Akankah Kembali

Akankah Kembali
Bersama Papa


__ADS_3

Keesokan harinya adalah hari minggu.


Setiap hari minggu adalah hari spesial, dimana keluarga kecil mereka akan bersama-sama selama dua puluh empat jam. Menghabiskan hari dengan penuh canda tawa dan berbagi kasih sayang secara penuh.


Pagi-pagi Sean sudah siap dengan sarapan seperti hari biasnya.


Ketika waktu menunjukkan pukul 07.00 Sean membangunkan suami dan juga buah hatinya.


Hari ini Sean punya agenda untuk berkebun dan berpiknik kecil di halaman rumahnya.


Setelah semua sarapan, Evan mulai menggelar tikar dan memasang payung besar di tengah halaman. Sedangkan Sean sibuk menata makanan dan minuman di atas tikar tersebut.


Mereka bertiga berkumpul di sana diiringi lantunan musik anak-anak yang sangat ceria.


Renatta terlihat sangat bahagia dan menikmati kebersamaan bersama Mama dan Papanya.


Mereka bersenda gurau di bawah payung besar berwarna warni itu.


Sebelum akhirnya Sean mulai menggeluti tanaman dan bunga-bunga yang jarang ia rapikan.


Sean sengaja meninggalkan Renatta dan papa nya, sebab ia ingin hubungan keduanya menjadi lebih akrab karena Evan hampir tidak pernah meluangkan waktu bersama putrinya.


Hanya sesekali Sean menghampiri mereka, sekedar untuk minum dan bercanda di sela-sela keheningan mereka berdua.


Suasana sangat berbeda dari biasanya. Kehangatan keluarga kecil ini begitu terasa. Tak ingin rasanya mereka berhenti dari kebersamaan kali ini.


Tak terasa waktu pun berlalu sangat cepat. Makanan dan minuman hampir habis mereka lahap dengan perlahan.


Terlihat Renatta tertidur pulas memeluk boneka kesayangannya, sedangkan Evan tertidur dengan tangan menangkup di dada.


"Pemandangan yang sangat indah." Ucap Sean tersenyum melihat kedua belahan hatinya.


Ia pun berhenti dari aktifitasnya merapikan tanaman. Ia mencuci tangan dan duduk menjaga Suami serta anaknya yang tertidur pulas sampai mereka terbangun.


"Hoaaam.... Sayang! Aku tidak sadar kalau ketiduran." Ucap Evan sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

__ADS_1


"Nggakpapa, Sayang." Sean masih tersenyum


"Ayo kita masuk aja. Disini lama-lama panas. Kasihan Natta." Ajak Evan.


"Iya, Ayo." Ucap Sean.


Evan pun bergegas menggendong Renatta menuju kamarnya sedangkan Sean merapikan tikar dan sebagainya yang berserakan.


Kebersamaan mereka berlanjut sampai petang tiba.


Keluarga kecil yang sangat merindukan kebersamaan, sebab kurangnya waktu bersama di hari-hari biasa.


Malam itu mereka makan malam di sebuah hotel.


"Ingat nggak awal kita makan di sini?" Evan menggoda Sean dengan senyuman geli.


"Hahaha.. Kamu gitu deh. Malu tauuu!" Sean tersipu malu.


"Lah kenapa malu? Karena pikiranmu kotor ya waktu itu?" Evan semakin menjadi-jadi menggoda istrinya.


"Ihhh! Apaan sih! Siapa juga yang punya pikiran kotor." Sean mendengus kesal.


"Ihh... Sudah aku bilang nggak ada pikiran kotor dalam otakku! Kita kan mau makan, bukan mau bertengkar." Sean merasa terpojok.


"Hahaha.. Iya.. Iya.. Jangan manyun gitu, atau kamu mau menginap disini sekalian?" Evan memainkan alisnya menggoda Sean yang merajuk.


"Hiiiih! Apaan sih! Lihat tuh Natta sudah lapar." Sean mencubit kecil pinggang Evan.


"Aduh!!!! Iya deh iya ampun!" Evan mengaduh kesakitan.


Senyum kemenangan merekah di bibir Sean.


Sean merasa sangat puas sudah memberi hukuman pada Evan yang terus saja menggodanya tanpa henti.


Dan mereka pun akhirnya menyantap hidangan malam dengan penuh keharmonisan.

__ADS_1


Setelah acara makan malam, mereka beranjak dari tempat dan berangkat menuju rumah untuk menghabiskan sisa malam.


Sesampainya dirumah, mereka mengganti pakaian dan membersihkan diri. Kemudian tidur bertiga di ranjang king size milik Sean dan Evan.


Mereka bersenda gurau dan bercerita tentang berbagai macam judul cerita anak-anak.


Evan berperan dan bersuara bak monyet, Sean yang bersuara bak kelinci membuat Renatta sangat tertarik dengan semua cerita.


Renatta yang sangat antusias tak henti-hentinya melayangkan pertanyaan di setiap bagian cerita.


Lambat laun, suara mulai lirih karena Renatta sudah mulai mengantuk. Sean dan Evan kemudian menghentikan cerita, dan Sean mulai memeluk buah hatinya agar mudah tertidur.


Dalam diam, Evan memandang wajah anak dan istrinya yang memejamkan mata dengan sedikit senyuman tergores di wajah mereka. Tebesit perasaan bersalah di hati Evan karena telah salah membagi waktu antara pekerjaan dan waktu keluarga.


Hatinya sedih melihat betapa berartinya satu hari dalam seminggu dalam kehidupan keluarga kecilnya. Ia menyadari bahwa tidak seminggu penuh bisa berbagi tawa dengan istri dan anaknya.


"Maafkan Papa, Sayang. Papa bekerja keras untuk kalian berdua. Untuk kebahagian dan masa depan kalian berdua. Semua untuk kalian berdua." Batin Evan.


Ia mengelus kepala Sean dan Renatta secara bergantian.


Dan ia pun akhirnya ikut terlelap memeluk kedua kesayangan dalam hatinya.


"Terima kasih untuk hari yang begitu indah, Sayang." Bathin Sean yang ternyata belum sepenuhnya terlelap.


Senyum pun mengembang di bibir keduanya.


****


Keesokan harinya,


Sean berperan sebagai ibu rumah tangga full time selama tiga hari kedepan.


Ia bersyukur masih punya waktu mengurus rumahtangga dan mengurus rumah seharian. Menurut Sean hal ini adalah kunci terpenting dalam rumahtangga.


Ia tak ingin mensia-siakan kesempatan dari Tuhan. Semua yang terbaik ia lakukan untuk Evan dan Renatta.

__ADS_1


Keseharian Sean ialah mengurus Renatta, menemani ia belajar dan bermain. Membersihkan dan merapikan rumah, memasak dan tentunya tetap menjaga penampilan agar suaminya senang berada di rumah.


Rasanya tidak sabar untuk menyambut Evan pulang dari kantor.


__ADS_2