Akankah Kembali

Akankah Kembali
Penguntit


__ADS_3

Kampus 07.30


Sean keluar dari mobil dengan pakaian andalan bernuansa hitam putih.


Kemeja putih tulang berbahan tipis namun tidak tembus pandang, dipadu rok hitam bergelombang menambah kesan chick di penampilannya hari ini.


"Selamat pagi." Ucap Seorang lelaki dari belakang mobilnya.


"Pagi. Apa yang kamu lakukan disini? Bukankah kampusmu di sebelah sana?" Ucap Sean sambil menunjuk gedung tinggi di seberang kampusnya.


"Kebetulan saja lewat." Ucap lelaki yang ternyata adalah Dhareen.


"Maaf aku harus segera ke kelas." Tanpa permisi Sean berjalan meninggalkan Dhareen.


Tanpa menjawab, Dhareen mengikuti langkah Sean dari belakang, hingga Sean sampai di kelasnya.


"Dasar lelaki aneh." Gumam Sean.


Buk!


Sean duduk di bangkunya dengan perasaan sebal.


"Hei, kamu kenapa?" Tanya Sinta.


"Nggakpapa, Sin." Jawab Sean.


"Jangan main rahasia-rahasiaan deh." Ucap Sinta.


"Beneran nggakpapa.." Sean berkilah.


"Cowok ganteng tadi siapa sih? Bukan suami kamu kan?" Selidik Sinta.


"Oh, jadi kamu tau. Dia Dhareen, anak pasca. Aku nggak tau kenapa dia selalu mengikutiku. Kenal juga barusan karena dia pinjem mobilku." Terang Sean.


"Wah hati-hati deh. Misterius banget deh. Jangan-jangan ada yang diincar di mobil kamu?" Sinta menerka-nerka.


"Iya juga, ya. Aku nggak kepikiran. Cuma risih aja tiap ada kuliah dia selalu ada di parkiran." Ucap Sean sebal.


Duk.. Duk.. Duk..


Tiba-tiba suara sepatu pantofel Pak Dosen memasuki ruangan, dan mereka mengahkiri pembicaraan.


Mereka pun kemudian mengikuti mata pelajaran dengan baik.


Sean melakukan aktifitasnya masih seperti biasanya. Setelah menyelesaikan kuliah ia akan menjemput Renatta dan langsung pulang untuk menyiapkan makan malam.


Sean selalu berusaha tidur lebih awal agar tidak bangun kesiangan seperti yang pernah ia alami sebelumnya.


****


Keesokan harinya ketika ia sampai di kampus dan keluar dari mobil.


Suara lelaki yang menyambutnya terdengar tidak asing lagi. Ya, itu adalah Dhareen. Ia selalu menyambut Sean di setiap pagi ketika Sean ada jadwal kuliah.


Seperti biasa, Dhareen selalu menguntit Sean dari belakang hingga Sean memasuki ruang kelas.


Sean sangat terganggu dengan sikap Dhareen, namun ia tak berani menceritakannya pada Evan. Karena semua ini masih dalam batas wajar menurut Sean, meskipun sedikit mencurigakan.


Sean tak punya bukti bahwa Dhareen adalah lelaki jahat. Jadi ia memutuskan untuk diam dan mengikuti alur yang diinginkan Dhareen.

__ADS_1


Sean adalah pribadi yang mandiri dan juga cerdas. Maka sebenarnya ia telah memiliki ancang-ancang jika Dhareen mencelakainya sewaktu-waktu.


Hingga suatu saat, Sean sudah tidak tahan lagi dengan sambutan Dhareen.


"Dhareen, please! Apa yang kamu mau sampai mengikutiku setiap pagi?" Tanya Sean menyempatkan berdebat.


"Tidak ada." Jawabnya singkat.


"Tapi kamu mencurigakan!" Sean sedikit emosi.


"Aku tidak pernah mencelakaimu." Ucap Dhareen.


"Ya Tuhan tolonglah. Jangan mengikutiku begini! Aku ini wanita bersuami." Ucap Sean putus asa.


"Tenanglah! Aku bukan orang jahat. Aku tau kamu sudah berkeluarga." Ucap Dhareen.


"Lalu kenapa?" Tanya Sean mengangkat kedua tangannya mencari penjelasan.


"Aku juga tidak tau." Jawab Dhareen.


"Hah! Tidak tau? Jawaban macam apa itu? Kamu menguntit istri orang Dhareen! Itu tidak benar. Sadarlah!" Celoteh Sean.


"Sssttt!!!! Sudah sana masuk ke kelasmu!" Perintah Dhareen sambil mengibaskan tangannya.


"Iya, aku akan masuk ke kelas. Percuma berbicara denganmu!" Sean menghentakkan kakinya lalu pergi meninggalkan Dhareen.


Kali ini Dhareen tidak mengikuti Sean seperti biasanya. Ia malah bersandar di sebuah mobil di jajaran mobil Sean.


"Maaf Sean, aku juga tidak tahu mengapa sikapku jadi begini! Sungguh memalukan!" Dhareen mengepalkan tangannya dan membuang tajam kebawah.


Kemudian ia berjalan menuju kampusnya di seberang parkir langganan Sean itu.


Sean merasa sangat risih dengan sikap Dhareen yang menurutnya tidak jelas.


Ia masih terbebani dengan emosi yang tidak stabil akibat Evan sering pulang malam dan jarang menyentuhnya. Belum lagi pekerjaan rumah dan tugas kuliah yang menumpuk.


Sebenarnya Sean sudah lelah hati dan tenaga menjalani semua ini.


Namun ia tak ingin mengecewakan banyak orang jika ia menyerah secepat ini.


***


Keesokan harinya, ketika Sean berada di parkiran. Ia sengaja tidak keluar dari mobil hanya untuk memastikan Dhareen tidak ada di dekat mobilnya. Sean tidak tahu lagi harus berbicara seperti apa pada Dhareen yang pembawaannya sangat dingin itu.


"Semoga dia tidak ada disini!" Ucap Sean sambil menengok ke belakang dan ke samping-samping mobil.


Setelah ia rasa cukup aman, kemudian ia keluar dari mobil pelan-pelan. Dan....


"Hai, Pagi Sean!"


"Huuuuuhhhhh dia lagi.... Dia lagi. Kayaknya tadi nggak ada deh!" Gerutu Sean sambil membuang nafas kasar.


Tanpa menjawab Sean berlalu meninggalkan Dhareen, dan Dhareen pun menguntit Sean seperti sebelumnya.


Sean sudah pasrah jika Dhareen akan menguntitnya seumur hidup di kampus itu. Asalkan ia tidak berlaku buruk, Sean akan membiarkannya seperti bodyguard bayaran yang selalu setia mengawal tuannya.


Hal tersebut berlangsung lama hingga berbulan-bulan lamanya. Dan Sean masih berpegang teguh pada komitmen nya.


****

__ADS_1


Suatu saat Sean kembali kesiangan. Sean keluar dari mobil sangat tergesa-gesa tanpa menghiraukan penampilannya. Karena pada hari itu Sean membawa banyak sekali buku-buku tebal dan juga sebuah laptop kesayangannya.


Buk!


Sean melempar daun pintu mobilnya dan berbalik arah.


"Pagi Sean!" Sambut Dhareen.


"Pagi!" Jawab Sean singkat.


"Tunggu dulu!" Dhareen mencegah.


"Apa lagi Dhareen. Aku kesiangan dan bawaanku sangat berat." Sean menghentikan langkahnya.


"Kancing bajumu terbuka." Ucap Dhareen.


"Hah! Apa! Kancing baju? Tunggu, bawa ini sebentar!" Sean terkejut kemudian melimpahkan buku-bukunya pada Dhareen.


Sekejap ia membetulkan kancing dan meraih buku-bukunya dari tangan Dhareen.


"Aku akan membawakannya untukmu." Dhareen memberi tawaran.


"Tidak! Aku bisa sendiri." Sean menyambar buku-buku nya dan berjalan meninggalkan Dhareen.


Dhareen pun mengikuti langkah Sean yang terburu-buru itu. Mereka berjalan beriringan persis seperti bos dan bodyguardnya.


"Kamu jangan jelalatan kalau sama wanita. Itu tidak sopan." Gerutu Sean pada Dhareen karena menahan malu.


"Kebetulan saja aku melihatnya. Aku tidak ingin kamu malu berkepanjangan dilihat banyak mahasiswa disini." Dhareen membela diri.


"Oke makasih." Ucap Sean ketus.


Dhareen hanya tersenyum melihat Sean yang baru saja mau bercakap-cakap dengannya setelah sekian lama mengenalnya.


Ketika jam istirahat tiba, Sean dan Sinta bersantai di kantin dengan beberapa menu di atas meja.


Sean merasa sangat lapar karena ia tidak sempat sarapan di pagi hari.


"Sean, Apa lelaki itu masih menguntitmu?" Tanya Sinta.


"Iya. Kenapa?" Tanya Sean balik.


"Bilang aja sama suami kamu." Sinta memberi saran.


"Ah jangan. Suamiku sibuk. Lagian Dhareen tidak berbahaya, menurutku." Sean mencoba memberi alasan.


"Aku sih khawatir denganmu." Ucap Sinta


"Iya aku tau. Kamu emang teman yang baik. Yuk lanjut makan!" Ucap Sean menepuk ringan bahu Sinta.


Sinta pun tak bisa berkata-kata. Sebab Sean tidak memberi respon yang cukup untuk bisa di beri masukan sekali lagi.


****



Hai guys, selanjutnya author lebih banyak menulis cerita tentang Sean di kampus yaa.....


Baca terus kisahnya

__ADS_1


Dan jangan lupa like and vote.


Selamat membacaaa...... 😍😍


__ADS_2