Akankah Kembali

Akankah Kembali
Malaikat kecil


__ADS_3

Hari terus berganti, tiba waktunya makhluk imut dalam perut Sean untuk dapat menghirup udara dunia.


Perut yang mulai terasa mulas membuat Sean kehilangan tenaga, sesekali ia memaksa berjalan kesana kemari ditemani ibu dan mertuanya untuk usaha memperlancar proses melahirkan.


Semua orang tua berkumpul di rumah Sean, tak sabar menanti cucu pertama mereka lahir.


"Bu, apa sebaiknya kita bawa saja Sean ke Rumah Sakit?" Tanya Pak Rianto.


"Sebentar, Yah. Kita kan sudah menghubungi Evan. Evan kan bilang akan segera datang. Akan jadi rumit jika kita mengingkari kesepakatan tadi." Ucap Bu Mira.


Pak Rianto terlihat sangat cemas karena Sean mulai sering merasa mulas. Ia ingat sekali ketika istrinya merasakan kesakitan akan melahirkan kala Sean dan adiknya masih dalam kandungan ibunya.


"Iya, Yah kita tunggu sebentar lagi. Aku ingin ditemani Evan." Ucap Sean pucat.


"Baiklah, kita tunggu sepuluh menit lagi. Kalau belum datang kita harus segera ke Rumah Sakit!" Ucap Bu Nita tegas.


"Ayah setuju! Ayah tidak mau terjadi hal yang tidak diinginkan." Sambut Pak Barata.


Tiba-tiba


TIINNNN!!


Suara klakson motor gede mengejutkan seisi rumah. Kemudian Pak Barata berlari keluar dan melihat Evan terburu-buru memarkir motornya tersebut.


"Ayo semua, naik mobil! Evan sudah datang!" Teriak Pak Barata sambil menyalakan mobilnya tidak sabar.


Sedangkan Evan berlari masuk untuk menemui istrinya.


Evan segera membopong Sean dengan raut wajah panik dan keringat dingin


"Sayang, maaf agak lama. Aku harus ijin dulu tadi." Kata Evan cemas.


"Iya nggakpapa, Aduhh.... Rasanya sakit sekali...." Rintih Sean.


"Tahan Sayang." Ucap Evan singkat sambil terus berjalan.


Sedangkan Bu Nita secepat kilat meraih tas berisi kebutuhan melahirkan dan menaruhnya di mobil.


Sean duduk di kursi belakang bersama Evan dan Bu Mira. Bu Nita duduk di samping Pak Barata di kursi depan. Sedangkan Pak Rianto bertugas mengunci pintu rumah dan akan menyusul ke Rumah Sakit menggunakan motornya.


Dalam perjalanan, Evan meluk erat istrinya yang terlihat sangat lemas menahan kesakitan. Sesekali ia membisikkan kata-kata penyemangat berharap rasa sakit sedikit mereda.


Suasana di dalam mobil sangat tegang. Hening, namun berulang kali dalam durasi tertentu Sean merintih kesakitan. Membuat masing-masing tak kuasa ikut merasakan sakit yang Sean alami.


Tak berselang lama, Tibalah mereka di lobby Rumah Sakit, ketika Sean hendak keluar dari mobil, dua orang perawat dengan sigap menghampiri dengan membawa sebuah kasur medis untuk Sean.


Sean pun dibawa ke ruang bersalin hanya ditemani oleh Evan yang membawa tas bersalin.


Ketiga orang tuanya menunggu di ruang tunggu dan pak Barata mengurus administrasi dengan hati tak karuan rasanya.


Jeglek..


Suara pintu ditutup.


"Segera ganti bajunya" Ucap Seorang Dokter perempuan pada perawat.


Dengan sigap Sean digantikan pakaiannya dengan pakaian serba biru.


"Apakah anda suaminya?" Tanya Dokter.


"Betul, Dok. Saya Evan." Jawab Evan.


"Saya Dokter Santi yang bertanggungjawab disini, saya akan mengecek istri anda sudah melalui pembukaan ke berapa. Bagaimana pak?" Jelas Dokter Santi.


"Baik Dokter silakan." Ucap Evan pucat


Dokter Santi mengangguk dan mulai mengecek jalan lahir anak pertamanya itu.


"Permisi ya, Bu." Ucap Dokter Santi.

__ADS_1


Jari tangan mulai menembus dan memutar-mutar mengukur lebar jalan lahir di dalam perut Sean. Sementara seorang perawat memasang selang infus di tangan Sean.


Seketika Sean berteriak dan meremas lengan Evan dengan kuat.


"Maaf, Bu. Jangan mengejan dulu ya! Ini masih bukaan 7. Setelah ini jalan lahir akan terbuka dengan cepat. Jadi mohon persiapkan fisik dan mental Anda. 90 persen anda bisa melahirkan secara normal." Terang Dokter Santi.


Evan dan Sean mengangguk tamda mengerti.


Tak hentinya Evan mengecup kening dan mengusap peluh Sean dengan lembut.


"Dokter, ini rekam medis Ibu Sean." Seorang perawat menyodorkan sebuah map pada Dokter Santi.


Dokter Santi pun membacanya dengan seksama. Kemudian menghampiri Evan yang berada di samping Sean.


"Maaf, Pak. Saya telah membaca rekam medis Nyonya Sean. Saya akan menggantikan Dokter Ranny untuk proses kelahiran anak anda. Sebab Doker Ranny saat ini masih berada di tempat praktik yang lain. Apakah Bapak dan Ibu berkenan?" Ucap Dokter Santi.


"Bagaimana, Sayang?" Tanya Evan pada Sean.


"Iya, Sayang." Sean mengangguk lemas.


"Baiklah Dokter, silakan! Kami berkenan." Ucap Evan.


"Baik, Pak." Ucap Dokter Santi, kemudian meninggalkan ruangan.


****


Diluar ruangan para orang tua duduk tak sabar, berulang kali mereka bergantian berdiri dan mondar-mandir tanpa sepatah kata.


Entah apa saja yang mereka pikirkan, hingga tak ada senyum tipis pun menghiasi wajah mereka.


Suasana sangat kaku, mereka sibuk dengan emosi masing-masing.


Sampai akhirnya mereka melihat seorang dokter tergesa-gesa berjalan menuju ruangan Sean. Ya, tentu saja itu Dokter Santi.


Mereka semua terperanjat dan berjalan mengikuti langkah Dokter menuju ruangan.


"Maaf tunggu di sini saja!" Ucap seorang perawat sambil menutup pintu.


****


"Saya periksa dulu." Ucap Dokter Santi yang kembali memasukkan jarinya mengukur seberapa lebar jalan lahir yang terbuka.


Sean berteriak kesakitan dan meremas lengan Evan lebih kuat.


Evan tak kalah bercucuran keringat melihat istrinya.


"Sudah waktunya. Bu, ikuti aba-aba saya. Tarik nafas dalam!" Ucap Dokter Santi.


Evan terbelalak. Tapi ia yakin bahwa Sean akan berjuang sekuat tenaga.


Sean pun mulai menarik nafas dalam dan tak tertahankan.


"Mengejan!" Ucap Dokter Santi.


"Haaaaaaaaaaaahhhhhhhh!!!!!!" Sean mengejan tangannya meremas Evan.


"Tarik nafas! Sambung mengejan!" Dokter Santi


"Huh... Haaaaaaaahhhhh!!!!!!" Sean mengejan kuat.


"Sekali lagi!" Dokter Santi.


"Huh... Haaaahhh!!!!!!!!!!!" Sean membuang tenaganya.


"Mengejan lebih kencang!" Seru Dokter santi keras.


"Haaaaaaaaaaaaahhhhhh!!!!!" Sean menuntaskan hingga nafasnya habis.


Dan...

__ADS_1


"Oooooeeeeeekkkkkkkkkk..........."


Tangisan Kencang menyambut keriuhan di ruangan tersebut.


Kemudian Dokter santi mengangkat bayi mungil ke dalam pelukan Sean.


"Selamat Nyonya. Putri anda sangat cantik tanpa kekurangan suatu apapun." Dokter Santi tersenyum.


Evan dan Sean berlinangan air mata memandangi buah hati yang selama ini dinanti, akhirnya bisa terlahir di dunia dengan selamat.


Tak ada sepatah kata pun keluar dari mulut keduanya. Hanya air mata bahagia yang mampu berbicara saat itu.


Sedangkan di luar ruangan, Para Kakek dan Nenek bersorak gembira ketika mendengar suara tangisan bayi yang pecah dari balik pintu. Suasana haru menyelimuti mereka. Semua pasang mata berbinar ingin segera menyambut cucu pertama mereka.


****


Selang satu jam lamanya, pintu terbuka. Sean yang masih terbaring lemas di temani Evan dan dua orang perawat keluar dari ruangan. Mereka menuju ruang perawatan.


Sedangkan si Bayi keluar belakangan di gendong seorang perawat wanita.


"Wahhh cucu ku...." Sambut Pak Barata.


"Cucuku lucu sekali." Sambut Pak Rianto.


"Permisi, Bapak-Bapak. Setelah semua tindakan selesai, Anda bisa menemuinya lagi. Permisi." Ucap perawat terus berlalu menuju ruang bayi.


Mereka sedikit kecewa dengan jawaban perawat, namun tak berlama-lama. Mereka segera berjalan menuju ruang perawatan untuk Sean.


Kecuali Bu Mira. Beliau berjalan mengikuti perawat yang menggendong cucunya.


Ia sangat antusias dan tak mau kecolongan dengan setiap tindakan yang dilakukan untuk cucu pertamanya tersebut.


Meskipun akhirnya Bu Mira hanya bisa melihat dari balik dinding kaca, beliau tetap bersyukur bisa mengamati bayi mungil yang sangat ia dambakan tersebut.


Sekitar dua jam Bu Mira mengawasi cucunya dari balik dinding kaca. Hingga akhirnya, perawat menggendong bayi tersebut dan berjalan keluar ruang bayi.


"Mau dibawa kemana, Sus?" Tanya Bu Mira.


"Menemui Ibu bayi, Bu." Jawab Perawat yang sudah paham jika Bu Mira adalah anggota keluarga Sean.


"Oh, baiklah." Bu Mira tersenyum lebar.


Mereka pun berjalan bersama. Dan tak berapa lama sampailah di ruangan Sean.


Senyum bahagia mengembang tatkala perawat menempatkan Bayi mungil di pelukan Sean.


"Hai, Cantik. Ini Mama." Sean mengecup ujung kening anaknya.


"Hai, Sayangku. Ini Papa." Kecup Evan bergantian.


Kemudian mereka saling melempar pandangan dan tersenyum bahagia.


"Kalian beri nama siapa cucu kami yang cantik ini?" Tanya Bu Nita.


"Renatta. Bagaimana?" Ucap Sean memandang Evan.


"Nama yang cantik, Sayang. Renatta Wishnu Barata." Jawab Evan.


"Wah Nama yang bagus, Ayah setuju!" Ucap Pak Barata.


"Tidak adil. Nama Ayah tidak tercantum." Pak Rianto tak mau kalah.


"Sudahlah, Yah! Bagaimana pun pasti nama ayahnya yang mengikuti." Ucap Bu Mira menenangkan.


"Tapi kan Renatta juga cucu pertama Ayah." Pak Rianto sebal.


"Yah, kalau Igo menikah dan punya anak, pasti anaknya akan ada nama ayah." Sean menjawab dengan tersenyum.


"Betul juga kamu, Sean. Ayah setuju denganmu." Pak Rianto luluh denga jawaban Sean.

__ADS_1


Dan mereka semua pun berbagi tawa kebahagiaan bersama.


Terlebih lagi tawa bahagia karena hadirnya malaikat kecil ditengah keluarga besar mereka. Ya, ia adalah Renatta, Renatta Wishnu Barata.


__ADS_2