
Waktu makan malam sudah tiba, tetapi Evan dan ayahnya tak kunjung pulang. Membuat Sean merasa gelisah dan khawatir. Ingin rasanya mengirim pesan pada Evan. Tapi Sean tidak ingin mengganggu pekerjaan Ayah dan Suaminya tersebut. Karena tidak biasanya Pak Barata meminta Evan untuk datang ke tempat kerja mendadak.
Di meja makan sudah berkumpul Sean, Bu Nita dan adik Evan. Mereka menunggu tanpa menyentuh makanan sedikitpun.
"Bu, apakah Ayah baik-baik saja?" Tanya Sean
"Iya, Ayahmu baik-baik saja. Apa kamu merindukan Evan?" tanya Bu Nita balik.
"Eh, bukan begitu, Bu. Sepertinya tidak biasa Ayah memanggil Evan datang mendadak." Jawab Sean.
"Iya, mereka sedang ada urusan sedikit. Sebentar lagi mereka juga datang" Senyum Bu Nita merekah.
"Baik, Bu." Sean mengangguk.
"Besok ada Mbak Narti kesini, jadi kamu nggak usah bangun pagi untuk masak. Mbak Narti akan menyiapkannya untuk kita" Ibu mertuanya mengalihkan pembicaraan.
"Baik Bu. Tapi apa boleh Sean membantu Mbak Narti? Sean ingin menyiapkan sendiri makanan untuk Evan." Tanya Sean.
"Boleh, Ibu tidak melarangmu. Tapi biarkan Mbak Narti melakukan tugasnya dengan baik" Bu Nita kembali tersenyum ramah.
Tak lama kemudian Evan dan Ayahnya pun datang dengan senyum lebar, mereka berdua terlihat sedang senang hati. Entah karena apa, Sean pun akan bertanya jika hendak beristirahat nanti.
Tanpa membersihkan diri, dua lelaki itu mencuci tangan dan langsung duduk di singgasana masing-masing.
"Ayo makan! Ayah sudah lapar sekali." Ucap Pak Barata.
"Kenapa Ayah tidak mandi dulu sih?" tanya Bu Nita.
"Nanti saja Bu selepas makan malam. Bukankan kalian semua sudah menunggu lama?" Pak Barata mulai menyendok makanannya tanpa basa-basi.
Terlihat Evan masih tersenyum bahagia. Ia memandang Sean dan mengedipkan matanya genit.
Membuat Sean terheran-heran dengan tingkah laku suaminya itu.
Tanpa banyak bicara mereka semua melahap makanan yang terhidang dengan suasana tenang dan nyaman.
Membuat Sean semakin bertanya-tanya sebenarnya apa yang mereka sembunyikan hingga ibu mertuanya tidak berkomentar sedikit saja mengenai tingkah laku anak dan suaminya yang sangat terlihat berbeda barusan.
Setelah makan malam usai, mereka masih tidak membicarakan apapun. Seperti tidak ada hal yang menarik dibelakang senyum bahagia kedua lelaki itu.
Kemudian Sean mulai membersihkan meja makan dengan penuh tanda tanya.
Pak Barata dan Bu Nita saling melempar senyum dibelakang Sean.
Sedangkan Evan setelah makan malam langsung bergegas menuju kamar dan membersihkan diri.
Dikamar, Evan melihat ponsel istrinya tergeletak begitu saja di atas kasur. Ingin rasanya membuka ponsel itu. Tapi ia buru-buru tersadar kalau itu bukan haknya. Jika ia melakukan kesalahan, makan Sean akan marah padanya. Dan akan lebih lama untuknya mendapat jatah malam pertama.
Akhirnya Evan mengurungkan niatnya dan bergegas ke kamar mandi.
Kreeekk..
__ADS_1
Pintu kamar terbuka. Sean yang sadar ponselnya tergeletak langsung mengamankannya. Kemudian dia duduk di atas kasur sambil menonton televisi.
Tak berapa lama Evan keluar dari kamar mandi hanya menggunakan selembar handuk di pinggulnya.
Sean ingin sekali melihat Evan yang sedang mengganti pakaian tanpa tahu malu itu. Namun, rasa malu menyelimuti hatinya. Membuat Sean terpaksa memainkan ponselnya untuk mengalihkan perhatian.
Buukk...
Haduk kecil itu terjatuh. Namun, Evan berdiri membelakangi Sean, menghadap lemari untuk mengambil pakaiannya disana.
"Ya Tuhan. Putih bersih dan kekar!" Gumam Sean mencuri-curi pandang suaminya itu.
"Ehem! Apa kamu mengintipku Sayang? Terasa sekali auramu disini." Ucap Evan meledek Sean.
"Ah tidak! Aku sedang membalas pesan dari temanku." Sean beralibi.
Evan tersenyum dan melanjutkan berpakaian.
Setelah berpakaian, ia menyusul Sean duduk di atas kasur dan menarik selimut.
"Sayang, apa yang kamu lakukan bersama ayah tadi? Tanya Sean
"Cuma sedikit urusan." Jawab Evan singkat.
"Aku rasa nggak gitu deh. Kamu lagi nyembunyiin sesuatu ya?" selidik Sean.
"Ngaak! Buat apa aku menyembunyikan sesuatu darimu?" Evan menyanggah.
*Ting..
Ting..
Ting..
Ting..
Ting*..
Suara ponsel Sean berdenting berkali-kali, namun Sean mencoba bergeming. Membiarkan ponselnya tergeletak sangat dekat dengan pahanya.
"Duh Rediska! Kenapa kamu kirim video seperti itu sekarang!!! Sangat tidak tepat." Gumam Sean yang sudah melihat bahwa itu pesan video dari Rediska.
Evan menaruh sedikit curiga pada istrinya.
"Sayang, pesan dari siapa? Kok nggak dibuka?" Tanya Evan.
"Eh.. Itu.. Temen kerja aku. Nggak penting, kan ini bukan waktu kerja. Jadi aku nggak mau membahas masalah pekerjaan." Sean membuat alasan sambil mengibas-kibas tangannya.
"Coba buka! Aku nggak percaya deh. Jangan-jangan dari cowok lain!" Evan mengerucutkan kecurigaannya.
"Tidak! Tidak Sayang. Lelakiku cuma kamu seorang. Sumpah deh! Jangan dibuka, ini pesan pekerjaan aku nggak mau membahasnya." Sean gugup dengan pertanyaan Evan.
__ADS_1
"Aku cuma pengen tau namanya doang, Sayang. Aku nggak ingin tau isinya kok!" Evan memaksa.
Keringat dingin mulai membanjiri kening Sean. Ia bersikukuh menyembunyikan ponsel dibawah pahanya. Muka pucat sangat terlihat di wajah Sean. Kali ini Evan sudah tidak sabar, karena ia sangat curiga bahwa pesan itu berasal dari lelaki lain.
Evan pun meraih ponsel Sean yang berada tepat dibawah pahanya.
Setttt!!!
Evan berhasil mendapatkannya. Sean terkejut dan ketakutan.
"Ayo cepat, kamu yang buka ponsel ini atau aku?" Evan mengangkat ponsel Sean tinggi.
"Oke. Aku yang akan buka." Pinta Sean.
Evan pun memberikan ponselnya dan melihat dengan teliti cara Sean membuka ponselnya dengan pola keamanan didalamnya.
Sean membuka sebuah aplikasi percakapan dan...
Sretttt..
Sekejap saja dilihatkan pada Evan, kemudian ia menarik cepat ponselnya.
"Hei! Apa-apaan ini? Aku belum melihatnya dengan jelas. Kemarikan!" Evan merebut ponsel itu.
"Jangan! Jangan Sayang please!!" Sean memelas.
"Tidak! Kamu nyembunyiin sesuatu dariku. Aku nggak suka!" Evan sedikit membentak.
Evan pun kembali melihat aplikasi berbalas pesan itu. Men-scroll keatas dan kebawah, namun tak ditemukannya nama laki-laki seorang pun.
Ia tertuju pada pesan yang belum dibuka bernama Rediska dengan tampilan pesan video bertuliskan angka empat.
Sean segera merebut ponsel itu.
"Tuh kan nggak ada cowok lain! Itu pesan dari Rediska temanku kerja. Kamu sih nggak percaya banget!" Sean ngomel kesana kemari sambil mematikan ponselnya.
"Iya iya! Maafin aku. Tapi aku pengen tau, itu video apa?" selidik Evan.
"Hus! ini masalah perempuan." Sean keceplosan.
"Apa?" Evan terheran.
"Eh maksudku bukan itu.." Sean berkilah namun kalah cepat. Ponsel itu kini berada di tangan Evan.
Evan mengangkat ponselnya tinggi-tinggi, sedangkan Sean berusaha meraihnya dengan sedikit teriakan dan rengekan memelas.
Evan pun tak habis akal, ia mengangkat dan menidurkan Sean, membebat Sean dengan selimut tebal menyisakan wajahnya saja dan kemudian menindih kaki Sean agar tidak bisa bergerak.
Wajah Sean memerah dan ia menangis sejadi-jadinya, namun Evan bergeming. Evan membuka pesan dari Rediska dan membuatnya sangat terkejut dengan banyaknya pesan video dewasa yang ada didalam sana.
Tek!
__ADS_1
Evan menaruh ponsel Sean di atas meja kecil disamping ranjang. Kemudian ia membaringkan tubuh disamping Sean yang masih menangis terbungkus selimut tebal.