
Diparkiran hotel, Evan bertanya pada Sean
"Sayang apa kamu jadi kerumah Regina? Aku akan mengantarmu".
"Eh.. Tidak jadi", Sean menunduk malu. Karena kerumah Regina adalah alasan agar Evan pergi duluan setelah makan malam, agar ia leluasa untuk memberi jaminan atas makanan yang dipesan sebelumnya.
Namun karena Evan yang membayar tagihan makan malam. Kini Sean bebas dari itu semua.
"Baiklah. Kalau gitu kamu ikut aku ya. Sebentar saja" Ajak Evan
"Oke. Tapi jangan ketempat aneh-aneh ya" Sean menaruh curiga
"Iya aku tau. Ayo naik!" Evan menarik tangan Sean agar segera naik motor.
Sepanjang perjalanan Sean memeluk Evan. Ya seperti biasa, Evan selalu memaksanya. Perlahan tapi pasti, Sean sudah mulai merasa nyaman memeluk kekasihnya itu. Merasakan kehangatan dalam pelukan dan tanpa sadar menyandarkan kepalanya di atas bahu Evan.
Tiba-tiba tangan kiri Evan menggenggam tangan Sean yang melingkar di perutnya itu. Genggaman yang lembut dan hangat. Evan tersenyum melihat Sean tanpa penolakan.
"Sudahkah kamu merasa nyaman bersamaku Sean?" Tanya Evan dalam hati.
(Hello... siapa juga yang mau menjawab kalau kamu tanya dalam hati begitu Evan??😅)
Perjalanan semakin berliku-liku dan mulai banyak pepohonan rindang sepanjang jalan. Sean mulai curiga, mau dibawa kemana dirinya malam-malam begini.
"Sayang, kita mau kemana? ini sangat menakutkan, sangat minim pencahayaan disepanjang jalan ini".
"Sebentar lagi sampai. Tenang saja" balas Evan
Tak lama kemudian sampailah mereka di sebuah bukit kecil yang sangat indah, disana mereka bisa melihat cekungnya langit malam dihiasi bintang-bintang bertaburan. Dibawahnya terlihat hamparan lampu kota seperti permadani yang sangat luas. Sungguh romantis suasana seperti itu di malam yang cerah tanpa sedikitpun awan menghalangi bintang-bintang.
Sean sangat terpana dengan pemandangan malam itu. Begitu kagum dengan ciptaan Tuhan yang baru pertama dilihatnya.
Mereka lalu melepaskan helm dan menggantungnya di kemudi kanan dan kiri.
"Apa kita harus duduk dibawah berdua seperti sinetron-sinetron di tivi?" Tanya Sean dengan tertawa
"Tidak Sayang. Tetapah seperti ini, memelukku dari belakang"
"Kenapa?"
"Pelukanmu sangat tenang"
__ADS_1
"Hanya itu?"
"Heem. Oh ya, kamu tadi kenapa sangat takut memasuki hotel bersamaku?" Evan mulai bertanya licik pada Sean.
"Yaa... Karena kamu nggak bilang sih kalau mau makan di restonya hotel itu" jawab Sean kesal
"Emang kalau nggak makan mau ngapain lagi?"
"Eh... yaa... maksudku itu... mmm... Tau ah! Sudah jangan tanya-tanya" Sean tak bisa menjawab pertanyaan Evan. Karena sudah jelas jika datang ke hotel pasti tujuannya adalah menginap. Sean tak ingin Evan menilainya berpikiran kotor dengan menjawab pertanyaan itu secara gamblang.
"Apa kamu takut aku akan melakukan hal itu padamu?" Tanya Evan menyunggingkan bibir
"Hah! Melakukan apa maksudmu? Sudah ah jangan dibahas lagi" Sean mendengus kesal.
"Baiklah. Oh ya, bukankah tempat ini sangat romantis? apa kamu suka?" tanya Evan
"Aku suka sekali. Maukah lain kali kamu mengajak aku kesini lagi?" Jawab Sean antusias
"Tentu sayang"
"Kamu tau darimana tempat ini? Apa kamu sering kesini dengan kekasihmu yang lain?" Selidik Sean
"Tidak. Aku tau dari Gavin. Ini juga pertama kalinya aku kesini. Ternyata benar sangat indah" Ekspresi Evan seperti sangat berterima kasih pada Gavin, sahabatnya itu.
Tangan kiri Evan tiba-tiba merangkul pinggang Sean dan menatapnya dalam-dalam.
Sean tersentak dan salah tingkah. Jantungnya kembali berdegub kencang tak beraturan.
"Apakah kamu mencintaiku?" tanya Evan lirih
"Te..Tentu saja" jawab Sean terbata
Tangan kanan Evan mulai menyentuh dagu Sean, Pelukan Evan mulai mengerat, perlahan mendekati wajah Sean. Hembusan nafas hangat dari Evan tak sadar membuat Sean memejamkan mata. Perlahan bibirnya sudah berjarak 2 sentimeter.
Tapi Tiba-Tiba.....................
Jrenggggggggggg
Sorot cahaya pas mengenai wajah mereka, sangat silau! membuat mereka terperanjat dan cepat-cepat memakai helm lagi.
Cahaya itu semakin mendekat diiringi suara motor bebek yang semakin terdengar jelas.
__ADS_1
Sosok itu semakin terlihat. Ya! seorang lelaki paruh baya berseragam satpam sedang berpatroli. Pak Satpam itu marah-marah dan mengusir mereka berdua.
"Hei! Dasar anak muda jaman sekarang. Pergi dari sini! Ini bukan tempat untuk mesum. Cepat pergi atau kalian akan saya tangkap dan diadili!" Pak satpam itu marah dengan suara yang lantang. Sungguh menakutkan.
Dengan cekatan tanpa sadar Evan mengendarai motornya lurus saja tanpa berbalik arah melalui jalan minim penerangan yang tadi dilalui.
Dan benar saja, tak jauh dibawah bukit adalah kawasan perumahan Elit dengan jalur kendaraan yang sudah tertata rapi, tidak seperti jalanan terjal di belakang bukit tadi.
"SIALAN! Awas kau Gavin! akan ku cekik lehermu!" Evan ikut marah dengan memukul keras kemudinya.
"Hahahaha sudahlah sayang. Itu sangat mencekam tapi penuh kekonyolan, hahaha!" Sean tertawa terbahak-bahak mengingat pak satpam yang marah-marah tadi.
"Apa maksudmu aku tidak boleh marah? Gavin sudah mengerjai kita! kamu tau sendiri kan! Ini adalah kawasan perumahan. Bukan murni bukit yang bisa dinikmati." Emosi Evan masih berkobar-kobar
"Sayang ayolah jangan marah lagi. Aku kan jadi takut" Sean berlagak cemberut.
"Iya.. iya.. aku gak marah lagi" Evan mulai menstabilkan emosinya
"Apa kamu gak ingin ketawa? Jujur aja, aku masih ingin ketawa mengingatnya. Hahaha" sambung Sean
"Awalnya aku sangat marah. Tapi melihatmu tertawa lepas membuatku ingin tertawa juga" Evan mulai mengembangkan senyum tampannya.
Disepanjang jalan menuju rumah Sean, mereka berdua bercanda penuh tawa. Tak ayal jika Sean sering kali mencubit pinggang Evan saking gemasnya.
Ini pertama kalinya mereka bersenda gurau dan begitu terlihat akrab. Mereka menyadari bahwa hubungan ringan seperti ini bisa membuat hati mereka bahagia tanpa syarat.
Tanpa disadari sudah sampai di jalan tempat mereka biasa bertemu dan berpisah. Evan menawarkan Sean untuk mengantarnya sampai depan rumah. Tapi Sean menolak. Jadi Seperti biasanya deh. Si Sean berjalan menuju rumahnya.
"Sampai jumpa sayang" Sean melambaikan tangannya
"Iya sayang" Jawab Evan singkat penuh makna.
Tok..tok..tok..
Sean mengetuk pintu.
Bu Mira membukanya dan memandangi anaknya yang baru pulang.
"Maaf bu, apa ini terlalu malam?" Tanya Sean.
"Iya, sudah lewat 10 menit. Ini sudah jam 21.10 Sean, tak baik anak gadis diluar malam-malam. Jangan diulangi lagi. Ibu tidak suka, ini tidak disiplin. Ayo cepat masuk!" Wajah Bu Mira sangat serius, membuat Sean merasa takut.
__ADS_1
Kemudian Sean bergegas masuk kamar dan mulai membersihkan diri.