
Suatu hari ketika jam kuliah Sean telah berakhir.
Sean berniat pergi ke sebuah mall di seberang universitas yang berjarak kurang lebih lima ratus meter dari halaman kampus.
Ia berniat untuk membeli sepatu baru untuknya sendiri dan untuk Evan.
Ia memacu mobilnya memasuki basement mall dan memarkir mobilnya berjajar rapi dengan kendaraan lain.
Setelah ia keluar dari mobil dan menutup pintunya. Sean berbalik arah ingin menyeberang ke pintu masuk. Namun,
Bruakkk!!!!!
"Aaaaaaaaaaaa!!!!!!!!!!" Sean berteriak.
Sebuah motor terpeleset ketika berbelok dan jatuh terseret hingga roda belakang menghantam kaki Sean.
Seketika Sean terkejut dan terjatuh lemas di lantai basement bersama dengan dua orang wanita yang mengendarai motor tersebut.
Orang-orang dan petugas keamanan yang berada di sana segera berkerumun dan menolong masing-masing dari mereka.
Sean setengah sadar ketika seorang penolong memberinya minum dan mengangkatnya masuk ke sebuah mobil yang entah itu mobil siapa.
Sean di baringkan di jok belakang dan mobil mulai bergerak keluar basement.
Ia sudah tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Ia lebih nyaman terpejam karena benar-benar mengalami syok atas kejadian barusan.
Tak lama kemudian, terasa mobil berhenti dan dirinya berpindah tempat seperti di dorong menuju sebuah ruangan.
Terdengar samar-samar percakapan beberapa orang lelaki dan seorang wanita, yang entah sedang membicarakan apa.
Selang beberapa jam, Sean membuka mata dan melihat Sinta berada di sebuah sofa.
"Sinta..." Ucap Sean lirih.
"Hah! Sean, kamu udah bangun." Sinta beranjak menghampiri Sean.
"Aku dimana?" Tanya Sean.
"Di Rumah Sakit P. Kamu tadi tertabrak motor, tulang kakimu mengalami sedikit retakan. Untung saja tidak parah." Ucap Sinta yang terlihat sedih.
"Bisa kah kamu ambilkan ponselku? Aku merindukan putriku, seharusnya aku menjemputnya sekarang." Ucap Sean.
"Baiklah. Aku ingin menghubungi suamimu, tapi ponselmu terkunci dengan pola." Sinta menyodorkan ponsel Sean.
Namun niat Sean terhenti mengingat orang tuanya akan sangat khawatir jika mengetahui kondisinya sekarang.
Mau tidak mau, ia harus menghubungi Evan. Meskipun itu akan membuat Evan panik.
📲 "Apa! Kamu tenang saja. Aku akan ijin untuk menemuimu secepatnya, Sayang!" Terdengar Evan sangat panik.
Dan,
Tuuuut...
__ADS_1
Evan menutup telfonnya.
Beberapa waktu Sean dan Sinta berada dalam keheningan.
"Sin, makasih ya udah nolongin aku. Aku nggak tau gimana nasibku tadi kalau kamu nggak membawaku kesini." Ucap Sean
"Em.... Sebenarnya.." Sinta terbata.
"Sebenarnya apa, Sin?" Tanya Sean.
"Minum dulu gih! Nanti aku jelasin." Sinta menyodorkan minuman ke mulut Sean yang masih berbaring dengan sebuah sedotan.
Sean pun meminumnya perlahan dan menantikan penjelasan dari Sinta.
"Sin... Kenapa?" Desak Sean.
"Bukan aku yang nolongin kamu. Aku disini cuma menggantikan dia." Sinta ragu untuk menjelaskan.
Jeglek!
Tiba-tiba pintu kamar terbuka.
"Sayang! Ya Tuhan. Aku menyesal tidak bisa menjagamu." Wajah tampan Evan seketika memerah karena penyesalan dalam hatinya.
Evan datang dan memeluk istrinya yang sedang terbaring.
"Sayang! Sayang tenang! Aku nggakpapa. Ini Sinta teman kuliahku. Dia yang menolongku." Sean mencoba menenangkan Evan.
"Terima kasih Sinta. Aku akan membalas kebaikanmu." Ucap Evan.
"Kamu benar-benar baik, Sinta." Ucap Evan.
"Wiihhhh... Ganteng banget suami Sean!" Sinta mulai melamun memandang ketampanan Evan.
"Sin... Sinta!" Sean membuyarkan lamunan Sinta.
"Eh, iya.. Iya. Oke, aku pamit dulu ya. Permisi." Sinta gugup dan langsung berpamitan meninggalkan ruang perawatan Sean.
Kini tinggal Sean dan Evan yang berada di dalam ruangan.
Sean menceritakan awal mula kejadian dan Evan sangat menyesal atas kejadian tersebut.
Mendengar semua itu, Evan semakin erat memeluk Sean dan menenggelamkan wajahnya di leher istrinya.
"Sayang maafkan aku!" Ucap Evan.
"Udah jangan gitu, ah! Aku kan udah lebih baik. Nih lihat wajahku, masa aku boong sih!" Ucap Sean menenangkan.
"Gimana kalau aku telfon Ibu Mira saja. Nanti kalau beliau udah kesini, aku bisa jemput Renatta dan Ibuku kemari." Ucap Evan.
"Terserah kamu saja, Sayang. Aku kangen banget sama Natta." Sean mengembangkan senyumnya.
Evan pun mulai sibuk dengan rencananya menghubungi sana-sini, dan menjemput Renatta beserta ibunya.
__ADS_1
Para orang tua sangat syok, namun sedikit lega ketika tahu Sean telah mendapat perawatan dan baik-baik saja.
Evan tak henti-hentinya memeluk dan mencium Sean.
Perhatiannya seratus kali lipat dari biasanya, membuat Sean merasa sangat spesial waktu itu.
Setelah Bu Mira datang, Evan berinisiatif untuk membersihkan Sean dengan sebuah lap dan air hangat. Serta mengganti pakaian Sean dengan pakaian lama yang masih tersimpan di rumah Bu Mira.
Setelah semua bersih. Pak Barata, Bu Nita dan Renatta datang tanpa dijemput.
Renatta sangat merindukan ibunya dan mereka berpelukan di atas kasur medis dengan hangat.
Evan sengaja mengambil cuti untuk menemani Sean. Sedangkan Renatta di ajak pulang oleh para neneknya.
****
Pukul 10.00
Keesokan harinya,
Terdengar suara pintu diketuk, Evan yang sedang asik menemani Sean kemudian beranjak membuka pintu.
"Selamat pagi." Ucap gadis yang ternyata adalah Sinta.
"Pagi. Ayo masuk!" Ucap Evan.
"Terima kasih." Sinta melangkah masuk.
"Hai, Bro! Silakan masuk!" Ucap Evan pada seorang lelaki yang masih tak terlihat sosoknya.
Kemudian Evan kembali duduk disamping Sean di atas kasur.
Begitu lelaki itu masuk, Sean terkejut bahwa ia adalah Dhareen.
"Kenapa bisa Dhareen bersama Sinta?" Gumam Sean.
"Hai, Apa kabar Sean?" Tanya Sinta.
"Aku jauh lebih baik, Sin." Jawab Sean.
Dhareen yang berdiri di sebelah Sinta hanya diam melihat kondisi kaki Sean dengan balutan perban. Terlihat wajahnya sangat sayu, entah mengapa.
"Oh ya, apa kalian berpacaran?" Celetuk Evan.
"Eh, tidak..tidak. Kami hanya berteman." Ucap Sinta gugup.
"Haha maafkan aku. Kalian terlihat sangat serasi." Evan berusaha mencairkan suasana.
"Aku belum tertarik untuk menjalin hubungan." Ujar Dhareen.
"Oh begitukah? Lanjutkan tujuanmu, Bro!" Ucap Evan.
"Terima kasih." Ucap Dhareen singkat.
__ADS_1
Tak lama kemudian Dhareen dan Sinta memutuskan untuk meninggalkan ruangan, karena ia berharap banyak waktu istirahat akan membuat Sean segera pulih.
Sean dan Evan pun berterima kasih atas kunjungan Dhareen dan Sinta. Evan sangat senang melihat Sean memiliki teman yang peduli baik susah maupun senang.