
Sesampainya dirumah, Evan memberi kabar bahagia tersebut pada Sean. Matanya berbinar menceritakan betapa megahnya perusahaan H yang akan ia jadikan rumah kedua.
"Sayang, aku seneng banget bisa kerja di perusahaan ini. Perusahaan ini bertaraf internasional, aku tidak akan menyia-siakan kesempatan bekerja di tempat ini." Ucap Evan antusias.
"Syukurlah. Aku turut bahagia. Jadi kamu ditempatkan dibagian apa?" Tanya Sean.
"Marketig, Sayang. Aku sudah lama menginginkan posisi ini, sebab pengalaman bersama ayah membuatku merasa percaya diri." Ungkap Evan.
"Semangat terus ya, Sayang! Aku mendukungmu seratus persen!" Ucap Sean membusungkan dada sambil mengangkat lengan bak binaragawan.
"Iya, Sayang. Besok aku udah mulai bekerja." Senyum Evan melebar.
****
Keesokan harinya, Evan bersemangat berangkat menuju perusahaan H. Kemeja slim fitt berwarna putih, celana hitam bersepatu pantofel, dan tak lupa wajah tampan dengan rambut undercut ditata rapi kebelakang menjadi andalannya.
Ketika ia menginjakkan kaki di lobby perusahaan, semua mata tertuju pada pesona Evan. Aroma parfum maskulin semerbak menambah nilai plus pada penampilan Evan.
Plok.. Plok.. Plok..
Suara tepukan tangan menyambut Evan, dan membuyarkan pandangan semua orang pada Evan.
"Pagi tampan! Sudah siap untuk hari ini?"
"Pagi Vega! Aku sudah siap." Jawab Evan pada gadis yang ternyata adalah Vega.
"Ayo ikut aku! Aku di bagian accounting. Ruangan kamu deket sama ruangan aku." Vega tersenyum menggoda.
"Oh ya!" Jawab Evan singkat.
Ia baru sadar bahwa Vega sedang mencari perhatian terhadapnya.
Sedangkan Vega sekali lagi merasa di acuhkan oleh Evan.
__ADS_1
Karena waktu bekerja sudah hampir dimulai, Vega memutuskan untuk meninggalkan Evan. Dan akan beraksi di kesempatan berikutnya.
"Oke selamat bekerja. Di sana ada Edwin yang akan bekerja sama denganmu. Bye..." Vega melambaikan tangan memasuki ruangannya.
Namun, Evan hanya bergeming tak membalas sepatah kata pun. Akan sangat bahaya jika salah kata atau perbuatan pada gadis seperti Vega, pikirnya.
Hari pertama Evan bekerja, semua lancar dengan bantuan Edwin. Banyak pelajaran baru mengenai tehnik pemasaran di perusahaan besar seperti perusahaan H ini. Namun, hal itu tak membuat Evan kebingungan. Evan sangat cakap dengan apa saja yang di terangkan. Edwin pun cukup terpukau dengan kecakapan Evan di pertemuan pertaman mereka.
"Besok ikut aku meeting dengan klien di Hotel P, ini kesempatan pertama kamu untuk menunjukkan bakat. Jangan buang-buang kesempatan." Ucap Edwin
"Siap! Saya pasti siap, Pak!" Balas Evan tegas.
"Ah.. Jangan panggil pak. Mungkin kita cuma terpaut beberapa tahun saja." Edwin berkata ramah.
"Tapi kan Anda seniornya." Ucap Evan.
"Panggil aku pak ketika dihadapan orang penting saja." Edwin menepuk bahu Evan.
"Oke, Edwin. Terima kasih." Ucap Evan.
"Maaf aku tidak bisa. Ada yang menungguku setiap jam pulang." Evan tersenyum bahagia mengingat wajah Sean dan perut buncitnya.
"Hei.. Kekasihmu ya?" Tanya Edwin heran melihat wajah Evan.
"Iya. Kekasih hati." Jawab Evan berbunga-bunga.
"Rupanya kamu akan mematahkan hati seluruh wanita di kantor ini. Hahaha. Aku lihat mereka sangat terpesona denganmu." Canda Edwin.
"Ah... Bisa aja. Mereka melihatku karena aku anak baru di kantor ini." Jawab Evan simpel.
Edwin tersenyum mendengar jawaban Evan yang begitu remeh.
****
__ADS_1
Singkat cerita,
Evan dan Edwin berhasil mendapat tender di pertemuan pertama Evan dengan klien.
Edwin mengakui kecakapan Evan memikat hati klien. Selain tampangnya yang sangat menguntungkan, Evan termasuk cerdas dalam pemilihan kata yang membuat klien merasa yakin untuk memilih perusahaan H sebagai pilihan yang tepat untuk bekerjasama.
Kesuksesan demi kesuksesan mampu mereka raih di setiap pertemuan. Mereka pasangan yang solid untuk memenangkan tender. Seiring berjalannya waktu, Evan sering mendominasi dalam presentasi. Hal ini membuat Edwin takjub dan juga percaya sepenuhnya jika Evan bertemu klien seorang diri.
Berkali-kali Evan memenangkan tender seorang diri, membuat kiprahnya menjadi sorotan dimata Ibu Siska, Sang General Manager di perusahaan H tersebut.
Semua karyawati menaruh hati pada Evan. Bukan karena ketampanannya semata, tapi juga kualitas kerja Evan.
Terlebih lagi si Vega, ia sangat berambisi untuk mendapatkan cinta Evan. Ia merasa kesempatan sangat luas, karena belum ada seorangpun yang tahu status Evan sebagai kepala keluarga, kecuali personalia yang telah membaca daftar riwayat hidup Evan.
Berbagai macam cara dilancarkan Vega untuk menggoda Evan.
Mulai dari ajakan makan siang hingga makan malam, ajakan jalan-jalan hingga bermalam bersama. Semua dibalut dengan kata-kata manis, Sayangnya Evan sudah menebak alur rencana Vega. Sehingga Evan tak memberi kesempatan pada gadis genit itu walau hanya secuil harapan.
****
Hari terus berganti, Evan selalu sukses dengan karir baru nya. Bonus-bonus rupiah tidak pernah luput dari saldo rekeneningnya.
Evan semakin optimis dengan pekerjaan yang ia lakoni. Banyak cita-cita besar yang menunggunya untuk segera diwujudkan.
Sedangkan Sean, ia adalah bendahara rumahtangga yang sangat teliti. Ia membagi-bagi nafkah dari Evan dengan perhitungan yang matang dan menyisihkan sisanya untuk masa depan mereka dan anak mereka kelak..
Kehidupan semakin mudah dirasakan oleh keduanya. Rintangan-rintangan kecil tak menjadi sesuatu yang berarti di antara mereka.
Kini Evan sedikit lebih sering nmenghabiskan beberapa jam embur mengerjakan tugas kantor yang menumpuk karena banyaknya pekerjaan. Namun ia tak sedikit pun mengesampingkan istri dan calon anaknya di rumah. Ia sebisa mungkin menghibungi mereka di tengah asiknya mengerjakan tugas.
Pada awalnya Sean memaklumi hal tersebut. Karena ia tahu bahwa karir suaminya mulai melonjak di perusahaan H tersebut. Dengan senang hati Sean mendukung Evan sepenuhnya.
Hal tersebut sebenarnya membuat Sean bekerja lebih di saat dirinya membutuhkan waktu istirahat yang cukup.
__ADS_1
Malam ketika waktu istirahat, ia harus bangun dan menyiapkan secangkir minuman hangat untuk Evan, menyiapkan air mandi dan juga menyiapkan diri jika Evan memintanya untuk memberinya jatah malam.
Hal ini masih terus terjadi hingga usia kandungan Sean memasuki bulan ke sembilan.