
Evan pun mengantar Sean menggunakan sebuah mobil sedan milik ayahnya.
Ia menginjak pedal gas sedikit saja. Karena ingin menghabiskan banyak waktu dengan Sean.
"Sayang. Rupanya kamu dan orang tuaku sudah jauh lebih akrab" Evan mengawali obrolan.
"Iya Sayang, aku juga merasa begitu. Aku senang sekali, orang tuamu sangat baik dan ramah padaku" Sean mengingat keramahan calon mertuanya.
"Kalau begitu kita segera nikah deh. Tunggu apa lagi." Ucap Evan sambil terus melihat jalanan.
"Apa? Kenapa harus buru-buru?" Tanya Sean terkejut.
"Kenapa? Kamu keberatan?" Tanya Evan balik.
"Bukan begitu, Sayang. Tapi apa tidak terlalu cepat?" Tanya Sean lagi.
"Tidak. Aku sangat menginginkan pernikahan kita. Aku dan orang tuaku akan segera kerumahmu membicarakan ini" Evan bersikukuh.
Sean pun menurut saja. Karena tidak mau berdebat. Lagipula apalagi yang ditunggunya setelah mendapat lamaran, kalau bukan sebuah pernikahan.
Tiba-tiba Evan menepikan mobil, dan mematikan mesinnya.
Ia meraih tangan Sean,
"Sayang apakah kamu meragukan aku yang belum dapat kerja ini?" Tanya Evan serius.
"Maaf, bukan itu maksudku Sayang. Aku akan selalu bersamamu dan mendukungmu. Aku akan berusaha denganmu mencari pekerjaan yang terbaik" Sean menjawab dengan penuh perasaan.
"Baiklah kalau begitu. Jangan tolak aku" bisik Evan.
Seanpun hanya mengangguk tanda mengerti. Ia tak ingin salah bicara lagi dan akan membuat Evan merasa rendah diri.
Evan mulai mengecup bibir sean.
"Lagi?" Tanya Sean singkat.
"Diamlah, yang tadi belum selesai" Jawab Evan.
Evan pun ******* bibir Sean dengan penuh gairah. Melihat Sean yang menikmati ciuman itu, bertambah pula semangat Evan untuk melanjutkan aksinya.
Tanpa disadari, bibir Evan mulai menelusuri leher Sean. Sentuhan-sentuhan sensual dari bibir Evan membuat Sean menggeliat menikmatinya.
Tak terasa tangan Evan sudah meraba-raba bagian atas Sean dari luar gaun, meremasnya perlahan dan tanpa sadar membuat Sean mendesah kecil.
Drett.. Dret.. Dret...
Tiba-tiba ponsel Sean bergetar berulang-ulang.
Membuat aktifitas mereka berhenti sejenak.
Dilihatnya, ternyata sebuah panggilan dari Igo.
"Halo, Ada apa Igo?" Tanya Sean.
"Oh iya iya. ini sudah deket kok. Oke, Bye"
Tuut.. Sean mematikan panggilan.
"Kenapa?" Tanya Evan.
"Igo telfon katanya Ayah tanya terus kenapa aku belum pulang" jawab Sean.
"Oke, kita pulang sekarang. Atau Igo akan mengganggu kita lagi" Evan menjawab sambil tertawa
__ADS_1
"Hahaha iya juga" Jawab Sean.
Evan pun segera menghidupkan mobil dan bergegas mengantar Sean pulang.
Sepanjang perjalanan, Evan memutar musik melankolis untuk menunjang ketenangan hatinya selama bersama Sean dalam mobil.
Tak Lama kemudian sampailah mereka didepan gerbang rumah Sean. Mereka pun turun dan berjalan menuju pintu rumah.
Sean membuka pintu pelan,
"Sean pulang, Yah, Bu!" Sean memberi salam.
"Ya. Ayo duduk dulu Nak Evan" Ajak Pak Rianto.
"Baik Om. Tapi mohon maaf saya tidak bisa lama-lama, karena sudah larut malam" Jawab Evan
"Hahaha, iya benar juga. Ya sudah, terima kasih sudah mengantar Sean" Ucap Ayah Sean sambil tertawa.
"Saya pamit Om. Selamat istirahat Sean" Evan memberi salam dan kemudian pergi meninggalkan kediaman Pak Rianto.
"Sean istirahatlah. Tadi Ibunya Evan bilang kalau kamu seharian membantunya membuat kue dan mempersiapkan arisan. Pasti kamu sangat lelah" Pak Rianto berbicara dengan santai.
"Baik Yah. Eh, Yah Sean mau ngomong sebentar" kata Sean.
"Iya ada apa Sean?" tanya ayahnya.
"Jadi gini Yah, Evan dan keluarganya mau datang kesini lagi. Entah mau membicarakan apa, hanya saja kalau aku nggak ngomong ke ayah, takutnya mereka datang mendadak seperti waktu itu" Sean berbicara sambil menundukkan kepala.
"Ya, akan ayah persiapkan. Sudah sana istirahat!" Pak Rianto seperti tidak ambil pusing dengan kabar dari Sean barusan.
Sean pun bergegas pergi ke kamar dan mulai istirahat. Karena keesokan harinya, ia akan bekerja seperti biasanya.
****
Selang beberapa hari, ketika keluarga Sean akan makan malam, Evan tiba-tiba datang berkunjung.
Tanpa canggung Evan pun ikut bergabung.
Setelah makan malam usai. Evan memulai pembicaraan dengan keluarga Sean.
"Maaf Om, kedatangan saya kemari ingin menyampaikan undangan dari Ayah saya. Ayah mengundang Om Rianto sekeluarga untuk makan malam di rumah saya, besok malam" Ucap Evan.
"Wah, dalam rangka apa ini Evan?" tanya Pak Rianto.
"Tidak ada acara apa-apa Om. Sekedar ingin mengobrol" jawab evan.
"Ya, baiklah. Besok kami akan datang." Pak Rianto sama sekali tidak menaruh curiga.
Setelah mereka berbincang-bincang. Evan undur diri dari kediaman Pak Rianto. Ia bergegas pulang dan tak sabar dengan rencananya besok malam.
Hari pun berjalan dengan normal.
Namun dalam hati Sean terbesit perasaan aneh, mengingat bahwa Evan akan segera menemui ayahnya untuk membahas pernikahan.
Ia berfikir, jangan -jangan acara makan malam ini akan menjadi ajang keluarga Evan untuk menentukan hari pernikahan.
Dan..
Waktu makan malam pun hampir tiba. Sean dan keluarganya berangkat menuju rumah Evan untuk pertama kalinya.
Sesampainya disana, keluarga Sean di sambut hangat oleh Pak Barata dan Bu Nita.
Mereka mempersilakan masuk dan menuntun Sean sekeluarga menuju Ruang makan.
__ADS_1
Ruang makan yang cukup luas dengan meja panjang dengan kursi berjumlah sepuluh buah berjejer rapi melengkapi pemandangan malam itu. Aneka macam makanan sudah siap tersaji di atas meja.
"Silakan-silakan" Pak Barata mempersilakan duduk.
Mereka pun duduk berjejer saling berhadapan.
"Bagaimana kabar Pak Rianto dan keluarga?" Tanya Pak Barata
"Kami Baik Pak. Bagaimana dengan Anda sekeluarga?" tanya Pak Rianto balik
"Syukurlah. Kami sangat baik hari ini. Karena kedatangan tamu yang spesial seperti Anda" Pak Barata menyanjung keluarga Sean dengan senyum ramah.
"Wah, Bapak bisa saja." Pak Rianto menjawab.
"Ayo silakan Pak, Bu dimakan. Sean, Igo ayo ambil makanan yang kalian suka!" Bu Nita mempersilakan serta membuka beberapa masakan yang masih tertutup.
"Terima kasih Bu Nita" Jawab Bu Mira ramah.
"Makasih Tante" jawab Igo
Mereka pun menyantap makan malam dengan suasana penuh kehangatan.
Evan dan Sean saling melempar pandangan.
Sesekali Evan menggoda Sean dengan kedipan-kedipan kecil sebelah matanya. Senyum Evan pun sangat mengganggu Sean. Membuat Sean merasa geli dan ingin sekali mencubit kekasihnya itu.
Sesekali ia memelototkan matanya pada Evan agar tidak terus-terusan menggodanya.
Sebenarnya semua orang sudah tahu kelakuan Evan itu. Tapi mereka memilih diam dan membatin dalam hati betapa lucunya mereka. Tanpa sadar seisi ruangan tersenyum melihat tingkah laku Evan dan Sean.
Setelah acara makan malam selesai. Pak Barata kembali membuka percakapan.
"Pak, Bagaimana kalau kita segera menikahkan Sean dan Evan?" Tanya Pak Barata.
"Apa harus secepat ini Pak? jawab Ayah Sean.
"Apakah Bapak tidak merasa risih dengan anak muda di sebelah sana itu?" Pak Barata tertawa sambil melirik Evan.
"Hahaha, Bapak ini bisa saja." Pak Rianto menyambut tawa calon besannya itu.
"Lelaki itu membuat ayahnya malu. Bagaimana bisa dia menggoda seorang gadis di depan orang tuanya. Dasar anak muda kurang ajar." Pak Barata masih terkekeh dengan kelakuan anaknya.
Mereka semua serentak tertawa mendengar perkataan Ayah Evan.
Evan sendiri merasa malu, ternyata seisi ruang mengetahui kelakuan konyolnya.
Sedangkan Sean wajahnya memerah, merasa sangat malu dengan kejadian tersebut. Ia memilih untuk menunduk tanpa melihat orang-orang di sekitarnya.
Ketika tawa mereka mereda, Ayah Sean menjawab pertanyaan Pak Barata,
"Mungkin kali ini saya setuju dengan Anda Pak. Saya juga khawatir kalau anak saya akan di goda seperti itu terus menerus" Ucap Pak Rianto menahan tawa.
"Hahaha, benar juga. Baiklah, bagaimana kalau dua bulan lagi kita langsungkan pernikahan beserta resepsinya? Pak Rianto tidak perlu khawatir, semua prosesi akan menjadi tanggung jawab Saya dan Evan" Jelas Pak Barata.
"Bagaimana Sean, kamu setuju?" Tanya ayahnya.
Sean menatap ayahnya kebingungan. Bagaimana bisa memutuskan hari pernikahan semudah itu.
Sean menatap Evan yang sedari tadi tidak memalingkan pandangan dari dirinya. Membuatnya sangat terpojokkan dan tidak dapat memilih apa-apa lagi selain menyetujuinya.
"Baik Ayah, Sean menurut saja bagaimana baiknya." Ucap Sean.
Dengan dasar jawaban dari Sean. Maka kedua keluarga itu memilih-milih tanggal yang cocok untuk melaksanakan pernikahan dan resepsi secara sekaligus.
__ADS_1
Butuh waktu berjam-jam untuk menyusun semuanya.
Sampai akhirnya, dari tanggal, bulan dan acara sudah setengah matang diperbincangan oleh kedua belah pihak. Kemudian mereka memutuskan untuk mengakhiri diskusi, untuk hal lain-lain akan di diskusikan bersama berjalannya waktu.