
Keesokan harinya Sean bergegas mengendarai motor menuju Universitas yang akan ia masuki, dengan membawa kelengkapan-kelengkapan administrasi yang baru saja bisa diserahkan pada pihak kampus, dan juga daftar ulang.
Karena jalur undangan, maka Sean tidak melewati beberapa tes masuk bangku perkuliahan.
Sean sangat senang bisa menginjakkan kakinya di Universitas impiannya.
"Tempat ini yang akan memberiku banyak ilmu" Gumam Sean dalam hati sambil tersenyum bahagia.
Waktu menunjukkan pukul 10.00, Tidak ada tujuan setelah ke Kampus ini. Regina juga mengurusi pendidikan lanjutannya di luar kota. Jadi, Sean memutuskan untuk pulang saja.
Di rumah Sean melakukan aktifitas seperti biasanya, bersih-bersih, menyiram bunga, mencuci baju dan sebagainya. Dia sudah terbiasa dengan pekerjaan rumah. Didikan orang tuanya sungguh bermanfaat. Tidak menunggu bantuan orang lain pun, semua bisa selesai.
plak..plak..plak..
Suara telapak tangan Sean beradu.
"Fiuh... Akhirnya selesai juga pekerjaan ini. Aku akan mandi dan menunggu orang tuaku datang".
Sean pergi ke kamarnya kemudian mandi dan merapikan diri.
Sesudah mandi, ia membaringkan tubuhnya di sofa ruang keluarga sambil menonton tivi. Sesekali melihat ponselnya jikalau ada pesan dari Evan. Tapi rupanya pesan itu tak kunjung datang. Mungkin karena Evan sedang sibuk. Sean menanggapinya biasa saja, karena memang seperti itulah kebiasaan mereka. Sangat jarang berkomunikasi, tapi tetap menjaga hati.
Waktu menunjukkan pukul 15.00, Igo pulang dan langsung masuk kamar. Rupanya dia sedang kecapekan, biasanya jam segini dia belum pulang.
Ketika waktu menunjukkan pukul 17.00 Orangtua mereka datang bersamaan. Karena jam kerja Pak Rianto sama dengan Bu Mira, maka dari itu mereka selalu berangkat dan pulang bersama-sama.
Sean menatap ayahnya yang terlihat lesu dan tak bersemangat, tidak seperti biasanya. Membuat Sean sedikit menaruh curiga.
Sedang Bu Mira langsung menuju dapur meletakkan makanan siap saji yang akan kami santap untuk makan malam nanti. Batin Sean mengatakan mungkin saja orang tuanya sedang ada masalah.
"Sepertinya ada yang tidak beres deh" . Sean berjalan menuju kamarnya. Ia enggan untuk bertanya saat itu. Karena sepertinya akan kurang tepat jika banyak bicara.
Ketika waktu makan malam tiba, mereka semua berkumpul di ruang makan. Menyantap makanan seperti biasanya.
__ADS_1
Namun ketika selesai makan malam,
"Sean, Igo. Tetaplah duduk, ayah mau bicara" Pak Rianto menahan langkah anak-anaknya.
"Baik Yah, kami mendengarkan" Sean mewakili dirinya dan juga Igo.
Terlihat Bu Mira dengan mata berkaca-kaca menunggu suaminya mengutarakan apa yang terjadi hari ini. Karena sebenarnya Bu Mira sudah mengetahui lebih dulu persoalan yang suaminya hadapi.
"Nak, Ayah sudah berhenti bekerja. Maafkan ayah jika mulai sekarang tidak bisa serta merta memenuhi keinginan kalian. Ayah harap kalian mengerti situasinya" Pak Rianto menjelaskan dengan memijat-mijat kecil sudut dalam matanya.
"Kenapa Yah?" Tanya igo
"Nak, walaupun kita berbuat baik, tidak selalu apa yang kita perbuat akan baik pula hasilnya" Bu Mira menahan tangis
"Apa yang terjadi Yah? tolong jelaskan pada kami" Tanya Sean
"Ayah sudah berbuat semampu ayah, Mengawasi rumah Pak Dian disetiap inchi nya, mengawasi pegawai dengan ketat, CCTV pun 24 jam mengawasi. Tapi Ayah kecolongan ketika mengambil cuti sehari untuk mengambil surat kelulusanmu. Ternyata rekan pengganti Ayah bermain api dengan salah satu pegawai rumah untuk mencuri beberapa uang Pak Dian yang tidak masuk berangkas. Setelah Pak Dian memergoki mereka, Ayah difitnah ikut andil dalam permainan kotor mereka. Beruntungnya, Pak Dian tidak memperkarakan kasus ini pada hukum. Karena rekan ayah bersedia mengembalikan seluruh uang Pak Dian. Ayah sudah berusaha menjelaskan, tapi bawahan selalu kalah dalam berdebat. Akhirnya Ayah dan kedua rekan ayah dipecat" Pak Rianto menjelaskan dengan detil permasalahannya
Brakk!!
"Sst.. Tenanglah nak.. Tenang. Mereka sudah meminta maaf pada Ayah. Situasi mereka terpojokkan waktu itu. Keluarga mereka tidak seberuntung kita. Mereka punya tanggungan yang berat. Ayah tidak bisa cerita disini" Jawab pak Rianto dengan kalem.
"Tapi Yah, cara mereka salah. Mereka mengorbankan pekerjaan orang lain juga. Mereka tidah paham bahwa pekerjaan Ayah sangat berarti untuk kami" Sean menyuarakan isi hatinya.
"Nak, Ayah masih sehat. Ayah masih bisa mencari kerja lain. Selama Pak Dian tidak memperkarakan masalah ini, Ayah masih punya predikat baik dari kepolisian. Ayah masih bisa mencari penghasilan untuk kalian" Pak Rianto menjelaskan dengan penuh kesabaran
"Sudahlah nak, kita terima saja jalan dari Tuhan ini. Memang berat tapi kalau kita tidak bangkit, hidup ini akan semakin terpuruk" Bu Mira mencoba membesarkan hati anggota keluarganya.
"Baiklah jika itu keinginan Ayah dan Ibu. Kami akan bersabar untuk Ayah" jawab Sean
"Tapi kak.." protes Igo.
"Sudahlah Igo, kita tidak bisa berbuat banyak. jika kita salah melangkah, maka kita akan terlihat semakin tidak baik karena fitnah itu" Sean menjelaskan secara gamblang pada Igo.
__ADS_1
Igo pun kembali duduk dan terdiam.
Semua diam seribu bahasa merenungi semua keadaan.
Sean sangat prihatin dengan ayahnya, hatinya menangis melihat ayah dan ibunya bersedih. Namun ia tak bisa berbuat apa-apa.
Kemudian Sean mohon pamit meninggalkan meja makan, dan berjalan menuju kamarnya.
Igo pun sama mulai beranjak dari kursinya.
Didalam kamarnya, Sean menangis sejadi-jadinya. Mengingat persoalan ayahnya yang begitu pelik, mengingat kebutuhan dalam rumah tangga, Biaya sekolah Igo, dan lain sebagainya. Gaji ibunya tidak akan cukup untuk semua itu. Bagaimana bisa seorang anak pertama membiarkan kondisi keluarganya tidak stabil, apalagi jika sampai berlarut-larut.
Ingin rasanya membagi semua isi hati ini pada Evan. Tapi semua belum memungkinkan. Emosinya masih bergejolak, tak tahu bagaimana baiknya.
Ting..
📩 "Sayang, kamu sedang apa?" pesan masuk dari Evan
📨 "nggak ngapa-ngapain sayang. Apa kamu sibuk?" Tanya Sean
📩 "Tidak. Apa kamu ingin aku main kesana?"
📨 "Tidak sayang, jangan sekarang. Hubungi aku jika kamu lagi nggak sibuk ya! Aku ingin menemuimu"
📩 "Apa ada sesuatu? Sepertinya ini tidak biasa. Baiklah, besok aku jemput jam empat sore ya?" Evan mulai penasaran
📨 "Iya sayang. Maaf aku sedang butuh istirahat, aku harus tidur lebih awal. Aku mencintaimu" Sean mengakhiri percakapannya.
📩 "Baiklah, selamat istirahat. Aku juga mencintaimu" Tutup Evan.
Evan semakin penasaran, Membuatnya menerka-nerka dengan apa yang sedang terjadi pada Sean.
Membuat waktu istirahatnya begitu gelisah ingin segera bertemu dengan Sean.
__ADS_1
Tidak biasanya ia meminta Evan untuk bertemu. Apalagi dengan mood yang terasa sedang tidak baik.