Akankah Kembali

Akankah Kembali
Nyaman Bersamanya


__ADS_3

Visual Dhareen



Hari-hari Sean di kampus kembali seperti biasanya dengan sambutan Dhareen dipagi hari.


Kini justru Sean merasa senang ditemani Dhareen menuju kelas. Mereka berjalan sejajar seperti teman akrab dengan obrolan-obrolan ringan diantara mereka berdua.


Karena Dhareen telah mengungkapkan isi hatinya pada Sean, Dhareen tak canggung lagi memberi hadiah-hadiah kecil untuk Sean. Sean pun menerimanya dengan senang hati. Ia tidak ingin membuat Dhareen sakit hati dengan menolak pemberian darinya.


Kali ini mereka memutuskan untuk pergi makan siang bersama di sebuah restoran tak jauh dari kampus.


Sean sedikit melupakan beban hidupnya ketika bersama Dhareen. Tanpa Sean sadari, Dhareen menjadi sosok kedua yang selalu ada dalam menghadapi hari-harinya.


Sean benar-benar merasa nyaman bersama Dhareen. Ia merasakan sakit jika mengingat Dhareen tidak akan ada lagi di setiap paginya di kampus.


"Dhareen.." Ucap Sean.


"Iya.." Balas Dhareen.


"Tak terasa setelah ini kita tidak akan bertemu lagi." Ucap Sean.


"Aku akan selalu ada untuk kamu." Ucap Dhareen.


"Bukan begitu maksudku. Hanya saja... Aku akan merasa sedikit aneh." Ucap Sean.


"Aku juga akan merasa seperti itu. Tapi aku akan berusaha sesering mungkin menemuimu." Ucap Dhareen sambil tersenyum.


Merekapun menyantap hidangan dengan tenang. Setelah keduanya selesai makan, mereka memutuskan untuk kembali ke kampus.


Di dalam mobil,


"Sean tunggu! Ada noda di bajumu." Dhareen mengambil tissu dan mengelap noda di kerah baju Sean.


Wajah mereka begitu dekat, sampai-sampai Sean memilih memejamkan mata agar tidak melihat Dhareen dengan jarak yang begitu dekat.


"Sean, kenapa?" Tanya Dhareen yang wajahnya masih dekat dengan Sean.


Sean membuka matanya pelan,


"Nggakpapa. Apa sudah selesai?" Tanya Sean.


Tanpa terasa Dhareen memandang bibir Sean yang ranum dan tergiur untuk meraihnya.


Jantung Sean kembali berdegub kencang. Ia meremas roknya khawatir jika Dhareen tiba-tiba saja menerkamnya. Ia sangat takut jika dirinya tidak terkendali jika hal itu terjadi.


Pandangan mereka pun saling beradu, semakin dalam dan lebih dalam.


Lelaki mana yang tahan jika sedang berduaan dengan seorang wanita yang menurutnya begitu menarik. Dan....


Dhareen mendekat dan semakin dekat. Sedangkan Sean sudah tidak tahan dengan suasana seperti itu. Kemudian ia berusaha mengalihkan perhatian karena ia tidak ingin terjadi hal-hal diluar kendali. Akan sangat memalukan jika mereka akan benar-benar berciuman.

__ADS_1


"Dhareen cukup. Aku wanita yang rentan." Ucap Sean spontan.


"Oh... Maaf!" Dhareen menarik dirinya duduk kembali dengan tegap di kursi kemudi.


"Apa maksudnya wanita yang rentan?" Gumam Dhareen.


Sean merapikan duduknya dan menghela nafas panjang menenangkan hatinya.


"Ayo kita balik ke kampus!" Ucap Sean.


"Iya." Ucap Dhareen singkat.


Mereka pun kembali ke kampus dengan suasana canggung diantara keduanya.


Dhareen masih mengutak-atik ungkapan Sean yang menurutnya sangat mengganjal.


Sekelebat ia mengingat kejadian dimana tangannya tak sengaja menggores leher Sean. Terlihat Sean mengambil nafas dalam menikmati sentuhannya. Walau hanya beberapa detik tapi itu jelas sekali terlihat di mata Dhareen.


Lagi, kejadian barusan membuat Dhareen semakin yakin dengan kesimpulannya. Ia ingat betapa gugupnya Sean dan nafas yang tertahan ketika Dhareen hampir saja mengecup bibir ranum milih Sean.


"Menarik sekali." Gumam Dhareen.


Mereka pun melaju menuju kampus.


****


"Kenapa aku bahagia sekali bersama Dhareen. Rasanya dia seperti segelas air untuk tenggorokan yang haus." Tanpa Sadar Sean membatin hal yang tidak seharusnya ia pikirkan.


Namun apa yang ia pikirkan adalah sebuah kenyataan hidup yang sedang ia alami saat ini. Dimana Sean sedang haus perhatian dari Evan, suaminya.


Malam pun tiba,


Ketika Sean bersama Renatta sedang bersantai di depan televisi.


Ting...


Ponsel Sean berdenting.


"Pasti ini pesan dari Papa!" Ucap Sean pada Renatta dan meraih ponselnya.


"Papa!!" Teriak Renatta sambil mendekati ibunya.


"Tidak ada nama." Gumam Sean.


"Papa mana?" Tanya Renatta.


"Sebentar ya, Sayang. Ini adalah pesan, Papa tidak akan terlihat di sini." Jawab Sean


"Ooooohh..." Renatta mengangguk-angguk lucu dan memongyongkan bibirnya membentuk huruf O.


Sean pun membuka pesan itu dengan membatin

__ADS_1


"Nomor tanpa foto profil dan identitas. Hmmm."


📥 "Sedang apa?""


📤 "Maaf ini siapa" Balas Sean.


📥 "Pengagum rahasia."


Sean berfikir sejenak dan kembali tersenyum seperti tanpa sebab.


📤 "Katakan atau aku tidak akan membalas pesanmu lagi!" Balas Sean.


📥 "Maafkan aku untuk siang tadi. Aku tidak bermaksud kurang ajar."


📤 "Kamu bukan pengagum rahasia jika namamu adalah Dhareen." Balas Sean.


📥 "Apakah kamu memaafkan aku?"


📤 "Tentu saja." Balas Sean kepada pengirim pesan yang ternyata benar-benar Dhareen.


"Kenapa dia baru saja memiliki nomorku? Bukankah dia sudah lama sekali mengenaliku?" Gumam Sean.


Entah mengapa Sean merasa sangat senang ketika tahu bahwa Dhareen mengiriminya pesan.


Jantungnya berdegub kencang ketika pesan Dhareen berulang-ulang masuk di ponselnya. Dan gemetar sering kali ia rasakan setiap kali membalas pesan itu.


"Ya Tuhan apa mungkin aku merasakan jatuh cinta lagi? Ini persis seperti ketika aku jatuh cinta pada Evan. Apa yang harus aku lakukan?" Gumam Sean.


Sean pun mengakhiri berbalas pesan itu. Ia merasa takut dengan perasaannya sendiri mengenai Dhareen.


Namun ia tidak menampik perasaan bahwa dirinya sedang jatuh cinta lagi.


Dhareen sangat baik padanya, bahkan sering menitipkan padanya berbagai macam makanan ringan untuk Renatta. Hal itu membuat Sean merasa sangat disayangi bahkan merasa begitu nyaman.


Mengingat wisuda Dhareen yang semakin dekat. Ia benar-benar tidak ingin kehilangan sosok Dhareen secepatnya.


Entah bagaimana akhirnya ketika Dhareen benar-benar meninggalkan kampus dan memulai paginya tanpa sambutan Dhareen.


Tanpa di sadari hal itu membuat Sean sedih dan kehilangan sedikit semangat dalam hidupnya.


Ia berharap Dhareen akan selalu ikut mewarnai hari-harinya. Karena Kasih sayang dan perhatian Dhareen sanggup menutupi kurangnya perhatian Evan padanya. Hal yang beberapa waktu terkahir sangat ia rindukan dari sosok Evan.


Berulang kali ia mengutarakan isi hatinya pada Evan, berulang kali juga mencoba berkomunikasi lebih baik. Tapi sama sekali tidak ada hasil.


Evan tetap tidak mengurangi jam lemburnya. Ia terlalu sibuk dengan urusan kantor, sampai-sampai keluarganya pun hampir tidak merasakan hangatnya sosok kepala keluarga.


Bangun pagi, pulang malam. Sean tahu bahwa kewajiban Evan untuk mensejahterakan keluarganya. Tapi yang ia harap adalah sedikit waktu luang di sore hari untuk sekedar menemani anaknya bermain, dan memupuk keharmonisan ditengah keluarganya.


Suatu hal yang awalnya dimaklumi oleh Sean ternyata lama kelamaan menjadi sesuatu yang mengganggu emosi dan rumah tangganya.


Entah akan seperti apa kehidupannya di masa mendatang.

__ADS_1


__ADS_2