
Seminggu telah berlalu. Minggu ini adalah minggu dimana siswa/siswi beserta orangtua menantikan Pengumuman kelulusan.
Tiba di hari Rabu, seluruh orangtua murid kelas 3 berkumpul di Gedung Aula sesuai undangan. Tak terkecuali Pak Barata, ayah Evan. Beliau sangat menanti-nanti kabar kelulusan putera pertamanya.
Setelah sambutan-sambutan dari pihak sekolah. Para orangtua menanti giliran maju mengambil surat kelulusan dari pihak sekolah.
Kini tiba giliran Pak Barata dipanggil menuju meja guru yang terletak di bagian depan panggung. Beliau duduk dan menandatangani sebuah buku besar. Kemudian dengan ramah guru itu menyerahkan amplop putih bertuliskan nama Evan Wishnu Barata.
Dengan bimbingan guru tersebut, Pak Barata membuka isi amplop. Dan benar saja, Evan dinyatakan Lulus dengan nilai yang sangat memuaskan. Seperti biasa, Evan juga tak kalah pintar dengan teman-teman sekolahnya. Membuat Pak Barata memiliki keinginan yang besar untuk mencetak Evan menjadi orang yang sukses.
Namun Tuhan memiliki cara lain untuk membuat Evan menjadi seorang yang berjaya.
Pak Barata bergegas menuju rumah dan ingin segera menyampaikan kabar baik tersebut.
Bu nita dan Evan menunggunya di ruang tamu. Pak Barata pun duduk dengan tenang.
"Bagaimana yah? apa sesuai harapan kita?" Tanya Bu Nita tak sabaran.
"Ini surat kelulusannya. Evan lulus bu. Seperti biasanya, dia selalu mendapat nilai yang baik" sambil menyodorkan surat kelulusan pada Bu Nita.
"Syukurlah Yah. Ibu sangat bangga padamu Le. Tetaplah berusaha untuk menjadi yang terbaik. Semua jalan yang kau lalui akan selalu ada doa kami disana. Semoga masa depanmu cerah. Apapun keputusanmu, kami akan mendukungmu dan mengarahkanmu". Bu Nita berbicara dengan mata berkaca-kaca.
"Ingat, kehidupan dan persaingan diluar sangatlah ketat. Akan ada banyak permasalahan hidup yang nantinya akan kamu temui. Tetaplah kuat, gunakan selalu akal dan hatimu dengan seimbang" Pak Barata tak lupa memberikan petuah pada Evan.
"Terima kasih Ayah, Ibu. Evan akan berusaha berbakti pada Ayah Ibu. Aku akan berusaha sendiri untuk mencapai kesejahteraan diriku ini. Dan juga keluarga kecilku kelak". Evan meyakinkan ayah ibunya.
"Haaaa.... keluarga kecil??? apa maksudnya Evan? Hahaha" Tawa Bu Nita terkekeh dengan jawaban terselip anaknya itu.
Evan menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal seraya berkata
" Tidak.. tidak begitu maksudku Bu ". Dengan wajah malu Evan tertunduk.
"Hahaha apakah kamu sudah mulai memikirkan pernikahan? Usiamu baru 18 tahun" Telisik Pak Barata
"Aku kan sudah bilang, bukan begitu maksudku. Aku hanya salah bicara. Sudahlah, aku akan keluar menemui teman-temanku. Sampai jumpa nanti malam Yah, Bu". Evan beranjak dari duduknya dan melambaikan tangan berjalan menuju pintu depan rumahnya.
Pak Barata dan Bu Nita masih tertawa kegelian mendengar kata-kata Evan yang sangat tak terduga itu. Mungkin saja Evan sudah mengenal gadis yang cocok dengan karakternya sehingga keceplosan mengatakan hal itu.
__ADS_1
Pak Barata dan Bu Nita menabak-nebak kisah percintaan anaknya itu dengan candaan-candaan kecil. Mengingat anaknya yang cuek dan sangat hemat bicara, bisakah gadis akan betah bersamanya. Pikiran-pikiran seperti itu menghiasi percakapan mereka.
****
Seperti biasa, Evan berkumpul dengan teman-temannya di base camp dekat sekolahnya. Hanya berkumpul dan menunggui teman-temannya memainkan game online yang tidak diminati Evan.
Sedangkan Evan asik sendiri saling mengirim pesan dengan Sean.
📨"Hai, sedang apa?" Evan memulai obrolan.
📩 "Hai. Aku sedang duduk-duduk di kantin. baru saja keluar ruangan, hari ini ujian Bahasa. Bagaimana pengumumannya?"
📨 "Tentu saja aku lulus. Selesaikan Ujianmu dengan baik. Segeralah lulus juga, aku akan menantimu".
📩" Wahh.. Selamat ya sayang, aku turut bahagia. BTW, aku lulus masih satu tahun lagi. Itu sangat lama".
📨 " Terima kasih. Kapan ujianmu selesai?"
📩 "Hari sabtu. Tiga hari lagi. Apa kamu mau mentraktirku untuk merayakan kelulusan?😁"
📨 "Bukankah seharusnya kamu yang mentraktirku sebagai tanda selamat atas kelulusanku?"
📨 "Apa kamu ingin ku jemput hari ini?" Evan menawarkan diri
📩 "Baiklah, jam 13.00 ya. Aku tunggu didepan sekolah". Sean kegirangan
📨 "Oke, sampai jumpa nanti siang".
Sean kembali ke ruang kelasnya melanjutkan ujian mata pelajaran lainnya. Pikirannya fokus ujian, dan otaknya penuh pelajaran yang telah ia siapkan sebelumnya. Semua tentang mata pelajaran.
Tapi tidak dengan hatinya, kini hatinya berbunga-bunga. Menambah semangat untuk menyelesaikan pendidikannya di SMA.
Waktu menunjukkan pukul 13.00, Evan sudah bersiap didepan gerbang sekolah Sean. Menggunakan motor gede yang biasa dikendarai kemanapun dia pergi.
Banyak mata tertuju pada ketampanan Evan. Namun bagi Evan itu hal biasa. Dimanapun, memang orang-orang seperti itu kepadanya. Entah itu jiwa Pede atau memang sudah terbiasa. Hehehe
Berselang lima belas menit, Sean mulai menampakkan batang hidungnya yang imut itu. Sean dan Regina berjalan menuju Evan berada.
__ADS_1
Ia sangat bersemangat dan mengembangkan senyumnya. Regina pun terheran-heran melihat sahabatnya seperti memiliki dunia ini sendiri.
"Hah Dasar Cupu nih anak. ketauan banget deh kalo baru pertama punya pacar. Hihihi. Jaim dikit napa?" Regina membatin kelakuan Sean yang semakin ingin berlari memeluk sosok yang hanya berjarak 50 meter dari tempatnya saat ini.
"Ih Sean, jaim dikit napa. Banyak orang tau. Hahah" Regina menasehati.
"Eh iya.. iya.. maklum Gin, aku kan seneng banget dijemput dia hehehe" Sean menggaruk kepalanya yang tidak gatal, dan senyum kecut menahan malu.
Sesampainya di hadapan Evan. Sean memperkenalkan sahabatnya itu.
"Evan, kenalin ini Regina sahabatku"
"Iiih Ganteng banget si Evan ini" Batin Regina. Kemudian dengan cekatan ia mengulurkan tangan pada Evan "Hai, aku Regina".
"Hai aku Evan" Balas Evan singkat.
"Oke, aku masih mau ke toko buku. Kalian pergi duluan aja. Hati-hati ya" sambil melambaikan tangan Regina meninggalkan sejoli itu.
Selama perjalanan, Sean kaku sekali. Menaiki motor gede membuat tubuhnya berusaha bertahan menjauh dari punggung Evan. Kedua tangannya mengatup didepan dadanya seperti orang sedang berdoa, itupun tangannya sangat dijaga agar tidak menyentuh punggung Evan. Berharap saja Evan tidak menginjak rem mendadak. Dia akan sangat malu dan akan di anggap murahan jika sampai dirinya menempel di punggung Evan. Begitulah kira-kira isi pikiran Sean.
"Dasar Gadis Bodoh, sampai kapan kamu kuat menahan tubuhmu seperti itu". Evan membatin dengan bibir tersungging seperti serigala yang licik.
Tak berapa lama Evan mempercepat laju motornya. Daaaaan kemudian ia mengerem mendadak hingga remnya berdecit "*Ciiiiiiiiiittttttttttt......."
Bukkkk*. Tak sengaja Sean memeluk Evan dengan sangat erat. Bukan mengambil kesempatan, tapi Sean benar-benar takut jika jatuh.
"Aduh, maafkan aku" Sean segera menarik tangannya dari perut Evan.
Tapi tiba-tiba Tangan kiri Evan memegang tangan kiri Sean, menahan tangan itu. Dan menempatkan kembali di perutnya. Membuat tubuhnya menempel di punggung Evan.
Ada rasa berdesir dalam tubuh Sean. Rasa yang sangat baru. Rasa itu seperti mengalir dari jantungnya menjalar ke seluruh tubuhnya.
Rasanya ingin bergetar dan jantungnya berdegub sangat kencang. Membuat darahnya menghangat. Sean tak kuasa menahan rasa itu dan memaksa untuk menarik tangannya.
"Ya Tuhan, Rasa apa itu. Rasanya..." Sean membatin. Dann lamunannya di kacaukan oleh pertanyaan Evan.
"Kenapa? kamu nggak ingin meluk aku?"
__ADS_1
"Eh, bukan begitu. Aku malu dilihat banyak orang" Sean membela diri.
"Baiklah" Evan bergeming.