Akankah Kembali

Akankah Kembali
Kesetiaan


__ADS_3

Setelah membersihkan diri, Sean merebahkan tubuh di atas kasur sederhananya. Menatap langit-langit kamar dan membayangkan kembali apa yang sudah terjadi.


"Haaah... ini kencan pertama yang membuatku sangat bahagia. Sebelumnya hanya berjalan-jalan tanpa tawa. Baru kali ini aq melihat dia tertawa lepas.." Sean mengembangkan senyumnya.


Namun hati kecil Sean berkata lain,


"Ya Tuhan, tapi hari ini aku merasakan banyak sekali pengalaman baru. Aku tak tau ini fitrah sebagai remaja atau apa. Jagalah aku jika ini tak sesuai ketentuanMu. Maafkan aku" batin Sean dalam hati. tanpa disadari, setitik rasa bersalah dalam dirinya membuatnya tak enak hati.


Ting...


Pesan masuk membuyarkan lamunan Sean.


📩 "Sayang, kamu sedang apa?"


📨 "Aku akan istirahat. Sepertinya aku lelah sekali" Sean segera membalas pesan Evan. Tapi masih merasakan tak enak hati sebab ia terlalu dekat dengan laki-laki.


Ia takut kedepannya akan lebih dari ini. Ya... Bukan pikiran kotor, hanya sekedar pemikiran atau antisipasi yang sudah tau alur cerita kebanyakan di usia remaja.


📩 "Baiklah sayang. Istirahatlah dulu. Besok aku akan diajari secara privat mengenai usaha Ayahku. Jadi maafkan aku jika besok aku tak sempat menghubungimu. Selamat ber-akhir pekan sayang"


📨 "Iya sayang. Semangat ya. Selamat istirahat" Sean mengakhiri percakapan itu.

__ADS_1


****


Di kamar Evan. Ia juga sedang berbaring, bedanya dia tidak baper seperti Sean, hehe.


Evan merasa kesal sekali dengan Gavin yang nyata-nyata sudah mengerjai dirinya. Besok setelah belajar usaha bersama ayahnya, Evan berinisiatif untuk datang memukuli sahabatnya yang kurang ajar itu.


"Dasar sialan lu Vin. Bikin malu banget! Liat aja besok gue tampol pala lu!" Evan membatin dan mengepalkan tangannya tanda emosi.


Kemudian Evan tersenyum lucu mengingat kegagalannya mencium Sean. Lelaki mana yang tahan jika sedang berduaan dengan seorang gadis. Pasti akan banyak setan yang mempengaruhi naluri lelakinya. Benar saja, sejauh ini para mantan Evan selalu berusaha mendapatkan ciuman terlebih dahulu. Sepertinya mereka sering melakukannya dengan pasangan mereka sebelumnya. Jadi ketika bersama Evan, mereka menuntut sesuatu yang sama dengan kekasih sebelumnya. Tapi apalah daya namanya juga kucing, pastinya mau-mau saja di beri ikan asin secara percuma tanpa usaha.


(Tapi kali ini berbeda, Evan lah yang harus berusaha. Sayangnya, tak semudah itu Fergusoo. Rintanganmu akan semakin sulit. Terlebih lagi ketika kamu sudah mulai di gembleng dengan berbagai macam kesibukan di tempat usaha ayahmu)😁


****


Mereka masih sibuk dengan tujuan masing-masing, tapi tetap menjaga hubungan agar selalu baik-baik saja.


Evan sibuk dengan bisnis ayahnya, tekadnya sangat kuat. Dia mempelajari segala bidang, dari proses pemilihan bahan, produksi, hingga pemasaran. Tapi ia lebih fokus pada pemasaran, mengenal banyak orang sangat menguntungkan bagi Evan. Sebab, akan mempermudah setiap gerakan usaha yang akan dia lakukan.


Melihat kesungguhan Evan, dukungan penuh selalu diberikan oleh keluarga sebagai energi positif untuknya.


Tak terkecuali, Sean mendukungnya sepenuh hati agar kekasihnya bisa sukses dan mapan. Sean merasa tidak berhak membatasi keinginan Evan, baik itu mau melanjutkan pendidikan atau bahkan bekerja diusia muda. Dia pikir hanya dengan dukungan akan mempermudah segala kerja keras Evan.

__ADS_1


Setiap kali Evan menemui persoalan rumit mengenai pekerjaannya, Evan tak ragu untuk bertukar pikiran dengan Sean. Karena jika Evan bertukar pikiran dengan ayahnya, pasti semua masalah akan dengan mudah di handle oleh ayahnya. Tanpa memberi kesempatan pada Evan untuk memperbaiki keadaan.


Ide-ide baru yang belum pernah mereka pikirkan, tiba-tiba mereka temui. Tanpa sadar membuat pikiran mereka sama-sama semakin matang dan dewasa menyikapi masalah yang ada.


Sean sendiri masih bergelut dengan pelajaran sekolah setiap harinya. Dia sangat antusias untuk menyelesaikan pendidikannya di SMA. Bayangan bangku perkuliahan membuatnya ingin sekali lulus secepatnya.


Semua sudah dipikir matang-matang oleh Sean.


Selain itu, janji Evan untuk menunggunya lulus sekolah juga salah satu semangat tersendiri untuk Sean. Entah apa yang akan Evan rencanakan setelah kelulusannya. Hanya saja rasanya sangat senang ketika Evan mengatakan janji itu.


Kesetiaan keduanya membuat hubungan mereka sangat nyaman.


Oh ya, bagaimana dengan ciumannya?


Hahaha Evan selalu berusaha mencurinya. Tapi Sean bersikukuh menjaga bibirnya tidak tersentuh siapapun. Dia sangat takut jika ciuman itu akan merambat pada hal yang lebih dalam. Percobaan pertama di bukit bintang membuatnya kapok dan merasa bersalah pada dirinya sendiri. Karena cita-citanya setelah lulus adalah masuk universitas pilihannya.


Hanya saja Sean memberi kesempatan pada Evan untuk mencium kening dan pipinya.


Apakah mungkin?


Mungkin saja, semua tidak ada yang tidak mungkin bukan... hehe

__ADS_1


__ADS_2