Akankah Kembali

Akankah Kembali
Pernyataan


__ADS_3

Ketika malam tiba, Sean menidurkan Renatta dengan pikiran kalut.


Entah mengapa rasanya berat sekali ketika mengingat Dhareen mengucapkan alasan membeli stelan jas.


Secara tidak sadar, kelakuan Dhareen padanya di beberapa tahun belakangan telah turut mewarnai hari-harinya di kampus. Akan aneh saja jika tiba-tiba tidak akan ada lagi sambutan mengejutkan untuknya di pagi hari.


Sampai pada pukul 21.30, Evan datang.


Evan mencari sosok Sean yang tidak terlihat ketika ia memasuki kamar.


Evan kemudian mencarinya di kamar Renatta. Benar saja, Sean sedang tertidur pulas memeluk putrinya.


Senyum Evan mengembang, dan ia pun memutuskan untuk membersihkan diri terlebih dahulu, sebelum ia membangunkan Sean dan beristirahat.


"Sayang, ayo pindah ke kamar kita!" Ucap Evan lembut yang sedang duduk di samping Sean itu.


"Eh... Iya, Sayang. Kamu baru pulang ya?" Sean terbangun dan mengucek matanya perlahan.


"Iya. Ayo!" Ucap Evan kemudian menggendong Sean menuju kamar mereka.


Sean melingkarkan tangannya di leher Evan dan juga menyandarkan kepalanya di dada bidang milik Evan.


Dug.. Dug.. Dug..


"Jantung ini.. Sudah lama aku tidak mendengarnya. Nyaman sekali..." Gumam Sean


Evan menurunkan Sean dengan lembut sesampainya di ranjang mereka. Kemudian Evan membaringkan tubuh di sebelah Sean.


"Sayang, aku mau peluk lagi." Ucap Sean lirih.


"Sini!" Evan mendekatkan tubuhnya.


Sean merasa lebih nyaman tidur berbantalkan lengan Evan dan memeluk dada bidang di hadapannya itu.


"Gimana kuliahmu hari ini?" Tanya Evan.


"Biasa aja, Sayang. Oh iya, aku tadi beli sepatu kerja buat kamu." Jawab Sean.


"Oh, ya! Makasih ya, sayang. Aku akan memakainya besok." Ucap Evan.


Evan mengecup kening Sean dan berlabuh pada kecupan panas di bibir Sean.


Tangan Evan mulai menari-nari di atas dada mengkal milik Sean.


Dan terjadilah sebuah malam yang selalu diinginkan Sean. Benar saja, sejak Evan menghabiskan banyak waktu di kantor membuat Sean sering haus dengan belaian seorang suami.


Meskipun ia lebih sering menuntaskan hasratnya dengan benda tersembunyi di dalam kamar mandi, tapi hal itu tidak mengurangi rasa cinta dan haus belaian dari Evan.


Setiap sentuhan Evan mengandung banyak sekali energi untuk Sean. Energi untuk membangun mood yang baik untuk menjalani hari-harinya.


Sayang sekali, rupa-rupanya Sean sadar bahwa beban kerja suaminya hari ini sangat berat dan melelahkan. Terbukti malam ini performa Evan menurun. Permainannya hanya bertahan sekitar empat puluh menit saja, hal itu membuat Sean lagi-lagi terpaksa menggunakan jasa tersembunyi untuk menuntaskan gejolaknya.


Ketika ia duduk ditempat ternyamannya, tiba-tiba saja ia teringat aroma wangi dari Dhareen yang sempat ia nikmati tadi siang.


Sean memejamkan mata dan menikmati fantasi baru dalam hidupnya.


"Wangi itu.... Sentuhan itu... Kepergian orang aneh itu..." Dalam fikiran Sean berkecamuk.


Sedikit campuran emosi membumbui aktifitasnya malam itu.


Rasa kesal tiba-tiba datang di hati Sean. Entah apa sebabnya, emosi Sean tak begitu jelas. Yang ia tahu bahwa hatinya berat ketika Dhareen mengatakan ia akan di wisuda.

__ADS_1


Ketika Sean berendam di air hangat, ia bertanya-tanya dalam hatinya.


"Kenapa aku jadi mikirin Dhareen, sih? Ini tidak benar!" Gumam Sean.


Kemudian Sean membersihkan diri dan menyusul Evan beristirahat.


Pagi hari berjalan seperti biasanya.


Ketika Sean sampai di parkiran kampus, sebelum turun dari mobil ia merapikan pakaian dan rambutnya dengan lebih jeli.


Ia masih konsisten dengan penampilannya yang monoton, karena itu style ternyaman menurut Sean.


Buk!


Sean menutup pintu mobil.


Namun ia tidak juga mendengar sambutan pagi dari Dhareen.


Ia segera membalikkan badannya dan menengok kesana kemari mencari sosok Dhareen. Namun sayangnya nihil.


"Kemana dia? Seenaknya saja datang dan menghilang!" Dengus Sean.


Sean pun akhirnya berjalan ke kelas tanpa iringan Dhareen seperti biasanya.


Dalam perjalanan, Sean masih tak henti-hentinya mencari sosok Dhareen.


"Kamu nyari aku?" Tiba-tiba suara Dhareen terdengar dari belakang Sean.


"Eh! Nggak tuh, ngapain nyari kamu!" Ucap Sean yang tiba-tiba sedikit lega.


"Jangan bohong!" Ucap Dhareen dengan gaya cool nya mengantongi kedua tangan di sakunya.


"Enggak!" Ucap Sean sambil terus berjalan tanpa menoleh pada Dhareen.


"Lagi-lagi maksa!" Gumam Sean.


Dan ketika jam makan siang tiba, Sean dan Sinta beristirahat di kantin dekat taman.


Dhareen pun datang dan langsung menagih makan siangnya dengan Sean.


"Ayo!" Ucap Dhareen.


"Kemana?" Tanya Sean.


"Makan siang." Ucap Dhareen.


"Di sini aja!" Balas Sean.


"Ikut aku!" Ucap Dhareen.


Sinta pun kebingunan melihat dua orang yang sedang berdebat kaku tak mau saling mengalah.


"Habis ini aku ada jam lagi." Terang Sean.


"Aku tau! Ayo cepat." Paksa Dhareen.


"Sin, tolong jaga ini semua, ya! Jangan sampai suamiku tau." Ucap Sean yang akhirnya mengikuti Dhareen.


"Iya. Tenang aja." Jawab Sinta singkat.


Sean dan Dhareen pun akhirnya makan siang di sebuah kafe dekat dengan kampus.

__ADS_1


Mereka duduk berhadapan dan Sean mulai tak sabar mengutarakan isi hatinya.


"Kamu ini kenapa sih? Selalu aja maksa." Ucap Sean.


"Aku hanya ingin makan siang denganmu." Jawab Dhareen.


"Ya Tuhan! Apa-apaan ini.... Kita kan bisa makan di kantin. Sebenarnya apa sih niat kamu?" Tanya Sean.


"Aku juga tidak tau." Jawab Dhareen.


Sean mulai mengeluarkan jurus cerewet dan menyerang Dhareen.


"Sssttt!!! Aku tertarik padamu, tapi aku tau kamu sudah bersuami. Biarkan aku seperti ini sebelum aku pergi." Ucap Dhareen.


Deg!


Sean terdiam seribu bahasa. Rasanya seperti di timpa gedung roboh.


"To... Tolong jelaskan!" Sean terbata.


"Aku menyukaimu sejak awal pertemuan kita. Lagi-lagi maafkan aku jika selama ini mengganggu." Ucap Dhareen sambil menatap lekat mata Sean.


"Dhareen, ini tidak benar." Ucap Sean.


"Aku tau, tapi tolong jangan paksa aku berhenti menyukaimu." Ucap Dhareen.


Jantung Sean tiba-tiba berdegub kencang seperti saat pertama Evan menyatakan cinta.


Rasanya begitu bahagia, namun ia sadar ini tidak seharusnya.


Ia berusaha untuk tidak terlena denga ucapan Dhareen. Namun sangat sulit rasanya karena Dhareen benar-benar lelaki yang baik hati walau kadang menyebalkan.


"Dia banar-benar tidak ingin mengecoh keluargaku selama ini. Apakah ini alasanku berat ditinggal oleh nya? Tanpa sadar aku telah memelihara rasa nyaman dengan kehadiran Dhareen." Batin Sean.


Sean kembali dari lamunannya.


"Dhareen maaf aku harus kembali ke kelas." Ucap Sean.


"Kenapa secepat ini? Ayolah bersantai sedikit. Anggap saja aku tidak pernah mengatakan apapun." Ucap Dhareen menyodorkan segelas jus jeruk pada Sean.


Sean mulai mengatur nafas rileks,


Tanpa banyak bicara Sean meraih gelas itu dan meminumnya.


"Kapan wisudanya?" Tanya Sean.


"Tiga minggu lagi." Jawab Dhareen.


"Aku turut bahagia untukmu. Apa rencanamu kedepan?" Tanya Sean.


"Mungkin melanjutkan S3, kalau tidak aku akan bekerja." Jawab Sean.


"Cita-citamu pasti sangat tinggi." Ucap Sean sambil tersenyum.


"Hah... Cita-cita ayahku yang sangat tinggi." Dhareen membuang nafas malas.


"Oh, ya?" Tanya Sean.


"Sudah jangan dipikirkan. Ayo habiskan makananmu!" Pungkas Dhareen.


Sean pun melahap makanannya tanpa sepatah kata.

__ADS_1


Namun siapa sangka bahwa hati Sean masih bergejolak karena pernyataan Dhareen barusan.


__ADS_2