
Suatu malam Ayah Sean sedang duduk di ruang tamu sambil membaca koran. Sean dan ibunya membereskan meja makan setelah makan malam.
Suara ketukan pintu terdengar sangat nyaring, membuat Ayah Sean terperanjat, beliau berdiri dan segera membuka pintu rumahnya.
Begitu terkejutnya Ayah Sean ketika melihat sosok lelaki muda ditemani dua orang paruh baya berdiri di depan pintunya.
"Nak, ada apa ini?" Ayah Sean bertanya-tanya
Benar saja mereka adalah Evan dan kedua orang tuanya.
"Saya bersama kedua orang tua saya Om" Evan memperkenalkan
"Eh iya.. Iya. Ayo silakan masuk. Pak, Bu silakan" Ayah Sean mempersilakan mereka bertiga duduk di ruang tamu.
"Ada apa ini Nak. Kenapa kamu mengajak kedua orang tuamu kemari tanpa memberi kabar dulu? Atau Sean tidak mengatakannya pada kami?" Ayah Sean masih bertanya-tanya.
"Begini Om, Saya tidak memberi tahu Sean akan hal ini" Evan menunduk
"Mohon maaf Pak, Saya Pak Barata. Ayah Evan. Ini istri saya, Bu Nita. Kami ada sedikit keperluan dengan Anda dan Sean. Mohon maaf jika mendadak" Jelas Ayah Evan.
"Tidak mengapa Pak. Saya Pak Rianto, Ayah Sean. Sebentar saya panggilkan Sean dulu" Pak Rianto pergi ke dapur memanggil Sean dan istrinya.
Di dapur Pak Rianto menanyakan berbagai pertanyaan pada Sean
"Sean, apa maksudnya ini? Evan datang bersama kedua orang tuanya. Mereka sedang duduk di ruang tamu. Apa kamu membuat kesalahan? Atau, apa yang sebenarnya terjadi diantara kalian?" Ayah Sean menyelidik
"Apa? Evan? Orang tua? Sean nggak tau Yah, Sean nggak punya salah sama mereka. Beneran Sean gak nyembunyiin apa-apa." Jelas Sean
"Baiklah, ayo kita keluar! Bu, tolong siapkan minuman dan makanan ringan untuk tamu kita itu" Suruh Pak Rianto pada Istrinya
Sean dan Ayahnya segera keluar dari dapur menuju ruang tamu. Dengan pakaian apa adanya namun sopan Sean sedikit ragu untuk menemui mereka semua. Hatinya sangat berdebar, ingin tahu maksud mereka datang malam-malam. Ia tak sabar juga memandang kekasihnya yang sudah berhari-hari ia rindukan.
Dengan wajah tertunduk, Sean mengikuti langkah ayahnya. Setibanya di ruang tamu, Sean bersalaman pada Pak Barata dan Bu Nita.
"Selamat malam" Sapa Sean singkat.
Karena baru pertama kalinya Sean bertatap muka dengan orang tua Evan. Sebelumnya ia hanya tahu dari potret keluarga yang diperlihatkan Evan padanya beberapa waktu lalu sebelum Evan menghilang.
"Selamat Malam Sean, Evan sudah banyak bercerita tentangmu dan hubungan kalian" Pak Barata mengembangkan senyumnya.
Sean tersenyum dan tertunduk malu.
"Jadi, bisakah saya tahu tujuan Bapak kemari?" Tanya Ayah Sean tak sabar.
"Begini pak, kami mendengar bahwa Sean dan Evan ini sudah menjalin hubungan selama hampir tiga tahun" Ayah Evan memberi jeda ucapannya.
"Benarkah Sean? Ayah tidak tahu perihal ini." Ayah Sean terkejut
__ADS_1
"Maaf Ayah, Sean tidak pernah cerita" Sean masih menyembunyikan wajahnya.
"Lantas?" Tanya Ayah Sean pada Pak Barata
"Kami tidak ingin terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, maka tujuan kami kemari adalah ingin melamar puteri anda." Pak Barata menjelaskan maksudnya.
Sean dan Ayahnya sangat terkejut dengan pernyataan Ayah Evan. Benar-benar diluar pikiran.
Tiba-tiba Ibu Sean datang dengan nampan penuh minuman dan makanan ringan, beliau menaruh satu persatu tanpa terkecuali, kemudian duduk bersebelahan dengan Sean.
"Silakan Pak, Bu diminum dulu, Evan ayo diminum juga teh nya" Bu Mira mempersilakan.
Setelah mereka meminum tehnya. Ayah Sean melanjutkan
"Bu, Perkenalkan ini Pak Barata dan Bu Mira orang tua Evan. Beliau kemari untuk melamar Sean" Pak Rianto berbicara masih dengan ekspresi tidak percaya nya.
Kedua orang tua Evan tersenyum dan menganggukkan kepala.
"Oh begitu, salam kenal Pak, Bu. Saya Mira Ibunya Sean" Bu Mira menahan terkejutnya dengan sedikit bicara.
"Bagaimana Pak, Bu. Apakah lamaran kami diterima?" Tanya Ayah Evan.
"Sebenarnya kami tidak berhak memutuskannya. Hanya saja, usia keduanya masih sangat muda Pak." Jawab Pak Rianto
"Usia boleh saja muda, Pak. Tapi menurut kami mereka berdua sangat dewasa menghadapi permasalahan bersama. Setiap Evan menemui masalah dalam pekerjaan, Sean selalu membantunya sampai benar-benar selesai. Saya sangat berterimakasih padamu Sean." Ucap Ayah Evan.
"Apakah tidak cukup jika selama tiga tahun ini anak anda bertahan menjaga dirinya dari Seekor Singa yang kelaparan?" Sindir Pak Barata dengan melirikkan matanya pada Evan.
Sean tersentak dan hampir saja tersedak saliva nya dengan perkataan Pak Barata. Namun Sean menahannya, berusaha tidak menonjol dalam pertemuan itu. Kemudian ia menenggelamkan wajahnya lagi.
"Maaf Om, Niat saya sudah bulat untuk menikahi Sean. Usia bukanlah halangan untuk saya meminang Sean. Saya akan berjanji dengan jiwa dan raga untuk menjaganya. Ijinkan saya menikahi Sean" Evan berbicara dengan tegas dan padat.
Sean kembali tersentak, kali ini tak bisa menahan tersedaknya.
"Uhuk!" Sean terbatuk
"Ayo minum dulu!" Ibunya menyodorkan segelas teh untuknya.
Semua masih terdiam menunggu Sean menyelesaikan minumnya.
"Ya Tuhan, apa-apaan dia ini? Aku sangat malu." Sean membatin dalam hati.
Setelah Sean menaruh gelasnya, tak berapa lama Ayah Evan bertanya,
"Bagaimana, Pak?"
"Baiklah kalau begitu. Saya sudah kehabisan alasan untuk menjawab semua ini. Biarkan Sean yang memutuskan, Pak." Ucap Ayah Sean.
__ADS_1
Ayah dan Ibu Evan tersenyum dan saling melempar lirikan mata.
"Bagaimana Sean, apa kamu menerima lamaran Evan dan keluarganya?" Tanya Pak Rianto.
Sean masih terkejut dengan semua ini. Ia memejamkan mata dan membuat dirinya tenang. Satu persatu orang-orang disekitarnya dipandang dengan seksama. Seakan bertanya-tanya jawaban apa yang harus ia lontarkan. Karena hal seperti ini belum pernah terpikir di benaknya sama sekali.
Kemudian ia memandang wajah Evan. Evan terlihat sangat yakin dengan perkataannya. Kesungguhan itu terpancar dalam matanya.
"Mata itu.... Mata yang aku rindukan!" gumam sean dalam hati.
Evan pun memandang Sean. Mata yang seakan-akan berharap untuk sebuah kata, ya!
Jantung Sean mulai tak karuan, Nafasnya tidak stabil.
Tiba-tiba saja mulut Sean mengatakan sesuatu yang tidak ia sadari keluar dari hati terdalamnya.
"Ya"
Satu kata yang membuat kedua orang tuanya terkejut.
Namun kedua orang tua Evan sudah bisa menebak jawaban dari Sean. Mereka yakin jika Sean akan menerima lamaran mereka.
"Apakah kamu sudah yakin Sean? Tahun ini kamu masih berusia 20 tahun" Ibu Sean mempertajam pertanyaanya, karena dengan alasan apapun seorang ibu tidak akan melepas anaknya di usia yang sangat muda.
Sean mengangguk dan menjawab pertanyaan ibunya,
"Aku yakin Bu. Evan sudah berjanji menjagaku dengan baik. Ibu bisa menagihnya pada Evan jika aku kelak tidak baik-baik saja" Sean tersenyum mantap, kemudian ia menatap kekasihnya lekat-lekat, dan senyuman itu pun di balas oleh Evan.
Kini keyakinan mereka berdua tidak dapat di bantah oleh siapapun.
Kemudian Ibu Evan mengeluarkan kotak kecil berwarna merah dan membukanya, terdapat sebuah cincin didalamnya.
"Bolehkah Ibu memakaikannya di jarimu Sean?" Tanya bu Nita
"Ibu? Aku akan memanggilnya Ibu? Ibu mertua?" gumam Sean sedikit konyol.
Sean memandang Ayah dan Ibunya meminta persetujuan.
Kemudian ayahnya menganggukkan kepala tanda mengizinkan.
"Boleh Bu Silakan." Sean menyodorkan tangannya.
Bu Nita pun memakaikan cincin tersebut di jari manis Sean.
"Cocok sekali di jarimu Sean, syukurlah" Ucap Bu Nita.
Sean hanya tersenyum manis setuju dengan Ibu Evan.
__ADS_1