
"Sean, ini hari terakhir ibu tinggal bersamamu. Apa kamu benar-benar sudah jauh membaik?" Tanya Bu Mira sambil menidurkan Renatta.
"Iya Bu, Sean sudah siap beraktifitas lagi, meskipun belum seratus persen seperti kesibukan sebelumnya." Jawab Sean.
"Selama ibu tinggal di sini, Evan sering sekali pulang malam. Apa sebelumnya memang begitu?" Bu Mira keheranan karena jam kerja Evan.
"Iya begitu lah, Bu. Tapi kan sekarang ada Bu Ida, jadi semua akan baik-baik saja. Aku hanya akan merawat Renatta dan tetap membutuhkan bantuan ibu jika ada jam kuliah." Ucap Sean.
"Baiklah kalau begitu." Pungkas Bu Mira.
Bu Mira pun ikut terlelap bersama cucunya di ranjang milik Renatta.
Sedangkan Sean berjalan pelan kembali ke kamarnya untuk menunggu kedatangan Suami tercintanya.
****
Hari ini adalah hari pertama Sean masuk kuliah. Karena kaki kiri Sean masih belum cukup kuat untuk menginjak pedal rem, sementara waktu Evan mengantar Renatta dan Sean bergiliran. Untuk waktu pulang, Sean akan memesan taxi online kerumah Nenek yang kebagian menemani Renatta dan menunggu Evan menjemput mereka berdua. Sekalipun itu larut malam.
Ketika mobil Evan sampai di parkiran,
Evan menemani Sean hingga sampai di dalam kelas. Bukan hanya khawatir, tapi Evan membantu Sean membawa buku-bukunya karena Sean masih menggunakan egrang (alat bantu jalan) untuk membantu jalannya.
Evan terlihat sangat perhatian dan penuh kasih sayang pada Sean. Banyak mata terpesona melihat sosok Evan yang tampan sempurna dengan pakaian yang serba rapi.
"Sudah sana! Kamu sengaja tebar pesona ya di sini!" Ucap Sean sebal.
"Kamu masih aja cemburu. Suamimu ini kan memang sangat menawan sejak dulu. Aku bisa apa?" Ucap Evan sambil memainkan alisnya.
"Ihh... Sebel deh!" Sean mulai manyun.
"Hehe iya...iya.. Ya udah, aku berangkat kerja dulu. Aku mencintaimu. Cup!" Evan berpamitan dan mencium kening Sean.
"Hati-hati di jalan. Aku juga mencintaimu." Ucap Sean tersenyum.
Sinta yang melihat adegan tersebut hanya bisa menelan ludah sebab kejombloannya.
"Gilak! Enak banget si Sean. Suami cakep, yang suka nguntit juga gak kalah cakep! Ck.. Ck.. Ck.." Guman Sinta sambil menggeleng-gelengkan kepala.
"Hey! Jangan ngelamun! Makanya cepet cari jodoh." Sean menepuk tangannya di depan wajah Sinta.
"Eh iya iya iya!" Ucap Sinta terkejut.
"Sin, ntar kalau kakiku bener-bener udah sembuh temenin aku nyari Dhareen ya. Mau bilang makasih." Ucap Sean.
"Lah! Emang tadi nggak nongol batang idungnya?" Jawab Sinta.
"Enggak tuh. Apa mungkin dia udah sadar ya, nggak mau nguntit aku lagi?" Sean penasaran.
"Bisa jadi sih. Dia juga nggak pernah keliatan lagi setelah nengokin kamu malem itu." Terang Sinta.
"Oh.. Gitu ya! Tapi kamu mau kan nemenin aku?" Tanya Sean lagi.
"Ya iya lah sist.... Bakal aku temenin sampai si penguntit itu ketemu." Jawab Sinta dengan pede.
"Oke! Terbaik deh!" Ucap Sean sambil mencubit lengan Sinta.
Beberapa menit kemudian Dosen datang dan mereka pun mengikuti mata pelajaran dengan hikmat.
Dan ketika waktu pulang datang, Sinta menemani Sean berjalan menuju halaman depan universitas dengan membawakan buku-buku Sean.
__ADS_1
Setelah menemukan tempat teduh yang pas untuk memesan taxi online, Sean meminta Sinta untuk pulang terlebih dahulu. Sean tak ingin lebih banyak merepotkan Sinta. Dan Sinta mengiyakan perkataan Sean karena tak tahan dengan kecerewetan sahabatnya yang bak ibu-ibu arisan itu.
Tak butuh waktu lama ketika Sinta pergi. Sean membuka aplikasi pemesanan taxi. Namun ia terkejut ketika sebuah mobil Sedan berwarna silver berhenti tepat di depan Sean.
Seorang laki-laki berkacamata gelap turun dari kemudi dan menghampiri Sean yang sedang duduk di bahu jalan.
"Ayo aku antar!"
"Ah, tidak tidak! Tidak usah." Sean menolak lelaki yang ternyata adalah Dhareen.
"Cepat masuk atau perlu aku gendong?" Dhareen menggertak.
"Tidak perlu-tidak perlu. Iya deh aku mau!" Ucap Sean yang langsung berdiri menggunakan egrang nya.
Dhareen kemudian mengambil buku-buku milik Sean dan memasukkannya di bangku belakang.
Ketika pintu masih terbuka, Sean hendak masuk ke bangku belakang juga. Tapi di halau oleh Dhareen.
"Apakah aku sopirmu? Duduklah di depan!" Ucap Dhareen.
"Dasar penguntit yang suka mengatur! Aku kira dia udah hilang..." Batin Sean.
Kemudian Sean berjalan berputar menuju pintu depan di temani Dhareen di sampingnya.
Sean duduk rapi dan Dhareen menaruh egrang milik Sean di bangku belakang. Kemudian Dhareen duduk di kursi kemudi dan mereka pun melaju menuju rumah Bu Nita yang kebagian menemani Renatta.
Dhareen mengemudi pelan-pelan. Dan alunan lirih musik pop menemani perjalanan mereka berdua.
"Bagaimana keadaanmu?" Tiba-tiba Dhareen bertanya.
"Oh.. Sudah hampir sembuh." Jawab Sean yang sangat gugup duduk bersebelahan dengan Dhareen.
"Duh! Gimana mulainya nih? Aku nggak boleh jutek lagi sama dia. Ya Tuhan tolong aku!" Gumam Sean dalam hati.
Sean memutar-putar ponselnya sambil berfikir bagaimana caranya berterima kasih.
Beberapa waktu pun berlalu. Nyali Sean masih ciut.
Namun akhirnya sebelum sampai dirumah Bu Nita, Sean memberanikan diri mengungkapkan niatnya pada Dhareen.
"Emm....." Sean tak berani melanjutkan niatnya.
"Apa?" Sahut Dhareen.
"Emmm... Itu... Aku mau bilang makasih." Ucap Sean menunduk sambil menahan malu.
"Untuk apa?" Tanya Dhareen.
"Bukannya kamu yang nolongin aku di mall?" Tanya Sean.
"Bukan!" Ucap Dhareen singkat.
"Apa!!Tapi Sinta bilang....." Sean sedikit berteriak, namun ia menahan mulutnya untuk cerewet. "Sabar, Sean sabar......." Bathin Sean.
Kemudian keheningan hinggap di antara keduanya.
Rasa kesal memenuhi hati Sean, ia merasa sebal dengan Dhareen yang masih bersikap dingin dan tidak jelas itu.
Ingin rasanya Sean mengeluarkan jurus cerewetnya untuk mengomeli Dhareen. Tapi semua itu ia tahan sampai wajahnya berubah menjadi merah.
__ADS_1
"Wajahmu kenapa?" Tanya Dhareen yang meliriknya dari balik kacamata.
"Nggakpapa!" Sean membuang nafas kasar.
"Kamu jelek kalau lagi marah." Ucap Dhareen datar.
Sean menarik nafas, dan...
"Biarin! Biarin aku jelek, aku cantik, aku gendut, aku kurus. Biarin! Kamu adalah orang paling aneh yang pernah aku temui. Selalu menguntitku, sekarang memaksa aku untuk ikut denganmu. Sinta bilang kamu yang nolongin aku di mall. Tapi kenapa kamu nggak mau jujur. Setidaknya terima lah ucapan terima kasihku. Apa sulitnya sih menerima ucapan terima kasih? huhhh... hah... huhhh.. hah!" Akhirnya Sean tidak bisa menahan emosinya dan terus cerewet mengutarakan isi hatinya sambil bernafas terengah-engah.
Dhareen hanya tersenyum tipis menanggapi omelan Sean barusan.
"Ayo Jawab! Sesusah itu menerima ucapan terimakasih?" Desak Sean.
"Sssstttt!! Telingaku sakit. Aku tidak bisa membayangkan, bagaimana suamimu setiap hari mendengar omelan seperti itu darimu." Dhareen mengejek Sean dengan memijat-pijat telinganya.
"Huh! Kamu sangat menyebalkan." Akhirnya Sean memutuskan untuk diam.
Ketika tiba di sebuah perempatan, Dhareen memacu kendaraannya berjalan lurus.
"Hei! Hei! Rumah mertuaku belok kiri. Kenapa kamu lurus?" Tanya Sean ketus.
"Kamu tidak bilang, mana aku tau!" Ucap Dhareen.
"Ya Tuhaaaan! Aku lupa. Ayo putar balik mobilnya!" Perintah Sean.
Dhareen pun menuruti apa kata Sean sambil mengembangkan sedikit senyumnya.
"Kamu kenapa senyum-senyum? Nggak tau kalau aku lagi emosi?" Tanya Sean.
"Iya aku tau. Dan aku sangat takut." Jawab Dhareen.
"Sudah jangan mengejekku!" Ucap Sean sebal.
"Aku tidak mengejekmu, Sean!" Ucap Dhareen.
"Apaaa? Nggak salah denger nih telingaku? Dia memanggil namaku?" Gumam Sean.
Sejenak Sean terkejut dengan panggilan itu. Dan tiba-tiba emosinya menurun.
"Huh.... Coba jujur! Kamu atau bukan yang telah menolongku?" Sean berbicara dengan santai.
"Iya." Dhareen menjawab singkat.
"Berarti.... Kamu benar-benar menguntit aku?" Tanya Sean penasaran.
"Tidak! Kebetulan aku ada disana." Ucap Dhareen.
"Oke, terima kasih." Ucap Sean lirih.
"Sama-sama. Lain kali hati-hati. lihat dulu sekelilingmu jika ingin berjalan." Ucap Dhareen dengan penuh makna.
"Heem." Ucap Sean yang sedikit nyaman mendengar perkataan Dhareen.
"Baru kali ini dia ngomong jelas. Hihihi." Batin Sean.
Tak lama kemudian Sean menunjuk sebuah rumah dan bergegas turun dari mobil. Ia tidak ingin keluarganya tahu bahwa Dhareen yang telah mengantarnya.
"Terima kasih untuk kedua kalinya. Bye!" Ucap Sean mengakhiri pertemuan mereka.
__ADS_1
Sean pun akhirnya masuk rumah dengan sedikit kesulitan karena egrang dan buku-buku yang ia bawa, sebelum Ibu mertuanya datang menyambut dan membantu Sean.