Akankah Kembali

Akankah Kembali
Pertemuan Ke Dua Dengannya


__ADS_3

"Ayo, Sayang!" Evan mengajak Sean untuk meninggalkan toko.


Mereka pun berjalan menuju parkiran.


Dalam hati Sean merasa sangat tidak enak, karena Dhareen akan kembali jalan kaki setelah membantunya berbelanja. Menurutnya ini tidak adil, karena kesanggupannya memberi tumpangan pada Dhareen tidak akan terlaksana.


Sesampainya di parkiran, Evan melihat Dhareen yang sedang duduk meminum sebotol kopi instan.


"Bro! Kamu ngapain disini?" Tanya Evan


"Mobilku mogok. Batrai juga habis, sepertinya aku akan berjalan ke jalan raya untuk mencari ojek atau apalah!" Jawab Dhareen.


"Oh, kebetulan sekali. Aku juga bawa mobil. Aku, istri dan anakku akan berada di satu mobil. Kamu bisa pakai sedan milik istriku kalau dia mengijinkan. Bagaimana, Sayang?" Evan memberi tawaran.


"Eh... Iya Sayang boleh." Jawab Sean terkejut.


"Wah, jangan deh! Itu akan merepotkanmu." Dhareen menolak.


"Tidak. Kamu kan teman istriku, santai aja." Ucap Evan.


"Teman dari mana? Kenal aja barusan. Tapi Dhareen terlihat sangat bisa dipercaya, semoga saja dia orang baik. Lagipula kesanggupanku ngasih dia tumpangan juga bisa lunas." Batin Sean.


"Benarkah? Besok akan aku kembalikan ketika istrimu datang untuk kuliah. Terima kasih." Ucap Dhareen.


Sean pun memberi kunci mobilnya pada Dhareen. Dan ia bergegas mengikuti Evan yang berjalan menuju mobilnya.


Di dalam mobil,


"Kamu percaya sama dia?" Sean bertanya dan menoleh ke arah Dhareen.


"Iya. Kelihatannya dia orang baik. Lagi pula dia kan temanmu." Jawab Evan.


"Tapi aku tidak berhubungan baik dengannya. Hanya sekedar tahu namanya saja." Ucap Sean.


"Hah sudahlah. Kalau dia membawa kabur mobil kesayanganmu, polisi akan bekerja untuk kita." Evan tersenyum dan mengelus rambut Sean lembut.


Sean terdiam dan merekapun melaju menembus gelapnya malam.


Renatta yang duduk di bangku belakang menggunakan kursi bayi sangat tenang karena ia sibuk dengan mainannya.


"Sayang, kamu kok bisa nemuin aku di toko?" Tanya Sean.


"Aku tadi ambil lembur cuma dua jam. Terus jemput Renatta. Kamu nggak ada kabar sih, jadi aku kepikiran untuk menemuimu di kampus. Ternyata mobilmu masih terparkir. Saat aku keluar mobil, Natta minta beli kue. Ternyata ada kamu disana." Jawab Evan ramah.


"Oh gitu. Lain waktu kalau aku ijin pulang sore, kamu langsung pulang aja. Kan kamu juga capek." Ucap Sean menggenggam tangan Evan pada knop transmisi.


"Iya, Sayang." Jawab Evan.

__ADS_1


****


Sesampainya di rumah.


Mereka bergantian menjaga Renatta, Sean lebih dulu membersihkan diri.


Ketika Evan sedang mandi, Sean memesan online berbagai macam menu makan malam untuk mereka. Karena tidak ada waktu lagi untuk memasak. Sean juga sudah lelah jika mereka makan malam di restoran, menurutnya tidak bisa se santai dirumah.


Ketika makan malam tiba, Sean menyiapkannya di atas meja makan dan memanggil anggota keluarga untuk berkumpul disana.


Selama makan malam berlangsung, tidak ada pembahasan yang berarti di antara mereka.


Hingga sampailah ketika mereka bersantai di depan tivi sambil menjaga Renatta bermain.


"Sayang, seandainya kamu bisa pulang sore terus. Pasti Renatta seneng deh. Soalnya dia pengen kamu temenin waktu mainan." Ucap Sean yang bersender di bahu kanan Evan.


"Iya, aku pengennya juga gitu. Tapi Kerjaan dikantor hampir nggak bisa ditinggal. Tadi aja karena Edwin udah hampir selesai, jadi kerjaanku bisa ia handle. Ntar deh aq coba pengajuan buat nambah karyawan marketing." Jawab Evan.


"Cepetan ya ngajuinnya!" Sean memanyunkan bibirnya.


Tak butuh waktu lama, Evan mencuri kecupan di bibir Sean tanpa sepengetahuan putri kecilnya. Dan adegan itu berlanjut di tengah malam di atas ranjang.


Kali ini Evan sedikit lebih lama dari biasanya, membuat Sean timbul rasa gteget untuk mencapai puncaknya.


Entah mengapa setiap sentuhan Evan kali ini terasa begitu nikmat dari biasanya.


Setelah semua selesai, mereka tertidur pulas dengan pelukan hangat diantara keduanya.


****


04.00


Sean terbangun dan melihat suaminya masih tanpa busana berselimut tebal bersama dengannya.


Tiba-tiba timbul desiran sensual dalam dirinya.


"Duh, apa-apaan sih ini. Semalem kan udah!" Sean memaki dirinya sendiri.


Ia berusaha memalingkan pandangannya, namun masih tak berhasil.


"Ya Tuhan, aku ingin sekali. Kenapa aku jadi mesum gini sih!" Sean menggigit bibir bawahnya dan memukul keningnya pelan berulang kali.


Tak tahan dengan semua itu, Sean bergegas bangkit dari ranjang dan turun ke dapur untuk menyiapkan sarapan seperti biasanya.


Rutinitas pagi berjalan lancar, karena mereka sudah terbiasa dengan kesibukan layaknya hari ini.


Kali ini Evan mengantar Renatta kerumah neneknya dan mengantar Sean ke kampus terlebih dahulu sebelum berangkat kerja.

__ADS_1


Ternyata di tempat parkir langganan Sean sudah berdiri bersandar seorang lelaki tampan dan kekar di sebuah mobil sedan warna hitam. Ya, itu adalah Dhareen.


"Lihat, Sayang! Ternyata dia lelaki yang jujur." Evan menunjuk Dhareen dari dalam mobil.


"Hah! Iya, syukurlah! Aku tidak bisa membayangkan jika mobilku dibawa lari oleh orang itu!" Ucap Sean lega.


"Jangan curiga berlebihan pada orang lain. Itu nggak baik. Sudah sana kuliah yang baik, jangan macam-macam sama lelaki itu!" Canda Evan.


"Ihhh.... Apaan sih. Udah dibilang aku nggak kenal baik sama dia!" Sean mulai sewot.


"Hehehe iya... Sini aku cium!" Evan pun mencium bibir Sean dan sesempatnya meremas buah dada Sean.


"Eeemmhhh..." Sean menikmati sensasi itu.


"Hei, Sayang. Jangan sekarang! Nanti malam, ya! Bahaya kalau dia bangun sekarang. Hahaha!" Ucap Evan melirik juniornya.


"Huh! Males deh! Ya udah sana berangkat kerja!" Sean memonyongkan bibirnya tidak setuju, karena ia sudah menahannya dari jam empat pagi tadi.


Tanpa berpamitan, Sean membuka pintu mobil dan menghampiri Dhareen yang sedari tadi bersandar di mobilnya.


"Ck..ck..ck... Kamu sekarang mulai nakal ya!" Ucap Evan lirih sambil tersenyum menyunggingkan bibir.


Dan ia pun berlalu meninggalkan istrinya di parkiran kampus.


***


"Hai!" Sapa Sean.


"Oh, Hai! Makasih ya mobilnya. Sudah aku isi penuh." Ucap Dhareen sambil menyodorkan kunci mobil pada Sean.


"Wah nggak perlu repot-repot." Ucap Sean.


"Nggakpapa. Apa suamimu mencurigai kita?" Tanya Dhareen.


"Nggak kok. Dia laki-laki yang baik." Sean tersenyum merona.


"Beruntung sekali suami kamu." Celetuk Dhareen.


"Eh! Apa maksudnya?" Tanya Sean.


"Nggak... Nggakpapa. Oke sampai jumpa lagi. Aku harus ke kelas sekarang." Ucap Dhareen sambil melambaikan tangan pada Sean.


Sean merasa aneh dengan sikap Dhareen, namun ia memilih acuh.


Dan ia pun juga bergegas menuju kelasnya.


Di ruang kelas, pelajaran berjalan seperti biasanya. Sean dan Sinta selalu solid menanggapi permasalahan-permasalahan dalam diskusi. Hal itu membuat mereka mudah untuk menyelesaikan tugas di setiap mata pelajaran yang di ajarkan.

__ADS_1


__ADS_2