
"Ya, mau bagaimana lagi. Semua sudah terjadi. Yang terpenting kamu benar-benar rela. Jika kamu bahagia, kami juga ikut bahagia. Jagalah hubungan ini selama hayatmu. Sudah sana istirahat! Ini udah malam." Pak Rianto mengakhiri percakapan.
Sean mengangguk dan bergegas menuju kamarnya. Ia mencari ponsel dan menulis sebuah pesan pada Evan.
📨 "Apa-apaan ini Evan? Tolong jelaskan"
Namun tidak ada reapon bahkan tidak ada balasan sama sekali dari Evan. Sean berkecamuk dalam hatinya. Bertanya-tanya sebenarnya apa maksud Evan melakukan hal ini. Kali ini Sean merasa hubungannya benar-benar digantung oleh Evan, ia sangat sedih dan tidak terima dengan kelakuan Evan.
Sean pun membaringkan tubuhnya dan mulai menangis. Meratapi nasibnya yang diikat namun tidak diberi kejelasan sama sekali. Ia mengangkat tangan kirinya dan memandang cincin yang sudah terpasang cantik di jari manisnya.
"Apa ini? Aku tadi begitu bahagia melihat matanya. Namun sekarang aku sedih sekali, itu juga karena ulahnya" gumam Sean sambil terus menangis.
Tiga puluh menit berlalu, tiba-tiba ponsel Sean bendenting.
Ting...
📩 "Panggil aku Sayang!" Tak terduga pesan balasan dari Evan masuk di ponsel Sean.
Sean menangis tersedu-sedu melihat sebuah pesan datang dari Evan. Ada rasa rindu, bahagia dan kekesalan mendalam pada kekasihnya itu. Dengan hati yang penuh emosi dan tangan yang bergetar, Sean mengirim pesan lagi pada Evan.
📨 "Nggak mau. Kamu jahat!" Balas Sean sedikit jual mahal.
Dan..
Sekejap saja sebuah panggilan video dari Evan tersambung di ponselnya. Sean terkejut, ia pun bingung apakah akan menerima panggilan itu atau tidak. Jika ia menerimanya, maka wajah yang berlinang air mata akan sangat nampak terlihat. Namun Jika tidak menerimanya, ia akan kehilngan momen bertatap muka secara privat dengan Evan yang sangat dirindukannya.
Sampai akhirnya, Sean bergegas memasang headset dan membulatkan tekad untuk menerima panggilan video dari Evan.
"Ada apa?" Tanya Sean ketus.
"Hei, kamu nggak kangen sama aku?"
"Enggak. Kamu jahat banget" dengus Sean
"Kamu abis nangis, Kenapa sayang?" tanya Evan.
"Kamu masih tanya aku kenapa! Kamu bener-bener keterlaluan!" Sean emosi
"Oke-oke. Aku minta maaf sayang. Sudah jangan menangis. Ayo senyum! Kamu nggak seneng ya aku datang melamar?"
"Bukan itu. Aku marah soalnya kamu menghilang begitu saja" Jawab Sean mulai melunak.
"Oke, besok aku antar dan jemput kamu kerja ya? Sudah jangan sedih" Evan menenangkan
"Iya baiklah. Besok aku masuk pagi seperti biasa"
"Oke. Kalau gitu kamu jangan sedih lagi. Sekarang istirahatlah. Besok pagi kita ketemu. Selamat tidur Calon istriku" Evan mengembangkan senyumnya dan mengedipkan sebelah matanya.
Sean tersipu malu, ia hanya mengangguk dan langsung mematikan ponselnya. Jantungnya seakan kembali hidup, terasa berdetak kencang setelah sekian hari tak ada gairah hidup dalam dirinya.
Sean menaruh ponselnya dan mulai memejamkan mata. Bayangan lelaki tampan tersenyum padanya terus saja berputar-putar dalam pikirannya. Siapa lagi kalau buka Evan, si calon suaminya. Sampai akhirnya Sean tertidur pulas dengan senyuman tipis di bibirnya.
Malam pun berlalu, pagi ini Sean sangat bersemangat. Ia bangun lebih awal dan bersiap menunggu Evan menjemputnya.
__ADS_1
Orang tua dan adik Sean sudah berangkat sejak tadi pagi.
Sean menunggu di bangku taman, dan tak berapa lama Evanpun datang dengan Moge kesayangannya.
"Pagi Sayang. Ayo kita berangkat" ajak Evan
"Pagi juga" Sean segera naik ke motor.
Ia merasa canggung untuk memeluk Evan seperti sebelumnya. Ia berusaha menjauh dari punggung Evan. Namun, bukan Evan namanya kalau membiarkan hal tersebut terjadi. Evan langsung menarik tangan Sean, dan memacu motornya.
Setibanya di Toko, Sean bekerja seperti biasanya. Hanya saja ia lebih menyibukkan diri agar tidak merasa lama menunggu waktu pulang.
Ketika waktu pulang tiba, Sean bergegas turun ke Halaman pintu karyawan. Ternyata Evan sudah menunggunya disana. Evan sedang duduk diatas motor dan memainkan ponselnya. Ia terlihat sangat keren dan tampan. Wajah bersihnya sangat mempesona, potongan rambut model undercut dengan polesan pomade mengarah kebelakang membuatnya terlihat maskulin. Banyak mata memandang Evan begitu kagumnya.
Sean pun segera menghampiri Evan dan bergelayut manja dilengannya.
"Hai Sayang. Maaf ya sudah lama menunggu" Sapa Sean dan melirikkan mata tajamnya pada gadis-gadis yang sedang terpaku memandang Evan.
"Hai Sayang. Rupanya harimu sangat menyenangkan ya?" Evan tersenyum dan mengusap rambut Sean dengan lembut.
"Iya dong, kan dijemput sama calon suami. Siapa sih yang gak seneng? Ayo buruan kita pergi" Sean masih melirik tajam pada gadis-gadis tadi.
Evan mengernyitkan dahinya keheranan dengan perilaku Sean yang tiba-tiba seperti itu. Tapi ia tak ambil pusing. Kemudian ia memakaikan helm pada Sean dan bersama-sama pergi meninggalkan halaman. Kali ini pelukan Sean sangat erat. Bahkan tanpa diminta, ia otomatis melingkarkan tangannya di perut Evan. Evan merasa sedikit aneh dengan perilaku kekasihnya. Namun dalam pikiran Evan, itu wajar saja karena selama berhari-hari ia menghilang tanpa jejak.
Evan mengendarai motornya menuju sebuah restoran dekat dengan Taman Kota. Evan ingin mengajak Sean makan dan berbincang-bincang.
"Sayang, kita sekarang sudah terikat satu sama lain. Aku mohon jangan beri kesempatan laki-laki lain untuk mendekatimu lagi." Evan memegang tangan Sean memulai obrolan dengan intonasi lembut
"Lagi? Apa maksudnya? Aku tidak pernah membuka hatiku untuk lelaki lain." ucap Sean.
"Apa! Kamu nuduh aku selingkuh? Dengan siapa dan mana buktinya? Kamu tau kan aku selalu menjaga hubungan kita?" Tanya Sean.
"Aku tau.. Tapi aku butuh kejelasan" tanya Evan.
"Ha! Kejelasan seperti apa? Justru kamu yang menggantung hubungan ini tanpa kejelasan." Sean terkejut
"Coba kamu ingat-ingat sendiri, kapan terakhir kita saling mengirim pesan. Tanpa sadar kamu nyakitin aku." ucap Evan.
Sean diam, mencoba mengingat-ingat se detil mungkin pada hari yang ditunjuk Evan. Ia ingat ketika dirinya lupa tidak menjawab pesan Evan karena sedang makan bersama teman-temannya.
"Oh iya. Maafkan aku waktu itu aku tidak membalas pesan darimu. Tapi apa cuma sebab itu kamu menghilang?" Tanya Sean sedih
"Sudah jangan sedih. Aku sekarang di sini bersamamu, dan akan seterusnya begitu" Jelas Evan
"Tapi itu sungguh tidak adil. Masalah sepele seperti itu kamu membalasnya dengan sangat jahat" Sean cemberut.
"Kamu tidak melupakan sesuatu? Justru kamu yang jahat Sayang. Kamu adalah kekasihku, tapi malah mengabaikanku. Kamu pergi berdua dengan seorang laki-laki dibelakangku" Evan menahan emosinya.
"Lelaki yang mana?" Sean bertanya.
Namun Evan tak menjawabnya, ia sangat menantikan Sean untuk berkata jujur.
Tiba-tiba Sean teringat ketika waktu itu sedang berboncengan dengan Rifky menuju rumah makan sederhana.
__ADS_1
Sean tersenyum dan memandang lucu pada Evan.
"Hah.. Apa-apaan ini? Dia cemburu dengan Rifky. Itu sebabnya dia menghilang. Ternyata dia cemburu buta. Hahaha" Tawa Sean dalam hati.
"Hei! Kenapa senyum-senyum? Kamu bener-bener selingkuh ya?" Bentak Evan.
"Emm.... Bener gak ya.. Ups!" Sean berbicara sambil menutup mulutnya untuk menggoda Evan.
"Hah! Apa kamu bilang!" Emosi Evan mulai terpancing.
"Hahahaha, hai Sayang tenanglah! Akan aku jelaskan" Sean merasa lucu dengan tingkah kekasihnya itu.
Evan pun berusaha meredam emosinya, dan berusaha tenang
"Baiklah, coba jelaskan!"
"Sayang, lelaki itu adalah teman kerjaku. Namanya Rifky. Waktu itu kami sedang berlima mau makan-makan, semua berboncengan biar efisien waktu. Kami cuma teman biasa nggak ada yang spesial. Yang spesial itu cuma kamu di hati aku" Jelas Sean tersenyum
"Lalu kenapa kamu mengabaikan pesanku?" tanya Evan
"Waktu itu sebenernya aku ingin banget ketemu kamu. Jadi aku cepet-cepet pergi, biar cepet juga pulangnya. Eh tapi pas pulang aku coba hubungin kamu, kamunya ilang" Sean memasang wajah sedihnya.
Evan pun terdiam. Mengingat Sean bukanlah tipe gadis yang gonta-ganti pacar. Menimbang-nimbang antara pikiran dan hatinya.
"Sayang kamu gak percaya? Apa itu alasannya kamu menghilang?" celetuk Sean membuyarkan lamunan Evan.
Evan pun tersadar,
"Eh iya. Maafkan aku Sayang. Aku percaya kamu kok. Awalnya itu alasanku untuk menjauh darimu karena kecewa. Tapi kemudian itu menjadi alasanku untuk melamarmu" Evan melembutkan nada bicaranya.
"Jadi kamu melamarku karena cemburu?" Sean tersenyum tidak menyangka.
"Em.. Bagaimana ya. Hanya saja aku tak ingin kamu dimiliki laki-laki lain" Jawab Evan menggantung.
"Jadi kamu nggak serius mau nikahin aku?" Sean cemberut
"Bukan begitu Sayang. Baiklah aku memang cemburu. Tapi aku benar-benar ingin menikahimu" Ucap Evan.
Senyum Sean mengembang mendengar ungkapan dari Evan.
"Lalu, apa yang kamu lakukan di sana tadi? memanja di depan umum. Aku bisa memanjakanmu di tempat yang sepi, itu kan lebih romantis" Evan mulai menggoda Sean balik.
"Eh.. Apa? Yang mana?" Sean salah tingkah mengingat kelakuannya di halaman toko tadi.
"Kamu cemburu melihat banyak gadis menatap ke arahku?" Selidik Evan nakal.
"Nggak ah. Apaan sih. Ayo makan dulu udah laper nih" Sean mengalihkan pembicaraan.
"Katakan dulu kamu cemburu!" Pinta Evan.
"Enggak ah. Siapa juga yang cemburu." dengus Sean
"Ayo jujur saja.." Evan menggoda nya.
__ADS_1
Tapi Sean bersi kukuh tidak menjawabnya, dan dengan lahapnya menyantap makanan yang sudah tersaji.
Evan hanya tersenyum dan membiarkan Sean memakan habis makanannya.