Akankah Kembali

Akankah Kembali
Salah Paham


__ADS_3

"Aku tak tahu mana yang benar" Jawab Sean lesu.


"Oke, minum jus mu. kemudian kita pulang. Tenangkan dirimu dirumah" Regina memecah suasana hati Sean yang tak menentu.


"Ya aku butuh istirahat. Pikiran dan tubuhku ini sangat lelah, hanya karena gadis itu". Sean mengiyakan ajakan Regina.


Namun tiba-tiba ponsel Sean berdenting.


Ting..


📩 "Hai, apa kamu sudah pulang?". Pesan singkat dari Evan.


Namun Sean tak menghiraukannya. Sean memilih mematikan ponselnya. Bergegas membayar jusnya dan keluar warung untuk mencari angkutan umum yang menuju rumahnya bersama Regina. Ya, mereka berdua tinggal tidak jauh. Sepulang sekolah mereka berdua menaiki angkutan umum dengan rute searah.


Dalam angkutan umum.


"Kenapa kamu matiin ponselmu? bukankah tadi ada pesan masuk?" Tanya Regina.


"Iya pesan dari Evan. Aku nggak mau ah berdebat dengan dia. Aku pengen ngademin hati dulu". Jawab Sean.


"Sebaiknya kamu ngomong deh baik-baik. Yang bener yang mana. Kalau emang dia bohong, kamu pergi aja dari dia. itu ancaman si Eria sadis juga sih mau malu-maluin kamu tiap hari di depan sekolah". Regina menunjukkan ekspresi khawatirnya.


"Iya lihat aja nanti". Ekspresi melas Sean tak kunjung pergi dari wajah manisnya.


***


Sementara itu Evan sedang berkumpul dengan teman-temannya di Base camp tersembunyi milik perkumpulan lelaki itu.


"Ponselnya mati, tidak biasanya dia begini". Gumam Evan dalam hati sambil memutar-mutar ponselnya dengan jari jempol dan jari tengahnya.


"Woy! ngelamun aja bro. Mikir apa? mikir apa??". Ledek sahabatnya bernama Robin.


"Mikirin cewe barunya tuh. Sampai ngelamun gitu". Gavin ikut meledek.


"Hahahahaha" tawa Robin dan Gavin bersama.


"Gak lucu, gue pulang dulu deh". Evan mengangkat tasnya dan segera berjalan keluar base camp. Berlalu menuju parkiran sekolah untuk mengambil motornya.

__ADS_1


Cepat-cepat Evan mengendarai motor. Tujuamnya hanya satu, kamar. Tempat ternyaman dan privat. Gak bakalan ada yang ingin tahu dan mencampuri urusannya didalam sana.


Sesampai dirumah. Evan memarkir motornya di garasi dan langsung masuk kamar. Membuka ponselnya, namun nihil. Tidak ada balasan dari Sean.


Dia mencoba mengirim beberapa pesan lagi dan beberapa panggilan yang tak dapat terhubung.


"Sial, apa yang terjadi! Firasatku mengatakan kalau sudah terjadi sesuatu padanya". Gumam Evan sambil membanting ponselnya.


Diapun tertidur dengan seragam masih menempel di badannya.


Waktu menunjukkan pukul 19.00. Ibu Evan memanggilnya untuk makan malam.


Tak berapa lama Evan bangun dan membersihkan diri. Kemudian menuju ruang makan untuk makan malam bersama ayah, ibu dan adiknya.


Diruang makan mereka sangat akrab dan hangat, tapi tidak dengan Evan.


"Evan, kapan kelulusanmu akan di umumkan?" Tanya Pak Barata, Ayah Evan.


"Minggu depan yah". Jawab Evan singkat.


"Sudah menyiapkan berkas untuk masuk universitas Le (Nak, dalam bahasa Jawa)?". Tanya Bu Nita, ibu Evan.


"Le, Ayah tidak melarangmu untuk bekerja. Setidaknya nikmati masa mudamu dengan belajar di Universitas. Itu akan membuat pikiranmu lebih luas dan lebih dewasa menyikapi persoalan hidup". Terang Pak Barata


"Sudahlah Yah. Niatku sudah bulat". Evan menimpali.


"Mas mau kerja dimana?". Tanya Dio adik Evan


"Baiklah, Lebih baik ayah mempekerjakan kamu di perusahaan ayah. Ayah akan memberi kesempatan padamu untuk bekerja. Jika kau menginginkan kuliah. maka ayah akan sangat senang. Kapanpun kau mau melanjutkan pendidikanmu, ayah akan mendukungnya". Pak Barata menyahut pertanyaan Dio. Agar Evan tidak dapat berkutik dan tidak seenaknya sendiri mengambil keputusan.


Benar saja. Pak Barata memiliki usaha Furniture yang diproduksi dan dipasarkan oleh anak-anak buahnya sendiri.


Evan pun mengangguk. Karena dia sadar bahwa tak memiliki bekal apapun untuk bekerja dan bersaing diluar sana.


Selesai makan malam. Evan kembali ke kamarnya. memeriksa ponsel yang sedari tadi tak terlihat tanda-tanda ada pesan masuk.


****

__ADS_1


Sean merasa hatinya hancur. Bagaimana tidak, kekasihnya memiliki gadis lain. Dan gadis itu sangat tidak sopan terhadapnya. Tangisan yang mulanya setitik saja, kini mengalir deras bagaikan banjir bandang.


"Kenapa? Kenapa rasanya sakit sekali? apakah ini rasanya patah hati?. Sekejap saja dia melambungkanku dengan janjinya, sekejap pula dia runtuhkan hatiku. Ini sangat tidak adil. Dia tahu bahwa dia cinta pertamaku, kekasih pertamaku. Kenapa aku disakiti seperti ini?". Tangisan Sean menjadi-jadi.


Dia menatap ponselnya yang sedari tadi siang dimatikan. Ingin rasanya menyalakan ponsel itu. Tak dapat dipungkiri, rasa rindu itu ada dalam kacaunya hati Sean sekarang ini.


Tapi, dia tak mampu berkata apa jika melihat ada pesan dari Evan. Diapun menghabiskan malamnya dengan menangis sampai tertidur.


****


Ting..


📩 '"Apa kabar sayang? maaf aku tidak menemuimu siang tadi. Ada tikus kecil yang membuatku sangat gemas, dan aku harus membereskannya sendiri" Sebuah pesan dari Eria di ponsel Evan.


Dengan sigap Evan mampu membaca pikiran Eria.


Evan tahu bahwa Eria lah biang kerok mengapa Sean mematikan ponselnya seharian.


📨 "Apa yang kamu lakukan?" Tanya Evan sedikit emosi.


📩 "Sudahlah sayang, nggak perlu dipikirkan. itu hanya tikus kecil yang tiada arti. Aku sangat merindukanmu sayang". Pesan genit dari Eria.


Sayangnya Evan bergeming dengan pesan itu, menghapus semua pesan Eria. Dan mencari strategi untuk menjelaskan pada Sean, Bahwa ini kesalah pahaman belaka.


"Kita baru saja memulai hubungan. Tapi kenapa perasaan ini sangat kuat. Aku tidak pernah sepeka ini pada kekasihku dahulu. Apakah ini yang dinamakan chemistry?". Gumam Evan dalam hati.


📨 "Sean jika kamu ingin tahu yang sebenarnya. Balas pesanku ini. Kita akan membicarakannya dengan serius".


📨 " Kutunggu balasanmu"


📨 "Selamat malam. Selamat istirahat".


Evan mengirim beberapa pesan untuk Sean. Berharap kesalah pahaman ini segera berakhir. Namun kata-katanya sangat biasa, tidak mencerminkan seorang kekasih yang sedang khawatir atau sedang gelisah.


****


Keesokan paginya. Sean bangun tidur langsung menyalakan ponselnya. Ya, benar saja. Pesan dari Evan beruntun. Dibukanya satu persatu, dan sampailah pada pesan yang harus dia balas agar masalah ini cepat selesai.

__ADS_1


📨"Ya baiklah. Temui aku di kafe X pukul 13.00". Pesan yang singkat namun padat dan jelas.


__ADS_2