
Jam pulang pun tiba. Sean menuruni anak tangga bergegas keluar gedung untuk menemui Evan yang akan menjemputnya.
Lagi-lagi Evan sudah menunggunya di halaman pintu karyawan. Ketampanan Evan kembali menarik perhatian semua mata yang berada disana.
Membuat Sean merasa tidak nyaman dengan tatapan para gadis kepada suaminya itu.
"Hai Sayang!" Sean menyapa sambil mencium punggung tangan Evan.
"Hai Sayang. Kamu mau kita langsung pulang atau jalan-jalan dulu?" Tanya Evan sembari mencium kening Sean.
"Pulang aja deh. Lain kali kalau jemput aku tuh ga usah dandan. Itu helm juga gak usah dilepas." Gerutu Sean
"Loh, aku nggak dandan kok. Ini kan cuma kaos oblong." Sanggah Evan.
"Pokoknya aku nggak suka ah kalau kamu bikin orang lain pada melotot gitu." Sean memberi kode dengan lirikan tajam kepada seorang gadis di ujung jalan yang sedang memandang Evan serius.
"Hahaha, kamu cemburu ya? Oke tuan puteri, besok aku tidak akan melepas helm ku." Tawa Evan penuh pesona.
"Iya itu bagus sekali. Dan apa aku salah kalau cemburu?" Dengus Sean kesal.
"Hahah oke.. oke... Kita cabut sekarang yuk!" Evan masih tertawa melihat tingkah Sean.
Sean pun kemudian menaiki motor dan mereka langsung bergegas pulang kerumah.
****
Dirumah, Sean langsung menuju kamar untuk membersihkan diri. Sedangkan Evan berjalan mengikuti langkah kaki istrinya itu.
Kemudiam Evan langsung duduk di sofa minimalis didekat ranjangnya.
"Sayang aku mandi dulu ya. Sebentar lagi aku mau bantu ibu masak" ucap Sean menampakkan senyum manisnya.
"Ok Sayang. Oh iya, jangan sekali-kali menampakkan senyum manismu itu dihadapanku ya." Jawab Evan.
"Loh, apa aku harus menangis dihadapanmu?" Tanya Sean mengernyitkan dahi, sambil melepas sepatu dan stocking abu-abu yang dikenakannya.
"Senyum itu membuat kamu tampak lebih mempesona. Aku khawatir saja jika sewaktu-waktu aku akan menerkammu" Jelas Evan sambil menyunggingkan bibirnya.
"Hah! Sudah jangan macam-macam." Sean bergegas masuk kamar mandi. Namun langkahnya terhenti,
"Lepas disitu saja!" Suruh Evan.
"Eh.. Kenapa?" Tanya Sean.
"Aku butuh vitamin mata." Jawab Evan santai.
__ADS_1
"Nggak ah! Malu tau."
"Ya sudah aku akan melihat gadis-gadis lain saja diluar sana" Balas Evan menunjuk jendela kamar yang berhadapan dengan jalanan.
"Hei! Tidak semudah itu. Kamu mengancamku ya?" Sean tidak setuju
"Tidak. Bukankah kamu sangat senang kalau aku memandang gadis lain?" Ledek Evan.
"Kamu sangat menyebalkan Evan!" Ucap Sean sebal.
Kemudian Evan beranjak dari sofa dan mendekati Sean,
"Sini aku bantu lepasin." Bisik Evan yang sudah berdiri di belakang Sean.
"Ya Tuhan, sebenarnya aku sangat menginginkan hal ini. Tapi aku malu" Batin Sean sambil memejamkan matanya.
Evan mulai membuka resleting belakang dan menurunkan seragam kerja itu jatuh ke lantai.
"Kamu sengaja nggak pakai kaos dalam untuk menggodaku ya?" Bisik Evan lagi
"Ti.. tidak! Kaosku masih banyak yang tertinggal di rumah Ayahku" Jawab Sean gugup.
"Oke, alasan yang bagus." Jawab Evan yang masih sibuk membuka resleting rok mini istrinya.
Dan *b*ukkk..
"Bahkan kamu tidak memakai celan pendek." Evan mulai mencumbu punggung Sean dan melingkarkan tangannya di perut Sean.
Sean yang hanya memakai pakaian dalam pun pasrah karena pelukan Evan sangat erat, tidak memungkinkan ia untuk melepas pelukan tersebut.
Akhirnya Sean terbuai dengan sentuhan-sentuhan sensual dari Evan.
Pikiran-pikiran tentang penjelasan Rediska pun mulai membayangi otak Sean. Cerita tentang kenikmatan itu membuat Sean melayang jauh di atas awan.
"Ya Tuhan aku menginginkannya sekarang." Batin Sean
Tok.. Tok.. Tok..
Tiba-tiba suara pintu kamar mereka diketuk.
Mereka terperanjat dan mengakhiri aktifitas tersebut.
Sedangkan Sean bergegas masuk kamar mandi karena takut orang dibalik pintu akan tahu apa yang sedang mereka lakukan barusan.
"Sialan! Gagal lagi." Batin Evan sambil membuka pintu kamarnya.
__ADS_1
"Mas, barusan ada telfon dari Ayah. Katanya Ayah meminta Mas Evan datang ke tempat kerja sekarang juga." Ucap Adik Evan.
"Oh Gitu. Oke bentar lagi Mas kesana." Ucap Evan
Evan kembali masuk ke kamarnya dan berdiri didepan kamar mandi.
"Sayang aku harus ke kantor ayah sekarang." Teriak Evan pada Sean.
"Oke Sayang, hati-hati ya!" Sean balik berteriak.
Evan pun bergegas ke kantor ayahnya.
Sedangkan Sean setelah membersihkan diri langsung turun menuju dapur untuk membantu ibunya menyiapkan makan malam.
"Maaf Bu, Sean baru bisa bantu." Ucap Sean menghampiri ibu mertuanya.
"Ngakpapa Sean. Udah hampir selesai kok. Ini giliran ibu yang masak. Kamu tunggu aja disitu" Kata Bu Nita menunjuk kursi meja makan.
"Baiklah Bu" Jawab Sean singkat.
Beberapa waktu kemudian Sean merasa tidak nyaman hanya melihat ibunya memasak sendiri tanpa bantuannya.
"Bu, Sean bantu ya! Masa Ibu menyiapkannya sendiri sih." Pinta Sean.
"Sudah ngakpapa, ini lagi masak kesukaan ayahmu. Hanya Ibu yang tahu reseopnya" Ucap Bu Nita sambil mengedipkan sebelah matanya ramah.
"Baiklah Bu, Sean mohon ijin ke kamar dulu ya. Mau bersih-bersih kamar." Ucap Sean.
"Iya boleh" Jawab Bu Nita.
Sean pun kembali ke kamarnya. Ketika hendak membersihkan kamar, Sean teringat pesan yang akan dikirim Rediska padanya. Kemudian Sean buru-buru membuka ponselnya dan memeriksa pesan dari Rediska.
Benar-benar membuat Sean terkejut. Ada beberapa pesan video masuk di ponselnya.
"Ih... Kenapa gambarnya vulgar sekali. Aku nggak tahan ah mau liat!" Sean bergidik melihat sekilas tampilan video yang memperlihatkan adegan-adegan dewasa itu.
Jantung Sean mulai berdegub tak beraturan, ia pun memilih duduk di atas kasur dan membuka pesan itu satu persatu.
"Wah, banyak sekali video dari Rediska. Apa aku harus menonton semuanya?" Ucap Sean lirih sambil men-scroll layar ponselnya.
Sean pun akhirnya membuka sebuah video dengan durasi paling pendek diantara yang lainnya.
Dengan hati-hati ia memperhatikan adegan demi adegan. Membuat sekujur tubuhnya menghangat dan mulai gelisah. Berulang kali ia menelan salivanya, mengubah posisi duduknya berulang kali dan menolak pikirannya terbuai dengan tayangan di hadapannya.
"Sialan! Aku nggak bisa nerusin ini. Aku akan mempelajarinya lagi lain waktu" Sean mengumpat dirinya sendiri yang mulai menggebu-gebu melihat tontonan tersebut.
__ADS_1
Sean pun akhirnya menyudahi video itu dan mematikan ponselnya, agar tidak tergoda lagi untuk melihatnya.
"Aku harus turun, sebentar lagi Evan pasti datang. Aku akan membuatkan minuman untuknya" Sean mencoba mengalihkan pikiran kotor dalam pikiran, meskipun itu sedikit sulit. Karena ia membayangkan adegan itu dilakukannya dengan suami tercinta.