Akankah Kembali

Akankah Kembali
Persiapan Pernikahan


__ADS_3

Setelah acara makan malam dirumah Evan malam itu, kedua keluarga lebih banyak berkomunikasi baik via telefon atau bertatap muka secara langsung.


Mereka membahas semua persiapan lebih detail. Mulai dari undangan, gedung, Make up, gaun, sovenir, catering dan lain sebagainya.


Meskipun Evan belum mendapatkan pekerjaannya, akan tetapi Evan masih memiliki tabungan yang selama dua tahun dikumpulkannya.


Ia berniat apapun keperluan Sean untuk menikah akan ditanggung dirinya sendiri. Selain urusan daripada Sean, maka Ayahnya lah yang akan menanggung biayanya.


Sedangkan pihak dari Sean benar-benar dibebaskan dari urusan bayar membayar. Itu merupakan kesanggupan dari keluarga Evan yang tidak dapat diganggu gugat.


Minggu-minggu telah berlalu. Kini tiba saatnya Bu Nita dan Bu Mira mencari jasa catering yang cocok dengan selera mereka


Urusan gedung diserahkan pada Bapak-Bapak.


Sedangkan Sean dan Evan sedang memutuskan salah satu dari nama-nama Make Up Artist yang telah di list sebagai daftar kandidatnya. Mereka harus segera menemui salah satunya, agar tidak membuang-buang waktu secara percuma.


Jatuhlah pilihan mereka pada salah satu nama Make Up Artist ternama di Kota mereka. Sean segera menghubunginya dan membuat janji untuk fitting baju pernikahan, beserta pakaian yang akan dikenakan calon suami dan juga keempat orang tuanya.


Hari-hari mereka sangat sibuk. Tidak ada kata bersantai karena memang waktu dua bulan tidaklah lama untuk urusan yang membutuhkan kedetilan pada setiap prosesnya.


Ketika tiba waktunya untuk fitting. Kedua keluarga itu berangkat ke sebuah tempat rias milik MUA yang dipilih Sean.


Sesampai disana, para orang tua terkagum dengan tempat yang didesain serba gold tersebut. Mereka terpana melihat lemari-lemari besar yang penuh dengan gaun-gaun pengantin wanita yang indah dan berkelompok menurut warnanya.


Terdapat pula beberapa lemari besar yang berisi berbagai macam tuxedo dan pakaian pesta formal untuk pria dan wanita.


Mereka disambut hangat oleh pemilik tempat tersebut.


Tanpa pikir panjang, mereka memilih pakaian yang serba kompak dari segi warna dan modelnya.


Sedangkan Sean memilih sebuah Gaun kurung berwarna putih bersih dengan aksen pita besar di bagian belakangnya. Gaun cantik yang dihiasi pernak-pernik elegan di beberapa bagian dengan potongan model sabrina dibagian pundak.


Mereka pun mencoba masing-masing pakaiannya, tak terkecuali Evan dan para lelaki. Make Up Artist beserta beberapa asistennya mulai bertugas membantu mereka semua untuk mencoba pakaian diruang terpisah antara pria dan wanita.


Setelah Evan selesai mencoba Tuxedo miliknya, ia bergegas menemui Sean.


Didapatinya Sean telah terbalut cantik dengan Gaun indah yang menjuntai ke lantai. Wajahnya polos tanpa make up. Tapi pesonanya terpancar begitu kuat dipandangan Evan.


Evan menghampiri dan memeluk Sean dari belakang. Membisikkan gombalan-gombalan maut yang bisa membuat Sean tersipu malu.

__ADS_1


"Wah... Serasi sekali Kak. Cowoknya tampan, ceweknya manis. Duh cocok banget deh" Kata Sang MUA memuji keduanya dengan tulus.


"Benarkah begitu Kak?" Tanya Sean


"Iya beneran deh. Kalian itu terlihat awet muda, tapi wajah kalian penuh dengan keteduhan" Jawab Sang MUA lagi.


"Kami bukannya awet muda. Tapi benar-benar masih muda!" Batin Sean dalam hati.


Namun Sean memilih diam dan menebar senyumnya daripada menjelaskan panjang lebar.


Semua anggota keluarga pun menghampiri Sean dan Evan. Evan melepas pelukannya dan sedikit mundur untuk memberi jarak dengan Sean. Evan paham kalau sampai ayahnya tahu, maka ia akan dibully habis-habisan oleh ayahnya itu.


"Ya Tuhan, kamu cocok sekali dengan gaun itu Sean!" Bu Nita antusias


"Terima kasih Bu" ucap Sean.


"Kamu terlihat dewasa menggunakan gaun itu Nak. Ibu jadi sedih akan segera melepasmu" ungkap Ibu Sean


"Bu, Sean nggak pergi. Sean akan selalu ada buat ibu. Bukankah Ibu bahagia mendapat anak lelaki satu lagi?" Sean menenangkan ibunya sambil melirik Evan yang tersenyum menampakkan ketampanannya.


Sean menggenggam tangan ibunya. Mata Bu Mira berkaca-kaca, namun kali ini disertai senyuman bahagia untuk anaknya.


"Kita akan menjaga mereka bersama-sama Bu." Bu Nita mengembangkan senyumnya.


Kemudian Bu Mira mengangguk dan tersenyum pada calon besan nya itu.


"Bagaimana Pak, Bu, Adik-Adik. Apakah sudah cocok dengan pakaian masing-masing?" Tanya Sang MUA.


"Sudah, kami sudah mendiskusikannya. Kami yakin dengan yang ini" Pak Barata menjawab sambil menunjuk pakaian yang dikenakannya.


"Baiklah, silakan mengganti pakaian, kami akan menyimpannya untuk anda semua" Ucap Sang MUA menjelaskan.


"Ya, baiklah" mereka serentak meninggalkan ruang ganti Sean dan berhambur ke ruangan masing-masing untuk mengganti pakaiannya.


"Kak, kok nggak ikut keluar?" Tanya Sang MUA pada Evan.


"Untuk apa? Aku mau melepasnya disini saja" ucap Evan


"Hus! Pergi sana. Nggak tau malu ih" Sean mencubit perut Evan.

__ADS_1


"Aduh.. Iya.. Iya.. Ampun." Evan pun meringis kesakitan dan bergegas keluar ruangan.


Setelah semua selesai mengganti pakaian. Mereka berkumpul di ruang depan. Menentukan kegiatan selanjutnya yang akan dilakukan. Tapi ternyata


Bu Nita sudah lelah waktu itu. Jadi semuanya memutuskan untuk pulang kerumah masing-masing.


"Yah, Ayah pergi dulu aja. Evan masih mau mengajak Sean pergi ke sebuah tempat. Boleh kah Om?" Ucap Evan bertanya pada Ayah Sean. Dan meminta Orang tuanya pulang lebih dahulu.


"Loh, tapi kamu mau naik apa?" Tanya Ayahnya.


"Sudah tenang aja. Evan sama Sean bisa memesan taksi" jawab Evan.


Sean mengangguk setuju dengan kekasihnya itu.


Kemudian mereka semua berhambur ke tujuannya masing-masing.


"Kita mau kemana Sayang?" Tanya Sean.


"Ke toko perhiasan" jawab Evan jujur.


"Oke" jawab sean singkat.


Tak lama kemudian datang sebuah taksi menghampiri mereka. Dan merekapun melaju menuju sebuah toko perhiasan rekomendasi dari Bu Nita.


Disana Evan tak banyak bicara, ia hanya menyuruh Sean memilih seperangkat perhiasan yang diinginkannya. Namun Sean menolaknya.


"Sayang, aku tidak memerlukan ini semua. Jangan habiskan uangmu untuk hal yang tidak perlu seperti ini" ucap Sean.


"Sayang jangan menolak. Cepat tentukan pilihanmu." Evan memaksa.


Sean hanya diam, karena ia tak ingin berdebat ditempat umum. Kemudian Sean mulai memilih perhiasannya, dan meminta Evan untuk membawanya pulang.


"Sayang, abis ini kita pulang ya. Aku lelah sekali seharian berkeliling. Besok kan aku harus kerja" rengek Sean tak ingin kekasihnya mengeluarkan lebih banyak uang lagi.


"Iya baiklah, setelah ini istirahatlah." Jawab Evan singkat.


Setelah membeli perhiasan, mereka pun memutuskan untuk kembali pulang. Mula-mula mereka pergi kerumah Evan untuk mengambil mobil, kemudian mengantar Sean kembali kerumahnya.


Ya, begitulah. Sangat tidak efisien, tapi mau bagaimana lagi pikir Sean.

__ADS_1


__ADS_2