Akankah Kembali

Akankah Kembali
Belanja


__ADS_3

Evan mengantar Sean hingga minggu kedua.


Kini kaki Sean sudah benar-benar sembuh, namun ia sangat meminimalisir kemungkinan kakinya terasa nyeri lagi. Seperti menghindari benturan atau sebagainya.


Ia merasa sangat lega akhirnya bisa berkendara lagi tanpa merepotkan Evan di pagi hari.


"Pagi, Sean!" Lagi-lagi suara Dhareen dari belakang badan Sean.


"Iya..... Selamat pagiiii...." Ucap Sean dengan nada malas.


"Kamu kenapa?" Tanya Dhareen.


"Akhirnya kamu akan menguntit aku lagi!" Jawab Sean santai.


"Aku bukan penguntit. Tapi aku menemanimu." Ucap Dhareen sambil menyimpan kedua tangannya dibalik saku celana.


"Hah... Ya sudahlah, ayo!" Ucap Sean pasrah dengan menghela nafas panjang.


Tanpa basa-basi mereka berjalan menuju ruangan Sean.


Dilain waktu,


Masih sama seperti sebelumnya, Dhareen menyambut kedatangan Sean di kampus dengan gaya dinginnya.


Namun, hubungan mereka kini sedikit mencair. Tidak seperti dulu yang sangat kaku.


Sebenarnya Sean masih bertanya-tanya tujuan Dhareen mengenalnya, tapi lambat laun Sean benar-benar tidak memikirkan hal itu. Ia lebih menghargai Dhareen sebagai teman yang datang tanpa sebab, seperti halnya Sean mengenal Sinta.


Hanya saja sampai saat ini Sean masih enggan bercanda atau berbicara lebih akrab dengan Dhareen. Semata-mata karena ia ingin menjaga hati suami dan keluarga nya. Tidak etis saja jika seorang istri terlalu dekat dengan pria lain. Pikir Sean.


Hingga pada suatu siang, ketika Sean hendak pulang dan menjemput Renatta. Dhareen datang menemui Sean,


"Ayo ikut aku sebentar! Hubungi dulu anakmu agar tidak menunggu." Ajak Dhareen.


"Kemana?" Tanya Sean


"Ke mall itu." Jawab Dhareen.


"Untuk apa? Aku ini istri orang. Masa mau pergi sama cowo lain!" Ucap Sean.


"Sebentar saja! Aku tunggu dimobil." Ucap Dhareen yang berjalan menuju mobilnya.


"Dasar suka memaksa! Huh!" Sean membuang nafas kasar.


Kemudian ia menghubungi ibunya kalau ia akan sedikit terlambat untuk datang menjemput Renatta.


Sean pun bergegas menaiki mobil Dhareen yang sudah menunggu.


"Jangan lama-lama ya! Aku nggak enak nih pergi berdua sama cowok." Ucap Sean.


"Iya." Jawab Dhareen santai.


Sesampainya di mall. Dhareen berjalan menuju sebuah departemen store yang menjual berbagai macam kebutuhan.


Dhareen berjalan menuju tempat yang menyediakan berbagai macam pakaian formal pria. Sementara Sean mengikuti langkah Dhareen dari belakang.


"Untuk apa datang kemari?" Tanya Sean dengan memilah-milah sederetan panjang kemeja formal.

__ADS_1


Namun Dhareen bergeming. Ia berbicara pada seorang SPG untuk mencarikannya satu stel pakaian dengan sebuah jas formal kekinian.


"Silakan dicoba, Kak!" Ucap SPG


Dhareen pun masuk ke ruang ganti dan keluar menggunakan kemeja putih dan stelan jas formal.


"Wah... Kamu gagah banget pakai itu." Ucap Sean spontan.


"Apa iya?" Tanya Dhareen.


"Iya. Tapi kemeja nya lebih baik berwarna deh, daripada putih." Ucap Sean.


Kemudian dengan cekatan, Sean memilihkan sebuah kemeja berwarna biru muda yang sangat soft, dan memberikannya pada Dhareen.


"Coba deh, yang ini!" Ucap Sean.


Dhareen pun mengganti kemeja nya dengan pilihan Sean.


Beberapa menit kemudian Dhareen keluar,


"Gumana?" Tanya Dharen


"Cocok sekali! Tapi tunggu sebentar.." Sean menghampiri Dhareen dan membetulkan kerah jas yang sedikit terlipat.


Karena Dhareen adalah sosok yang tinggi besar, wajah Sean berhadapan dengan dada bidang milik Dhareen, hanya berjarak kurang lebih sepuluh senti.


Secara tidak sengaja, Sean menikmati aroma body mist milik Dhareen yang tercium sangat gentle di lubang hidungnya.


"Ya Tuhan! Ini sangat bahaya!" Batin Sean, ketika tersadar.


"Kenapa?" Tanya Dhareen terkejut.


"Eh, nggakpapa! Sudah sana ganti bajumu. Kita langsung pulang." Jawab Sean.


Setelah Dhareen mengganti bajunya, Sean terfikir untuk membeli sepasang sepatu untuknya dan sepasang lagi untuk Evan. Mengingat ia telah gagal membelinya pada bulan lalu.


"Kamu mau beli apa? Beli aja. Aku yang traktir." Ucap Dhareen.


"Aku mau beli sepatu. Tapi aku nggak mau kalau kamu yang bayar." Jawab Sean.


Sean segera menghampiri tempat sepatu tanpa menunggu jawaban dari Dhareen.


Kemudian setelah menemukan apa yang ia mau, ia mencoba sepasang sepatu itu dengan duduk di sebuah kursi.


"Bagus nggak?" Tanya sean spontan.


"Bagus." Jawab Dhareen.


Tanpa berlama-lama, Sean memanggil seorang SPG,


"Aku beli ini dan juga sepatu pria yang itu ya, Mbak!" Sean menunjuk sepasang sepatu formal pria untuk Evan.


"Baik kak!" Ucap SPG.


Kemudian setelah selesai berbelanja, mereka keluar toko dengan beriringan seperti sebelumnya.


"Kamu mau makan siang?" Tanya Dhareen.

__ADS_1


"Nggak ah. Kasian Natta udah nunggu aku dirumah ibu." Jawab Sean.


"Oke, baiklah." Jawab Dhareen.


Sebelum mobil melaju, Sean menyempatkan bertanya pada Dhareen.


"Dhareen, kamu beli jas buat nikah ya? Kok nggak sama calon istri kamu?" Tanya Sean.


"Bukan. Aku akan di wisuda." Ucap Dhareen singkat.


"Apa??? Wisuda? Berati kamu nggak akan menguntitku lagi, ya!" Tanya Sean terkejut.


"Aku akan menguntitmu setiap hari jika kamu mau." Jawab Dhareen.


Sean bergeming.


Dalam hati Sean seperti berat mendengar ucapan Dhareen. Entah mengapa ia akan kehilangan sosok penguntit yang selama beberapa tahun ini selalu menyambutnya di pagi hari.


Sean yang mulai terbiasa dengan Dhareen si orang aneh merasa kehilangan sebelum waktu perpisahan tiba.


"Oh.. Jadi mau wisuda." Jawab Sean berat.


"Kenapa? Ada yang salah? Bukankah kamu senang akhirnya tidak ada lagi yang mengganggumu setiap pagi di parkiran kampus?" Tanya Dhareen.


"Bukan begitu maksudku.." Ucap Sean sambil tertunduk.


Jari-jarinya berputar di atas pangkuan. Rambut yang dibiarkan berurai menutupi wajahnya dari samping sengaja dibiarkan agar Dhareen tak dapat melihat ekspresi aneh di wajah Sean.


"Kenapa rasanya seperti ini? Apa memang begini jika akan berpisah dengan teman?" Gumam Sean.


"Sean! Maaf kalau aku sudah membuatmu tidak nyaman selama ini." Ucap Dhareen menatap Sean yang masih tertunduk.


"Eh... Nggakpapa kok." Jawab Sean lirih.


Dhareen merasa sedikit aneh dengan Sean.


Kemudian Dhareen mencoba untuk menyibakkan rambut Sean ke belakang telinga. Dan,


Sringggg.......


Jari Dhareen menggores lembut leher Sean.


Sean berkelit dan menjauhkan dirinya dari tangan Dhareen sampai menempel di dinding pintu mobil.


"Maaf! Aku tidak bermaksud kurang ajar." Dhareen menarik tangannya.


"Ayo cepat bawa aku ke parkiran kampus!" Ucap Sean masih terbelalak dengan sentuhan Dhareen.


Dhareen pun akhirnya memacu mobilnya dengan cepat. Hatinya merasa sangat tidak enak karena telah menyentuh Sean tanpa permisi.


Sesampainya di parkiran kampus dan mobil berhenti.


"Permisi!" Ucap Sean singkat sambil membuka pintu mobil Dhareen.


Ia membawa serta dua kantong sepatu yang ia beli tadi.


Dhareen pun belum sempat berkata apapun pada Sean, namun sayangnya Sean sudah melaju dengan sedan hitam miliknya.

__ADS_1


__ADS_2