Akankah Kembali

Akankah Kembali
Karir


__ADS_3

Visual Sean



Dua bulan kemudian. Timbul masalah di perusahaan Evan bekerja, perusahaan ini mengalami kebangkrutan karena salah satu pegawai inti didalamnya yang bermain api dengan manejemen keuangan, dan mengharuskan seluruh karyawan diberhentikan secara terhormat.


Evan pun gelisah tak karuan. Mengingat istrinya yang sedang hamil pasti akan terpukul jika tahu kepala keluarganya berhenti bekerja.


Sesampainya dirumah,


"Sayang, aku pulang." Evan memberi salam seperti biasa.


"Hai, Sayang! Aku merindukanmu...." Sean berlari kecil menghampiri Evan dan memeluknya.


"Hai. Aku juga merindukanmu." Peluk Evan balik dan semakin erat mengingat kejadian di tempat kerjanya.


Sean merasa sedikit aneh namun tetap bergeming, menikmati pelukannya.


Setelah puas berpelukan, mereka berjalan masuk kamar. Evan bergegas membersihkan diri dan Sean menyiapkan pakaian untuk Evan.


Tidak ada yang aneh di antara mereka, semua berjalan seperti biasanya. Sampai pada waktunya mereka berdua duduk di ruang keluarga menonton tivi. Evan mulai menjelaskan permasalahannya di tempat kerja.


"Sayang. Aku mau ngomong nih. Tapi kamu jangan kaget, ya! Dibawa kalem aja." Ucap Evan sambil mengelus perut Sean yang semakin membesar.


"Eh, ada apa Sayang? Tumben serius gini ngomongnya?" Sean bertanya-tanya.


"Pokoknya kamu gak boleh kaget ya! Tenang aja semua ada solusinya." Evan memperjelas perkataannya.


"Iya deh. Kenapa?" Selidik Sean.


"Maaf ya, Sayang. Hari ini aku membawa kabar buruk." Ucap Evan tak bersemangat.


"Loh! Ada apa Sayang? Udah cerita aja. Ntar jadi jerawat loh.. Hehe" Ucap Sean menghibur Evan.


"Perusahaan bangkrut, Sayang. Semua karyawan diberhentikan." Ucap Evan sambil menunduk.


Deg!


Sean tersentak sejenak. Semua emosi berkecamuk dalam hatinya. Mengingat perutnya yang semakin membesar dan kebutuhan yang akan semakin banyak.


"Tapi jangan khawatir. Aku akan segera mencari pekerjaan lain." Lanjut Evan yang sadar jika Sean terkejut.


"Eh... Oh... Begitu ya, Sayang?" Ucap Sean terbata sambil mengelus perutnya.


"Maafkan aku." Evan mengecup kening Sean.

__ADS_1


Sean memejamkan mata sejenak dan menarik nafas dalam, berusaha menstabilkan emosinya.


Setelahnya, Sean membuka mata dan tersenyum menatap Evan.


"Nggak papa kok, Sayang! Aku akan selalu mendukungmu. Lagian uang belanja dari kamu kan beberapa selalu aku sisihkan. Masih cukup kok buat sehari-hari, sambil nunggu kamu dapet kerja lagi!" Ucap Sean bersemangat memberi energi positif pada suaminya.


"Syukurlah. Terima kasih, Sayang. Besok aku akan mulai mencari pekerjaan baru." Evan mulai mengembangkan senyumnya.


Mereka pun larut dalam suasana. Sentuhan-sentuhan lembut di perut Sean tak luput dari keharmonisan malam itu.


Yang terpenting saat ini adalah kondisi calon bayi mereka. Evan bersedia bekerja lebih keras apapun rintangannya. Ia percaya bahwa suatu saat ia akan menemukan pekerjaan yang lebih baik dari sebelumnya.


Tidak ada kecanggungan di antara mereka. Semua berjalan seperti biasa. Karena mereka sudah mengikhlaskan apa yang bukan menjadi rezeki mereka lagi. Berusaha dengan giat adalah jalan satu-satunya untuk bisa keluar dari keterpurukan.


****


Keesokan hari nya, Evan menyiapkan berkas lamaran pekerjaan. Ia tidak kerepotan karena sudah punya pengalaman mengenai hal ini.


Menyebarkan lamaran pekerjaan tersebut diberbagai macam perusahaan, membuat Evan merasa mengulang pengalaman yang sama seperti sebelumnya.


Satu minggu berlalu, tidak ada panggilan kerja.


Satu bulan berlalu, tidak kunjung mendapat panggilan juga.


Evan semakin gelisah.


Plak!


"Hei Bro! Ngapain berdiri lama disini?" Tanya seorang sekuriti.


"Heh!"Evan terkejut dan langsung menoleh sekuriti tersebut.


"Wuissshhh... Jangan kaget gitu! masa lupa sama gue?" Si sekuriti taknkalah kaget.


"Eh... Jony bukan sih?" Evan menunjuk wajah sekuriti itu dengan penuh tanda tanya.


"Iya lah.... Jony, teman lo waktu SMP. Gimana kabar lo?" Tanya Jony si sekuriti.


"Oh iya! Kirain siapa tadi, hehe. Lagi kurang baik nih Jon." Evan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Kenapa? Cerita aja jangan sungkan. Kerjaan gue santai kok." Ucap Jony.


"Gue abis kena PHK nih, satu kantor. Sekarang lagi cari kerjaan, belum dapet-dapet." Ucap Evan tanpa basa basi.


"Widih.... Jangan galau gitu dong! Masih muda juga, nikmatin aja idup lo, mumpung belom dapet kerja. Bisa santai-santai gitu." Kata Jony

__ADS_1


"Eits! Gak bisa gitu Bro. Istri gue lagi hamil. Gue wajib cari kerjaan secepatnya." Terang Evan.


"Wah! Seriusan lo, Van? Udah nikah? Istri lagi hamil? Kita kan masih muda banget!" Tanya Jony bak kereta api.


"Iya, Jon! Ngapain gue boong. Udah satu bulan nih gue nganggur." Evan sedikit menekuk wajah tampannya.


"Udah, Bro. Jangan Sedih. Denger-denger di perusahaan H lagi buka lowongan kerja, sebenernya sesuai sama pengalaman gue di pemasaran. Gajinya lumayan gede, tapi sayang gue keiket kontrak di Bank ini. Jadi, lo aja yang masuk deh. Siapa tau rejeki anak lo kan. Ntar gue calling deh temen gue yang ada di sana." Jony memberi informasi dan menepuk-tepuk bahu Evan memberi semangat.


Evan sangat antusias. Ia sangat berterima kasih pada teman lamanya tersebut. Evan merasa dewi fortuna ada di pihaknya kali ini. Sebab Evan punya banyak pengalaman dibidang pemasaran.


Kemudian ia mencari informasi secara lengkap, berkomunikasi langsung dengan teman Jony yang bekerja di perusahaan H tersebut.


Ia sengaja tak menceritakan pada Sean karena ia takut jika Sean akan berharap lebih dengan kesempatan ini.


Evan berniat menceritakannya jika ia nanti sudah positif diterima dan bekerja di perusahaan H.


****


Tiba waktunya Evan melaksanakan interview. Ia di temani oleh gadis cantik tinggi semampai bernama Vega untuk menghadap personalia. Vega adalah teman Jony yang memberi tahukan informasi pekerjaan kepadanya.


Pandangan Vega tak lepas dari ketampanan Evan. Bahkan Vega berani mencari perhatian di awal pertemuan mereka.


"Gila bener! Cowok tampan kayak dia nggak boleh di sia-siain nih!" Batin Vega


Mereka berjalan menuju ruang personalia.


"Evan, kamu tunggu disini sebentar, ya! Biar aku kasih tau personalianya kalau kamu udah dateng." Vega mengembangkan senyum menggoda pada Evan.


Karena Evan tipe orang cuek, jadi Vega sama sekali tidak begitu diperhatikannya. Dalam hati Evan hanya dipenuhi oleh cinta Sean dan calon bayi kecilnya.


Beberapa menit kemudian Evan menghadap personalia ditemani Vega. Vega tak henti mencuri pandang pada paras tampan Evan yang sangat menggoda.


Sedangkan Evan tetap fokus dengan alur pembicaraannya dengan personalia.


Hingga akhirnya mereka mencapai sebuah kesepakatan. Dan Evan diterima bekerja sebagai staff marketing di perusahaan tersebut.


Evan sangat bersyukur, Jony memberinya informasi yang sangat bermanfaat.


Jantung Evan berdegub kencang. Saking semangatnya, ia tersenyum lebar di sepanjang jalan keluar meninggalkan perusahaan.


Vega yang melihat tingkah Evan tak mau membuang kesempatan.


"Selamat ya, Evan. Selamat bergabung dengan kami di sini!" Ucap Vega sembari memeluk Evan tanpa tahu malu.


"Eh, iya! Tak perlu seperti ini. Terima kasih, Vega!" Evan melepas pelukan Vega dan berjalan meninggalkan gadis genit itu.

__ADS_1


Sedangkan Vega merasa di acuhkan oleh Evan. Ia membuang nafas kasar karena sebal, dan berbalik arah meninggalkan Evan.


Ia memasuki ruangannya dengan hati campur aduk antara jatuh cinta dan kesal pada Evan.


__ADS_2