
Suatu saat ketika sedang asik jalan-jalan di hari sabtu malam, ponsel Evan berdenting tanda notifikasi pesan masuk.
Ting..
📩 "Selamat malam sayang"
Evan hanya bergeming melihat sekilas tampilan layar depan.
Sean penasaran dan bertanya pada Evan, namun Evan hanya menjawab datar seperti bukan hal yang penting.
"Oke baiklah mungkin memang tidak penting. Tapi mengapa perasaanku sedikit berbeda? Apa aku saja yang terlalu penasaran dengan hal-hal kecil mengenai kekasihku. Haha konyol sekali". Sean membatin.
Tiba-tiba tak berselang lama ponsel Evan berdenting lagi.
Ting..
📩"Sayang, balas donk. Kangen nih".
Lagi-lagi Evan bergeming.
Tak lama kemudian seperti ada bom pesan yang membuat notifikasi bertumpuk-tumpuk sehingga membuat tidak nyaman ditelinga. Sean pun memberanikan diri untuk menyuruh Evan membuka pesan itu.
" Evan, coba buka pesan itu. Siapa tau itu penting ".
" Tidak, aku akan mematikan saja ponsel ini ".
"Jangan begitu, orang yang mengirimimu pesan akan sangat khawatir kalau kamu tak membalasnya sekali saja ".
" Sudahlah, ayo kita cari tempat untuk makan malam. aku sudah lapar ".
" Baiklah ". Sean mengakhiri pembicaraan.
Sambil berjalan menuju restoran, dalam hati Sean masih bertanya-tanya mengapa Evan tidak merespon sama sekali pesan itu.
Tibalah di sebuah restoran sederhana yang tentunya cukup di kantong siswa. Mereka memesan makanan dengan minuman secukupnya. Memang begini kisah mereka, secukupnya saja berbicara. Tapi tidak mengurangi rasa sayang dan nyaman dalam hati mereka.
Dalam hening mereka melahap makanan yang baru datang. Tanpa banyak kata mereka menghabiskan makanan lalu bergegas untuk pulang. Tentu saja Evan mengantar Sean, hanya saja mereka tidak berboncengan. Melainkan mengendarai motor masing-masing. Dan itupun tidak persis didepan rumah. Karena hubungan mereka masih seumur jagung, belum siap dengan gosip-gosip sekitar dan juga belum siap bertemu dengan orangtua Sean.
Sedikit rasa berbeda di malam ini. Pesan yang bertubi-tubi itu, dan juga sikap Evan yang terkesan sedang menyembunyikan sesuatu, tak luput juga sebuah perasaan yang tak biasa dalam hatinya.
Banyak pertanyaan dalam hati Sean. Namun tak punya nyali untuk bertanya langsung dengan Evan. Rasa curiga dan tak enak hati ini hanya sebuah perasaan kecil. Rasa sayang dan percaya pada kekasihnya itu jelas lebih besar.
****
__ADS_1
Di dalam kamarnya, Evan merebahkan tubuhnya di kasur, membuka Ponselnya dan mulai membuka pesan yang sedari tadi hanya dia lihat sekilas di notifikasi layar depannya.
Eria, Sebuah nama dalam kontak telfonnya.
Dengan wajah datar dan emosi stabil, Evan membalas pesan itu.
📨 " kau jangan menghubungiku lagi. Kita sudah tidak ada hubungan lagi. Aku harap kau mengerti ".
Dengan cepat pesan Evan dibalas Eria,
📩 " Jangan begitu Sayang. Aku tahu kau masih mencintaiku, dan aku juga tahu kalau kau punya kekasih baru. Tidak akan aku membiarkanmu bersamanya ".
📨 " Jangan ikut campur urusanku. Kita sudah selesai. Aku tidak pernah merugikanmu, dan jangan merugikanku. Atau aku akan membuatmu malu ".
📩 " Baiklah sayang. Sampai jumpa aku akan menemuimu besok lusa sepulang sekolah ".
Tanpa basa-basi Evan tak membalas pesan Eria. Menunjukkan ketidaksukaannya pada Eria. Tapi entah Eria tahu maksud tersebut atau malah tidak menggubrisnya.
****
Waktu menunjukkan pukul 21.30 Sean mulai terlelap, karena dia terbiasa tidur tidak terlalu malam.
Sean meletakkan ponselnya di dekat bantal, tanpa mematikannya. Sejak Evan jadi kekasihnya, ia tak pernah mematikan ponsel. Entah mengapa rasanya selalu ingin mendapat pesan dari pujaan hatinya itu, walau sekedar sapaan "hai, sedang apa?".
Senyum merekah di bibir manisnya,
📩 "Hai, sedang apa?" sapa Evan
📨 "Hai. Aku sedang menunggu pesanmu 😊 ".
📩 "Kenapa kamu menunggu. Bukankah kamu bisa mengirimiku pesan lebih dulu?".
📨 " Aku takut kamu sedang sibuk. Maaf, karena aku pikir kamu sedang membalas seseorang yang mengirimimu pesan bertubi-tubi itu "
📩 " Oh itu, Sudah lupakan saja. Kamu besok lusa pulang sekolah jam berapa? Aku sedang tidak ada pelajaran. Itu adalah minggu classmeeting ".
📨 " Mungkin jam 13.00, karena aku tidak ada acara sepulang sekolah.
Oh ya, sambil nunggu hasil ujian ya. Tak terasa kamu akan selesai SMA ya".
📩 " Ya, aku akan menunggumu lulus sekolah juga ".
"Se Serius itukah kau mencintaiku Evan. Aku bahagia sekaliii..." dalam hati Sean bergembira
__ADS_1
📨 " Baiklah Evan akan ku tagih janjimu ".
📩 " oke, sudah malam. Istirahatlah, sampai jumpa besok ".
📨 " Baiklah. Selamat tidur. Aku menyayangimu ".
📩 " Aku juga menyayangimu " Evan menutup obrolan dalam pesan itu.
***
Hari seninpun tiba. Sean berangkat sekolah diantar ayahnya.
Disekolah Sean melakukan aktifitas belajar seperti biasanya, hanya saja semangatnya bertambah lebih besar semenjak janji Evan untuk menunggunya lulus dari SMA. Walau dia tahu masih ada waktu satu tahun lagi untuk sampai waktunya dia lulus sekolah.
Waktu menunjukkan pukul 13.00, sudah waktunya Sean pulang sekolah.
Sean berjalan menuju gerbang sekolah bersama sahabatnya, yaitu Regina.
Tepat didepan gerbang sekolah, ransel Sean ditarik sangat keras oleh seorang gadis dari lain sekolah yang masih berseragam. Dia benar-benar tak mengenal gadis itu.
" Aduh, kenapa kamu menarik tasku? " Sean berteriak karena terkejut.
" Hai gadis bodoh. Apa kamu terlalu bodoh untuk mengetahui bahwa kekasihmu itu adalah milik orang lain ha? " Bentak Gadis itu
" Apa maksudmu dengan kekasihku? "
" Ya! Aku Eria, Evan itu kekasihku. Bahkan kami saling mencintai. Gadis apa kau sehingga mau merebut kekasih orang! " Teriak Eria sambil menyodorkan foto dalam ponsel pintarnya. Ya, itu Foto lama Eria dan Evan ketika masih berpacaran.
"Apa? Tidak mungkin. Dia berjanji menungguku sampai aku lulus sekolah. Bukankah itu suatu keseriusan?". Suara Sean lirih dengan perasaan campur aduk.
"Jangan coba-coba mendekati Evan lagi. Jika kau tak ingin menanggung malu setiap hari!" Eria mulai mengancam, dan pergi meninggalkan Sean yang tertunduk malu.
Benar saja, didepan gerbang banyak sekali mata yang sedang menyaksikan adegan memalukan itu. Bahkan tatapan mereka heran dan gemas melihat Sean, yang seakan benar-benar merebut seorang lelaki dari kekasihnya.
"Ayo, jangan berdiam disini" Ajak Regina menghindari keramaian
Sean pun menurut dan mereka meninggalkan tempat itu. Beralih ke sebuah warung kecil untuk menenangkan hati Sean.
"Ada apa sebenarnya Sean? Bahkan kamu tak pernah cerita tentang laki-laki yang dimaksud gadis tadi?". Tanya Regina menyelidik.
"Laki-laki itu adalah Evan. Sebenarnya aku baru saja memulai hubungan ini. Sebelumnya, dia benar-benar mengaku jika dia tak ada hubungan dengan gadis manapun. Makanya aku menerima dia jadi kekasihku". Sean menjelaskan
"Lalu gadis tadi?" tanya Regina
__ADS_1