Akankah Kembali

Akankah Kembali
Pekerja Keras


__ADS_3

Tak disangka-sangka benar saja dua hari setelah test, Sean mendapat pesan dari Departemen Store.


Pesan itu berisi informasi bahwa Sean lolos dalam tahap test tulis dan test fisik. Dalam pesan itu, juga berisi undangan interview untuk esok hari pukul 10.00 bertempat di ruang personalia.


Sean melompat-lompat kegirangan. Jantungnya berdetak kencang tak tertahankan. Rasa syukur membanjiri isi hatinya. Ia pun segera menghubungi kekasihnya dan menyampaikan informasi yang baru saja ia dapat.


Evan turut bahagia atas pencapaian Sean. Begitu banyak ucapan selamat dan dukungan pada Sean.


Evan pun lega, akhirnya keputusan yang di ambil tidaklah merugikan. Karena siapapun orangnya, akan tahu bahwa kesejahteraan pegawai di Departemen Store tersebut sangat terjamin. Dengan pegawai yang bahagia, maka mereka akan selalu semangat untuk menambah nilai omzet pada perusahaan. Bukankah itu salah satu politik yang baik, hehehe.


Keesokan harinya Sean Tiba di kantor personalia setengah jam lebih awal. Ia sangat antusias. Namun ia tetap saja gugup, ia tahu bahwa interview ini adalah sarana personalia untuk mengenal kepribadian dan kualitas seseorang sepintas. Ia tidak boleh mensia-siakan kesempatan. Dan tak lama kemudian tibalah waktu, dimana namanya dipanggil untuk memasuki ruang interview.


"Silakan duduk nona Sean Fransiska." Personalia mempersilakan.


"Baik, Terima kasih Pak" Sean menjawab dengan tegas


"Jadi begini, Nona akan saya tempatkan di sebuah Privat Brand milik Perusahaan kami sebagai SPG, agar seragam, seluruh karyawan wajib memakai riasan standart di perusahaan kami, 8 Jam waktu kerja, Gaji sesuai ketentuan Upah Minimum Regional yang berlaku. Jika kualitas anda semakin baik dan penjualan mencapai target, maka kami akan memberi anda insentif pada bulan berikutnya. Apakah anda setuju?" Bapak personalia menjelaskan


"Baik Pak saya setuju." Jawab Sean mantap


"Kalau begitu, hari ini anda bisa mulai masuk ke area penjualan untuk pengenalan. Selama dua hari Anda akan dibimbing oleh seorang senior yang ada disana. Untuk seragam, anda akan mendapatkannya dua hari setelah masa pengenalan selesai. Silakan, Anda akan di antar rekan kerja saya." Bapak personalia dengan santun menjelaskan dan mempersilakan Sean masuk ke area penjualan.


Sean sangat bahagia, tak sabar rasanya menjalani hari-hari dengan kesibukan yang baru. Kesibukan yang tentunya sangat menarik baginya.


Sesampainya di sebuah Brand Counter Bertuliskan Queen, Sean disambut seorang senior yang tinggi semampai dengan riasan standart perusahaan. Tampangnya sedikit judes, namun itu tak penting bagi Sean, yang terpenting adalah pekerjaannya.

__ADS_1


Senior tersebut mulai mengenalkan dirinya dan menjelaskan banyak hal mengenai tehnik penjualan dan pembukuan setiap harinya. Mengenalkan produk apa saja yang dimiliki dan beberapa alur penjualan.


Karena Sean adalah gadis yang cerdas, tak butuh waktu lama untuk ia mengerti segala apa yang dijelaskan seniornya.


****


Dua hari setelah masa pengenalan berakhir. Tiba waktunya Sean mendapat seragam.


Ini hari pertamanya bekerja menggunakan seragam. Atasan berwarna merah menyala, rok mini di atas lutut, sepatu hak tinggi dan rambut yang dicepol rapi, tak lupa riasan tipis yang sudah berstandar perusahaan.


Sean memandang dalam cermin dan mengagumi dirinya sendiri,


"Hmm... Cantik sekali, mirip dengan pramugari. Hahaha" Sean tertawa sambil memutar-mutar posisinya didepan cermin.


cekrek..


📨 "Lihatlah sayang, kekasihmu ini sangat cantik kan? hahaha" Tulis sean dibawah fotonya.


📩 "Jangan dandan berlebihan gitu. Kamu mau tebar pesona ya?" Tanpa ekspresi Evan membalas pesan Sean


📨 "Ihh... Apaan sih. Ini kan wajib dari perusahaan. Ya sudah deh aku kerja dulu aja. Bye" Sean sebal dan mengakhiri obrolannya.


"Duh mau pamer nih tapi gagal!" Sean menggerutu dan bergegas berangkat bekerja.


Hari demi hari dilalui Sean dengan penuh semangat, ia berusaha menjual banyak produk pakaian agar bisa mendapat insentif bulan depan. Baginya, uang sedikit sangat berharga, ia berfikir mengumpulkan banyak uang akan sangat membantu keluarganya.

__ADS_1


Bahkan Sean rela lembur di setiap hari sabtu untuk menambah omzet bulanannya, karena pada week end toko akan banyak kedatangan pelanggan, ia tak mau melewatkan kesempatan itu karena hal ini diperbolehkan oleh perusahaan.


Kali ini ia sedikit mengesampingkan maslah percintaannya, dimana biasanya malam minggu adalah waktunya berjalan-jalan santai untuk pasangan pada umumnya.


Ia memilih berjalan-jalan dengan Evan pada saat dirinya mendapat jatah libur di salah satu hari biasa. Ya, hari biasa adalah hari Senin sampai Jum'at, dimana hari-hari itu tidak ramai pengunjung seperti Sabtu dan Minggu.


Evan memahami kondisi seperti ini.


Ketika hari minggu datang, maka Evanlah yang akan mengantar dan menjemput Sean.


****


Hari terus berganti sudah satu tahun lamanya Sean Bekerja di Mentari Departmen Store ini, sedangkan Evan sudah dua tahun lamanya merasakan perjuangan dalam bekerja. Mereka berjuang bersama dan saling memberi semangat.


Orang tua Sean sudah mulai terbiasa dengan kedatangan Evan untuk mengantar dan menjemput anaknya itu. Pelan-pelan semuanya sudah menerima Evan sebagai kekasih Sean. Sedikit demi sedikit kehidupan dan latar belakang Evan sudah diketahui keluarga Sean.


Dalam sepengetahuan Pak Rianto dan Bu Mira, Evan adalah sosok yang pendiam, namun menyayangi Sean dengan sepenuh hati. Tidak terlihat sedikitpun bahwa Evan memiliki niat yang buruk atau bahkan mempermainkan puterinya, Evan juga pekerja keras. Karena penilaiannya itu, mereka memperbolehkan Evan mendekati Sean. Sean sendiri terlihat nyaman bersama Evan. Apalagi yang harus diperdebatkan, pikir Pak Rianto.


Setiap bulan ketika Sean menerima Gajinya, ia akan membagi-bagi pendapatannya tersebut.


Memberi ibunya untuk keperluan rumah, memberi Igo untuk uang saku, dan menyimpan sebagian untuk kebutuhannya selama satu bulan.


Dalam hal ini, Pak Rianto tidak mendapat jatah dari Sean. Karena beliau telah bekerja menjaga sebuah perumahan di kota sebelah, maka dari itu beliau menolak pemberian dari Sean.


Sean dan Evan sama-sama bekerja keras. Berusaha meraih apa yang mereka cita-citakan. Jarang bertemu tak lantas membuat hubungan mereka merenggang. Justru itu malah membuat hubungan keduanya semakin erat dengan kerinduan yang mendalam.

__ADS_1


Evan semakin lihai dalam tehnik pemasaran. Tanpa banyak bicara, langkahnya tenang namun sekali saja penjelasan tentang produk yang ia miliki, orang akan tertarik tanpa pikir panjang. Ia mencari target pasar yang nantinya akan bekerja sama dengan ayahnya dalam jangka waktu yang panjang. Dan akan selalu membutuhkan produk dari usaha ayahnya. Jadi dengan begitu, usaha ayahnya akan tetap berjalan. Begitu pula dengan puluhan pegawai ayahnya akan terjamin penghasilannya.


Namun tiba-tiba Evan terbesit pikiran untuk mengembangkan sayapnya dibidang yang lain. Ia berkeinginan untuk mencari pengalaman baru dengan berdiri sendiri. Ya, tentunya tanpa backing dari ayahnya. Ia ingin mengukur kemampuannya sendiri dengan cara mencari pekerjaan lain tanpa pengawasan dari orangtuanya.


__ADS_2