
Sesampainya dirumah, Sean langsung membantu ibunya menyiapkan makan malam.
Suasana dirumahnya masih sama saja seperti sebelumnya, lebih banyak keheningan.
Sean sengaja berlama-lama menata makanan di meja makan, ia sedang mencoba berbaur dengan keluarganya untuk mengumpulkan keberanian mengutarakan niatnya.
Setelah semua beres, Sean duduk di kursinya menunggu seluruh anggota keluarga berkumpul.
Selama makan malam, ia tidak tenang. Ingin sekali segera mengutarakan isi hatinya dan mendengar respon dari orang tuanya.
Dan akhirnya makan malam telah usai.
Sean mencoba membuka obrolan dengan kedua orang tuanya.
"Yah, Bu. Sean mau ngomong sebentar boleh?"
"Boleh, kenapa Sean?" Tanya Ayahnya.
"Begini, Sean punya niat untuk mengundurkan diri dari universitas. Sean mau fokus kerja dulu" Sean berbicara dengan wajah memelas agar niatnya disetujui.
"Apa??? Tidak Sean. Teruskan kuliahmu. Untuk apa kamu mau mengundurkan diri?" Tanya ayahnya.
"Yah, Sean mau bantuin Ayah sama Ibu" Jawab Sean.
"Nak, kesempatan tidak datang dua kali. Jangan sia-siakan beasiswa ini" Terang Bu Mira.
"Bu, jika aku harus memilih diriku sendiri atau keluarga kita. Jelas aku akan memilih keluarga kita. Kalau hanya kuliah, setelah aku bekerja dan mampu, aku bisa daftar secara mandiri" Sean menjelaskan.
"Tapi Sean. Ayah masih bisa mencari pekerjaan lain. Kamu tidak perlu mengundurkan diri dari universitas" Pak Rianto menegaskan.
"Tidak yah. Keputusanku sudah bulat. Banyak pekerjaan yang membutuhkan anak Fresh graduate. Akan lebih cepat Sean mendapat pekerjaan daripada ayah. Tolong beri Sean kesempatan untuk membantu keluarga kita" Pinta Sean.
Pak Rianto dan Bu Mira mulai menimbang-nimbang permintaan Sean. Hampir setengah jam mereka duduk berdiam di meja makan. Akhirnya Pak Rianto menyetujui rencana Sean.
"Baiklah Sean, Ayah memberimu kesempatan. Tapi jika Ayah sudah punya pekerjaan yang stabil, kamu wajib kuliah. Tinggalkan pekerjaanmu, Ayah akan berusaha menanggung segala biayanya" jawab Pak Rianto.
"Apa benar Yah? Syukurlah.. Terima kasih Ayah!" Sean kegirangan dan berlari memeluk ayah dan ibunya.
__ADS_1
"Iya Ayah menyetujuinya meskipun sebenarnya berat. Karena Ayah tau itu impianmu sejak dulu" Jawab Pak Rianto
"Tenang saja Ayah, yang terpenting sekarang adalah keluarga kita. Selalu doakan Sean ya Yah, Bu" Sean mempererat pelukannya.
"Iya, Ibu selalu mendoakan yang terbaik untukmu" kata Bu Mira sambil tersenyum.
"Aku juga mau peluk dong" Kata igo sedikit memanja.
Melihat pelukan ketiganya, tiba-tiba Igo ikut berpelukan dengan mereka. Tawa mereka berempat pun merekah ditengah sepinya malam.
Sungguh indah pemandangan seperti ini. Keluarga yang rukun dan saling mengerti satu sama lain.
Setelah puas berpelukan, Sean dan ibunya mulai merapikan meja makan. Kali ini suasana sudah mencair. Banyak terlontar obrolan-obrolan kecil seperti biasanya. Sean merasa sangat lega. Ia senang melihat suasana rumahnya kembali hangat, membuatnya merasa begitu nyaman.
Waktu menunjukkan pukul 20.30, Sean bergegas ke kamar memeriksa ponselnya yang sedari tadi ditinggal di meja belajar. Dan benar saja, Pesan dari Evan sudah banyak yang mampir di sana.
📩 "Sayang, good luck ya!"
📩 "Gimana tanggapan Ayah dan Ibumu?"
📩 "Apa begitu sulit mengutarakannya? kamu lama sekali tidak membalas pesanku"
"Kenapa dia jadi cerewet sekali sih?" Tanya Sean dalam hati sambil tersenyum-senyum geli
Sean membawa ponselnya berbaring di atas tempat tidur, dan mulai membalas pesan dari Evan,
📨 "Sudah sayang. Aku berhasil meyakinkan orang tuaku. Senang sekali rasanya"
📩 "Jadi kapan kamu mau mengajukan pengunduran diri?" Dengan cepat Evan membalas pesannya
📨 "Secepatnya sayang" Balas Sean.
Saking serunya, mereka berbincang-bincang sampai tak terasa sudah larut malam. Bahkan mereka melakukan panggilan video untuk bisa bertatap muka. Obrolan itu berakhir ketika Sean sudah mulai terlelap di depan layar ponselnya. Evan yang melihat Sean tertidur hanya bisa memandang wajahnya. Setelah puas memandang, Evan mengakhiri panggilan dan membaringkan tubuhnya untuk tidur.
Keesokan harinya, Sean membuka laptopnya untuk mendownload Formulir Pernyataan Pengunduran Diri Mahasiswa Baru pada Tahun Akademik yang sedang berlangsung, serta mengisi dan mencetaknya sekaligus.
Ia membndel jadi satu berkas-berkas seperti Surat Pernyataan Pengunduran Diri Mahasiswa bermeterai, Foto kopi Bukti pendaftaran SNMPTN/SBMPTN/Program Sarjana Jalur Undangan Perguruan Tinggi Negeri (PTN), Foto kopi Bukti penerimaan SNMPTN/SBMPTN/Program Sarjana Jalur Undangan Perguruan Tinggi Negeri (PTN), Foto kopi Rekening Buku Tabungan dan foto kopi KTP, serta Kartu Mahasiswa Sementara (KTM) asli.
__ADS_1
Kemudian Sean memasukkannya dalam sebuah Map coklat dan siap mengirim berkas-berkas tersebut melalui jasa ekspedisi pengiriman surat atau dokumen.
plak..plak..plak..
Suara telapak tangan Sean saling beradu.
"Hah.. Akhirnya selesai juga. Aku akan segera mengirimkannya"
Setelah membereskan semua, Sean bergegas pergi ke tempat jasa ekspedisi dan mengirim dokumennya.
Malam harinya di meja makan Sean menceritakan bahwa masalah pengunduran dirinya sudah selesai. Kini waktunya Sean mencari pekerjaan, ia pun meminta restu dari kedua orang tuanya. Apapun pekerjaannya nanti, Sean berjanji akan menekuninya.
Dan orang tuanya pun memberikan restu serta dukungan penuh, selagi pekerjaan itu baik dan positif.
****
Sean membuat banyak sekali lamaran pekerjaan, dan mengirimkannya pada beberapa perusahaan, Departemen Store, toko-toko kecil dan lain sebagainya. Dia tidak akan menolak sekalipun dia mendapat pekerjaan sebagai cleaning service. Karena baginya segera bekerja akan lebih baik.
Dua minggu berlalu, akhirnya Sean mendapat pesan panggilan beserta persyaratan yang harus dilengkapi untuk test di sebuah Departemen Store, esok hari. Ia pun kegirangan dan segera mempersiapkan persyaratanya, seperti stelan hitam putih, sepatu pantofel dan cepol rambut.
Keesokan harinya pukul 09.00 Sean sudah sampai di Departemen Store tersebut, ia menaiki tangga karyawan dan masuk di sebuah pintu bertuliskan Mentari Dept. Store, wajahnya terlihat gugup tak tahu langkah selanjutnya bagaimana. Kemudia seorang security menghampirinya seraya berkata,
"Selamat pagi, mau ikut test ya?"
"Selamat pagi, iya pak" jawab Sean
"Silakan ruangannya di sebelah sana." Pak Security menunjuk sebuah ruangan di samping Pos jaga.
"Terima kasih pak, mari" Jawab Sean.
Sean pun bergegas menuju sebuah ruangan luas di samping pos jaga, ternyata disana sudah banyak peserta test yang sedang duduk saling berkenalan satu sama lain. Sean pun duduk di tempat yang tersisa. Tak lama kemudian datang seorang pria berseragam rapi, menyapa dan membagikan lembaran test tulis kepada seluruh peserta. Rupanya beliau adalah seorang personalia di Departemen tersebut.
Sean dan peserta lain dipersilakan untuk mengerjakan test tersebut. Mulailah ia membuka lembaran demi lembaran, itu adalah test dimana banyak sekali pertanyaan mengenai diskon, harga barang, simulasi total belanja beserta diskon dan lain sebagainya.
Tak butuh waktu lama, ia pun menyelesaikan test tersebut dan mengumpulkannya. Setelah mengumpulkan ia langsung masuk pada tahap test fisik yang berupa mengukur tinggi badan dan nilai penampilan.
Setelah semua selesai, personalia tersebut memberi informasi jika dua hari lagi akan ada pesan yang akan dikirim oleh Departemen Store, mengenai lolos atau tidaknya. Jika lolos, maka satu hari setelahnya akan ada interview di kantor personalia.
__ADS_1
Sean pun mengerti dan berpamitan undur diri.