Akankah Kembali

Akankah Kembali
Pelajaran 1


__ADS_3

Keesokan harinya, Sean bangun pagi seperti biasa dengan aktifitas biasanya yang ia lakukan sebelum menikah dirumahnya dulu.


Ia bangun mencuci mukanya, dan langsung bergegas ke dapur untuk membuat sarapan. Setelah sarapan usai ia akan bersiap untuk berangkat kerja.


Dilihatnya Evan masih terlelap dalam tidur.


Perlahan Sean mendekat dan mencium bibir suaminya itu dengan lembut, berharap Evan tidak mengetahuinya.


*cup...


"Selamat pagi sayang. Aku mencintaimu*" bisik Sean dengan suara super pelan dan penuh kelembutan.


Kemudian Sean bergegas menuju kamar mandi dan turun ke lantai bawah untuk memasak.


Ternyata di sana masih sepi, lampu pun masih padam. Pertanda ibu mertuanya belum bangun.


Sean segera memasak air untuk membuat minuman hangat untuk dirinya sendiri, sebab minumannya akan dingin jika menunggu anggota keluarga bangun tidur satu persatu.


Setelah membuat minuman hangat, ia membuka sebuah kulkas untuk mencari sayuran, ikan atau apapun untuk dimasak.


"Bu, maafkan aku sudah lancang membuka lemari es ini tanpa izin. Tapi Sean harus menyiapkan makanan untuk kita semua, khususnya suamiku tercinta" Gumam Sean.


Sean mulai memotong sayur-sayuran dan menggoreng ikan sebagai lauknya.


Tak lama kemudian ditengah asiknya aktifitas itu, Sean dikejutkan dengan suara wanita yang tak lain adalah ibu mertuanya.


"Selamat pagi Sean. Kamu rajin sekali, ibu saja baru bangun" Ucap Bu Mira


"Pagi Bu. Sean udah biasa bangun pagi Bu. Karena Sean harus membantu ibu Sean untuk menyiapkan sarapan." Balas Sean dengan ramah.


"Wah, sudah setengah perjalanan ya masaknya. Ibu harus bantu apa ini?" Tanya Bu Mira


"Tidak Bu, Ibu duduk saja. Sebentar lagi Sean akan membuatkan teh hangat untuk Ibu." Jawab Sean.


"Oke baiklah." Bu Mira menarik sebuah kursi dan duduk.


"Bu, hari ini Sean sudah mulai masuk kerja. Jadi Sean nggak bisa nemenin Ibu dirumah" Kata Sean sembari membuat teh hangat untuk mertuanya itu.


"Oh sudah habis ya cuti menikahnya?" Tanya Bu Mira


"Iya Bu. Nanti Sean masuk pagi. Akan pulang sekitar pukul lima sore" Ucap Sean.


"Baiklah. Mulai sekarang biar Evan yang antar jemput kamu ya!" pinta ibu mertuanya.


"Iya Bu. Ini tehnya silakan diminum." Sean menyodorkan segelas teh hangat.

__ADS_1


Pukul 06.00, Tak lama kemudian setelah Sean selesai memasak, Ayah dan Adik Evan pun mulai berdatangan ke meja makan. Sean pun kembali bergulat dengan kompor untuk membuat minuman hangat untuk anggota keluarga lainnya.


"Sean ke kamar dulu, Sean harus siap-siap berangkat kerja, Bu." Ucap Sean.


Ibu dan Ayah mertuanya pun mengangguk ramah.


Dikamar terlihat Evan masih nyenyak dengan tidurnya. Sean bergegas mandi dan bersiap-siap. Setelah itu ia langsung membangunkan Evan dan memintanya untuk mengantar berangkat kerja.


"Sayang bangun yuk. Anterin aku berangkat kerja" Suara Sean lembut.


"hoaaammmm.... Baiklah Sayang. Cium aku dulu!" Ucap Evan yang masih tampak tampan walau sedang bangun tidur.


"Oke.. Oke. Setelah itu langsung bangun ya! Kerjaanku banyak banget nih pastinya." Jawab Sean.


Sean pun mencium kening Evan secepat kilat.


Namun sayangnya, Sean tertahan oleh Evan. Evan menarik tubuhnya dan mulai mencium bibir Sean. Tangannya mulai meremas-remas bagian tubuh atas Sean. Dan Sean pun terperanjat.


"Cukup Sayang! Aku menunggumu di meja makan" Sean menjauh dan bergegas turun menuju ruang makan.


Wajah melas Evan pun kali ini tak dihiraukan oleh Sean.


Selang beberapa waktu, Evan datang dengan wajah tampan seperti biasanya. Lalu ia duduk bergabung dan mereka semua mulai sarapan dengan lahap.


Sedangkan Pak Barata pun menunjukkan apresiasi yang baik terhadap masakan Sean.


Membuat Sean tersipu malu dan sangat tersanjung karena semua anggota keluarga menyukai masakan sederhananya.


Setelah sarapan selesai, mereka semua berhambur dengan tujuan masing-masing.


Evan sudah bersiap dengan beberapa map coklat ditangannya. Ya, setelah mengantar Sean bekerja, ia akan mendatangi beberapa perusahaan untuk menaruh lamaran pekerjaan.


"Doakan aku ya Sayang." Pinta Evan


"Selalu Sayang. Semangat!" Ucap Sean sambil mengangkat lengannya bak binaragawan.


"Oke, Selamat berkerja sayang" sebuah kecupan mendarat di ujung kening Sean.


Banyak mata tertuju pada ketampanan Evan dan juga baper dengan sebuah kecupan untuk Sean barusan.


Sean melambaikan tangan pada Evan dan bergegas memasuki pintu karyawan.


****


Dalam area penjualan, banyak teman-teman Sean yang menggodanya karena statunya sebagai pengantin baru.

__ADS_1


"Gila lu Sean! Jadi juga nikah sama cowo ganteng itu. Duh... Iri banget gue." Celetuk salah seorang temannya.


"Gimana-gimana malam pertamanya? Lancar gak?" Goda lainnya


"Ihhh... Apaan sih" jawab Sean singkat.


"Ceritain dong. Enak gak? Katanya sih sakit ya!" teman-temannya mulai bersahutan


"Sssttt.... Diam kalian! Aku belum melakukannya" Jawab Sean gamblang.


"Haaaa! suer lu? Padahal enak banget tau!" celetuk salah satu temannya yang sudah menikah.


"Ah, apa iya? sudah sana bubar! Kerjaanku lagi banyak nih." Sean mengusir teman-temannya.


Teman-temannya pun pergi dengan kekecewaan pada Sean yang tak mau bercerita.


Tapi mau bagaimana lagi. Memang Sean belum punya cerita untuk itu. hehehe


Sean pun mulai menyelesaikan pekerjaan yang terbengkalai beberapa hari ini.


Setelahnya, ia menghampiri Rediska. Ya seorang teman yang sudah menikah dan ikut-ikutan kepo dengan malam pertamanya barusan.


"Re." Sapa Sean


"Yups! Lu mau cerita tentang malam pertama ya?" Goda Rediska.


"Ah, Apaan sih. Kan aku udah bilang belum melakukannya." Jawab Sean


"Iihhh beneran jadinya. Tau nggak MP itu enak banget. Emang sakit tapi nikmat banget cuy" Ucap Rediska semangat.


"Terus?" Sean mulai mengorek informasi seperti apa yang ia harapkan.


Namun siapa sangka, tanpa banyak bertanya Rediska menceritakan pengalaman tersebut tanpa basa-basi. Membuat Sean harus menelan ludah berkali-kali.


Ya, Rediska memang tipe gadis yang sangat ceria. Ia tak peduli pandangan orang terhadapnya. Apa yang ia sukai akan dilakukan tanpa peduli penilaian orang lain.


"Jadi, lo kalo mau tau dengan jelas, tonton tuh film-film dewasa. Ntar gue kirimin ke hp lo deh! Udah sono pergi!" Ucap Rediska mengakhiri celotehnya.


Sean pun kembali ke tempat nya dan mengingat-ingat penjelasan mengenai aktifitas suami istri itu.


Ia berharap jika waktunya tiba, ia tidak akan mengecewakan Evan. Sebab sebenarnya Sean sangat kasihan pada suaminya itu.


Setelah penjelasan dari Rediska, Sean mulai paham bahwa sebenarnya tidak ada laki-laki yang kuat menahan naluri seksualnya berlama-lama, apalagi setelah punya istri.


Hal ini membuat Sean sangat takjub dengan kesabaran Evan selama ini. Membuatnya tiba-tiba merindukan sosok Evan dalam hatinya.

__ADS_1


__ADS_2