Akankah Kembali

Akankah Kembali
Gagal mengulang


__ADS_3

Visual Sean.



Waktu menunjukkan pukul 06.00, Sean mondar-mandir disamping meja makan sambil menggulung kedua telunjuknya tanda kebingungan.


Ia sangat malu untuk membangunkan Evan.


Kemudian suara pintu kamar terbuka, keluarlah Evan dari balik pintu tersebut.


Sean terkejut dan menggigit kecil bibir bawahnya.


"Selamat pagi, Sayang!" Ucap Evan sembari mengancingkan lengan bajunya.


"Pa..pagi, Sayang." Jawab Sean kemudian menarik kursi untuk Evan.


"Mana morning kiss untukku? Kamu lupa nggak memberikannya tadi pagi!" Ucap Sean sambil tersenyum menampakkan ketampanannya yang super.


Deg!


"Bagaimana dia tau? Dia kan lagi tidur tiap kali aku cium!" Gumam Sean dalam hati.


Kali ini Sean malu dua kali lipat dari sebelumnya, karena ia tidak menyangka bahwa selama ini Evan mengetahui dirinya diam-diam mencium bibir Evan setiap pagi.


"Ayo cepat, sini cium aku!" Ucap Evan.


"Eh... Iya, Sayang." Sean kemudian memeluk Evan dan mendongakkan kepalanya.


Evan pun menunduk meraih morning kiss dari Sean.


Setelah itu mereka duduk berhadapan untuk menyantap sarapan. Suasana sangat hening. Sean enggan untuk membuka percakapan. Ia hanya fokus menunduk pada piringnya. Sedangkan Evan asik menghabiskan makanan.


Tek!


Suara sendok dan garpu yang ditaruh bersamaan.


"Sayang kamu kenapa? Kalau ga enak badan ambil libur aja!" Ucap Evan sambil mengelus kepala Sean dihadapannya.


"Nggak kok. Nggakpapa." Jawab Sean masih tertunduk.


"Hei! Coba lihat mataku. Kamu sama sekali tidak menatapku sejak tadi. Ada apa?" Tanya Evan lembut.


"Hah! Apa-apaan ini? Dia santai sekali seperti tidak ada hal memalukan tadi malam!" Gumam Sean.


Sean masih melamun karena Raut wajah suaminya sangat biasa saja seperti tidak terjadi apa-apa.


"Sayang! Halloo...." Evan mengibaskan tangannya dihadapan Sean.


"Eh iya maafin aku. Aku nggakpapa kok. Aku cuma malu. Eh makasudku aku cuma..." Jawab sean keceplosan.


"Malu kenapa?" Evan mengernyitkan dahi.


"Udah ah jangan dibahas, aku kan salah ngomong. Ayo aku antar ke depan!" Sean berdiri mengalihkan pembicaraan.


Krek!


Evan mendorong kursinya mundur dan menarik Sean jatuh di pangkuannya.

__ADS_1


Bukk!!


"Aduh! Kenapa?" Spontan Sean.


Evan bergeming. Ia melingkarkan tangannya di perut Sean, mengendus dan menciumi tengkuk Sean.


Sean merasa bulu kuduknya berdiri, namun dirinya tak bisa beranjak dari pangkuan Evan.


"Kamu malu-malu seperti kucing kecil, Sayang. Membuat adikku tiba-tiba menegang. Tidakkah kamu merasakannya?" Bisik Evan.


Sean menelan saliva, merasakan sebuah benda menonjol berada tepat dibawah bokongnya.


"Kan tadi malam sudah!" Jawab Sean ragu.


"Iya, tapi aku mau lagi seperti semalam." Kata Evan santai.


"HAH! Apa maksudnya?! Udah Ah, ini kan waktunya berangkat kerja. Sana berangkat!" Sean memaksa beranjak dari pangkuan Evan.


Sedangkan Evan tersenyum lebar melihat istrinya salah tingkah seperti itu.


"Oke. Tunggu aku nanti malam, ya! Nanti siang kalau mau berangkat kerja, cari ojek online cewek aja. Aku nggak rela istriku dibonceng laki-laki lain!" Evan mengedipkan sebelah matanya.


"Ya Tuhan tampan sekali...." Batin Sean.


"Eh! Iya kalau ada. Yaudah hati-hati ya, Sayang. Jangan genit-genit sama teman kantor." Sean memeluk suaminya.


"Hahaha. Iya, Sayang. Aku kan cuma genit sama kamu!" Goda Evan.


"Ih.. Apaan sih!" Sean mencubit perut Evan.


Setelah itu, Evan menaiki moge nya dan melaju cepat menuju tempat kerjanya.


Ia menyibukkan diri sebelum waktu kerja tiba. Semua aktifitas ia lakukan agar rumah tetap terasa nyaman.


Ketika sudah sampai tengah hari, Sean memutuskan untuk bersiap berangkat kerja dan memesan ojek online seperti biasanya.


Entah mengapa Sean merasa sangat rindu dengan suaminya. Ingin rasanya menghubungi Evan, namun ia tak ingin mengganggu. Ia selalu menunggu pesan dari Evan terlebih dahulu untuk memastikan suaminya itu tidak sedang sibuk.


Dan, sampailah Sean ditempat kerja. Ia bergegas masuk ke area dan menyibukkan diri, berharap waktu akan cepat berlalu. Agar ia bisa bertemu dengan Evan secepatnya.


****


Selama delapan jam Sean bekerja, tibalah waktu nya Sean pulang. Ia terburu-buru menuruni anak tangga, tak sabar bertemu dengan lelaki tampannya. Dan..


Bukk!!


"Aduh! Kakiku...." Sean terjatuh.


"Hei! Makanya jangan buru-buru. Ayo aku bantu bangun!" Seorang teman Sean memapah Sean turun.


Kurang satu lantai lagi mereka bisa sampai di halaman gedung. Dengan susah payah mereka berjalan. Sean masih menahan sakit kaki kanannya yang terkilir.


Diluar sudah tampak sepi, namun Evan masih menunggu Sean yang tak kuncung muncul. Kemudian ia memutuskan untuk memasuki pintu karyawan itu dan dilihatnya Sean dengan seorang gadis dengan seragam yang sama sedang berjalan bergandengan.


"Sayang! Kamu kenapa?" Evan terkejut.


"Eh, Sayang. Tadi aku terjatuh di sana!" Sean menunjuk lantai di atasnya sambil menahan sakit.

__ADS_1


"Iya Kak! Dia buru-buru banget sih turunnya." Sambut Teman Sean.


"Oke terimakasih, ya! Kamu bisa segera pulang, biar aku yang menggendongnya." Ucap Evan pada teman Sean.


"Ok, Kak!" Jawab teman Sean.


Kemudian Evan menggendong Sean bak bayi, Sean pun merangkulkan tangannya di leher Evan, Evan pun berjalan turun tinggal beberapa anak tangga lagi.


Sean terus memandangi Suaminya dan tersenyum geli.


"Kamu kenapa liatin aku terus? Terpesona ya!" Ucap Evan.


"Iya! Terpesona sama helm kamu tuh!" Sean menahan tawanya.


"HAH! Bukannya ini yang kamu mau. Kamu kan melarangku melepas helm." Evan tak menyadari helmnya masih tersemat di kepala.


Sean tersenyum ketir karena masih menahan sakit kakinya.


Sedangkan Evan diam sejenak, merasa dirinya telah terlihat bodoh dengan berjalan lumayan jauh dan memasuki tangga karyawan seperti orang aneh dihadapan teman Sean.


"Lagian kamu ngapain sih kok bisa jatuh segala?" Tanya Evan mengalihkan pembicaraan.


"Nggakpapa. Namanya juga musibah" Jawab Sean tidak jujur.


"Kamu bisa kan naik motor?" Tanya Evan.


"Bisa dong. Cuma gini doang!" Sean berlagak kuat.


Kemudian Evan mendudukkan Sean dengan pelan. Menaiki motor kemudian memacu kendaraan lebih cepat dari biasanya.


Sesampainya dirumah, Evan memandikan Sean dan membaringkannya.


"Besok izin libur aja! Aku nggak tega liat kamu sakit." Ucap Evan sambil memijat ringan kaki Sean.


"Iya." Jawab Sean singkat.


"Lain kali jangan buru-buru. Aku pasti sabar nungguin kamu dibawah." Evan tersenyum menatap Sean.


Sean bergeming. Tak satu kata terucap dari mulutnya.


"Oke, sekarang tidurlah. Besok aku antar periksa." Ucap Evan lembut.


"Nggak mau ah. Kamu kan kerja. Cuma gini doang, besok biar aq pesan tukang pijat aja deh!" Jawab Sean.


"Boleh juga. Atau aku aja yang mijit kamu? Kan lumayan tuh dapet jasa plus plus! Haha!" Goda Evan.


"Ihhh.... Mulai deh mesumnya!" Ucap Sean sebal.


"Kamu sih! Pake acara jatuh segala. Kan jadi gagal acara malam ini." Evan memasang wajah sedih.


"Udah deh jangan lebay gitu. Kan masih banyak hari-hari lain." Jawab Sean.


Akhirnya mereka berdua pun tidur, tanpa ritual malam pengantin baru yang sebenarnya sangat ingin mereka lakukan. 😁


****


Keesokan harinya Evan bangun lebih awal untuk sekedar memasak nasi dan membuat telur dadar untuk mereka berdua sarapan.

__ADS_1


Mereka tidak memberi tahu keluarga lainnya tentang keadaan Sean. Karena mereka tidak ingin merepotkan orang tua sedikit pun.


Jadi, selama beberapa hari mereka berdua kompak menangani masalah ini dengan tangan dingin. Evan cukup sigap menggantikan sebagian tugas Sean selama istrinya itu sakit. Masalah makanan, mereka lebih sering membeli secara online. Hidup mereka santai, mengalir seperti air. Tidak ada sesuatu yang dipaksakan dalam kehidupan mereka. Itulah yang membuat mereka selalu harmonis.


__ADS_2