Akankah Kembali

Akankah Kembali
Pendekatan halus


__ADS_3

Setelah mengganti pakaian mereka bergegas turun ke lantai dua, mendatangi restoran hotel tersebut.


Ternyata seluruh anggota keluarganya sudah tampak bercengkrama disana, mereka duduk di sebuah tempat dengan meja panjang yang dihiasi bunga-bunga segar beraneka macam. Nampak berbagai makanan sudah tersaji dihadapan mereka.


Sean dan Evan berjalan dan duduk bersebelahan untuk bergabung dengan keluarganya itu.


"Selamat malam semua." Sapa Sean.


"Malam Sean, Lama sekali kalian turun?" Sambut Bu Mira


"Iya Bu, tadi Evan susah sekali dibangunkan." Jawab Sean.


"Ayo Sean cepat pesan makanan kalian. Sebentar lagi wakunya makan malam tiba!" Ucap Bu Nita.


"Baik Bu." Jawab Sean singkat.


Sean pun memanggil pelayan yang berdiri di sudut ruangan, dan memesan makanan sesuai seleranya dan suaminya.


Tak berapa lama kemudian makanan Sean dan Evan tiba. Mereka semua mulai menyantap makanan masing-masing dengan penuh ketenangan.


Statusnya sebagai istri yang baru disandangnya tanpa disadari membuat Sean menampakkan ekspresi malu-malu dan salah tingkah tanpa sebab dihadapan keluarganya.


Membuat Pak Barata tergerak hatinya untuk menggoda menantu barunya itu.


"Sean, kamu terlihat nggak sehat malam ini." Komentar Pak Barata.


"Eh.. Tidak, Yah. Sean baik-baik saja" Jawab Sean.


"Apa istirahatmu nyaman? Kamu terlihat tidak baik-baik saja." Selidik Mertuanya itu.


"Iya Yah. Mungkin karena kecapekan saja" Ucap Sean


"Oh ya. Ayah pikir singa lapar di sebelahmu itu sangat mengganggu." Pak Barata mulai melancarkan aksinya.


"Siapa maksud Ayah? Aku tidak mengganggunya sama sekali." Sambut Evan menyanggah ayahnya.


"Hahaha, kenapa kamu merasa? Aku kan bertanya pada Sean." Ucap Ayahnya.


"Ayah selalu saja menyebutku singa lapar. Jadi apa alasanku untuk tidak merasa?" ucap Evan.


"Hahaha. Sudah sewajarnya kan kalau pengantin baru tidak bisa tidur nyenyak, iya kan Sean?" Pak Barata menggoda Sean


Sean hanya diam dan melanjutkan makannya dengan tersipu malu.


"Sialan, aku malu banget. Aku harus bertingkah gimana ini?" Gumam Sean.


"Sudahlah Yah, jangan mengganggu kami. Apa Ayah ingin segera punya cucu?" Tanya Evan To The Point.


"Ha!" mereka semua terkejut dengan ucapan Evan.

__ADS_1


"Hahaha.... Tentu Saja. Iya kan Pak, Bu" jawab Pak Barata sembari melibatkan para besan nya.


Ayah dan Ibu Sean mengangguk dan iku tertawa bersama, mereka tahu bahwa Pak Barata sedang menggoda anak-anaknya.


Sean merasa sangat malu dengan candaan orang tuanya. Ia memilih diam seribu bahasa ditengah tawa anggota keluarganya.


"Tenang saja, Ayah dan Ibu akan mendapatkannya tak lama lagi" celetuk Evan santai sambil menyendok makanannya.


"Uhuk.. Uhuk.." Sean kaget dan tersedak mendengar ucapan Sean.


"Hei nak, kenapa kamu sering tersedak sih?" Goda Bu Mira.


"Maaf Bu" Ucap Sean lalu menenggak lemon hangat dihadapannya.


"Hahaha Dasar anak nakal. Kau membuat istrimu terkejut saja." Tawa Pak Barata yang terus menggoda mereka.


"Sudah lah Yah. Aku sudah selesai makan, kami akan kembali ke kamar bersiap mau jalan-jalan" Ucap Evan ingin segera menghindari ayahnya yang terus saja menggodanya.


"Wah... Ide yang bagus itu. Nikmati waktu kalian ya." Pungkas Pak Rianto.


Setelah Evan dan Sean selesai dengan makan malamnya, mereka memutuskan kembali ke kamar.


Menghindar dari Pak Barata adalah hal yang tepat menurut Sean saat ini. Dirinya sangat tidak siap dengan candaan-candaan berbau dewasa didepan matanya.


****


Dikamar hotel


"Apa kamu mau kalau pulang kerumah orang tuaku?" Evan balik bertanya.


"Baiklah, aq mau" jawab Sean.


"Maafkan aku Sayang. Aku belum bisa memberimu tempat tinggal." Ucap Evan sedih sambil mengelus kepala istrinya itu.


"Nggakpapa kok. Kita kan bisa mewujudkan bersama." Jawab Sean membesarkan hati suaminya.


"Makasih Ya. Kamu mau nggak jalan-jalan keluar?" Tanya Evan


"Sebenernya aku lagi males nih. Tapi disini juga sangat membosankan" Jawab Sean.


"Lalu?" Ucap Evan.


"Kita keluar deket-deket sini aja yuk!" Sean memberi saran.


"Oke Sayang" Jawab Evan.


Kemudian mereka pun kembali menuruni gedung untuk sekedar berjalan-jalan di taman hotel tersebut.


Sesampainya di bawah mereka melihat hamparan rumput hijau bak permadani, pohon-pohon dan tanaman yang tertata rapi, sofa-sofa nyaman di tengah taman, Ayunan, Lampu tumbler yang menghiasi bagian atas taman, tak lupa hamparan kolam renang yang sangat luas.

__ADS_1


Suasana begitu tenang dengan suara-suara musik pelan yang keluar dari beberapa perangkat audio di beberapa sudut taman.


Mereka duduk di sebuah sofa empuk dipinggiran kolam renang. Menikmati indahnya pemandangan dan suasana malam itu.


Sean menyandarkan kepalanya diatas bahu Evan.


"Sayang, Bagaimana dengan permintaan kedua orang tua kita?" Tanya Evan menggoda Sean.


"Ha! Pertanyaan yang mana?" Jawab Sean gugup.


"Haha, gak perlu kaget gitu. Masa kamu lupa sih? Evan terus menggoda.


"Yang mana? Aku udah lupa." Sean mengelak.


Kemudian Evan menghadapkan wajahnya di depan wajah Sean.


"Mereka kan pengen segera punya cucu." Evan sambil tersenyum genit.


"Duh apa-apaan sih. Baru juga nikah tadi pagi" Ucap Sean sebal.


"Hahaha.. Iya deh iya. Terus aku harus bertahan berapa lama?" Evan tertawa kemudian memelas.


"Sampai aku siap." Jawab Sean ketus.


"Jangan gitu dong. Aku ini kan lelaki normal. Mana bisa aku tenang jika tidur dengan seorang gadis?" Evan mulai memberi alasan.


"Iya deh iya, sabar aja dulu." Jawab Sean


Jawaban Sean membuat Evan menghembuskan nafas pasrah. Karena ia tak ingin menyakiti gadis yang ia cintai itu, meskipun dirinya harus menahan gejolak dihatinya. Kini ia harus bersabar sampai waktunya tiba.


Malam pun semakin larut, membuat udara semakin dingin pula. Sean meminta Evan untuk kembali ke kamar hotel dan bergegas untuk istirahat.


Evan mengiyakan dan mereka pun berjalan menuju kamarnya.


Tak mereka sadari, beberapa pasang mata telah mengintai mereka dari balik gorden sebuah kamar hotel.


Ya, mereka adalah Pak Rianto dan Bu Mira.


"Mereka terlihat bahagia kan Bu?" Tanya Pak Rianto.


"Iya Yah. Ibu turut bahagia melihatnya. Ini semua sudah takdir Tuhan, kita harus mengikhlaskan semua ini" Jawab Istrinya.


"Iya Bu. Ini yang terbaik untuk mereka, daripada harus kemana-mana tanpa ikatan yang jelas" ucap Pak Rianto.


"Benar Yah. Kita titipkan saja mereka pada Tuhan. Semoga mereka bisa menjaga pernikahan ini" Jawab Bu Mira sedih.


"Bu, bagaimana dengan cucu untuk kita?" Pak Rianto mulai mencairkan suasana.


"Ah, Ayah bisa saja. Jangan ikut-ikutan Pak Barata deh. Nanti Sean marah sama kita." Bu Mira tertawa sambil mencubit perut suaminya.

__ADS_1


"Hahaha. Benar juga. Meskipun Sean itu penurut, tapi ketegasannya itu terkadang bisa membuat Ayah menjadi goyah dengan pendirian Ayah sendiri." Sambut Pak Rianto.


Mereka pun kemudian menutup gorden dan mulai istirahat dengan hati yang tenang dan penuh kebahagiaan.


__ADS_2