
Evan tahu Sean sedang merasakan hal yang baru. Ia sempat merasakan detak jantung Sean yang berdetak kencang sebelum akhirnya Sean menarik tangannya dan menjauh dari punggung Evan.
"Menarik sekali". Gumam Evan dalam hati.
"Sudah dekat dengan rumahmu sayang. Apa kamu mau ku antar sampai didepan rumahmu?" Tanya Evan
"Eh, tidak usah. Turunkan saja aku di jalan biasanya" Balas Sean
"Baiklah, sudah sampai. Istirahatlah, dan belajar dengan rajin" Evan memberi semangat dengan mengedipkan sebelah matanya.
"Ihh... apa-apaan dia ini menggodaku seperti itu" Dalam hati Sean.
"Oke, makasih udah mau nganter aku. Hati-hati dijalan" Sean melambaikan tangan dan bergegas meninggalkan Evan.
Dan Evan pun pergi entah kemana. Mungkin saja kembali ke base camp dimana teman-temannya masih asik bermain game online.
****
Sean membuka pintu dan langsung menuju kamar.
Rumahnya setiap hari akan sepi di jam-jam seperti ini. Karena kedua orangtua Sean bekerja mulai jam 08.00 pagi sampai pukul 16.00 sore.
Ayahnya adalah seorang pegawai pengawas di rumah mewah milik seseorang yang punya jabatan tinggi di sebuah perbankan.
Sedangkan ibunya bekerja di sebuah toko baju.
Beliau adalah Pak Rianto dan Ibu Mira. Motto hidup mereka adalah bekerja keras tanpa menyusahkan orang lain.
Benar saja, mereka sudah di didik mandiri dan pekerja keras oleh orang tua mereka dahulu. Dan ajaran itu diturunkan pada Sean. Agar Sean dapat menjadi pribadi yang kuat dan mandiri juga.
Sedangkan Adik Sean adalah Igo. Igo masih duduk dibangku SMP. Anak muda yang sangat suka nongkrong bersama teman-temannya sepulang sekolah.
Ya, mereka hanya dua bersaudara.
Setelah membersihkan diri, Sean merebahkan tubuhnya di kasur sederhana berukuran 160×200cm itu.
Menerawang perasaan aneh yang baru saja ia alami untuk pertama kalinya.
"Ya Tuhan. Ada apa ini? mengapa darah ini rasanya hangat sekali" membatin sambil memejamkan matanya. Mencoba merasakan kembali sensasi itu.
"Aku ingin merasakannya sekali lagi" Sean melanjutkan angan-angannya dengan senyuman kecil dibibirnya.
Namun, ctakkk
__ADS_1
Sekejap Sean membuka mata dan memukul-mukul kepalanya plak..plak..plakk..
"Hei! apa aku sudah gila. Hahahahaha...." Sean terbahak-bahak mengingat perilakunya yang sangat konyol dan menjijikkan itu.
Tapi benar-benar dia tak bisa memalingkan pikirannya dari peristiwa itu. Sungguh sensasi pertama yang luarrr biasaaahh!!!
Sean tak sabar menunggu pesan masuk dari Evan. Entah akan ngobrol apa malam ini dengannya. Karena Sean harus membagi waktunya untuk belajar dan juga istirahat yang cukup.
*Ting..
📩* "Hai, kamu sedang apa?" Sapa Evan dalam pesan pertamanya
📨 " Hai, aku barusan selesai mandi. Dan akan memulai belajar untuk besok". Balas Sean
📩 "Pantas saja. Aromamu bisa sampai rumah ini. Oke, belajarlah dahulu. Aku akan menunggu pesan darimu". Evan mulai menggoda Sean. Pastinya dengan trik andalannya. Pergerakan tenang yang menghanyutkan. Hahaha
📨 "Kamu sudah mulai menjadi raja gombal, menyebalkan. Oke deh aku belajar dulu ya. Bye". Balas Sean mengakhiri obrolan.
Waktu menunjukkan pukul 15.30, Sean pun memulai pelajarannya. Rencananya akan keluar kamar ketika jam makan malam tiba.
Tetap fokus dalam belajar, membuat Sean lupa akan sensasi-sensasi siang tadi.
Sikap profesional seperti ini yang membuat Sean tak terkalahkan di antara murid se-angkatannya. Sean yang cerdas dan pintar mampu menaklukkan semua mata pelajaran yang ia terima. Namun sifatnya sangat baik. Tidak pelit ilmu untuk berbagi dengan teman-temannya.
Sean juga Kreatif, Pemikirannya luas dan sangat aktif. Dia bukan penyanyi, tapi sangat hobi menyanyi. Keluarganya tahu akan hal itu. Tapi rupa-rupanya Sean tidak ingin mengeksplor lebih jauh bakatnya itu.
Waktu makan malam tiba. Sean bergegas menuruni tangga dan ingin segera mengisi perutnya di meja makan.
Disana sudah bersiap Ayah, Ibu dan adiknya.
"Duduklah nak. Ayo kita makan" Ajak bu Mira
Sean menganggukkan kepala. Dan mulai menyantap makan malamnya.
"Sean, bagaimana dengan ujianmu hari ini?" Tanya Pak Rianto
"Lancar Yah. Sean sudah mempersiapkannya jauh-jauh hari" jawab Sean
"Baiklah. Semoga kau selalu sukses nak. Ayo lanjutkan makanmu dan beristirahatlah yang cukup" timpal Ayahnya.
Mereka pun melanjutkan makan malam dengan ketenangan.
****
__ADS_1
Hari demi hari dilalui Sean dengan penuh semangat.
Sampai akhirnya kini Hari Sabtu, dimana hari terakhir ujian kenaikan kelas.
Sean sangat antusias dan bersemangat. Karena ini bukan hanya hari terakhir ujian, tapi juga hari bahagia karena nanti dia akan makan malam dengan pujaan hatinya.
Sepulang sekolah Sean mempersiapkan apapun yang akan dikenakannya nanti malam. Sebab, pukul 18.00 Evan akan menjemputnya di jalan seperti biasa. Bukan karena tak perhatian. Tapi itu permintaan Sean, agar keluarganya tak curiga dengan sosok Evan.
Sean masih sangat tertutup dengan masalah percintaannya. Karena dia tidak siap dengan pertanyaan-pertanyaan yang akan dilontarkan kepadanya.
Waktu menunjukkan pukul 18.00
Sean sudah siap dengan stelan casual ala anak muda. Celana Jeans dan kaos hitam dipadu kemeja terbuka diluarnya. Tak lupa sepatu kets dan tas kecil sederhana melengkapi penampilan malam itu. Rambut lurus yang panjang terurai, menampakkan sisi feminin dalam dirinya.
Ting...
📩 "Sayang, aku menunggumu". Pesan masuk dari Evan
📨 "Oke. OTW". Balas Sean singkat.
Sean menuruni tangga. Igo bertanya dengan heran,
"Kak, mau kemana? Tidak biasa jam segini keluar rumah".
"Mau keluarlah... Cari angin. Mana Ayah dan Ibu?" Jawab Sean
"Ada tuh. Bentar Igo bilangin ke Ayah. Yah, kakak mau keluar tuh. Sama pacarnya kali hihihi" Igo menahan tawanya sambil mengejek
"Eh.. Itu yah. Buka seperti Igo bilang, Sean mau keluar sama teman-teman, ada Regina juga. Kan ujian udah selesai. Jadi mau ngopi-ngopi gitu malam ini. Boleh kan yah?" Sahut Sean
"Iya boleh. Jangan pulang larut malam. Ibumu akan khawatir dan terus mengomeli ayah" Jawab Ayahnya.
"Oke Yah. Makasih yaa..." Sean memeluk ayahnya dan bergegas keluar rumah.
Igo pun terheran-heran dengan tingkah kakaknya.
"Weeeekkkk...." Ejek Sean pada Igo sambil menjulurkan lidahnya. Lalu berlari meninggalkan rumah.
"Dasar kakak gila" dengus Igo kesal.
Sesampainya ditempat janjian, Sean menyapa Evan dengan senyum manisnya.
"Hai, maaf ya agak lama. Aku harus pamitan dulu sama orangtuaku".
__ADS_1
"Iya gapapa kok. Ayo kita berangkat" Ajak Evan.
Sean pun memakai helm dari Evan dan menaiki motor gede itu, sebelum Sean menangkupkan tangan didada nya sendiri seperti biasa, Evan menarik tangan Sean agar melingkar di perutnya.