menganalisa perasaan macam apa yang ia rasakan saat ini. Sambil menikmati rasanya dibonceng kekasih menembus padatnya jalanan di malam minggu.


Evan sesekali menyentuh tangan Sean dengan tangan kirinya dan mengelusnya lembut. Membuat Sean berulang kali merasakan desiran yang sama disaat mulai terbiasa dengan pelukan itu.


"Mengapa dia tak henti-hentinya membuat darahku menghangat seperti ini? Ya Tuhan tolong aku...". Gumam Sean dalam hati sambil memejamkan matanya dengan penuh kekuatan.


Sedangkan Evan merasa biasa saja.


Motor gede itu melaju lebih cepat ketika hampir sampai di tempat makan malam. Sesaat kemudian sampailah mereka didepan lobby sebuah hotel berbintang. Sean segera turun dari motor dan melepas helmnya.


"Evan, apa yang akan kita lakukan disini? bukankah kita akan makan malam?" Tanya Sean dengan terkejut


"Kamu pikir kita akan apa?" Evan balik bertanya sambil terrsenyum licik


"Evan, ini kesalahan. Aku tidak mau masuk. Aku pulang saja!" rengek Sean menarik-narik lengan baju Evan


"Sudah ayo masuk. Jangan banyak bicara". Evan menarik tangan Sean memasuki hotel tersebut.


Sean melangkahkan kaki berat, seperti seorang anak yang sedang bermain lumpur dan kemudian ditarik paksa ibunya masuk rumah.


"Jangan! Jangan Evan aku mohon" Sean meronta-ronta menolak ajakan Evan.


"Diam. Kamu ini nggak tau malu ya?" gertak Evan.


Seketika Sean diam dan menuruti langkah kaki Evan. Karena sadar banyak orang memandangnya heran.

__ADS_1


ck..ck..ck.. apa yang akan mereka lakukan yaa... 😅


Sampailah langkah kaki mereka di sebuah Ruangan yang luas, dengan banyak ornamen mewah di tiap sudutnya. Meja dan kursi tertata rapi dengan lilin-lilin kecil di tiap mejanya, pencahayaan yang menenangkan. Dan bunga-bunga sebagai hiasan menambah sempurna desain ruangan itu.


"Hei, jangan melamun ayo duduk". Evan membuyarkan lamunan Sean.


Ia menarik kursi untuk Sean duduki, dan kemudian menduduki kursi tepat didepan Sean berhadapan.


"Eh, iya iya" Sean duduk. Kemudian dia mulai berbisik pada Evan.


"Evan, kita mau makan disini?"


"Iya donk. Kita sudah sampai disini mau apa lagi?" Jawab Evan santai.


"Kamu bilang aku yang traktir kan? seharusnya aku yang memilih tempat" masih berbisik2 tepat dihadapan Evan sambil menutup pipi kanannya dengan tangan.


"Memangnya kenapa kalau aku mau makan disini?" Evan menelisik.


"Aduh.. (sambil menepuk keningnya perlahan). Maafkan aku, tapi aku tak mampu mentraktirmu makan di tempat mewah seperti ini. Duhh... Sebenarnya aku malu mengatakan ini" Sean mengatakan kekhawatirannya pada evan dengan sedikit menggigit kecil bibir bawahnya.


Tanpa menanggapi perkataan Sean, Evan melambaikan tangan pada pelayan yang sedang berdiri rapi didepan pintu kitchen restoran itu.


"Silakan Tuan" pelayan itu menyodorkan lembar menu untuk Evan.


"Sean kamu mau makan apa?" Tanya Evan menunjukkan aneka makanan dalam daftar menu tersebut


"Aku sama deh kayak kamu". Jawab Sean putus asa


"Yakin nih?" Evan meyakinkan


"Iyaaaa sayang" jawab Sean sedikit ngegas .


"Iya deh iya.." jawab Evan singkat.


"Pesan yang ini ya mas 2, minumnya ini 2, dessertnya puding 2" Lanjut Evan pada pelayan


"Baik Tuan mohon ditunggu sebentar" Pelayan itu mengakhiri

__ADS_1


"Astaga.. banyak sekali pesanannya. Aku harus gimana ini? Atau setelah makan akan ku jaminkan kartu pelajar saja? atau jaminan ponsel? atauuu... apalagi Ya Tuhan.. Please help me.." Tangis Sean dalam hati.


"Ehem..." Evan berdehem untuk memecah lamunan Sean.


"Eh iya. Kenapa?" Sean terkejut


"Enggak. Kamu kenapa sih kok pucet gitu?" Tanya Evan


"Gapapa.. Nanti setelah makan, kamu pulang duluan ya. Aku mau kerumah Regina dulu ada perlu" Sean berbicara dengan nada lirih.


"Aku anterin kan bisa. Ngapain minta aku untuk pulang duluan" Senyum licik kembali menghiasi wajah Evan


Pesanan merekapun datang, berbagai hidangan tersaji di meja mereka. Namun hanya menatapnya saja bisa membuat Sean kenyang dan kehilangan napsu makan.


"Sayang, makanlah. Bukankah kamu bahagia dengan kelulusanku?" Desak Evan


"Eh... i..iya. Kamu makan aja dulu". Sean hanya menyeruput minuman hangat yang berada didepannya.


"Sayang tenanglah. Semua ini aku yang bayar" senyum tampan Evan merekah


"Tapi... Kan aku sudah janji akan mentraktirmu. Lagipula kamu juga baru lulus dan belum bekerja. Jadi....." Ucap Sean sedikit lega


"Begini, beberapa hari yang lalu setelah pengumuman, aku ikut ke tempat usaha milik ayahku. Disana aku banyak belajar dan membantu. Memang hanya beberapa hari. Tapi tadi siang aku meminta gajiku terlebih dahulu pada ayah" Evan menjelaskan sambil menggaruk-garuk tengkuknya, tanda malu-malu seperti kucing kecil.


"Apa? kamu seenaknya saja meminta gaji yang belum waktunya kamu dapatkan" Tanya Sean


"Itulah istimewanya menjadi anak ayah. Hahaha" Tawa Evan mencairkan segala suasana beku dalam hati Sean.


"Fiuuuuuuhhhhhhh..... Ya Tuhan terimakasih. PertolonganMu sangat luar biasa. Akhirnya aku bisa makan dengan tenang." Batin Sean


"Lalu janjiku?" Jawab Sean


"Suatu saat akan aku tagih, tenang saja. Ayo makan" Evan mengakhiri pembicaraan dan mulai menyantap hidangan yang berada di depannya.


Waktu menunjukkan pukul 19.00, sudah tepat waktunya untuk makan malam. Terdengar suara musik melankolis diputar oleh pihak Hotel untuk menambah kesan hangat dalam ruang restoran. Membuat hidangan yang mereka santap semakin memikat untuk dinikmati. Pengunjung lainpun terlihat sangat menikmati suasana ruangan tersebut.


Ditengah suasana sendu itu, diam-diam Evan memperhatikan Sean yang sedang menyantap makanannya dengan santai dan santun tidak banyak bicara. Berbeda dengan mantan-mantan kekasih Evan, yang jika berkesempatan makan dengannya, akan senantiasa mengungkapkan kekaguman dan keinginannya ini itu untuk segera dituruti. Hal yang membosankan bagi Evan.

__ADS_1


"Kamu terlihat sangat berbeda Sean. Bukan hanya tampilanmu tanpa seragam, tapi sikapmu yang santun membuatku tak ingin berpaling darimu. Semoga saja kita bisa menjaga cinta ini" Gumam Evan dalam hati.


Setelah menyelesaikan makannya, Evan membayar tagihan dan menggandeng Sean untuk keluar meninggalkan hotel tersebut.


__ADS_2