Akankah Kembali

Akankah Kembali
Pernikahan


__ADS_3

Semua anggota keluarga dari kedua belah pihak sudah bersiap dengan pakaian masing-masing.


Evan dan Sean masih berada di sebuah ruangan yang terhubung dengan ruang pernikahan tersebut.


Sedangkan para tamu sudah berdatangan memenuhi tempat pernikahan di salah satu hotel yang telah dipesan itu.


Masing-masing keluarga menyambut tamunya dengan baik dan ramah.


Tak berapa lama kemudian Sean datang bersama Evan dengan bergandengan tangan. Aura mereka sangat bercahaya, membuat tamu undangan terpana dengan keserasian mereka berdua.


Kemudian Orang tua kedua belah pihak menghampiri mereka, dan mereka pun segera memulai prosesi pernikahan.


Suasana haru biru menyelimuti posesi pernikahan tersebut, setiap langkahnya dilalui dengan sangat hikmat.


Evan mengucapkan janji suci nya di hadapan oara tamu undangan, kedua orangtua dan dihadapan Tuhan.


Kedua orang tua mereka pun saling merestui dan turut berbahagia dengan pernikahan mereka.


Dan pada akhirnya, waktu yang ditunggu-tunggu datang juga, Sean dan Evan telah resmi menjadi suami dan istri yang sah menurut agama dan negara.


Namun mereka sadar bahwa ini bukanlah cerita akhir, ini adalah awal cerita mereka yang akan sangat berwarna dan penuh emosi. Bumbu-bumbu cinta dalam rumah tangga akan sangat banyak menyita perasaan dan pikiran.


Mereka harus siap dan terus bergandengan tangan untuk melalui semua suka dan duka bersama-sama.


Kemudian setelah acara pernikahan usai. Acara resepsi digelar dengan penuh suka cita. Berbagai hidangan dan hiburan bebas dinikmati oleh para tamu undangan.


Sedangkan Sean dan Evan beserta orang tua duduk rapi berjejer di atas pelaminan.


Dekorasi bernuansa biru itu dihiasi berbagai macam bunga dan ornamen-ornamen yang menyegarkan mata. Sehingga menambah kesan elegan pada tampilan yang fresh khas anak muda tersebut.


Para tamu bersalaman silih berganti, membuat Sean rasanya ingin sekali duduk dan beristirahat sebentar.


Dalam posisi masih berdiri menyalami tamu, Sean berbisik pada Evan,


"Aku capek sayang. Apa boleh kita duduk sejenak?" tanya Sean

__ADS_1


"Baiklah sebentar lagi sayang. Apa kamu mau menyudahi resepsi ini dan bergegas menuju kamar kita di hotel ini?" Bisik Evan kegenitan.


"Aih... Apaan sih." Jawab sean sambil menyikut pinggang Evan.


Evan pun tersenyum lebar mendengar reaksi istri yang baru dinikahinya itu, sambil melanjutkan aktifitas bersalamannya.


Ketika tamu sudah mulai sedikit yang naik ke pelaminan, mereka semua memutuskan untuk duduk. Namun tidak dengan Evan dan Sean yang sibuk berlenggak-lenggok bak model profesional, berpose ini itu menuruti kata Sang Fotografer. Hal ini membuat Sean merasa lelah, karena gaun yang dipakainya saja sudah sangat berat, ditambah lagi tidak ada kesempatan untuk duduk sejenak beristirahat.


Waktu pun berlalu, sedikit demi sedikit tamu undangan mulai meninggalkan tempat. Sudah waktunya Sean duduk manis sambil mengamati para tamu undangan yang masih berlalu lalang dalam ruangan itu. Tentunya sambil menunggu mereka pulang. Sean sangat terbayang nikmatnya membaringkan tubuh dengan rileks setelah acara tersebut.


Dan tak berapa lama, semua tamu undangan pun sudah beranjak dari ruang acara. Kini di dalam ruangan hanya ada keluarga mereka dan beberapa pekerja yang sedang membersihkan area tersebut.


Mereka juga meninggalkan ruang acara dan pergi ke kamar masing-masing yang telah di pesan sebelumnya.


Kamar mereka semua tidaklah berjejer. Kamar Evan dan Sean lebih dekat dengan tempat pernikahan, yang terletak di lantai tiga hotel tersebut. Sedangkan kamar orang tua Evan dan mertuanya berada di lantai bawah.


Melihat Sean yang berjalan tak bertenaga, Evan tiba-tiba mengangkat dan menggendong istrinya dengan sekuat tenaga menuju kamar mereka. Kali ini Evan mengacuhkan jika ayahnya benar-benar akan membully nya habis-habisan. Semua sudah sah, ia bebas melakukan apapun terhadap istrinya sekarang. Kurang lebih begitu pikir Evan.


"Apa kamu tidak sabaran hingga menggendong istrimu dihadapan banyak orang? Kamarmu lebih dekat daripada kamar Ayah dan mertuamu" Celetuk Pak Barata menggoda Evan.


"Hahaha, biarlah Pak. Evan akan malu menjawab anda." Sambut Pak Rianto.


Semua terkekeh mendengar jawaban Evan yang sangat pede itu.


"Kamu ini sangat tidak sopan Evan!" Bu Nita menimpali sambil memukul pelan di punggung anaknya tersebut.


"Biarkan saja, Bu. Namanya juga pengantin baru" Bu Mira ikut meledek.


Sean pun sangat malu dengan kelakuan suaminya. Wajahnya memerah karena semua orang berlomba-lomba menggodanya. Namun apa daya dirinya memanglah lelah.


Sampailah Evan di depan kamarnya.


Sedangkan kedua orang tua dan mertuanya akan segera menuruni lift. Ayah Evan menepuk punggungnya tanda perpisahan, dan semuanya berlalu melewati kamar Evan.


Pintu kamarpun di buka. Sean buru-buru membaringkan tubuhnya di atas kasur empuk berhiaskan dua buah selimut putih berbentuk angsa yang saling berhadapan. Ia sudah tak menghiraukan kelopak-kelopak bunga yang bertebaran di atas sana.

__ADS_1


Matanya terpejam menikmati nyamannya tempat pembaringan itu. Hidungnya menikmati aroma-aroma lembut dari kelopak bunga di sekitarnya. Membuatnya merasa sangat nyaman.


Deg..


Tiba-tiba suara lelaki berbisik di telinganya.


"Sayang.."


"Hah! Iya kenapa?" Sean terbelalak dan langsung beranjak dari tidurnya.


"Hahaha. Kenapa kamu terkejut begitu?" Tanya Evan bergantian membaringkan tubuhnya sambil terpejam.


"Nggakpapa kok. aku cuma kaget aja tiba-tiba kamu bicara di telingaku" Sean mencoba menjelaskan.


"Masih ingatkah kamu saat kita pergi ke hotel untuk makan malam? Bukankah seperti ini yang kamu inginkan?" Ledek Evan.


"Apa? Yang mana? Aku udah lupa!" jawab Sean gugup mengingat pikiran kotor yang tak sengaja hinggap waktu itu.


"Jangan begitu. Ayo Aku bantu melepas gaunmu." Ucap Evan sembari bangkit dari kasur.


Sean pun merasa sangat gugup dengan situasi seperti itu. Ia sadar bahwa tidak mudah melepas gaun sendirian. Lagi pula Sean memakai celana panjang didalamnya, jadi dia pikir akan aman ketika melepas pakaiannya dihadapan Evan.


Perlahan Evan membuka pengait di punggung Sean satu persatu. Sedangkan Sean memejamkan mata menahan malu.


Setelah semua pengait terbuka, ada rasa sejuk di punggungnya.


*Deg...


"Ya Tuhan, aku nggak pakai kaos dalam*" Batin Sean tersentak.


"Stop Evan! Berhenti disitu. Aku bisa sendiri setelah ini" Ucap Sean tegas


Evan tak bergeming. Ia asik menikmati pemandangan di hadapannya. Sebuah punggung berkulit mulus dengan bulu-bulu tipis melekat disana. Evan menelan saliva, berniat menyentuh punggung itu. Namun sayang sekali Sean melangkah meninggalkan Evan menuju kamar mandi. Membuat Evan tersentak dari fantasinya.


Evan pun memilih diam agar tidak bertingkah konyol yang akan membuatnya malu. Ia melepas pakaian dan mengganti pakaiannya dengan kaos oblong di padu dengan celana boxer yang menurutnya sangat nyaman.

__ADS_1


Tanpa menunggu lama. Evan kembali berbaring dan mamainkan ponselnya.


Sedangkan Sean masih asik melepas gaun, pernak-pernik yang ia kenakan, dan juga menghapus riasannya.


__ADS_2