Akankah Kembali

Akankah Kembali
Ngidam


__ADS_3

Kali ini Sean terpaksa berhenti bekerja karena kondisinya sangat tidak memungkinkan.


Di awal, Sean hanya muntah ketika dekat dengan Evan. Namun, kali ini ia akan muntah jika ada sesuatu yang masuk ke perutnya. Hal ini membuatnya sangat tersiksa dan lemas tanpa tenaga.


Berbagai varian makanan selalu di siapkan bergantian oleh Evan, Bu Nita dan Bu Mira. Dengan tujuan Sean tidak akan merasa bosan dan akan memakan setidaknya sedikit saja sebagai asupan.


Kunjungan dokter tidak pernah absen mereka lakukan. Setiap satu bulan sekali atau bahkan dua minggu sekali sesuai kebutuhan Sean dan calon bayi nya.


Berbagai macam cara mereka lakukan, seperti mengganti nasi dengan umbi-umbian dan aneka buah sebagai penambah rasa segar. Namun hal ini tak lantas membuat Sean berhenti muntah-muntah karena makanan.


Kondisi seperti ini berjalan selama kurang lebih empat bulan.


Menginjak usia kandungan enam belas minggu, Sean mulai bisa memakan berbagai macam makanan. Hanya saja porsinya tidak banyak. Namun ini merupakan suatu kemajuan yang membuat semua anggota keluarganya dapat menghela nafas dengan lega.


Seiring berjalannya waktu, Sean bahkan mampu menghabiskan dua porsi makanan sekali waktu. Nafsu makannya melonjak tajam. Aneka camilan dan buah tidak pernah absen mengisi kekosongan di sela waktu makan.


Berat badannya bertambah signifikan, hal ini membuat semua merasa senang.


Ketika malam tiba, Sebelum tidur Evan selalu mengelus perut Sean yang terus membesar dengan lembut.


Gluduk.. gluduk..


Perut Sean bergantian menonjol di berbagai letak permukaan perut.


"Sayang, lihat! Perutmu seperti ditendang-tendang. Hahahaha." Tawa Evan Terkesima.


"Hahaha, iya Sayang. Mungkin dia seneng banget kamu elus-elus gitu." Jawab Sean.


"Aduh! Gemesin banget." Ucap Evan bahagia.


" Iya dong kan anak aku!" Ucap Sean pede.


"Hai baby! Ini Papa. Sehat-sehat ya di perut Mama. Jangan nakal, nanti Mama kesakitan. Cup!" Evan berbisik lembut di atas perut Sean, kemudian ia menciumnya.


Sean sangat senang melihat kebahagiaan suaminya yang sangat jelas tergambar di wajah tampannya.


"Sayang! Sekarang aku gendut ya?" Tanya Sean manyun.


"Iya, sedikit!" Senyum Evan sambil mengatupkan telunjuk dan jempolnya di depan mata.


"Iiihhh.. Kok kamu gitu sih!" Cubit Sean.


"Terus aku harus bilang apa coba?" Jawab Evan kesakitan.


"Iya deh iya.... Emang aku gendut! Awas aja kalau kamu di kantor lirik-lirik cewek seksi!" Ucap Sean sambil mengepalkan tangan di hadapan Evan.


"Ya enggak lah....... Kan lebih enak yang berisi!" Lirik Evan genit sambil mengangkat-angkat alisnya.


"Iiihhh kamu ih! Genit banget." Sean memukul ringan.


"Emang bener kok! Jadi pengen itu deh. Sekarang jarang banget kita melakukannya." Goda Evan.


"Iiihhh mulai deh mesumnya! Aku ngantuk mau tidur dulu." Ucap Sean sambil membelakangi Evan yang berbaring di sampingnya.


"Kata Dokter Ranny kan nggakpapa, pokoknya pelan-pelan." Bisik Evan.


"Nggak ah! Lagi nggak mood nih." Sean sebal.

__ADS_1


"Sayang, dia sudah berdiri. Sedikit aja deh!" Rayu Evan sambil menempelkan juniornya di bagian belakang Sean.


Berbagai macam rayuan ia lancarkan. Namun, butuh waktu agak lama untuk sampai yang pada akhirnya ia pun berhasil mendapatkan apa yang ia inginkan.


Dan malam itu terjadilah......


Semenjak Sean mengandung, Evan melakukannya dengan lebih lembut. Dan seperti biasanya, butuh waktu yang lama untuk membuat Sean melayang di angkasa. Namun Evan sudah paham dengan setiap alur permainannya.


****


Keesokan harinya Sean memasak sarapan dan membangunkan Evan seperti biasanya.


Namun kali ini ia sedang menginginkan sesuatu.


"Sayang! Aku lagi pengen sesuatu, boleh?" Tanya Sean ragu.


"Boleh. Katakan saja Sayang. Akan aku belikan." Jawab Evan tersenyum.


"Tapi... Bukan sesuatu untuk di makan." Sean semakin ragu.


"Katakan saja. Aku pasti memenuhinya, demi anak kita." Jawab Evan.


"Tapii..."


"Tapi apa? Ayolah, aku nggak marah kok!" Paksa Evan.


"Janji ya! Harus dituruti." Sahut Sean.


"Iya, Sayang. Janji!" Tegas Evan.


"Sayang, aku mau pegang kepala gundul!" Bisik Sean.


"HAH!! APA??? Kepala siapa, Sayang? Jangan Aneh-aneh deh!" Evan terkejut.


"Tuhhh kaaannn... Males deh kamu gitu!" Sean cemberut.


"Kamu serius? Kepala siapa?" Evan memperjelas.


"Iiihhh seriusan! Kepala siapa aja boleh, yang penting gundul!" Sean merengek bak anak kecil.


"Duh gawat nih! Kepala siapa yang gundul?!" Evan menggaruk tengkuknya kebingungan.


"Pokoknya aku mau itu. Kalau enggak, aku nggak mau makan nih seharian!" Sean mengancam.


"Eh... Jangan gitu dong. Iya deh, iya.. Nanti Sore tunggu aku pulang kerja ya, Sayang. Ayo cepat makan yang banyak!" Ucap Evan


Kemudian mereka menghabiskan sarapan, dan setelahnya Evan bergegas ke kantor dengan hati gundah gulana.


****


Dirumah, Sean sangat menantikan suaminya datang dan segera menemukan kepala gundul untuknya. Tiap jam Sean mengirim pesan pada Evan untuk menagih janjinya.


Hingga akhirnya Evan pun pulang di sore hari.


Tanpa membersihkan diri, Evan langsung membonceng Sean dengan moge nya menuju taman.


Mereka berkeliling mencari orang dengan kepala gundul.

__ADS_1


Hingga akhirnya Evan melihat seorang pria tinggi gemuk di seberang jalan, tentunya pria itu berkepala gundul seperti permintaan Sean.


Kemudian Evan mengajak Sean menghampiri pria itu. Sean seketika mengembangkan senyum dan sangat antusias menemui pria itu.


"Selamat sore, Pak! Saya Evan. Ini istri saya, Sean." Evan memperkenalkan diri.


"Oh, iya! Saya Jonathan. Bisa saya bantu?" Lelaki itu keheranan karena tidak mengenal mereka berdua.


"Maaf Pak Jonathan. Istri saya sedang hamil. Dia ingin......." Evan ragu melanjutkan kalimatnya.


"Iya, ingin apa maksud Anda?" Tanya Pak Jonathan.


"Maaf, istri saya ingin..." Evan masih ragu.


"Maaf saya ingin memegang kepala Anda, Pak. Apa boleh?" Sahut Sean memelas sambil mengelus perutnya.


Sedangkan Evan menghela nafas panjang dan membuangnya lega.


"Ha! Apa? Hahaha. Maksud Anda kepala ini?" Pak Jonathan mengusap kepalanya memutar.


"Eh, Iya maaf jika lancang. Tapi istri saya sedang mengidam, ingin memegang kepala...." Evan tak berani melanjutkan kalimat.


"Kepala gundul maksud Anda?" Sahut Pak Jonathan ramah.


"Iya, Pak. Mohon maaf!" Ucap Evan.


"Hahaha. Oke, boleh. Hanya pegang saja kan? Silakan nona!" Pak Jonathan menundukkan kepala di hadapan Sean.


"Permisi."


Dengan sigap, tangan kanan Sean memegang dan mengelus kepala gundul Pak Jonathan.


Matanya terpejam menikmati bulatan halus itu. Sedangkam tangan kirinya sibuk mengelus si jabang bayi di permukaan perutnya.


Evan terheran-heran dengan tingkah Sean yang menurutnya sangat aneh. Bagaimana bisa seorang wanita ngidam kepala gundul. Sedangkan pada umumnya orang hamil akan ngidam berbagai macam makanan. Tak henti-hentinya ia menggelengkan kepala melihat istrinya begitu menikmati kepala gundul Pak Jonathan.


Sampai akhirnya tak lama kemudian.


"Pak, Saya benar-benar berterima kasih. Kalau Bapak tidak mengizinkannya, mungkin anak saja bakal jadi ileran. Xixixix." Ucap Sean lega sambil melepas tangannya dari kepala Pak Jonathan.


"Wah, sudah ya nona? Tidak apa-apa. Saya tidak rugi dengan ini." Ucap Pak Jonathan ramah.


"Saya juga berterima kasih, Pak. Apa ada yang bisa saya bantu setelah ini?" Tanya Evan menawarkan imbalan.


"Ah! Tidak perlu. Anda jaga saja nona ini dengan baik. Saya tidak perlu imbalan. Semoga kelak anak anda bisa menjadi manusia yang bermanfaat bagi sekitar." Pak Jonathan mengembangkan senyum dan menepuk bahu Evan.


"Baik, Pak. Sudah pasti! Kami mohon undur diri dulu. Sudah hampir petang." Pungkas Evan.


Dan Pak Jonathan pun menyetujui nya.


Kemudian Sean dan Evan beranjak dari tempat dan bergegas pulang.


Di perjalanan Evan masih tidak percaya dengan kelakuan istrinya mengelus kepala pria lain di hadapannya.


"Kalau bukan karena hamil, Aku akan menyeretmu pergi dari lelaki itu" Gumam Evan sebal.


Sedangkan Sean merasa lega, seperti telah melepas beban berat di punggungnya yang seharian di pikulnya. Ia tersenyum berulang kali mengingat sensasi kepala Pak Jonathan yang sangat halus dan licin mengkilat. Kepala itu membuat emosi nya tenang dan stabil. Tentunya si jabang bayi akan bahagia juga seiring dengan suasana hati ibunya.

__ADS_1


__ADS_2