Akankah Kembali

Akankah Kembali
Welcome Home


__ADS_3

Tiga hari menginap di hotel telah mereka lalui tanpa adanya kontak fisik yang berarti, karena Sean masih bersikukuh dengan komintmennya.


Orang tua mereka hanya menginap satu malam di hotel tersebut.


Kini waktunya Evan membawa Sean untuk pulang kerumah orang tuanya sesuai dengan kesepakatan bersama.


Sesampainya di depan rumah, mereka disambut hangat oleh kedua orangtua Evan. Mereka dipersilakan masuk dan mengajak mereka duduk sejenak di ruang tamu.


"Selamat datang Anakku Sean" Peluk Bu Nita.


"Terimakasih Bu" Jawab Sean.


"Sekarang ini rumahmu juga Sean, jangan malu-malu. Kami ini sudah menjadi orang tuamu juga. Apapun masalahmu berbagilah dengan kami." Ucap Pak Barata.


"Baik Yah. Terimakasih" Jawab Sean singkat.


"Kamu sekarang tidur di kamarnya Evan. Nggak perlu pakai kamar tamu lagi." Canda Bu Nita.


"Hehehe iya Bu. Jika Evan mengijinkan." Ucap Sean melirik Evan.


"Apa sih Sayang! Ya jelas dong kamu boleh tidur di kamarku. Kamu kan sekarang gak bisa tidur kalau gak meluk aku." Goda Evan pada Sean


"Ih apaan sih." jawab Sean tersipu malu.


Setelah dipersilakan ke kamar, mereka membawa beberapa kopernya menuju kamar Evan, kamar yang terletak di lantai dua rumah tersebut.


Kamar Evan tergolong luas, dengan kamar mandi minimalis di dalamnya, tempat tidur berukuran 180 cm × 200 cm, berbagai produk furnitur yang diproduksi oleh ayahnya, dan sebuah televisi berukuran 40 inch.


Kamar ini membuat Sean merasa betah dan nyaman. Terlebih lagi ia tidak akan kesepian karena akan ada suaminya yang senantiasa menemani malam-malam harinya.


"Sayang. Kamu boleh menaruh bajumu ke lemari itu dulu sementara. Jika kurang luas aku akan membelikannya khusus untukmu." Ucap Evan sambil menunjuk lemarinya.


"Tidak usah beli lagi Sayang. Aku lebih banyak menggunakan seragam kerja hampir setiap harinya, jadi baju ku tidak begitu banyak." Balas Sean.


"Oke kalau begitu" Jawab Evan.


Mereka pun menghabiskan waktu seharian di dalam kamar, mereka menonton tivi dan bercerita kesana-kemari. Kebersamaannya sudah mulai sedikit mencair. Rasa canggung perlahan menjauh dari hati Sean.


"Sayang, enaknya aku melamar pekerjaan di mana ya?" Tanya Evan tiba-tiba.


"Emmm... Kita coba aja buat lamaran yang banyak Sayang. Kalau aku libur, aku akan mengantarmu kemanapun kamu mau menaruh lamaran itu". Jawab Sean antusias.

__ADS_1


"Baiklah, jangan buang waktu. Ayo kita buat sekarang!" Evan beranjak dan mengambil beberapa lembar kertas dan menaruhnya di sebuah printer hitam di sudut meja kecilnya. Tak lupa ia mengambil sebuah laptop untuk mulai membuat surat lamaran pekerjaan.


Mereka berdua bekerja sama dengan baik. Menyelesaikan beberapa berkas dan membendelnya menjadi satu. Kemudian masing-masing dimasukkan dalam map coklat berukuran besar.


"Akhirnya selesai. Makasih ya Sayang" Ucap Evan sembari mencium kening istrinya.


"Iya Sayang, Sama-sama. Kapan lamaran ini kamu sebar?" Tanya Sean.


"Besok Sayang. Lebih cepat lebih baik." Jawab Evan.


"Tapi besok aku harus bekerja. Cutiku berakhir hari ini." Ucap Sean sedih


"Nggakpapa Sayang. Doakan saja suamimu ini biar cepet dapat pekerjaan" Balas Evan.


"Aku selalu mendoakanmu Sayang" Sean memeluk Evan.


Waktu sudah menunjukkan pukul 17.00, mereka bergantian membersihkan diri.


Evan tidak pernah merasa malu jika harus mengganti pakaiannya dihadapan Sean. Namun Sean akan selalu berpaling bahkan membelakangi jika Evan bertelanjang dada di hadapannya.


"Sayang, tidakkah kamu ingin melihatku seperti ini, hahaha?" Goda Evan.


"Ih Apaan sih, malu tau!" Jawab Sean menghindar.


"Aku mau keluar ah, mau bantu Ibu masak makan malam" Sean mengalihkan pembicaraan.


"Jangan pergi dulu dong. Sebenarnya aku juga butuh vitamin mata darimu, mulai besok jangan ganti baju di kamar mandi ya!" Evan berbicara sambil memeluk Sean dari belakang.


"Malu ah!" Sean menolak.


"Kamu akan berdosa jika menolak suamimu" Bisik Evan di telinga Sean.


Gerrr.....


Bulu kuduk Sean berdiri.


Ia segera melepaskan pelukan Evan dan bergegas keluar kamar menuju dapur.


"Ya ya ya, lihat saja nanti." Ucap Sean sambil melambaikan tangan pada Evan.


Evan tertawa terbahak-bahak melihat tingkah laku istrinya itu. Dia sadar bahwa Sean sangat malu mengakui bahwa dirinya juga penasaran dengan sebuah malam bernama Malam Pertama itu.

__ADS_1


****


"Bu, mau masak apa hari ini?" Tanya Sean pada Bu Nita.


"Kamu bisa masak Sean?" Tanya Bu Nita balik.


"Maaf Bu, hanya masakan sederhana. Kalau memasak yang macam-macam saya belum bisa, tapi saya bisa membantu Ibu." Jawab Sean.


"Nggakpapa Sean, ibu senang ternyata kamu sudah punya bekal berumah tangga" Bu Nita mengembangkan senyum tulusnya.


"Iya bu" Sean tersenyum karena tersanjung dengan ucapan ibu mertuanya.


"Sean, meskipun rumah ini sedikit luas, tapi ibu tidak mempekerjakan asisten rumahtangga setiap hari. Akan ada Mbak Narti yang akan kemari dua hari sekali untuk membantu menyetrika baju-baju kita dan membersihkan rumah dengan detail. Selagi Mbak Narti tidak kesini, ibu yang membersihkan rumah seadanya, karena Ibu tidak ada kegiatan berlebih setiap hari." Bu Nita menjelaskan perlahan


"Baik Bu, Sean mengerti. Sean akan membantu Ibu selagi Mbak Narti tidak kesini" jawab Sean.


Mereka pun kembali memasak dan menata makanan di meja makan dengan rapi.


Tak lama kemudian Pak Barata datang dari bekerja. Bu Mira menghampiri dan menyambut suaminya dengan sebuah jabatan salam. Pak Barata pun memberikan ciuman kecil di kening Bu Nita.


"Oh jadi memang begini seharusnya untuk menyambut suami dari bekerja. Persis sekali dengan yang Ayah Ibuku lakukan" Sean memandang mertuanya dengan senyuman manis yang merekah di bibirnya.


"Sayang, kamu juga pengen ciuman seperti itu?" Suara Evan membuyarkan lamunan Sean.


Kemudian Evan menghampiri Sean dan mencium kecil kening istrinya itu.


Sean tersipu malu dihadapan kedua mertuanya itu, dan kemudian mencium tangan ayahnya sebagai tanda sambutan juga.


"Anak baik. Jangan seperti singa lapar itu. Setiap Ayah pulang kerja, dia tidak pernah mencium tangan Ayah" Ucap Pak Barata mengejek Evan.


"Hahaha... Itu karena ayah terlalu sibuk dengan ciuman di kening Ibu. Aku tidak mau mengganggu kemesraan orang tuaku" Jawab Evan membela diri sambil menggoda ayah ibunya.


"Dasar anak kurang ajar! Beraninya menggoda Ayah!" Canda Pak Barata.


"Hahaha. Ayah cepat mandi, sebentar lagi kami selesai menyiapkan makan malam" Ucap Bu Nita


"Hahaha. Iya Bu baiklah. Gara-gara anak kurang ajar itu, Ayah jadi lupa mandi." Pak Barata mulai meninggalkan mereka bertiga sambil tertawa.


****


Waktu makan malam pun tiba, mereka duduk berhadapan dengan rapi. Menyantap makanan yang sudah tersaji dengan penuh rasa syukur.

__ADS_1


Hari ini adalah pertama kalinya Sean makan malam bersama anggota keluarga Evan secara privat.


Tentunya sebagai anggota keluarga yang baru bergabung ditengah mereka.


__ADS_2