Akankah Kembali

Akankah Kembali
Rutinitas Baru


__ADS_3

Waktu terus berlalu, Evan dan Sean membesarkan Renatta dengan penuh kasih sayang dan serba kecukupan. Terlebih lagi kasih sayang yang diberikan oleh para kakek dan neneknya.


Hal yang demikian membuat Renatta tumbuh dan berkembang dengan sangat baik. Ia tumbuh menjadi gadis kecil yang sehat, cerdas dan sangat imut. Keceriaan selalu menghiasi wajah Renatta.


Renatta adalah berkah tersendiri bagi keluarga kecil Sean. Dirasa-rasa, karir Evan semakin melejit setelah kelahiran puteri kecilnya tersebut.


Hingga di usia Renatta yang menginjak usia tiga setengah tahun, Evan telah mampu membeli rumah baru yang tergolong mewah. Rumah dengan empat kamar tidur beserta halaman yang cukup luas. Evan juga sanggup membeli dua buah kendaraan roda empat. Satu buah mobil keluarga, dan satu buah mobil sedan untuk Sean.


Sean sangat bersyukur pada Tuhan atas runtutan rezeki yang mengalir begitu deras. Rasanya hidup sangat sempurna, tidak ada sesuatu yang begitu rumit untuk di hadapi dalam rumahtangganya.


Hingga suatu malam ketika Sean dan Evan berbaring hendak tidur, Evan memeluk Sean dengan penuh kemesraan.Tanpa canggung Evan membuka percakapan, karena kamar Renatta berada tepat di sebelah kamar mereka, dengan sebuah pintu penghubun di antaranya.


"Sayang, sudahkah kamu puas dengan kesungguhanku membahagiakanmu dan malaikat kecil kita?" Ucap Evan sambil memejamkan mata.


"Aku selalu bersyukur dengan segala pencapaianmu, dan aku selalu puas dengan semua itu." Jawab Sean.


"Dulu aku pernah ingin membiayai pendidikanmu yang dulu terbengkalai. Inilah waktunya aku membayar janjiku. Maukah kamu kuliah lagi?" Tanya Evan serius.


"Apa! Kuliah? Usiaku sudah dua puluh empat sayang." Jawab Evan.


"Kamu kan bisa ikut kelas karyawan. Aku sangat menyesal melihatmu patah semangat ketika kamu memutuskan untuk berhenti kuliah. Tolonglah!" Ucap Evan.


Seketika Sean menatap Evan dalam-dalam.


"Sebenarnya aku masih sangat ingin. Tapi Renatta membutuhkan aku. Aku tidak bisa meninggalkannya." Ucap Sean sendu.


"Semua bisa kita atur dengan baik. Kamu kan nggak tiap hari ke kampus. Hanya beberapa jam saja Renatta akan bersama neneknya. Tidak akan ada yang keberatan dengan hal itu." Desak Evan.


"Jangan memaksaku, Sayang!" Ucap Sean.


"Ayolah, Sayang! Semua ini untuk kita bersama. Aku bisa melunasi janjiku, kamu bisa meraih cita-citamu, Renatta akan bangga memiliki ibu yang berpendidikan tinggi. Dan yang paling penting, jika mengingat penyebab kuliahmu gagal, kini Ayahmu akan bernafas lega melihat putrinya bisa melanjutkan pendidikan." Evan menjelaskan panjang lebar.


Sean terdiam dan berpikir keras mengenai hal ini.


Setelah beberapa waktu berlalu, akhirnya Sean menjawab pertanyaan Evan.


"Baiklah, Sayang. Aku mau, dan aku berjanji akan bersungguh-sungguh. Aku tidak akan mengecewakanmu." Ucap Sean sambil memeluk balik suaminya itu.

__ADS_1


Evan tersenyum dan bernafas lega. Akhirnya Sean mau memenuhi tawarannya.


"Semoga kamu bahagia dengan keputusan ini, Sayang. Aku akan berusaha untuk membuat keluarga kita selalu dalam kebahagiaan." Batin Evan.


Merekapun akhirnya tertidur pulas dengan angan-angan yang memenuhi pikiran masing-masing.


****


Keesokan harinya, tepat hari minggu.


Evan dan Sean berkunjung kerumah Pak Rianto mengendarai mobilnya dan kemudian memboyong Pak Rianto beserta Bu Mira ke rumah Pak Barata.


"Yah, kami sedang ingin berbincang serius, bisakah Ayah dan Ibu ikut kami menemui Ayah Barata?" Ucap Evan pada Pak Rianto.


"Wah ada apa ini, Nak? Sepertinya serius sekali?" Tanya Pak Rianto sambil menggendong cucunya yang sangat menggemaskan itu.


"Ada sedikit rencana penting. Saya dan Sean butuh persetujuan para orang tua." Jawab Evan sambil tersenyum.


"Baiklah, tunggu ya! Ayah dan Ibu akan bersiap segera." Kata Pak Rianto.


Evan dan Sean mengangguk setuju.


Sesampainya dirumah Pak Barata, mereka berkumpul duduk melingkar di sofa ruang tamu.


Evan mengutarakan pada keempat orang tua tersebut mengenai keinginannya untuk membiayai Sean melanjutkan kuliah. Tak lupa ia juga mengutarakan bahwa akan menitipkan Renatta beberapa waktu saat Sean ada jam kuliah.


Namun tak disangka. Tanggapan mereka positif sekali.


Mereka mendukung langkah Evan, dan malah berebut ingin menjaga Renatta.


"Titipin ke Ibu aja, Ibu kan nggak ada kegiatan." Ucap Bu Nita.


"Ibu juga bisa kok jagain Renatta. Ibu bisa ambil libur tiap Renatta mau ditinggal kuliah." Sambut Bu Mira.


"Jangan, Bu. Kan Ibu kerja, nanti mengganggu pekerjaan loh." Sanggah Bu Nita pada Bu Mira.


"Ah.. Nggak juga, Bu. Buat cucu apa sih yang enggak!" Sangkal Bu Mira.

__ADS_1


"Sudah! Sudah! Giliran saja biar adil. Bagaimana Pak Rianto?" Ucap Pak Barata memecah perdebatan di antara kedua nenek.


"Iya, lebih baik giliran saja. Hehehe." Jawab Pak Rianto ringan.


"Ya udah deh, nanti bikinkan jadwal ya sesuai jam kuliah kamu. Jangan lupa yang adil." Ucap Bu Nita pada Sean.


"Hehehe iya, Bu. Tenang aja." Jawab Sean ramah.


Setelah semua menyetujui niat Evan dan Sean, mereka kembali cair dengan suasana kekeluargaan. Mereka bersenda gurau penuh dengan keceriaan, kehadiran Renatta membuat keluarga besar ini semakin hangat dan penuh keharmonisan.


****


Kini tiba waktunya Sean mencari Universitas yang ia butuhkan. Yang terpenting adalah jarak yang dekat, sehingga akan memudahkan untuk berkendara dan memangkas waktu di jalan.


Sampai akhirnya Sean memutuskan masuk di salah satu Universitas yang berjarak kurang lebih dua kilometer dari rumah barunya tersebut. Universitas ini terdiri dari dua kampus, salah satu nya adalah kampus 2 pasca sarjana. Dengan gedung terpisah namun masih dalam area yang sama.


Segera ia mendaftar dan melengkapi syarat-syarat administrasi yang dibutuhkan.


Lebih cepat ia masuk, akan semakin baik. Pikir Sean.


Tak butuh waktu berbulan-bulan. Akhirnya Sean resmi menjadi mahasiswi di kampus 1 tersebut, dengan mengikuti kelas karyawan.


Ia hanya masuk kuliah di hari Kamis, Jumat dan Sabtu. Selebihnya ia menghabiskan waktu dirumah sebagai ibu rumah tangga seperti biasanya.


Rutinitas Sean berubah banyak.


Ketika Sean kuliah pagi. Pukul 04.00 ia bangun dan menyiapkan sarapan untuk suami dan anaknya. Sedangkan pukul 07.00 ia harus mengantar Renatta kerumah neneknya. Perkuliahan selesai pada pukul 14.00. Ia akan langsung menjemput Renatta dan membawanya pulang. Dirumah ia akan menyiapkan makan malam dan sesempatnya membersihkan rumah.


Melihat rumah yang berantakan ketika Sean kuliah adalah hal lumrah bagi Evan. Itu adalah resiko yang sudah ia pikirkan sebelumnya. Maka dari itu, Evan sangat tidak keberatan jika ia harus membantu pekerjaan rumah, tentunya ketika dirinya tidak pulang larut malam karena lembur bekerja.


Kini mereka berdua sangat sibuk. Namun tetap masih memprioritaskan keluarga kecilnya, terutama Renatta.


Waktu mereka bersama dua puluh empat jam hanya pada hari minggu saja, ketika mereka semua libur.


Semua menikmati proses ini dengan penuh ketulusan. Berharap masa depam keluarga mereka akan semakin baik untuk kedepannya.


Apakah akan seterusnya tanpa hambatan?

__ADS_1


Yuk simak episode selanjutnya 😊


__ADS_2