
Beberapa waktu kemudian Evan keluar dari kamar mandi dengan balutan handuk kecil yang melingkar dipinggangnya. Rambut basah acak-acakan membuatnya terlihat sangat seksi, Sean menelan ludah. Namun ia masih bingung mengapa Evan tiba-tiba saja meninggalkannya, padahal Sean sudah membuka kesempatan untuk malam ini.
Evan membuka lemari dan memakai pakaian tidurnya. Kemudian ia mengambilkan satu stel piyama untuk istrinya yang sedang bersembunyi dibalik selimut.
"Sayang, ayo aku bantu pakai!" Kata Evan sambil menyibakkan selimut.
"Hah! Aku bisa sendiri, Sayang." Sean buru-buru menarik selimut menutupi bagian depan tubuhnya dan duduk dihadapan Evan.
"Ayolah! Jangan malu-malu. Aku sudah melihatnya semua." Goda Evan
"Tidak aku bisa sendiri." Sean mengambil piyama dari tangan kiri Evan dengan pipi memerah karena malu.
"Oke!" Jawab Evan singkat.
Kemudian Evan membaringkan tubuhnya dan memandangi Sean yang sibuk memakai pakaian. Satu persatu dipakainya dengan sedikit bersembunyi dibalik selimut putih yang tebal itu.
Vitamin mata seperti itu membuat Evan semakin nyaman berbaring. Kedua tangannya disilangkan dibelakang kepala sebagai bantal dan pandangannya tak berhenti menikmati setiap inchi kulit mulus Sean.
Sean beranjak dari ranjang, berniat membersihkan diri ke kamar mandi. Namun langkahnya terhenti.
Tangan Sean ditahan oleh Evan.
"Sayang, tidurlah. Jangan kemana-mana!" Evan menarik Sean jatuh ke pelukannya.
"Tapi... Aku mau membersihkan diri." Ucap Sean.
"Besok pagi saja. Sekarang temani aku tidur!" Ucap Evan sambil memejamkan mata.
Mau tidak mau Sean harus menemani Evan sampai tertidur, karena ia benar-benar tidak bisa beranjak walau hanya sejengkal saja. Pelukan Evan begitu erat, membuatnya susah bergerak namun masih leluasa bernafas.
"Ya Tuhan, dada bidang ini sungguh nyaman. Wangi tubuhnya selalu membuatku terlena. Aku sangat bersyukur memiliki malaikat seperti Evan." Gumam Sean dengan senyuman yang merekah dibibir ranumnya.
Mereka berdua pun larut dalam suasana malam yang sunyi. Perlahan mereka mulai tertidur dan terlelap dalam buaian mimpi-mimpi indah.
****
Keesokan harinya Sean bangun pagi-pagi sekali. Ketika mata terbuka, Sean mendapati dirinya bagai sebuah guling, dengan kaki Evan menumpang diatas pahanya serta pelukan erat melingkar diperutnya.
Ditatapnya wajah Evan yang amat tampan sedang tertidur pulas. Sean melepaskan tangan Evan perlahan dan menyingkirkan laki Evan dari pahanya.
Cup....
Morning kiss yang tidak pernah tertinggal disetiap pagi.
"Selamat pagi, Sayang. Aku mencintaimu" Ucap Sean lirih.
Kemudian ia beranjak meninggalkan ranjang untuk membersihkan diri.
Hari ini Sean libur bekerja, ia berniat menemani ibu mertuanya seharian. Karena Evan akan bekerja seperti biasa.
__ADS_1
Setelah Sean menyiapkan sarapan ia bergegas membangunkan Evan dan menyiapkan baju kerja untuk suaminya itu.
Di meja makan,
"Sean, nanti sore kamu ada acara atau tidak?" Tanya Ayah mertuanya.
"Tidak, Yah. Memangnya ada apa, Yah?" Tanya Sean.
"Ok, bagus! Nanti sore setelah Ayah dan Evan pulang kerja, kita semua akan pergi ke suatu tempat. Jadi kamu siap-siap ya." Jelas Pak Barata.
"Baik, Yah." Jawab Sean.
Evan yang berada disamping Sean seraya menepuk paha Sean perlahan dan mengelusnya lembut.
"Emangnya ada apa, Sayang?" Bisik Sean penasaran pada Evan.
"Sudahlah kamu akan tau nanti." Jawab Evan sambil meraba genit.
Plakkk....
Sean menepuk tangan Evan yang bergerilya dibawah meja.
"Kenapa Sean?" Bu Nita terkejut.
"Eh nggak Bu. Ini ada semut." Ucap Sean sambil menunduk malu.
Setelah sarapan selesai, para lelaki berhambur dengan tujuan masing-masing.
Sean dan Bu Nita memulai aktifitas rumah tangga, saling membantu membersihkan rumah, karena Mbak Narti tidak datang hari ini.
Ketika sore tiba, Sean dan ibu mertuanya kembali ke kamar masing-masing untuk menyiapkan diri seperti pinta Pak Barata.
Sean berlama-lama berendam dalam bathtub dengan busa beraroma wangi mawar, aroma lembut itu membuatnya sangat rileks.
Setelah selesai mandi, Sean memilih pakaian yang sedikit formal, karena ia tidak tahu akan diajak pergi kemana oleh mertuanya itu.
Ia menggerai rambut lurusnya dan menyematkan jepit rambut kecil di sisi poni nya, menggunakan gelang manis pembelian Evan, dan balutan dress pendek berwarna krem dengan sepatu hak tinggi berukuran 5cm.
Tak berselang lama pintu kamar terbuka, Evan mendapati istrinya sangat cantik, duduk memainkan ponsel di sofa kamarnya.
"Sayang kamu sudah siap?" Ucap Evan sambil mengecup kening Sean.
"Sudah Sayang. Apa kita langsung berangkat?" Tanya Sean.
"Iya dong. Oh iya, kamu terlihat dewasa, sangat menggoda, Sayang." Goda Evan menahan juniornya menegang.
"Ih.. Apaan sih?! Aku penasaran ayah mau ngajakin kita kemana. Ayo berangkat!" Ucap Sean menarik tangan Evan keluar kamar.
Ternyata dibawah, Pak Barata dan Bu Nita sudah menunggu mereka berdua di ruang tamu.
__ADS_1
Tak perlu menunggu lama, mereka pun berjalan menuju garasi dan menaiki mobil sedan milik ayah Evan.
Evan duduk di depan dengan Ayahnya, kemudian Sean dan Bu Nita duduk di bangku belakang.
Di sepanjang perjalanan Sean bertanya-tanya dalam hatinya mengenai tujuan mereka yang tidak dibahas sedikitpun sebelumnya.
Kurang lebih tiga puluh menit mereka sampai disebuah perumahan, berhenti tepat di depan sebuah rumah minimalis.
Evan mematikan mesin dan keluar dari mobil, diikuti oleh Ayah dan Ibunya.
"Sayang, Ayo!" Sambut Evan dengan senyum lebar.
Sean keluar dari mobil dan menggandeng suaminya. Menghampiri Pak Barata yang tengah membuka pintu rumah tersebut.
Setelah terbuka, mereka berkeliling melihat setiap ruangan dengan perabotan lengkap yang sudah tertata rapi.
Sean Terpana melihat rumah nyaman yang ia kelilingi bersama anggota keluarganya itu.
"Bagaimana Sean? Apa kamu suka?" Tanya Pak Barata.
"Eh, kenapa Sean yang ditanya, Yah?" Jawan sean heran.
"Jawab saja, Sayang!" Ucap Evan lembut.
"Sean suka, Yah." Jawab Sean.
"Baiklah, ini semua jadi milikmu." Pak Barata mengembangkan senyumnya.
"Tapi, Yah. Sean belum paham." Sean bertanya-tanya.
"Begini, Sayang. Waktu ayah memintaku datang ke kantor, sebenarnya kami melihat-lihat rumah ini. Ayah memberikan hadiah pernikahan untuk kita. Karena aku yang tau selera kamu, jadi ayah mengajakku. Sedangkan selama beberapa hari, ibu yang sibuk membeli perabotan untuk mengisi rumah ini." Terang Evan.
Kedua orang tuanya pun tersenyum dan menganggukkan kepala.
"Wah! Begitukah? Sean merasa sangat senang. Ini sungguh hadiah yang luar biasa. Terima kasih Yah, Bu!" Sean memeluk ibu mertuanya dengan gembira.
"Iya, Sayang. Ibu juga senang melihatmu sangat bahagia menerima hadiah ini." Ucap Bu Nita mengelus punggung menantunya tersebut.
"Berbahagialah disini dengan singa lapar itu. Mudah-mudahan dia tidak terlalu mengganggu mu. Hahaha." Tawa Pak Barata
"Aku akan terus mengganggunya agar Ayah segera menimang cucu." Ucap Evan memainkan alisnya naik turun.
Mereka pun tergelak mendengar perkataan Evan. Tawa bahagia membahana dalam ruangan tersebut dan Aura kebahagiaan terus bernaung di wajah mereka.
Sampai tiba waktunya makan malam, mereka memutuskan untuk makan malam di sebuah restoran bernuansa klasik yang sangat nyaman.
Mereka berbaur menambah keakraban diantara mereka. Candaan-candaan ringan menghiasi obrolan makan malam tersebut.
Lagi-lagi Sean sangat bersyukur mendapat keluarga baru yang amat menyayangi dirinya. Mertua yang menganggapnya sama seperti anak sendiri. Keharmonisan keluarga seperti ini membuat Sean benar-benar menghargai pernikahannya dengan Evan.
__ADS_1