
Evan pun mengambil ponselnya, ternyata panggilan dari Gavin. Evan mengangkat panggilan itu
📲 "Hai Vin, ngapain telfon gue?"
........
Oh gitu, Iya deh bentar lagi OTW"
Evan menutup telfonnya dan mengajak Sean untuk menemaninya
"Sayang ikut aku bentar ya kerumah Gavin. Papanya itu rekan bisnis ayahku. Papanya Gavin mau ngasih berkas buat masukin Furnitur ayahku di sebuah perusahaan yang baru saja dibangun. Beliau besok tidak sempat mengantar ke tempat ayah, karena akan terbang ke luar kota malam ini juga" Evan menjelaskan.
"Oke sayang ayo berangkat" Ucap Sean bersemangat.
Keduanya lalu pergi kerumah Gavin.
Sesampainya di sana, Evan dan Sean dipersilakan masuk. Di ruang tamu papa gavin sudah menyiapkan berkas-berkas yang dibutuhkan.
Evan duduk dan Papa Gavin mulai menjelaskan ini itu, Evan mengangguk-angguk tanda mengerti dan setuju.
"Baiklah, Om dan Tante tak ada waktu, keberangkatan kami satu jam lagi. Kamu nikmati saja waktu dirumah ini. Om minta maaf ya Evan, Titipkan salam om pada Ayahmu" ucap Papa Gavin dan berlalu meninggalkan mereka bertiga.
"Hai Sean. Aku kaget ternyata Evan membawamu ke sini juga ya" Sapa Gavin
"Hai Vin, iya nih. Tadi kebetulan abis makan malam" Jawab Sean malu-malu
"Iya, ganggu orang pacaran aja lu Vin" Sahut Evan
"Eitssss.... Bukan salah gue. Tuh marahin bokap gue, malem-malem masih ngurusin bisnis aja" Kata Gavin sewot
"Bokap lu tuh gak salah, malah ngasi berkah buat usaha gue" Evan menjelaskan
"Iye..iye.. yuk di ruang tengah aja sambil nongkrong. Ga enak nih disini kaga ada hiburan, kalau mau minum ambil aja. Mbak yang ngurus rumah gue tiap hari pulang. Jadi nggak ada yang mau buatin lo minum" Terang Gavin
Mereka pun masuk ke ruang tengah yang cukup luas, di dalamnya terdapat TV super besar, rupanya Gavin sedang asik bermain game dalam play station yang tersambung pada TV besar itu.
"Udah sana lanjutin main game. Gue sama Sean duduk di sofa belakang lo aja. Tapi inget, lo jangan liat belakang ya. Ntar ngiler lagi liat orang lagi pacaran" Ledek Evan sambil menyunggingkan bibirnya. Evan paham bahwa Gavin adalah jomblo pecinta game.
"Ih apaan sih?" dengus Sean sambil menyikut perut Evan.
__ADS_1
"Iye.. iye.. Dah sono kelarin pacarannya. Disini aman kagak ada CCTV. Gue mah gak tertarik sama yang begituan" Gavin mulai asik melanjutkan gamenya dengan suara speaker yang lantang
Sean dan Evan duduk berdampingan melihat Gavin memainkan game, tangan mereka bergandengan hangat seakan tak mau tertinggal. Sean merasa bosan dan menyandarkan kepalanya di bahu Evan. Karena duduk sangat dekat, Aroma parfum Sean tak luput dari penciuman Evan.
Evan pun menelan salivanya, naluri lelakinya mulai muncul. Kini ia tak kuasa menahan gejolak yang sedari tadi ia tahan-tahan.
Tangan Evan mulai membelai rambut Sean, menempatkan helaian rambut Sean tepat dibelakang telinganya. Jarinya mulai turun mengusap pipi dan membelai bibir Sean. Sean Berdesir dan terperanjat dari bahu kekasihnya itu. Jantungnya mulai memompa dengan keras.. Ingin rasanya ia menghindar, Tapi sebelah tangan Evan menahannya.
Tangan evan mulai menuruni Dagu Sean dan sedikit menariknya kedepan mendekati wajah Evan. Lagi-lagi, hembusan nafas hangat dari Evan membuat Sean otomatis memejamkan mata. Desiran darah Sean yang menghangat semakin tak terkendali. Dan akhirnya..
Cup..... Bibir mereka akhirnya menyatu.
Evan menahannya, namun tak memberikan gerakan apapun. Memberi kesempatan Sean untuk mengenal kegiatan itu.
"Dingin! Bibirnya dingin. Oh Tuhan.. inikah rasanya ciuman pertama?" gumam Sean dalam hati.
Desiran itu tak kunjung hilang. Membuat tubuhnya melemas. Namun tak berapa lama Evan melepaskan ciuman itu. Evan merasakan nafas Sean yang tak beraturan membuatnya sadar bila hal itu dilanjutkan, semuanya akan menjadi tidak terkendali.
Sean terkejut dan terbelalak membuka matanya, ia diam seribu bahasa menatap Evan yang masih didepan wajahnya.
Evan mendekati telinganya dan berbisik,
"Kalau kamu mau lagi, kita tidak akan melakukannya disini" bisik Evan mesra
Tiba-Tiba Evan beranjak dari duduknya, dan berpamitan pada Gavin
"Vin gue nganterin Sean dulu deh. Udah malem"
"Oh udah malem ya. Oke Oke. Bye Sean hati-hati ya!" tanpa melambaikan tangan, Gavin masih asik main game.
Mereka pun menaiki motor.
"Sayang apa kamu mau ngelanjutin yang tadi?" Tanya Evan genit
"Eh... nggak-lah. Langsung pulang aja. ini hampir jam sembilan malam" jawab Sean gugup
"Baiklah, aku juga nggak mau dinilai jelek oleh calon mertua, haha" Evan mencairkan suasana
"Bisa aja" Sean mencubit perut Evan.
__ADS_1
Kemudian mereka melaju cepat menembus dinginnya malam itu. Berharap sampai rumah Sean tidak lebih dari jam 21.00
Dan benar saja, mereka tepat di rumah Sean pukul 20.57, akhirnya mereka bisa bernafas lega.
Ketika mengetuk pintu, ternyata Ayah Sean yang keluar. Membuat Evan semakin pede dengan pertemuannya yang kedua. Kemudian Sean berdiri di belakang ayahnya.
"Saya mengantar Sean Om, Terimakasih" ucap Evan santun
"Ya, sama-sama. Sekarang kamu boleh pulang" Jawab Pak Rianto.
"Baik Om, Selamat malam". Tanpa sadar Evan melambai kecil ke arah Sean, dan di balas oleh Sean.
"Ehem!" Pak Rianto berdehem
"Eh, maaf om" Evan berbicara sambil menghentikan lambaiannya. Kini berganti menjulurkan tangan bersalaman dengan Pak Rianto.
"Ya. Sudah sana pulang" Pak Rianto membalas jabatan tangan Evan. Dan kemudian berjalan mengajak Sean masuk rumah.
Sepulangnya Evan. Sean sangat takut jika akan ada banyak pertanyaan mengenai lelaki itu.
Ketika hendak melangkahkan kakinya menuju kamar, Ayah Sean menyuruhnya untuk duduk dulu di ruang tamu. Membuat jantung sean berdebar.
"Nak, siapa lelaki tadi?" Ayahnya mulai membuka percakapan
"Dia Evan Yah. Teman Sean" Singkat Sean
"Ayah tidak melarangmu berteman dengan siapapun. Tapi tolong jaga dirimu baik-baik" sambung ayahnya
"Ayah tidak marah?" tanya Sean
"Untuk apa Ayah marah. Sudah selayaknya remaja memiliki teman dekat. Tapi ingatlah batasan-batasannya, jangan sampai menyesal di kemudian hari"
"Baik Yah. Bagaimana kalau Ibu tahu?"
"Ayah sudah menjelaskannya pada ibumu. Tak perlu khawatir. Sudah sana istirahat" Pak Rianto menutup pembicaraan.
Sean pun bergegas menuju kamarnya, karena dia sangat malu pada ayahnya.
Setelah membersihkan diri, Sean Duduk menepi di sudut luar kasurnya. Menaruh kedua tangannya tepat di samping belakang kanan dan kirinya, sedang kepalanya mendongak ke atas sambil memejamkan mata.
__ADS_1
Merasakan heningnya suasana kamar, dan menikmati bayangan-bayangan first kiss-nya.
Ingin sekali ia mengirim pesan untuk kekasihnya, tapi entah mengapa rasanya malu sekali.