Akankah Kembali

Akankah Kembali
Kesan Pertama


__ADS_3

Hari ini Sean bangun sangat pagi agar bisa menyiapkan sarapan untuk keluarga kecilnya sebelum berangkat kuliah.


Ia harus disiplin agar semua berjalan sesuai rencana.


Pukul 05.30


Evan terbangun dari tidurnya. Ia ingat bahwa hari ini Sean ada jam kuliah. Kemudian ia beranjak dari ranjang dan berjalan menuju kamar Renatta melalui pintu penghubung di antara kamar mereka.


Ia berbaring dan memeluk lembut putri kecilnya tersebut, mengecup kening berulang kali dan mengelus rambut malaikat kecil di hadapannya.


"Selamat pagi, Bos kecil. Ayo bangun...." Bisik Evan


Namun Renatta hanya menggeliat menikmati tidurnya.


Evan tersenyum dan beranjak dari kasur. Ia bergegas membersihkan diri sebelum anaknya benar-benar terbangun.


Sedangkan Sean sudah selesai dengan kegiatan di dapur. Ia juga bergegas membersihkan diri di kamar mandi bawah dekat dengan dapur. Kemudian setelah selesai, ia naik ke lantai dua dan membangunkan Renatta.


Sekelebat ia melihat pujaan hatinya sudah berpakaian rapi dan berambut klimis dengan aroma parfum semerbak kemana-mana.


Cup....


"Pagi, Sayang! Aku tunggu di bawah ya." Ucap Evan yang tiba-tiba datang dan mengecup kening Sean.


"Pagi, Sayang. Setelah memandikan Renatta aku akan langsung turun." Ucap Sean sambil menyiapkan pakaian untuk Anaknya.


Selang beberapa waktu,


Sean dan Renatta menuruni anak tangga dengan penuh keceriaan. Mereka berjalan menuju dapur dengan penuh semangat.


"Mama, Natta mau kerumah nenek?" Tanya Renatta dengan gaya imutnya.


"Iya, Sayang. Nggak boleh nakal ya disana. Nanti pasti Mama jemput." Jawab Sean lembut


"Oke, Mama!" Renatta menjawab sambil berlari menuju Papa nya yang duduk bermain ponsel di meja makan.


"Papa.... Natta mau kerumah nenek!" Ucap Renatta ceria.


"Hai, Sayang! Wah senang nya. Natta harus nurut sama nenek ya." Ucap Evan sembari menggendong anaknya


"Heem!" Renatta mengangguk lucu


"Sudah. Ayo sarapan dulu." Ucap Sean.


"Oke, Mama!" Jawab Evan dan Renatta bersamaan.


Setelah mereka menyantap hidangan. Mereka berhambur dengan tujuan masing-masing.


Evan berangkat kerja mengendarai mobil keluarga miliknya, sedangkan Sean dan Renatta mengendarai sedan hitam menuju Rumah Bu Nita yang kali ini bertugas menjaga Renatta.


Kemudian Sean akan langsung berangkat menuju kampus tempat dimana ia akan menempa ilmu disana.


****


"Parkir di mana ya? Biar nggak jauh-jauh dari ruangan." Ucap Sean lirih sambil menengok kanan-kiri.


Perlahan tapi pasti mobil Sean berhenti di sebuah tempat parkir dengan pohon yang rindang, tepatnya di sebelah kantin dekat taman.

__ADS_1


"Wah cocok nih tempatnya! Bisa dijadiin tempat langganan, hihihi." Sean berulang berbicara sendiri.


Kemudian ia keluar dari mobil dan merapikan pakaiannya.


Rambut tergerai lurus dengan kemeja putih, rok hitam se lutut dan sepatu flat hitam menjadi andalannya hari ini.


Sean pun berjalan menuju ruangan, ia melihat berbagai macam gaya mahasiswi di Universitas tersebut dan membuatnya merasa sedikit minder dengan penampilannya yang sangat sederhana bahkan bisa dibilang monoton.


Namun ia bergeming, ia mengingat tujuan dan janji pada Suaminya yang harus segera ia laksanakan. Ia tidak ingin mengecewakan Evan yang sangat mendukung pendidikannya.


Sesampainya di ruangan. Sean duduk di bangku barisan kedua.


Hanya dua kursi yang tersisa di ruangan tersebut. Yaitu kursi yang akhirnya di duduki Sean dan sebelahnya.


Duk! Duk! Duk!


Suara langkah kaki berlarian menuju bangku di sebelah Sean.


"Huh! Akhirnya sampai juga." Ucap Seorang wanita yang usianya kira-kira sedikit lebih muda dari Sean.


Sean pun tersenyum pada wanita itu.


"Hai, Aku Sinta." Ucap Wanita itu pada Sean.


"Hai, aku Sean." Balas Sean mengulurkan tangan.


Mereka pun berjabat tangan.


Tak lama kemudian seorang lelaki paruh baya datang membawa beberapa buku dan sebuah laptop. Tentunya beliau adalah dosen yang akan mengajar mereka.


***


Waktu pun berlalu, mata pelajaran pun usai.


Semua yang berada di ruangan mulai berhambur keluar. Tak terkecuali Sean. Ia berjalan menuju kantin terdekat dan memesan segelas jus jeruk kesukaannya.


Ia duduk sendiri tanpa teman, tak membuatnya ambil pusing dengan pemandangan riuh gerombolan mahasiswa lainnya yang sedang bersenda guarau.


ia mengeluarkan ponsel dan mengirim pesan pada suami tercinta nya.


📨 "Sayang, satu mata pelajaran udah selesai. Aku cukup menikmatinya."


Namun ia tak berharap pesan itu segera di balas oleh Evan. Karena kesibukan Evan yang sudah ia hafal.


📲 "Hai, Sayang. Tetap semangat. Nikmati waktumu belajar. Aku mencintaimu!"


Tak terduga, sebuah pesan balasan dari Evan dengan cepat Sean terima.


📨 "Oke, Sayang. Selamat bekerja. Aku juga mencintaimu!" Balas Sean.


Sean merasa sangat senang mendapat pesan balasan dari Evan. Secara tidak sadar ia tersenyum sendiri bagai remaja yanh dimabuk cinta.


Tiba-Tiba.


"Woy! Senyum-Senyum aja!" Sinta membangunkan lamunan Sean


"Eh, Iya nih." Jawab Sean yang terkejut.

__ADS_1


"Boleh gabung nggak?" Tanya Sinta.


"Boleh dong. Sini!" Jawab Sean ramah sambil menepuk bangku di sebelahnya.


"Kamu anak baru ya? Kok sendirian aja." Tanya Sinta


"Iya. Kamu sendiri?" Tanya Sean balik.


"Nggak baru, juga nggak lama-lama banget sih. Udah jangan tanya-tanya mulu." Jawab Sinta.


Mereka pun memulai untuk akrab sebagai teman. Berbagai macam pertanyaan sama-sama mereka lontarkan untuk bisa saling mengenal lebih dalam.


Sean juga tidak canggung untuk menceritakan bahwa dirinya sudah memiliki suami dan seorang putri kecil pada Sinta. Wajah Sean memancar bahagia ketika menceritakan keluarga kecilnya tersebut.


Hal itu membuat Sinta merasa hangat berteman dengan Sean.


Sinta yakin bahwa Sean akan menjadi teman yang akan membawa dampak positif pada dirinya. Mengingat Sinta adalah pribadi yang sangat mudah untuk terpengaruh teman atau lingkungan.


Setelah beristirahat, mereka memasuki ruangan kembali untuk mengikuti mata pelajaran selanjutnya.


Kali ini mereka sangat akrab dan saling bertukar pikiran untuk menanggapi masalah-masalah dalam materi yang dipelajari.


Berlangsung terus sampai akhirnya mata pelajaran terakhir usai pukul 14.00.


"Sampai jumpa besok ya!" Ucap Sinta melambaikan tangan pada Sean.


"Oke, Sin! Bye!" Ucap Sean sambil membalas lambaian tangan Sinta.


Kemudian ia bergegas menaiki mobil dan berlalu menuju rumah mertuanya untuk menjemput Renatta.


14.30


Ketika Sean sampai di rumah bu Nita, Renatta sudah cantik dan wangi menggunakan pakaian yang ia bawakan tadi pagi.


Kerinduan pada putri imutnya sudah tidak terbendung lagi. Pelukan dan ciuman bertubi-tubi menghujani pipi gembul milik Renatta.


"Mama kangan banget sama kamu, Nak!" Ucap Sean memeluk Renatta.


"Natta juga. Tadi Nenek cerita kelinci, trus main banyak sama Natta." Renatta mulai ceriwis menceritakan kegiatannya dengan Nenek Nita.


Sean dan Bu Nita tertawa melihat hadis kecil itu bercerita dengan logat anak-anak yang sungguh menggemaskan.


"Bu, Maaf Sean harus segera pulang. Mau menyiapkan makan malam untuk Evan. Terimakasih sudah menjaga Renatta. Besok dia akan Sean bawa kesini lagi." Ucap Sean ramah.


"Aduh nggak usah ijin segala deh. Ibu seneng kok ada Natta disini. Natta itu hiburan buat Ibu. Lagian ini kan jatah Ibu buat jagain cucu tercinta." Jawab Bu Nita sambil menepuk bahu Sean.


"Hehe iya, Bu. Kami pamit dulu." Ucap Sean.


"Tha...thaa... Nenek! Besok Natta kesini lagi yaaa.." Ucap Renatta berteriak kegirangan.


"Iya, Sayang. Nenek tunggu." Bu Nita mengecup kening Renatta.


Setelah menjeput Renatta, mereka menuju rumah.


Sean langsung menyiapkan makan malam dan bergegas membersihkan diri untuk menyambut kedatangan suaminya.


Ia akan menceritakan pengalaman pertamanya di kampus pada Evan tanpa terkecuali. Tentunya ini adalah pengalaman pertama yang menyenangkan bagi Sean.

__ADS_1


__ADS_2