
Evan pun mengutarakan niatnya kepada Sean,
"Sayang, gimana menurutmu kalau aku mencari kerjaan lain?"
"Loh, emangnya kenapa dengan kerjaan kamu yang sekarang?" Tanya Sean
"Aku ingin kerja dengan tanganku sendiri. Setelah adikku selesai pendidikan, biarkan adikku aja yang nerusin usaha ayah" Terang Evan
"Wah sebenarnya sayang sekali kalau kamu keluar dari usaha ayahmu. Kamu itu sangat berkontribusi dalam usaha itu" Sanggah Sean
"Aku sudah berusaha semaksimal mungkin untuk mencarikan ayah pelanggan tetap, walaupun nggak ada formalitas, tapi kebanyakan pelanggan itu sudah menaruh hati pada produk ayah. Jadi kemungkinan besar mereka akan selalu menggunakan produk yang ayah produksi. Apakah alasan itu tidak cukup untukku yang ingin mengembangkan potensi ini?" Evan berbicara dengan sedikit ketus.
"Iya deh iya... Aku akan selalu menemanimu sayang. Mau kamu kerja dimana aja itu terserah kamu, yang penting kamu nyaman" kata Sean sambil tersenyum
"Terima kasih sayang. Aku akan membicarakannya dengan ayahku." Evan berbicara datar.
Tak butuh waktu lama, selang beberapa hari setelah Evan merampungkan pekerjaannya. Evan mengutarakan maksud hatinya pada Sang Ayah.
Ayahnya terkejut, ia tak ingin anaknya bekerja di tempat orang lain. Menurutnya akan sangat berat bersaing di dunia kerja dengan status hanya lulusan SMA. Ayah Evan sangat menentang kemauan anaknya itu.
"Ayah, sampai kapan Ayah ingin aku berlindung di ketiak ayah?" Tanya Evan sedikit emosi
"Kamu tidak berlindung di bawah ketiak ayah. Meskipun ini usaha milik ayah, tapi kamu bekerja keras sendiri, dengan pikiran dan tenagamu sendiri. Apakah itu tidak cukup?" Ayahnya tak kalah garang.
"Tapi aku tetap ingin bekerja di luar sana. Aku juga ingin seperti Ayah, yang bisa merintis usaha dari nol tanpa bantuan siapapun. Bukankah Ayah sangat puas dengan pencapaian seperti ini? Apakah aku tidak layak menjadi seperti ayahku?" Evan mempertajam alasannya
Ayahnya diam sejenak, berfikir dan menimbang apa yang Evan katakan.
"Baiklah terserah kamu saja" Jawab Ayah Evan sembari meninggalkan anaknya itu.
Setelah Pak Barata meninggalkan Evan, Evan merasa sangat bersalah telah mendebat orang tuanya itu. Kemudian ia meninggalkan tempat kerja dan menunggu ayahnya pulang dirumah. Ia berencana akan meminta maaf pada ayahnya sebab hal itu.
Dengan sedikit gengsi, Evan mengutarakan maafnya pada pak Barata. Siapa orang tua yang tidak luluh dengan permintaan maaf dari anaknya? Ya, Pak Barata memaafkan Evan. Dan memberi catatan kecil untuk Evan
__ADS_1
"Pergilah mencari pengalaman baru. Jika kau tak sanggup, kembalilah pada Ayah" Ucap Pak Barata.
"Baiklah Ayah. Terimakasih pengertiannya" Tutup Evan singkat.
****
Evan mulai melamar pekerjaan di berbagai macam tempat. Sudah Satu bulan ia tak mendapat satu pun panggilan kerja. Bulan ini ia tak menghasilkan uang. Karena ia tidak lagi bekerja di bisnis ayahnya. Sudah hampir dua tahun usahanya mengumpulkan pundi-pundi rupiah untuk masa depannya. Namun tak banyak yang ia pergunakan. Jadi, Evan tidak terlalu beban walau satu bulan lamanya tidak bekerja. Hanya saja ia malu pada Sean, ia melihat kegigihan kekasihnya itu demi mendapat rupiah. Sedangkan dirinya sebulan lamanya hanya berdiam diri dirumah, mengantar dan menjemput Sean. Kegiatannya monoton.
Sampailah pada suatu saat, Evan menerima panggilan kerja di sebuah perusahaan yang menyediakan berbagai macam seafood fresh maupun frozen. Dengan Senang hati Evan masuk di perusahaan itu.
Suasananya sungguh berbeda, bekerja pada ayahnya di tempat yang panas dan berdebu, kini ia bekerja di tempat yang sangat dingin, bagaikan kulkas raksasa.
Evan bekerja di bagian packing. Tugasnya hanya mengepak aneka seafood yang sudah di pilah-pilah sesuai ukuran dan kualitasnya. Meski membosankan, ia berusaha tekun melakukan tugasnya.
Sampailah beberapa bulan ia bekerja di pabrik seafood, akhirnya ia tak kuat dan memutuskan untuk mengundurkan diri.
Evan mencoba melamar di sebuah perusahaan kertas, beruntungnya pada hari itu juga Evan bisa langsung bekerja. Di tempat ini Evan merasa sedikit lebih baik, karena pekerjaan yang lumayan banyak membuatnya sibuk. Ya, Evan tipikal orang yang sedikit bicara banyak bekerja.
Lebih dari 7 bulan lamanya ia bekerja di pabrik kertas. Setiap hari Sean memberi semangat untuk Evan agar tidak mudah menyerah dengan keadaan.
"Kenapa cuma aku yang dipanggil? Risih juga. Tapi rasanya ini mencurigakan" Gumam evan
Tiba waktunya pukul 11.00, dimana waktu ini menjelang istirahat makan siang. Pak Dony kembali memanggil Evan ke ruangannya, seperti biasa hanya bertanya kabar dan kondisi lapangan. Evan pun tak basa-basi, ia bertanya mengapa hanya dirinya yang sering dipanggil.
"Mohon maaf Pak, saya tidak pernah melihat rekan kerja yang lainnya dipanggil ke ruangan ini. Sebenarnya ini ada apa Pak?" Tanya Evan
"Oh, kamu baru menyadarinya ya. Hehehe. Karena rekanmu tidak ada yang mau" Jawab Pak Dony menggantung
"Kenapa?" selidik Evan
"Tidak tahu. Oh iya, begini saja. Bagaimana kalau Aku mengundangmu datang ke apartemenku nanti malam?" Jawab Pak Dony sambil menangkupkan tangannya di atas meja.
"Mohon maaf Pak, ada apa ya? Apakah pekerjaan saya tidak baik?" Tanya Evan
__ADS_1
"Ah... tidak. Aku cuma ingin ngobrol aja." Pak Dony beranjak dari kursinya, kemuadian menghampiri Evan dan mencubitnya kecil di bagian lengan.
"Aduh maaf Pak, saya tidak bisa!" Evan terkejut dan langsung pergi meninggalkan ruangan.
Sedangkan Pak Dony tertawa terbahak-bahak melihat tingkah Evan.
"Sialan! Mengerikan sekali Orang itu." Gumam Evan.
Evan berjalan cepat diiringi dengan tawa Pak Dony yang terdengar menggema. Seperti mentertawai musuh yang lari terbirit-birit.
Evan duduk di kantin dengan hati bertanya-tanya seperti orang kebingungan. Rupanya salah satu rekan kerjanya sudah mengintai Evan sejak ia masuk kerja lamanya. Kali ini dia menghampiri Evan. Namanya Adit.
"Bro! Abis dari ruangannya Pak Dony?" Tanya Adit
"Iya, ada apa sih sama Pak Dony? kok aneh banget kayaknya?" Evan balik bertanya
"Loh! Kirain lo udah tau. Jadi selama ini lo belum tau?" Adit kembali bertanya.
"Apasih? beneran deh gue nggak tau. Kenapa emangnya? Ayo jawab, siapa yang mau jawab kalo kita saling bertanya terus!" Evan mulai emosi.
"Eits.. Kalem bro! disini kan semua karyawan laki-laki. Nah beberapa dari kita memang sering dipanggil. Tapi jangkanya gak pernah lama kayak lo. Gue heran kenapa lo betah sih? Atau emang dirimu itu........" jelas Adit
"Aku apa maksudnya?" selidik Evan.
Adit tak menjawab. Agar Evan sedikit berpikir mengenai personalia nya itu.
Kemudian..
"Woy Bro! Jangan bilang Pak Dony itu pisang makan pisang?" Tanya Evan sambil bergidik
"Hahahaha... Kenapa baru mikir sekarang? Satu perusahaan udah tau semua Bro!" Ejek Adit
"Sialan! Jijik gue. Asal lo tau ya, gue ini normal. Ada seorang gadis yang mau gue lamar" Evan menjelaskan karena dia tidak mau di anggap sebagai homo.
__ADS_1
Evan pun tanpa basa-basi berpamitan pada teman barunya itu. Dan bergegas pulang tanpa pamit pada personalia yang setiap hari kerja berada di kantornya.