Akankah Kembali

Akankah Kembali
Menikmati Libur Panjang


__ADS_3

Tiba waktunya Sean kembali pulang ke kediamannya.


Ini hari terakhir Evan mengambil cuti, setelah tiga hari.


Evan menyiapkan segala kebutuhan Sean di dalam kamar. Agar Sean tak perlu susah payah jika membutuhkan sesuatu tanpa dirinya.


Sementara, Bu Mira akan tinggal di rumah Sean untuk menjaga Renatta dalam beberapa waktu mendatang sampai Sean benar-benar pulih.


Evan juga berniat mempekerjakan seorang asisten rumah tangga untuk menangani pekerjaan rumah. Karena sangat tidak mungkin untuk membiarkan Bu Mira bekerja keras di rumah anaknya.


Sean pun mengiyakan niat Evan, karena dirinya juga tidak akan mungkin bisa membantu pekerjaan rumah.


Ketika petang tiba,


Semua berkumpul di ruang keluarga lantai dua. Karena kamar Sean dan Renatta tepat berada di lantai dua.


Ting tong.......


Suara Bel rumah berbunyi.


Evan turun untuk membuka pintu dan gerbang rumah.


Ternyata Sinta dan Dhareen datang lagi.


"Wah rupanya dua sejoli ini ya... Ayo masuk!" Sambut Evan.


"Malam, Maaf mengganggu." Ucap Sinta.


"Nggak kok. Kami malah senang." Ucap Evan.


Sinta dan Dhareen pun di persilakan duduk di ruang tamu yang cukup luas dengan sofa big size yang empuk dan nyaman.


"Tunggu di sini ya, biar aku panggilkan Sean." Ucap Evan kemudian menaiki tangga besar penghubung antara lantai satu dan lantai dua.


Terlihat dari bawah, Sean bersama ibu dan anaknya sedang bersantai di balkon dalam rumah yang tentunya adalah ruang keluarga.


Tak lama kemudian Evan turun dengan menggendong Sean.


Entah mengapa tatapan Dhareen menjadi sangat aneh melihat pemandangan itu.


Sampai akhirnya Evan dan Sean duduk berdampingan menemui kedua temannya tersebut.


"Oh iya, kalian tau darimana alamat kami?" Tanya Evan.


"Beberapa waktu lalu Sean mengirimkan alamat rumah kalian, jadi aku nggak kesusahan untuk menemukan rumah ini." Ungkap Sinta.

__ADS_1


"Oh gitu. Ayo silakan dimakan!" Evan membuka beberapa toples makanan ringan di atas meja.


Dhareen menatap dalam pada Sean. Memang Sean tidak membalas tatapan itu, namun ia sangat paham jika Dhareen mengamatinya sedari tadi.


"Dasar orang aneh! Sudah tau suamiku di sini, masih aja jelalatan." Gumam Sean.


"Kamu mau cuti kuliah atau gimana nih?" Tanya Sinta pada Sean.


"Kayaknya cuti aja deh. Ntar bantuin aku biar nggak ketinggalan ya!" Jawab Sean.


"Beres lah kalau itu! Yang penting kamu sehat dulu. Sepi tau kalo nggak ada kamu." Ucap Sinta.


"Makasih ya. Kata dokter sih bisa sampai satu bulan proses penyembuhannya. Semoga aja cepet pulih deh." Ucap Sean.


"Wah lama juga ya!" Sinta mengangguk-angguk.


Mereka pun bercengkrama hingga beberapa waktu. Namun Dhareen memilih lebih banyak diam daripada mengikuti alur pembicaraan mereka.


Dan wktu pun mulai larut, Sinta mohon undur diri dari kediaman Sean.


Evan kembali mengantar mereka berdua ke depan rumah hingga mereka meninggalkan halaman.


Kemudian Evan menggendong Sean kembali ke ruang keluarga.


Tak berselang lama, Ponsel Sean berdenting. Rupanya sebuah pesan dari Sinta.


📥 "Sean, maaf baru mengatakannya sekarang. Yang menolongmu sampai rumah sakit adalah Dhareen. Aku tidak tau persis kejadiannya, karena dia sangat hemat berbicara. Dia melarangku untuk mengatakan ini, tapi aku tidak enak hati. Aku tidak mau menerima balas budi dari suami kamu, karena bukan aku yang berhak."


Sean seketika terdiam beberapa waktu karena terkejut.


Ia menerawang jauh kejadian itu. Kesadaran yang tidak penuh membuat ia susah mengingat sosok lelaki yang telah menolongnya.


Yang dia ingat hanyalah laki-laki bertubuh kekar, tepat seperti Dhareen. Namun Sean tak berani mengambil kesimpulan. Karena pandangan yang buram akibat syok.


Kini Sean tahu, bahwa penolong itu adalah Dhareen.


Sean kebingungan, balas budi macam apa yang harus ia lakukan untuk berterima kasih. Sementara Sean sangat judes pada Dhareen selama ini.


"Mama! Lihat ini!" Renatta membuyarkan lamunan Sean dengan menyodorkan sebuah gambar hasil karya nya.


"Oh iyaaa.... Bagus sekali.. Pinter deh anak mama!" Sean meraih kertas berisi gambar tersebut.


Pikiran Sean tidak fokus, kemudian ia mengembalikan kertas itu dan membalas pesan dari Sinta.


📤 "Iya, Sin. Makasih infonya. Aku juga berhutang budi padamu, makasih udah mau nemenin aku dan menjengukku sampai beberapa kali." Tulis Sean.

__ADS_1


Setelah datangnya pesan itu. Sean merasa sungkan pada Dhareen. Selama ia sakit, ia tetap acuh pada Dhareen. Bahkan beberapa kali ia datang menjenguk, Sean tak menghiraukan keberadaannya.


Sungguh pribadi yang tak tahu diri, fikir Sean sambil menepuk keningnya pelan.


****


Hari terus berganti.


Evan bekerja seperti biasa, dengan sedikit mengurangi intensitas lemburnya di akhir pekan.


Sementara Sean di rumah bersama dengan Bu Mira, Renatta, dan seorang asisten rumahtangga baru yang bernama Bu Ida.


Bu Mira mengurus cucunya dengan sangat baik dan semua pekerjaan rumah di handle oleh Bu Ida.


Bu ida akan datang pukul delapan pagi dan akan pulang pukul lima sore. Beliau juga bertugas menyiapkan makan siang dan makan malam.


Karena untuk sarapan, Bu Mira telah menyiapkan makanan apa adanya sambil mengurus Renatta.


Sedangkan Sean menikmati libur panjangnya dengan santai sesuai permintaan Evan dan Bu Mira, agar kakinya segera sembuh.


Setiap hari Senin Sinta akan datang sendirian ke rumah Sean untuk berbagi materi dan tugas kepada Sean.


Sean benar-benar berterimakasih pada Sinta, karena ia benar-benar membatunya.


Namun sesekali Sean bertanya dalam hati, mengapa Sinta tidak mengajak Dhareen kerumahnya walau sekali waktu.


Hatinya sedikit lunak, ia ingin menebus sikap ketusnya terhadap Dhareen. Sedikit perlakuan baik pada Dhareen akan membuat beban pikirannya sedikit ringan.


Namun apa daya, Sean tak mungkin juga meminta Sinta mengajak Dhareen kerumahnya.


Ia hanya berharap kakinya segera pulih dan dapat beraktifitas normal tanpa merepotkan orang lain, terutama ibunya.


Ia berencana meminta maaf dan berterima kasih pada Dhareen ketika ia mulai masuk kuliah lagi.


Sean tahu bahwa akan sedikit sulit untuk mencari Dhareen, karena ia juga tidak tahu persis kelas dan jurusan Dhareen di gedung pasca.


Namun niatnya sudah bulat.


Ia akan meminta bantuan Sinta untuk bersama-sama mencari lelaki kekar itu, sampai tujuannya tercapai.


Kekakuan dan keanehan Dhareen bukan lagi alasan untuk Sean memasang wajah ketus. Ia percaya bahwa suatu saat akan ada alasan yang terkuak dibalik sikap Dhareen yang misterius.


Dan benar saja, satu bulan lamanya Sean berdiam diri di rumah, tak sekali pun Dhareen menampakkan batang hidungngnya di hadapan Sean.


Sean sedikit curiga, apakah sekarang Dhareen telah pergi dari cerita hidupnya.

__ADS_1


"Dasar orang aneh! Kalau lagi gak dibutuhin bentar-bentar muncul. Kalau lagi butuh buat balas budi malah ilang! Kan jadi aku yang repot." Gumam Sean.


__ADS_2