
Satu tahun berlalu. Usia Sean menginjak dua puluh lima tahun. Dan usia pernikahannya dengan Evan sudah berjalan selama lima tahun.
Hubungan keluarga mereka yang selalu harmonis mulai mengalami sedikit permasalahan karena Evan lebih sering pulang larut malam karena pekerjaan.
Hampir tiada hari tanpa lembur. Semua itu membuat Sean merasa kurang diperhatikan. Bahkan Renatta sering sekali bertanya mengapa Papa nya tidak pernah bermain bersamanya.
Hal tersebut membuat emosi Sean terkadang tidak terkendali dan marah-marah pada Evan.
Evan pun yang pembawaannya kalem dan pendiam lebih memilih acuh karena sudah letih dengan pekerjaan sehari-hari di kantor.
Sampai-sampai urusan ranjang sering terabaikan, saking letihnya dengan beban kerja yang ia jalani.
Tak menampik, Sean sebagai wanita dewasa juga menginginkan malam romantis seperti indahnya malam pertama dengan suaminya itu. Namun apa daya, Evan lebih sering menghabiskan malamnya untuk beristirahat daripada menyentuh Sean.
Sesekali dalam seminggu Evan meminta jatahnya pada Sean, namun lagi-lagi hal itu membuat Sean kecewa.
Tidak seperti dulu, durasi bermain yang dulu bisa sampai hampir dua jam, kini hanya empat puluh atau bahkan hanya tiga puluh menit saja. Mengingat Sean adalah tipe wanita yang sulit sekali mencapai puncaknya. Rasanya kini sangat tidak puas dengan permainan romantis di antara mereka. Ini semua karena Evan kelelahan, dan hati Sean memberontak karena hal itu.
Hal tersebut berulang hingga akhirnya Sean sudah tidak sabar lagi.
Diam-diam Sean membeli sebuah mainan dewasa yang ia sembunyikan di kamar mandi di dalam kamarnya.
Ia akan menggunakannya setiap kali ia menginginkan atau bahkan setelah melakukan bersama Evan. Semata-mata hanya ingin melampiaskan gelora nya yang belum pernah tuntas selama kesibukan Evan yang semakin menjadi-jadi sibuknya.
"Maafkan aku! Aku tidak bermaksud menyakitimu dengan hal ini. Hanya saja aku ingin emosiku stabil dan membuat keluarga kita tetap harmonis." Ucap Sean dalam hati.
Sean Menitikan air mata, terbesit perasaan bersalah pada Evan. namun tidak ada jalan lain. Ketika keinginannya itu tidak sampai, secara otomatis emosinya memuncak dan membuat mood nya tidak baik. Ia tidak ingin anggota keluarganya mendapat imbas dari perasaanya, terutama Renatta.
Kala itu,
Evan kembali meminta jatahnya pada Sean. Sebagai istri yang baik, ia pun melayani Evan sampai Evan merasa puas.
Ketika Evan berbaring dan mulai tertidur, Sean bergegas menuju kamar mandi dan menuntaskan hasratnya disana.
Sekembalinya dari kamar mandi, dilihatnya Evan masih tertidur lelap. Sean menghela nafas panjang dan kemudian ikut berbaring memeluk Evan.
Malam pun berlalu.
Pagi ini Sean ada jadwal kuliah. Ia melakukan aktifitasnya yang super sibuk seperti hari kuliah biasanya.
Namun kali ini ia sangat tergesa-gesa karena bangun sedikit kesiangan dari biasanya.
Sesampainya di kampus, ia berlari ke ruang kelas dan mengikuti mata pelajaran dengan cermat.
Hari ini sangat banyak tugas dari pak dosen untuk Sean dan kawan-kawannya. Sehingga membuat Sean sedikit terlambat untuk pulang dan menjemput Renatta.
__ADS_1
Sean memutuskan menyelesaikan tugas di kampus bersama Sinta dan beberapa temannya yang seumuran.
📤 "Sayang, maaf hari ini aku ngerjain tugas di kampus entah sampai jam berapa. Tolong nanti jemput Natta ya." Sean mengirim pesan pada Evan.
Ting....
📥 "Iya Sayang. Jangan pulang larut malam. Aku akan menjemput Natta segera setelah pulang kerja." Balas Evan.
📤 "Makasih, Sayang!" Balas Sean.
Sean pun akhirnya menghabiskan harinya di kampus dengan Sinta untuk mengerjakan tugas sampai selesai.
Tak terasa waktu menunjukkan pukul 17.30.
Setelah selesai Sean memutuskan untuk segera meninggalkan teman-temannya. Ia berlari menuju parkiran dan melihat sebuah toko masih terbuka deretan luar parkiran.
"Ah aku lupa. Susu Renatta sudah waktunya habis. Aku harus membelinya dulu." Ucap Sean berniat membeli susu di toko tersebut.
Tapi langkahnya terhenti ketika suara dehem seorang laki-laki terdengar dari belakang tubuhnya.
"Ehem!"
"Eh!" Spontan Sean.
"Eh, maaf. Aku tidak mengenalmu." Ucap Sean sedikit takut.
"Hah! Iya juga. Aku Dhareen, anak pasca sarjana. Kalau boleh aku hanya menumpang sampai jalan besar saja. Batrai ponselku habis. Aku tidak bisa menghubungi siapapun. Memang sial nasibku hari ini." Dhareen mencoba menjelaskan.
"Tapi.." Sean terbata
"Oke nggakpapa, aku bisa jalan kok. Maaf ya membuatmu takut." Ucap Dhareen sambil tersenyum.
Laki-laki bertubuh kekar dan berkulit putih itu pun langsung berjalan meninggalkan Sean tanpa jawaban.
"Hei! Tunggu! Iya kamu boleh nebeng kok. Tapi aku mau ke toko sebentar membeli susu." Ucap Sean yang merasa iba pada Dhareen.
"Benarkah? Terimakasih. Aku akan menemanimu ke toko itu." Ucap Dhareen.
Sean pun mengangguk dan mulai berjalan ke arah toko, sedangkan Dhareen mengikuti langkah Sean dari belakang.
Di dalam toko, Sean berkeliling mencari susu formula untuk anaknya.
Ketika ia berhasil mendapatkannya, Dhareen terkejut dan bertanya.
"Susu anak-anak?"
__ADS_1
"Iya, untuk putriku. Dia berusia empat tahun." Jawab Sean.
"Oh, Okey. Antrean di kasir sangat panjang. Kamu duduk aja, biar aku yang mengantre." Ucap Dhareen.
"Jangan! Aku bisa sendiri." Ucap Sean.
"Sebagai terimakasihku sebelumnya." Jawab Dhareen singkat.
Dan akhirnya Sean mengalah, ia memberi susu itu pada Dhareen. Kemudian ia sedikit menjauh dari lelaki kekar itu.
Antrean semakin maju, Sean tak sabar ingin pulang menemui buah hatinya.
Akan tetapi ia kembali terkejut ketika melihat sosok Evan yang sedang menggendong Renatta di dalam toko.
Sean ketakutan, ia takut jika Evan salah paham dengan adanya Dhareen.
"Mama!" Ucap Renatta menunjuk Sean.
Evan pun berjalan menuju tempat Sean berdiri.
"Hai, Sayang! Kamu mau beli apa disini?" Tanya Evan sambil mengecup kening Sean.
"Itu, Aku beli susu buat Natta. Kebetulan temanku juga lagi belanja. Karena antreannya panjang jadi aku titip dia untuk ke kasir." Sean berkilah.
"Oh, mana temanmu?" Tanya Evan.
"Itu!" Sean menunjuk Dhareen.
"Oh.. Laki-laki!" Tanya Evan.
"Iya. Jangan salah sangka. Kan aku udah bilang cuma nitip doang." Sean sedikit sewot.
"Hehe iya... Iya... Aku percaya sama kamu." Ucap Evan.
Diam-diam Dhareen mendengar percakapan Sean barusan. Kemudian ia meraih beberapa cemilan di sampingnya, ia bermaksud untuk membantu Sean agar suaminya tidak curiga macam-macam terhadapnya.
"Sean! Ini susu untuk anakmu. Aku sudah selesai dengan belanjaanku." Ucap Dhareen ramah sambil menyodorkan satu kantong susu formula.
"Oh, ya. Makasih. Kenalin ini suami dan anakku." Sean merasa sangat gugup.
"Hai, aku Dhareen." Sapa Dhareen pada Evan.
"Hai, Aku Evan. Makasih udah mau bantuin istriku." Ucap Evan.
"Sama-sama. Oke, aku cabut duluan ya!" Jawab Dhareen meranjak meninggalkan mereka.
__ADS_1