
Setelah acara lamaran Evan terhadap Sean, kini hubungan mereka semakin dekat dan mereka lebih enjoy dalam menjalani hubungan.
Semua masalah mereka bagi bersama, saling bertukar pikiran lebih dalam.
Kini Sean sering diajak berkunjung kerumah Evan. Inilah salah satu trik Evan untuk mendekatkan Calon isterinya pada kedua orang tuanya.
Sebenarnya, Evan sangat sulit meyakinkan kedua orang tuanya mengenai lamaran pada Sean. Sebab, Orang tua Evan tidak pernah sekalipun mengenal Sean dan keluarganya. Mereka takut jika Evan salah memilih. Lagi pula, mengingat Evan masih berusia sangat muda dan belum mendapat pekerjaan yang mapan, membuat kedua orang tuanya begitu khawatir.
Namun dengan penjelasan dan sedikit pemaksaan dari Evan, membuat orang tuanya luluh dan menyetujuinya.
Pada suatu hari, Ketika Sean libur bekerja. Evan kembali mengajak Sean berkunjung kerumahnya.
Waktu menunjukkan pukul 10.00 ketika Sean sampai di rumah Evan.
"Hai, apa kabar Sean?" Tanya Bu Nita menyambut
"Saya baik Bu, bagaimana dengan Ibu?" jawab Sean
"Ibu juga baik-baik saja. Ibu senang kamu kesini, karena ibu lagi bikin kue untuk arisan nanti sore. Ayo bantu Ibu." Ajak Bu Nita seraya menggandeng Sean masuk ke dapur
"Iya Bu ayo!" balas Sean.
"Bagaimana denganku? Aku kan yang mengajak dia kesini, jadi aku yang akan bersamanya Bu." Evan berlagak memelas
"Sudah ah jangan manja. Pergi sana nonton tivi!" perintah Bu Nita pada anaknya itu. Ia menyadari apa yang bisa Evan lakukan, karena Evan sampai detik ini masih belum mendapat pekerjaan.
Sean pun mengikuti langkah Bu Nita menuju Dapur.
Mereka sangat asik membuat berbagai macam kue hingga Sean melupakan Evan untuk sejenak.
Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 15.00, Sean menyiapkan kue-kue yang telah dibuatnya kedalam piring saji. Setelah semua beres, Sean mendatangi Evan yang sedari tadi berada di ruang keluarga.
"Ih, sayang kamu bau tepung, dan berkeringat." Evan menggoda Sean dengan mengkibas-kibaskan tangannya tepat didepan hidung.
"Hah, benarkah? Ayo antar aku pulang sekarang!" Sean merasa malu dan mengendus bau badannya sendiri.
"Haha gitu aja kamu panik." Ejek Evan
"Sean, kamu mandi dulu gih! Itu disana, ada kamar tamu dan kamar mandi di dalamya. Ibu punya baju lama sih, tapi masih bagus kok. Bisa kamu pakai ganti nanti" Bu Nita menunjuk sebuah kamar di samping tangga rumahnya, dan juga membawa sebuah dress pendek berwarna biru muda.
Sean tidak menyangka jika Bu Nita mempersilakan ia mandi dirumahnya. Dengan sedikit canggung ia mengambil pakaian yang dibawa Bu Nita, dan melangkahkan kaki menuju kamar tamu untuk membersihkan diri.
"Maaf Pak, saya telfon mendadak. Iya, iya baik. Terimakasih"
Terdengar suara Bu Nita menelfon seseorang dengan ponselnya.
"Siapa, Bu?" Tanya Evan
__ADS_1
"Ibu sedang menelfon keluarga Sean. Ibu minta ijin supaya Sean bisa sedikit agak lama disini. Karena sedang membantu ibu mempersiapkan arisan" Jelas Ibunya.
"Oh gitu. Ya baiklah, kenapa tidak ijin agar Sean bisa menginap disini? Bukankah Ibu senang punya akank perempuan" Evan menggoda ibunya.
"Hus! Kamu sudah mulai berani ya? Sini ibu jewer kamu!" Bu Nita gemas dan menjewer salah satu telinga Evan.
"Aduh iya iya ampun bu! Ibu sangat bau sebaiknya ibu mandi dulu" Evan meringis kesakitan dan mengalihkan pembicaraan.
Sepintas ada niat licik dari Evan untuk mengerjai Sean yang sedang berada di kamar tamu. Ia pun bergegas menuju kamar tamu.
Ceklek..
"Hah! Tidak dikunci. Dasar Gadis cupu. Gimana kalau ada orang yang masuk, bukankah akan sangat berbahaya!" Batin Evan dengan bibir tersungging licik dan melangkahkan kakinya masuk secara perlahan.
Deg!
Evan melihat Sean yang sudah cantik menggunakan Dress pendek dari ibunya tadi. Kekasihnya itu sedang berkaca dan menyisir rambutnya yang panjang menjuntai sampai pinggang. Niat Evan mengerjai Sean pun kandas. Ia tergoda melihat Sean dengan kesempatan yang terbuka lebar kali ini.
Perlahan Evan mendekat dan memeluk Sean dari belakang dan melingkarkan tangannya.
Sean sangat terkejut dengan kedatangan Evan, namun Evan menyuruhnya untuk diam saja.
"Diamlah atau ibu akan tahu" Bisik Evan di telinganya.
Sejenak Sean menikmati pelukan itu. Sampai akhirnya Evan memutar tubuh Sean dan mengecup bibir kekasihnya itu.
Tanpa penolakan Sean menerima perlakuan dari Evan. Kali ini ia menikmati desiran-desiran gairah yang ia rasakan secara bertubi-tubi.
Namun tak berlangsung lama. Sean segera melepaskan ciumannya karena ingat bahwa Bu Nita sedang menunggunya.
"Sayang, Ibu sedang menungguku" ucap Sean.
"Oke, pergilah dulu. Atau ibu akan tau kalau kita keluar bersama" Evan mengusap kepala Sean lembut.
Dengan wajah memerah dan senyum manis, Sean pergi meninggalkan Evan.
****
Arisan Bu Nita dan teman-temannya sudah dimulai. Sean bermaksud pergi ke dapur untuk membereskan sisa memasaknya tadi. Tetapi Bu Nita memanggilnya.
"Sean, kemarilah!" Ucap Bu Nita
"Baik Bu" Sean mendekati Calon mertuanya itu dan duduk di sampingnya.
"Ibu-ibu, kenalkan ini Sean calon istri Evan. Calon mantu saya" Bu Nita memperkenalkan dengan percaya diri.
"Loh, bukannya Evan masih seumuran anak saya?" Tanya seorang Ibu-ibu.
__ADS_1
"Iya Bu, daripada pacaran kan lebih baik pendekatan sebentar lalu menikah" Jawab Bu Nita melirik Sean dengan senyuman.
"Iya Bu Nita, bener itu saya setuju" ucap salah seorang lainnya.
"Kamu manis sekali Sean. Cocok sekali dengan Evan" puji ibu-ibu lainnya saling bersahutan.
"Jangan lupa undangannya lho Bu Nita." Goda salah satu teman Bu Nita.
Mereka semua berbincang-bincang menghabiskan waktu dengan tawa ala ibu-ibu arisan yang menggema kemana-mana.
Sedangkan Sean hanya tersenyum menanggapi semua celotehan ibu-ibu tersebut.
Di lain tempat, Evan tak sabar dengan arisan itu. Rasanya ingin segera membubarkannya. Sebab sedari pagi tidak ada waktu Sean untuk sekedar menemaninya nonton tivi.
Saat Arisan benar-benar bubar. Ayah Evan datang dari bekerja mengurus usahanya. Beliau langsung membersihkan diri dan selepasnya langsung duduk di ruang tamu, dimana Bu Nita, Evan dan Sean berbincang-bincang disana.
"Hai, apa kabar Sean?" Sapa Pak Barata
"Baik Om" Sean masih bingung dengan panggilannya untuk ayah Evan.
"Panggil Ayah saja biar tambah akrab" Ucap pak Barata sambil mencicipi kue yang terhidang di atas meja.
"Baik Yah." Balas Sean.
"Wah, kenapa kuenya manis sekali?" Tanya Ayah Evan
"Iya-lah, itukan Sean yang bikin. Sudah pasti semanis orangnya" Evan menggombal.
"Hei.. Apa-apaan ini? kamu sudah berani menggombali gadis didepan ayahmu rupanya?" Tanya Pak Barata
"Memangnya kenapa? Dia kan calon istriku Yah" protes Evan
"Hahaha iya iya Ayah paham" Jawab Ayahnya sambil tertawa.
Sean tersipu malu melihat mereka semua menertawakan Evan karena kue yang ia buat terlalu manis.
"Sudah-sudah, ini sudah malam. Kasihan Sean butuh istirahat, bukankah kamu besok masuk kerja Sean?" tanya Bu Nita.
"Iya Bu. Saya juga takut kalau Ayah sangat khawatir di rumah" Jawab Sean.
"Tenang, ibu sudah meminta izin Ayahmu lewat telfon tadi. Tapi ada baiknya jika kamu pulang tidak terlalu malam. Oh ya, terima kasih atas bantuanmu hari ini Sean." Terang Bu Nita.
"Iya Bu. Sangat senang bisa membantu Ibu. Saya undur diri dulu" Sean berpamitan.
"Evan, pakailah mobil Ayah. Kasihan jika Sean naik motormu menggunakan rok seperti itu" Ucap Pak Barata.
Pak Barata tahu bahwa gaun pendek yang dikenakan Sean adalah milik istrinya. Itu adalah gaun kesayangannya, karena itu pakaian pertama yang dibelikan Pak Barata untuk Bu Nita. Tapi Pak Barata diam saja, karena dress itu sangat cocok dipakai Sean. Apa salahnya jika dipakai oleh calon menantunya sendiri.
__ADS_1