
Visual Evan
"Huuuu..... huu... Aku kan sudah bilang jangan dibuka!" Sean masih menangis tersedu-sedu.
Tanpa bicara Evan memeluk istrinya yang terbalut selimut itu. Menciumnya di kening dan bertanya,
"Apa yang kamu lakukan dengan video seperti itu?" Tanya Evan sedikit serius di wajah tampannya.
"Aku nggak melakukan apapun. Huu... hu...." Jawab Sean.
"Lalu?"
"Aku begitu polos mengenai hubungan pernikahan. Dia hanya ingin memberiku gambaran. Karena selama ini aku nggak pernah menonton film seperti itu. Huuu.... hu..." Sean masih menangis.
"Jangan menerima pesan seperti itu lagi. Kita akan melakukannya dengan perlahan." Bisik Evan lembut.
Kemudian Evan menghapus air mata istrinya dan membuka balutan selimut tersebut.
"Sudah jangan menangis. Aku akan mengajarimu" Goda Evan sambil tersenyum.
"Hah! Kamu jahat sekali. Apa kamu sudah pernah melakukannya? Dengan siapa?" Selidik Sean.
"Sssttt.... Aku juga belum pernah melakukannya. Tapi sudah menjadi hal biasa kalau setiap laki-laki menonton film dewasa." Evan mengangkat alis dan memberitahu sedikit rahasianya.
"Apa????? Dasar kamu laki-laki mesum. Mesuuuuummmmm!!!" Sean sedikit berteriak sambil memukul suaminya dengan bantal berulang kali.
"Aduh! Ampun Sayang, Ampun!!!" Teriak Evan melindungi kepalanya.
Kemudian mereka berbaring dan tertawa bersama mengingat kelakuan bodoh yang telah dilakukannya.
Tanpa disadari tawa mereka samar terdengar hingga lantai bawah, dimana Ayah Ibu mereka sedang duduk menonton televisi di ruang tengah.
"Yah, rupanya mereka bahagia sekali ya! Tawa seperti itu hampir tidak pernah kita dengar semenjak anak-anak kita beranjak remaja." Bu Nita tersenyum mengenang masa lalu.
"Iya, Bu. Ayah juga turut bahagia. Ayah berdoa agar pernikahan mereka satu untuk selamanya" ucap Pak Barata memeluk istrinya.
Selang beberapa waktu kemudian tawa itu pun tak terdengar lagi. Benar saja, Sean dan Evan sudah terlelap dalam mimpi indah dengan senyum merekah di bibir mereka.
****
Keesokan harinya, Sean bangun pagi seperti biasanya. Morning kiss selalu ia berikan pada Evan meskipun suaminya tersebut masih terlelap dalam tidurnya.
Setelah Sean mencuci mukanya, ia turun ke dapur untuk membuat minuman hangat untuknya sendiri.
Setelah itu Sean mulai membuka tirai-tirai dirumah itu dan membuka jendela memberi sirkulasi udara segar dalam rumahnya.
Kemudian ia duduk di dapur sambil menikmati Lemon Tea hangat di sebuah cangkir keramik berwarna putih.
Srruuuuupppp..
"Haaah, nikmat sekali teh ini." Ucap Sean lembut.
Sean sangat menikmati pagi hari di rumah mertuanya tersebut, menyiapkan minuman dan makanan spesial untuk Evan tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 05.30, Bu Nita keluar dari kamarnya dan membuka pintu depan. Sepertinya agar Mbak Narti bisa langsung masuk tanpa mengetuk pintu.
Dan Ya, ternyata beberpa waktu kemudian Mbak Narti datang dengan sekantong penuh makanan beserta lauknya.
"Pagi, Bu. Saya langsung ke dapur ya menyiapkan sarapan." Sapa Mbak Narti sambil mengangkat kantong kresek bawaannya.
__ADS_1
"Pagi Mbak. Iya silakan. Ada menantu saya di belakang. Mbak Narti sudah bertemu di resepsi. Pasti paham kan?" Tanya Bu Nita.
"Iya Bu, permisi" pamit Mbak Narti.
Mbak Narti dan Sean berkenalan dan mereka berdua sibuk menyiapkan sarapan untuk seluruh anggota keluarga.
****
"Sayang! Sayang!" Teriak Evan menuruni anak tangga.
Sean menengok kebelakang dan sampailah Evan di hadapan istrinya tersebut.
"Ada apa? Kenapa teriak-teriak?" Tanya Sean kebingungan.
"Sayang hari ini aku ada panggilan interview. Senang sekali rasanya. Kamu tau? Ini adalah perusahaan yang aku lamar sebelum kita menikah. Lama sekali bukan?" Evan memeluk istrinya dan meluapkan kegembiraannya.
"Benarkah Sayang? Aku turut bahagia untukmu. Ayo cepat mandi dan bersiap!" Sean menepuk punggung suaminya yang tengah berpelukan itu.
"Iya Sayang. Doakan aku ya!" Evan melepas pelukan dan bergegas kembali ke kamar.
Sean tersenyum lega, akhirnya Evan akan mendapat pekerjaan.
Waktupun berlalu.
Semua sudah kembali ke aktifitas harian masing-masing.
Mula-mula Evan mengantar Sean bekerja dan kemudian mendatangi perusahaan K untuk interview.
Harapan Evan sangat besar untuk pekerjaan ini.
Dan siapa sangka malam harinya ketika semua sudah berkumpul di meja makan, Evan menceritakan keberhasilannya masuk di Perusahaan K. Ia juga bercerita bahwa besok akan mulai bekerja.
Semua turut bahagia dan mendoakan Evan agar diberi kelancaran dalam bekerja.
****
Semua mereka nikmati dengan penuh rasa syukur. Pernikahan tanpa halangan dan juga panggilan kerja untuk Evan yang tidak terduga sama sekali.
Keluarga baru yang menurutnya sangat baik juga membuat Sean merasa sangat beruntung. Banyak dari teman-temannya yang bercerita bahwa satu atap dengan mertua akan sangat menguras emosi. Tapi nyatanya tidak, Sean merasa sangat nyaman dengan keramahan dan kehangatan dari kedua mertuanya.
Sementara, saat ini Evan masih mencoba untuk mencuri malam pertamanya dengan Sean. Namun kegigihan Sean menjaga kesuciannya masih kukuh.
Bukannya tidak mau, hanya saja ia sangat canggung untuk memulai semua itu.
Evan tetap bersabar. Namun tidak kali ini, ia akan berusaha tega untuk merebut semuanya.
Menurutnya sudah tidak ada lagi alasan untuk menolak, karena ini tepat satu pekan pernikahan mereka. Sangat tidak wajar jika sepasang suami istri tidak saling memberi kewajiban masing-masing.
22.00, Malam itu setelah Menjemput Sean.
Evan mengikuti langkah kaki Sean menuju kamar mandi dalam kamarnya.
ceklek!
Suara pintu tertutup.
"Sayang, kamu mau apa ikut kesini?" Tanya Sean.
"Kamu nggak bisa lari malam ini. Aku sudah cukup menunggu!" Ucap Evan sambil membentangkan kedua tangannya di pintu kamar mandi dengan gaya yang cool.
__ADS_1
"Hah! Aku mohon besok saja ya!" Sean sudah tahu maksud suaminya itu.
"Tidak! Cepat layani aku. Aku sudah menahannya berhari-hari" Evan menggelengkan kepalanya dan berjalan menghampiri Sean.
"Tapi... " Ucap Sean tertahan.
"Sstt!" Evan meletakkan telunjuknya tepat di bibir Sean.
Tangan kirinya sibuk memutar kran air untuk mengisi bathtub minimalis. Kecupan-kecupan mesra dan buaian gairah mulai meyelimuti mereka.
Suara gemericik air membuat Sean semakin menikmati suasana dalam kamar mandi itu.
Perlahan Evan melepas pakaian Sean dan menggendongnya masuk ke bathtub.
Evan memandikan Sean dengan penuh kelembutan. Menggosok punggung dan sesekali membelai punggung yang mulus itu membuat jantungnya tak terkendali, tak terkecuali dengan juniornya yang sudah tak sabar menunggu adegan selanjutnya.
Setelah Evan menyelesaikan mandi, Evan mengeringkan tubuh dan menggendong Sean keluar dari kamar mandi. Mendudukkan istrinya bak boneka dan mulai mengeringkan rambutnya.
"Sungguh seperti orang gila! Kami kesana-kemari dengan bertelanjang diri." Gumam Sean dalam hati.
Sedangkan Evan yang masih sibuk mengeringkan rambut Sean, ia sesekali menggoda.
"Sayang! Tidakkah kamu tau, dia sangat menginginkanmu malam ini" Ucap Evan melirik juniornya.
"Eh, apaan sih! Kamu gak tau malu deh!" Ucap Sean malu-malu.
"Kenapa aku harus malu? Kita kan Suami Istri" Evan mencoba menempelkan juniornya dipunggung Sean.
cklek!
Suara hairdryer dimatikan.
Evan menggendong Sean menuju ranjang, kemudian membaringkannya dengan lembut.
"Sayang, pakai selimut ya? Aku malu." Ucap sean sambil menutupi area sensitifnya dengan tangan menyilang.
"Oke." Singkat Evan.
Evan pun menggelar Selimut di atasnya dan mulai mencumbu Sean dengan liar.
Ciuman yang semakin dalam membuat udara seperti menghangat dan membuat gerah.
Kecupan demi kecupan ditinggalkan Evan disetiap bagian tubuh Sean. Meninggalkan bekas merah tanda kepemilikan.
Evan mulai menuruni pusat dan memainkannya lembut disana. Membuat Sean menggeliat menikmati setiap sentuhan yang diberikan oleh Evan. Otot-otot mulai meregang menahan getaran yang ingin keluar dari dalam diri Sean.
"Ah.. Sayang Jangan!" Rintih Sean.
Namun Evan bergeming. Evan sudah sangat terbakar dengan gairahnya, kali ini ia akan mulai menerobos pertahanan itu. Menempatkan juniornya tepat di mulut gawang.
Sean memejamkan mata dan meremas sprei di kanan-kirinya.
Sekali hentakan. Sudah sampai separuh perjalanan, Sean menahan jeritannya. Air mata membasahi pipi, namun berulang kali Evan mencoba menerobos masuk.
"Sialan, susah sekali!" Gumam Evan.
Evan menatap Sean yang berderai air mata. Tak lama kemuadian Evan menghentikan aksinya karena kasihan pada istriya.
"Cukup! Maafkan Aku, Sayang." Bisik Evan dan mengelus ujung kepala Sean.
__ADS_1
Evan pun mencabutnya, keluar dari selimut dan bergegas menuju kamar mandi, mungkin untuk menuntaskan hasratnya disana.
Sedangkan Sean masih menangis tak tahu apa yang harus ia perbuat.